
Setelah menelpon emaknya Mimi duduk sebentar di gazebo taman belakang rumah abi Arsyad. Saat duduk sendiri Mimi teringat saat dia duduk berdua bersama Syahril.
flasback on
Mimi dan Syahril ingin merajut asa mereka kelak dan mereka berdua berencana memiliki rumah yang memiliki taman yang luas yang mana kelak jika mereka memiliki anak bebas bermain.
"Kak, besok kalau kita menikah buat rumah nya seperti ini ya." ucap Mimi kala itu.
"Insya Allah dek, semoga Allah melancarkan rezeki kita." jawab Syahril.
"Mimi kepingin punya taman yang asri seperti rumah Ummi Fatmah dan Ummi Fatimah." ucap Mimi dengan merentangkan kedua tangannya menghirup udara segar dari taman tersebut.
"Kalau tamannya besar jadi anak-anak kita bebas bermain di taman tentunya." ucap Mimi lagi.
"Insya Allah, kakak akan giat berkerja supaya kita bisa membeli tanah yang luas. Emm ngomong-ngomong anak, emang adek mau anak berapa hmm hmm" ucap Syahril dengan mengedipkan matanya.
"Sedikasihnya Allah saja kak, kalau bisa ya lebih dari tiga biar rame hehee." ucap Mimi dengan cengengesan.
"Wawww planningnya luar biasa, kalau gitu kakak harus banyak olah raga dong." ucap Syahril.
"Iya kakak harus banyak olah raga, jaga asupan makanan, jaga kesehatan juga." jawab Mimi.
"Siap ratu nya Syahril. Semua perintah akan dilaksanakan." ucap Syahril.
flasback off
"Kak, planning kita gagal kak." ucap Mimi lirih dengan memandangi setiap sudut taman ini dengan menghelakan nafasnya panjang dan menutup kedua matanya menikmati keheningan yang ada.
Irsyad yang melihat Mimi di taman mendekatinya, Irsyad tau Mimi sedang mencurahkan perasaannya di taman ini.
"Kalau nikah sama aku mau nggak Mi." ucap Irsyad tiba-tiba, Mimi membuka matanya dan menoleh kesamping.
"Kalau ngomong itu di jaga Syad." ucap Mimi.
"Ya kan mana tau mau, jadi planning bersama Abang biar aku lanjutin hehee." ucap Irsyad.
"Yeee itu mah maunya Irsyad. Walaupun nantinya Mimi menikah Mimi nggak mau nikah dengan Irsyad atau pun dari keluarga Irsyad. Mimi mau cari orang lain saja." jawab Mimi dan kembali duduk di gazebo.
"Kenapa gitu?" tanya Irsyad.
"Karena Mimi tidak mau ada yang tersakiti, Mimi akan selalu menjaga silaturahmi keluarga ini tanpa harus ada menyakiti antar keluarga." jawab Mimi.
"Tapi kan kalau jodoh nggak ada yang tau Mi." ucap Irsyad.
"Iya Syad, kalau jodoh emang ndak ada yang tau. Tapi Mimi berharap, siapa pun jodoh Mimi Mimi minta bukan dari keluarga ini." ucap Mimi dengan menerawang dirinya sendiri.
"Mimi tidak mau hubungan keluarga terpisah oleh karena Mimi nantinya." ucap Mimi lagi dengan senyum.
"Emm jujur Irsyad katakan, Irsyad dari awal lihat Mimi Irsyad sudah jatuh hati sama Mimi. Tapi Irsyad tidak mau mengungkapkan nya, Irsyad tidak mau mengambil punya orang lain apa lagi itu adalah saudara Icad sendiri." ucap Irsyad mengakui perasaannya.
"Nah itu Icad tau tidak mau mengambil milik orang lain apa lagi milik saudara sendiri, terus kenapa mau ngajak Mimi nikah?" goda Mimi.
"Ya karena Mimi kan sekarang bukan milik siapa-siapa hehee." jawabnya.
