
Sepulangnya kedua orang tua Bryan, bunda Ainun menangis tersedu-sedu di kamarnya dengan ditemani Diah dan Susan.
Bunda menangis teringat akan Berliana, bunda ainun merasa ada beban dihatinya.
"Bun, kenapa tidak ceritakan semuanya." ucap Diah.
"Iya bun, setidaknya mereka harus tau kebenaran sesungguhnya." timpal Susan.
"Bun, dia juga butuh kasih sayang dari pihak keluarga nya bun." sahut Andre dari balik pintu kamar bunda, bunda yang mendengar ucapan-ucapan dari anak-anak asuhnya itu semakin bersedih.
"Bunda nggak bisa seperti ini bun, kasian Zian bun." sahut Romi yang juga ikut menenangkan bunda mereka.
"Bunda lakukan ini atas permintaan kakak kalian." jawab bunda dibalik sedih dan tangisnya.
"Tapi bun.." Andre akan menyela namun bunda menyuruh mereka semua kembali ke kamar mereka dan segera beresin barang-barang yang akan mereka bawa nantinya.
"Sudah lah, kalian kembali lah melamar kalian. Selesaikan tugas kalian, beresin baranga-barang yang akan kita bawa besok." u AP bunda.
"Kita tak bisa terlalu berharap, jadi kita harus membereskan semua untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi besok." ucap Bunda lagi dan anak-anak pun mematuhi.
Diah, Susan, Andre dan Romi serta Bobby adalah anak-anak panti yang berusia 16&17th, mereka lah kakak-kakak dari adik-adiknya di panti. Mereka berembuk membicarakan kemungkinan yang terjadi besok.
Papi Bryan beserta pengacara nya membicarakan perihal panti, anak buah dari Pali pun sudah menemukan ahli waris yang menuntut itu.
Papi dan pengacaranya pun langsung menemui orang itu dan mereka pun mulai melakukan negosiasi, walau awalnya sang ahli waris terus berkelit akhirnya dia pun menyerah dan menyetujuinya karena pihak pengacara dan anak buah papi dengan sigap telah mendapatkan bukti akurat yang bisa menjebloskan sang ahli waris ke penjara.
Dillah dan teman-temannya di pasar langsung berkeliling mencari para pedagang yang menjual aneka jajanan tradisional, mereka membagi tugas, setelah mereka menemukan apa yang di survery tentang jajanan tradisional getuk mereka berkumpul.
Namun mereka tak langsung pulang melainkan Dillah mengajak mereka ke lapak si Mbah. Sesampainya mereka disana sudah tidak ada jajanan pasar yang mereka cari.
"Emm Mbah, jajanan nya sudah habis ya Mbah?" tanya Dillah.
"Iya le, udah habis di borong. Ini tinggal urap sama pecal yang ada." jawab si Mbah.
Karena aroma bumbu pecal yang sangat menggugah selera, Reno dan yang lain memesan pecal sama Mbah begitu pula dengan Dillah.
Reno dan keduantemannya tidak tau maksud Dillah yang membawa mereka ke ai Mbah Ini.
"Mbah mau pecalnya ya Mbah, emm Gi, Sat, Dil kalian mau?" Reno memesan pecal kepada si Mbah dan menawarkannya juga pada ketiga sahabatnya.
"Ya iyalah, enak aja Lo doang yang makan.Ummm mana aroma bumbunya bikin laper lagi hehee." jawab Yogi dengan cengengesan.
"Mbah buatkan empat ya Mbah, kita makan disini." ucap Dillah.
"Oh baik lah," jawab si Mbah dengan segera me!buatkan pecal buat mereka berempat.
"Ohnya Mbah, emang siapa yang memborong jajanannya?" tanya Reno kepada si Mbah.
"Iya Mbah, apa dia sering memborong sama Mbah?" sahut Satria. Dillah hanya diam, Dillah bisa menerka siapa yang sudah memborong jajanan yang Mbah jual.
"Iya Le, dia biasa memborong jajanan yang Mbah jual setiap kali dia kepasar untuk berbelanja, ini Le." si Mbah menjawab tapi tak menyebutkan nama yang memborong, si Mbah memberikan sepiring kepada Reno dan kemudian kepada yang lain.
Mereka berempat pun menikmati lontong pecal racikan si Mbah, mereka menikmatinya dengan sesekali berbicara kepada si Mbah.
"Mbah, apa Mimi yang memborong nya?" tangan Dillah di balik canda teman-teman nya, seketika para teman terdiam! saat Dillah menyebutkan hal itu.
"Lo, kok tau nak? iya dia yang selalu ngeborong jajanan si mbah kadang Mbah juga bertanya buat apa dia ngeborong habis dagangan jajanan Mbah." jawab si Mbah.
"Hah jadi Mimi yang membeli semuanya Mbah?" tanya Yogi dengan mulut menganga.