"Sama aja Syad, bagaimana kalau kita menikah terus kak Syahril datang. Apa tidak terluka hatinya? Irsyad kan tau hubungan kami gimana, kami berpisah juga karena demi kebaikan semua. Mimi nggak bisa bayangin kalau kita berjodoh, Mimi nggak bisa ngebayangin melihat kak Syahril lihat kita duduk bersanding." ucap Mimi.
"Ya kalau lihat kita duduk bersanding mukanya keg gini ( ekspresi wajah Irsyad ditekuk dengan sorot mata tajam membunuh) dan ujungnya Irsyad habis di hajarnya hahhahaaa ." ucap Irsyad dengan senang meledek membayangkan wajah Syahril.
"Jahat amat Syad." ucap Mimi.
"Mi, Icad boleh tanya?" tanya Irsyad.
"Hmm mau tanya apa?" jawab Mimi dengan beralih pindah duduk ke tepi kolam renang.
"Mimi jawab yang jujur ya?" ucap Irsyad kembali dan Mimi pun mengangguk dengan kaki terjuntai di dalam kolam dan mengayunkannya bermain dengan air.
"Apa Mimi masih mencintai Abang? bagaimana perasaan Mimi saat melihat Abang bersanding." tanya Irsyad yang sebenarnya dialun tahu apa jawaban Mimi.
"Mimi rasa tanpa Mimi katakan Irsyad sudah tau jawabannya." jawab Mimi.
"Iya cuma Icad pengin tau aja langsung dari Mimi." ucap Irsyad.
"Jika di tanya apa Mimi masih mencintai nya, tentu rasa cinta itu masih ada, tidak semudah itu Mimi melupakan atau membuangnya. Kak Syahril adalah lelaki pertama yang Mimi sukai dan membuat Mimi membuka hati untuk pertama kali pada lawan jenis. Bahkan kebaikan nya selama ini sama Mimi mungkin gak bisa terbalaskan dengan rasa cinta Mimi saja."
"Saat Mimi diizinkan orang tua Mimi untuk melanjutkan kuliah disini, Mimi berjanji pada diri Mimi sendiri kalau Mimi akan selalu menjaga mata dan hati Mimi. Mimi juga sudah berjanji kalau hati Mimi hanya buat dia seorang." Mimi menarik nafas panjang.
"Mimi sangat bahagia kala kedua orang tua kami saling mendukung dan mensuport hubungan kami. Kak Syahril juga tak hanya baik dan peduli pada Mimi semata, dia juga baik dan peduli pada keluarga Mimi, dia juga sayang sama kedua orang tua Mimi dan keluarga Mimi."
__ADS_1
"Dengan kebaikan nya itu, Mimi tidak ingin hanya sekedar main-main saja, Mimi berupaya untuk memantapkan diri untuk dirinya. Apa lagi Umma, Babah, umi Parida, umi Zulaikha dan yang lain nya termasuk keluarga disini begitu baik dan sayang sama Mimi. Mimi seakan tidak bisa membalas jasa kalian semua." ucap Mimi.
"Selama ini, setiap sujud Mimi selalu menyebut namanya. Mimi meminta agar Mimi tidak dipisahkan satu sama lain. Ya ( Mimi menarik nafasnya ) namanya kita insan ciptaan Tuhan, semua ketentuan ada di tangan nya. Kita sebagai manusia hanya bisa mejalani naskah kehidupan saja." jawab Mimi dengan menghapus air matanya yang jatuh di pipi.
"Jika ditanya apa Mimi bersedih melihat dia bersanding dengan orang lain. Tentu Mimi bersedih, apalagi yang seharusnya di pelaminan itu adalah Mimi dan kak Syahril sebagaimana impian kami untuk membina rumah tangga. Tapi semua harus kandas karena perjodohan itu."
"Jangan tanya kenapa Mimi menolak kak Syahril yang mengajak Mimi menikah waktu itu."
"Jujur saat Mimi mengambil keputusan itu hati Mimi sakit dan hancur kala megatakan itu. Mimi berusaha tegar walau sebenarnya hati Mimi hancur."
"Mimi lakukan semua ini demi kebaikan semua, kebaikan keluarga Mimi dan terutama keluarga kak Syahril. Mimi tidak bisa melihat Umma maupun Babah serta yang lain nanti menjadi omongan orang lain, bahkan mungkin karir mereka pun ikut tercoreng jika pernikahan itu tidak terlaksana."
"Mereka orang terpandang, apa lah Mimi dan keluarga Mimi di mata orang. Dari dulu keluarga Mimi selalu menjadi omongan orang, selalu dihina dan dicaci orang karena kami orang yang gak berpunya." ucap Mimi dengan terus menghapus air matanya.
"Tak hanya orang lain yang memandang rendah orang tua Mimi, bahkan keluarga kami pun ada yang memandang rendah orang tua Mimi yang tak berpendidikan tinggi itu."
"Walau Mimi terlahir dari orang tua yang tak berpendidikan, dan di pandang rendah, tapi Mimi bangga memiliki mereka, Mimi bangga terlahir dari rahim seorang ibu yang kuat seperti emak dan mempunyai ayah yang bertanggung jawab seperti bapak."
"Mereka tak memiliki pendidikan tinggi karena keadaan ekonomi orangtua mereka. Jika di bandingkan kemampuan otak mereka mungkin orang yang bilang memiliki pendidikan tinggi itu kalah." ucap Mimi dengan membanggakan kedua orang tuanya.
"Maka dari itu, Mimi bertekad menempuh pendidikan ini, Mimi bertekad jauh dari orang tua dan keluarga demi untuk mengangkat derajat mereka. Mimi akan buktikan pada orang yang selalu menghina mereka, Mimi akan bilang kepada mereka ini Mimi anak dari orangtua yang tak berpendidikan, anak dari orangtua yang tidak mempunyai harta bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa harus mengeluarkan uang."
"Mimi akan membuktikan pada mereka semua apa yang mereka omongkan salah." ucap Mimi dengan menahan Isak tangis ketika mengingat bagaimana orang menghina orang tuanya.
Saat Mimi menjawab pertanyaan Irsyad dan menceritakan perjalanan hidup dan kisahnya. Tanpa Mimi ketahui semua orang sudah berkumpul di taman.
Mimi tidak mengetahui jika mereka semua berada di taman karena Mimi bercerita sambil kakinya bermain air dan pikirannya menerawang mengingat masa lalunya.
Ketiga sahabat, Ummi Fatmah, ummi Fatimah, dan yang lain ikut bersedih ketika mendengar kisah Mimi.
Sahabat-sahabatnya Mimi selama ini tidak tau perjalanan dan kisah Mimi sampai saat ini. Mereka terharu dengan perjuangan Mimi selama ini.
"Mimi." ucap Muthia denagn memeluk Mimi diikuti Selfia dan Irma.
"Kalian." ucap Mimi kaget ketika mereka semua sudah berada di taman.
"Kami akan selalu ada buat Mimi." Ucap Selfia.
"Iya Mi, jangan sungkan berbagi kesedihan dan kebahagiaan sama kami ya." pinta Muthia.
"Makasih ya." ucap Mimi dengan memeluk mereka bertiga.
Saridi, Dimas dan Riko merasa terharu dengan perjuangan Mimi. Mereka pun memiliki opini masing-masing.
"Sungguh mulia hatimu Mi, aku harap kelak kita dijodohkan sama Allah." ucap Dimas dalam hati. Dimas tidak bisa mengubah perasaan nya terhadap Mimi. Hingga kini perasaan hatinya tetap sama.
"Sungguh baik Budi dan mulia dirimu, mungkin aku memang tak bisa memantaskan diri buat mu. Begitu besar cintamu untuk dia." ucap Saridi dalam hati.