"Iya Le, tiap kali kepasar selalu memborongnya dan bahkan dia juga selalu berbelanja lebih buat si Mbah. Mimi anak yang baik, sopan dan dia anak yang tulus terhadap sesama." jawab si Mbah dengan memuji Mimi.
"Eh tungu, bukannya kamu yang dulu sama Mimi makan getuk mbah disini kan?" Tanya si Mbah yang seketika ingat salah satu dari pemuda ini.
"I iya Mbah." jawab Dillah dengan sendu dan si Mbah pun hanya tersenyum.
"Jadi Mimi alasanmu kesini Dil?" celetuk Yogi dan semua hening.
"Sudahlah Dil, lupakan dia. Dia bukan cewek yang baik buatmu, kan kamu tau sendiri bagaiman dia tadi." ucap Satria.
"Iya Dil, maaih banyak cewek yang baik. Dari pada Mimi. Hmmm kelihatan aja kalem, alim nggak tau nya.." ucap Yogi.
Si Mbah yang mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalian jangan !menilai seseorang dari luarnya." ucap si Mbah.
"Maksudnya Mbah?" tanya Satria.
"Kalian membicarakan Mimi yang Mbah bilang yang borong dagangan Mbah kan?" tanya Simbah.
"Dia anak baik, dia anak yang sopan." imbuh Mbah.
__ADS_1
"Ya karena dia ngeborong dagangan Mbah makanya Mbah bilang gitu." celetuk Yogi.
"Emang apa masalah kalian dengan dirinya? setau Mbah dia orangnya tak seperti yang ada dipikiran kalian." jawab si Mbah.
"Mbah kan cuma liat dia karena dia ngeborong dagangannya Mbah, dia itu Mbah cewwk nggak bener Mbah. Masa dia di kampus dengan cowok lain nah tadi kami ketemu dia dengan cowok lain lagi." ucap Yogi penuh dengan kebencian dan kekecewaan.
"Sudahlah, dan kamu Le.. Kesabarannya selama ini sudah ada di depan matamu. Cuma Allah belum menyatukan kalian, walau nanti kalian bersatu tetapi hanya sesaat karena orangtua mu tak menyetujui nya." si Mbah menyela omongan Yogi agar tak meneruskan ghibahnya dan dia juga mengatakan hal yang dia lihat dari Dillah.
"Orang yang kau tunggu selama ini sudah di depan matamu Le, hanya saja saat ini dia milik orang lain dan kelaknpin doa akan kembali ke padanya." ucap si Mbah lagi.
"Bersabarlah, walau sesaat kau akan mendapatkan nya kalau kau penuh pendirian makaa kau akan mendapatkan doa seutuhnya namun bila kau Lemah maka dia akan kembali kepada-nya." sahut si Mbah lagi.
Mereka berempat tidak mengerti akan yang diucapkan oleh si mbah, mereka pun sudah selesai makan lontong pecal si Mbah yang terasa nikmat, jajanan pasar namun rasa kelas bintang lima.
Dillah dan teman-temannya juga memesan getuk buatan si Mbah dan mereka besok menjemput nya.
Karena merasa cukup, mereka berempat pun pamit untuk pulang dan akan kembali lagi besok hari.
Mimi dan ketiga pemuda di kosannya menikmati makan siang mereka dengan menu tumis kangkung, kepiting saos Padang dan udang goreng tepung.
Mereka makan siang dengan lahap, sehingga membuat semua yang dimasak Mimi dan Syahril hari ini habis tak tersisah.
Setelah makan siang mereka semua melaksanakan sholat Dzuhur bersama dan setelah sholat mereka berencana akan jalan-jalan ke sebuah tempat wisata yang ada di kota ini.
"Emm kak." panggil Mimi.
"Hemm, mau kemana kita?" tanya Mimi kepada Syahril.
"Bobok ajak yuk." ajak Syahril dengan candaan.
"Isss." jawab Mimi dengan manyun.
"Tuh bibir bikin kakak nggak tahan dek hahaa" ucap Syahril sambil !mencubit gemjs bibir Mimi.
"Iih ka kak." ucap Mimi tambah manyun.
"Nah Riil, karetin tuh bibir." ucap Ryan dengan memberi karet kepada Syahril.
"Hahahahahaa." Irsyad dan Ryan ketawa terbahak-bahak.
"Isss kalian ini.'' ucap Mimi merajuk dan beranjak masuk ke dalam kamarnya dan itu semakin membuat mereka tertawa.
"Boleh, tapi bagusnya kita cari penginapan sekalian jadi besok baru pulangnya." ucap Syahril.
"Hem boleh juga bang, emm nanti kita mampir ke rumah dulu ya bang, ucad ambil baju." ucap Irsyad.
"Sekalian aja ajak mbak Aish Cad." ucap kak Ryan.