"Semoga kelak kau mendapatkan pengganti dirinya yang lebih baik dan juga bisa menyayangi dirimu serta kedua orang tua mu sobat." ucap Riko dalam hati.
"Emm udah sedih-sedih nya, sekarang Mimi harus jawab pertanyaan kami sebelumnya" jawab Muthia.
"Iya Mi, dari tadi kita tungguin juga eh nggak balik-balik lagi kedalam, makanya kita nyusul kesini." ucap Selfia.
"Oo, emm emang pertanyaan yang mana ya?" tanya Mimi.
"Heleh jangan sok amnesia ya Mi buruan ceritain kemana aja kamu selama tiga Minggu ini dan HP juga kenapa nggak di aktifin." sahut mbak Aish.
"Ya betul tuh mbak, atau kita jedukin aja nih kepala Mimi biar nggak amnesia." ucap Selfia.
"Kasar amat Fi" ucap Irma.
"Ya kan di film-film kan gitu Ir habis dijedokin baru deh ingat lagi." jawab Selfia.
"Helleh korban sinetron lu." ucap Irsyad dengan menoyor kepala Selfia dari belakang.
"Isss Irsyaaaad, nggak sopan amat menoyor kepala orang." ucap Selfia.
"Iya testing Fi, kamu dah ingat belum." ucap Selfia dan membuat semua orang ketawa.
"Hmm. tega amat testingnya sama kepala Fia." ucap Selfia dengan menangkupkan kedua tanganya di atas perut dengan wajah yang dijutekin.
"Udah udah saatnya kita dengerin cerita Mimi." ucap Muthia melerai Irsyad dan Selfia.
"Ayo Mi kami tagih penjelasan mu." ucap Riko.
"Emm oke Mimi akan membayar tagihan itu." jawab Mimi dan Mimi pun mulai cerita.
__ADS_1
flasbcak on
Setelah sampai bandara Ahmad Yani dan Mimi juga sudah mengirim pesan kepada emaknya, Mimi langsung memasukkan hpnya yang hampir sekarat itu kedalam ransel dibagian depannya untuk segera mengejar taxi.
Setelah melewati segala rintangan menuju taxi, Mimi pun bisa naik taxi dan segera pulang menuju kosannya.
Tak lama taxi pun sampai, Mimi membayar ongkosnya dan setelah itu Mimi turun. Mimi melihat kearah kosannya, kosan yang penuh akan kenangannya bersama sang kekasih. Mimi menarik nafas nya panjang sebelum membuka pintu pagar.
"Kamu harus bisa Mi." ucapnya pada dirinya sendiri sembari membuka gembok.
Setelah terbuka, Mimi masuk dan kembali menggembok nya. Mimi masuk kedalam kosan tak lupa mengucapkan salam.
Mimi langsung berjalan menuju dapur,diletakkannya ransel di samping mesin cuci. Mimi masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, saat air mengenai kulitnya, Mimi merasa kedinginan. Dengan cepat Mimi mencuci mukanya dan segera keluar dari kamar mandi menuju kamarnya.
Setalah sampai kamar, Mimi pun langsung tidur karena badannya merasa meriang. Mimi tertidur dengan berselimut tebal hingga pagi hari ia terbangun.
Mimi tertidur hingga pagi dan melewatkan subunya. Mimi melihat jam di dindingnya telah menunjuk ke jam delapan pagi. Saat akan bangun kepala Mimi merasa berat dan sakit.
"Ya Allah sakitnya." ucap Mimi tetap masih berusaha untuk berdiri mencari obat.
Dengan perlahan dan memejamkan matanya, Mimi merayap menuju meja belajarnya untuk mengambil kotak obat.
Karena perutnya kosong, Mimi pun kembali berjalan dengan merayap karena tiap membuka mata kepala Mimi terasa sakit maka dari itu dia berjalan dengan merayap dengan mata terpejam.
Sampai dapur Mimi membuka kulkasnya, saat hawa kulkas menerpa tubuhnya Mimi merasa menggigil. Dengan segera Mimi mengambil beberapa lembar roti tawar yang ada di dalam kulkas dan Mimi segera menutup kulkasnya.
taknp lupa Mimi mengambil beberapa butir telur di dalam kulkas nya.
Mimi menghidupkan kompor dan Mimi taruh teflon di atasnya, Mimi masak telur ceplok beberapa butir, setelah itu Mimi mengoles beberapa lembar roti tawar dengan margarin dan membakarnya sejenak.
Setelah roti terpanggang Mimi masukkan telor ceplok ke dalam roti dan Mimi masukkan saos sambal di dalamnya. Maka jadilah roti telor ceploknya buat sarapan Mimi pagi itu.
Namun Mimi tidak habis memakan satu roti karena terasa pahit. Setelah memaksa untuk memakan nya separuh Mimi segera meminum obat untuk demam dan sakit kepalanya.
Setelah meminum obat Mimi masuk ke dalam kamar belakang dimana kamar itu adalah kamar Syahril. Mimi rebahhan atas kasur Syahril.
"Kak, Mimi tidak sanggup rasanya kak." ucap Mimi dengan deraian air mata
"Mimi rindu kak." ucap Mimi hingga Mimi tertidur kembali.
Selama satu Minggu Mimi tidak keluar kos karena badannya merasa tak enak, selama seminggu itu juga Mimi demam dan sakit kepala. Mimi hanya meminum obat yang selalu di stok oleh Syahril.
Setelan merasa enakan, Mimi baru bisa membersihkan dalam kosannya. Mimi menyapu serta mengepel. Tapi Mimi tidak mencuci pakaiannya.
Setelah dirinya merasa enakkan, Mimi merasa sepi sendirian di kosan. Padahal dia sudah terbiasa, namun kali ini dia merasa seorang diri dan sepi, mungkin juga karena dia tidak ada kegiatan.
Entah mengapa hari itu Mimi ingin pergi kepasar. Mimi pun memasukkan beberapa pakaian ke dalam ranselnya yang lain.
Iya Mimi berniat jika ada Simbah nanti di pasar dia akan ikut simbah ke rumah nya. Mimi membawa dompet dengan uang yang diberi oleh emak serta paman-pamannya waktu dijambi.
Setelah semua siap Mimi pun berjalan ke Simpang depan, Mimi melihat sekitar kosannya sepi, Cila gadis kecil disebelahnya pun tidak ada nampak pagi itu. Pak satpam yang biasanya selalu ada di pos nya si depan rumah bunda Retno pun tak tampak bahkan pagar bunda Retno tergembok.
Mimi pun berjalan seorang diri menuju simpang dengan memakai jaket dan menutup kembali kepalanya dengan topi jaket tebalnya karena Mimi merasa dingin. Mimi juga memakai masker.
Sampai Simpang Mimi tidak menunggu angkot lama. Mimi pun pergi ke pasar. Sampai pasar Mimi melihat Simbah yang sedang berjualan.
"Assalamualaikum Mbah." ucap Mimi.
"Waalaikum salam, loh nduk katanya kamu pulang." tanya Simbah.
"Iya Mbah pulang sebentar." Jawab Mimi.
"Kok kamu bawa tas ransel toh ndok, kamu mau kemana?" tanya Simbah.
"Nanti Mimi ikut Simbah ya, Mimi kesepian Mbah di kosan nggak ada teman." jawab Mimi.
"Ya boleh, tapi ya rumah Simbah gubuk ndok nggak ada kasur empuk." ucap Simbah.
"Nggak apa-apa Mbah." jawab Mimi.
Hari itu pun Mimi membantu Simbah berjualan hingga siang hari. Mimi dan Simbah pulang namun sebelumnya Mimi belanja lauk Pauk dahulu untuk di bawa pulang.
Sampai sini dulu ya, kita lanjut di Next bab besok.
tbc
Assalamualaikum, selamat malam selamat beristiraMimi
__ADS_1