"Emm mbak Aish nggak usah lah bang Yan dak bebas Icad nanti." jawab Irsyad yang tak !menyetujui usul Ryan dengan !mengajak Aishyah.
"Emm Cad, kayaknya ndak usah lah !mampir. Tau sendiri lah Ummi yang ada nanti kita nggak jadi pergi." ucap Syahril.
"Lah kalau nggak pulang Icad nggak bawa baju ganti gitu!" jawab Irsyad.
"Beli aja la dek." jawab Ryan sambil memakan keripik singkong pedas buatan Mimi.
"Abang Yan yang beliin ya, ya ya." jawab Irsyad dengan puppy eyes dan menangkap kedua tangan memohon.
"Isss jijay Abang dek, pakek gaya imut cak itu." jawab Ryan dengan menjauhi Irsyad.
"Yeee, terus siapa yang mau beliin baju Icad? emm bang Aril ya ya ya." jawabnya dan memohon kepada Syahril.
"Hmmm." ucap Syahril.
"Kebiasaan cuma hmm doang, mulai dah pelit suara." ucap Irsyad.
"Yaudah terus kapan nihbkta berangkatnya?" tanya Ryan.
"E!m ya sekaranglah bang biar dapat jalan-jalannya bentar." ucap Irsyad.
"Yaudah Abang bujuk Ayuk ipar mu dulu." ucap Syahril dan beranjak masuk kamar Mimi.
Syahril tersenyum melihat Mimi yang merajok masuk kamar namun dia terlelap dengan memeluk guling.
Syahril perlahan naik ke atas dan diapun berbaring melihat ke arah Mimi dan dia pun memeluk Mimi. Mimi merasa terganggu karena tangan Syahril yang tak diam, selalu !mengusap wajah Mimi dan Mimi pun membuka matanya.
"Emm kak.." ucap Mimi dan melihat ke arah Syahril secara intens.
Mereka saling tatap satu sama lain dengan jarak tak sampe sagu senti itu. Syahril tersenyum sambil mengelus lembut wajah Mimi dan seketika dia mencium kening, kedua mata Mimi secara bergantian, hidung dan terakhir Syahril mengecup bibir ranum Mimi.
"Kakak sayang sama adek." ucap nya dan memeluk Mimi erat.
__ADS_1
"Mimk juga kak, makasih atas segalanya." jawab Mimi dan membalas pelukan Syahril. Mimi merasa damai dan tenang dalam dekapan orang yang selalu ada buat nya.
Dua pemuda sudah uring-uringan karena Syahril yang katanya mau memanggil Mimi tak kunjung keluar juga.
"Bang, bang aril ngapain sih laama banget di kamar." ucap Irsyad yang sudah sewot.
"Biasa lah dek palingan juga kangen-kangenan." jawab Ryan dengan terus mengunyah keripik singkong pedas di toples.
"Isss abaang, makan muku dari tadi, panggil kek apa kek jangan makan muku. katanya mau jalan-jalan tapi keasikan dalam kamar," Irsyad terus nyerocos bak emak-emak lagi pms.
Karena tak ada pergerakan dari Ryan, ustad pun beranjak berdiri menuju kamar Mimi.
"Oh my gooooddd, abaaang Mimiii kalian ini ya, ditungguin juga malah enak-enakan pelukan sambil baring. Abang ayoo buruan." ucap Irsyad mengagetkan dua insan yang sedang menikmati dekapan meluapkan rasa rindu diantara mereka.
"Ckk dasar adek durjana ganggu aja." ucap Syahril yang kesal karena acara dekapan mereka harus terhenti.
"Ayoo bang, keburu sore, dan satu lagi ingaat kalian itu belum halal. kalau mau gituan harus halal dulu." ucap Irsyad dengan menarik Syahril dan menjauhkan Syahril dari Mimi.
"Emang mau kemana sih?" tanya Mimi dengan menguap.
"Kita mau ketempat wisata Mi, ayo buruan siap-siap." ucap Irsyad.
"E!m yaudah Mimi siap-siap dulu." jawab Mimi dan beranjak dari kasur.
"Yaudah cepetan ha, oh ya kata Abang kita nginap Mi jadi jangan lupa bawa baju ganti." ucap Irsyad lagi sambil berlalu keluar.
"Hmmm oke." jawab Mimi seraya mengambil tas Travel kecilnya, Mimi memasukkan beberapa bajunya dan baju Syahril yang disengaja di tinggal sama Syahril.
Ya sewaktu mengantar Mimi, Syahril !membawa beberapa stel pakaiannya dan dia juga ada membeli beberapa untuk di tinggalkannya di kosan Mimi.
Syahril melakukan itu karena jika dia ke Semarang tak perlu me!bawa pakaian lagi, begitu pula dengan Ryan yang juga ada beberapa stel di tinggal namun di taruh di dalam box kamar belakang.
"Kak, mau bawa baju yang mana?" tanya Mimi kepada Syahril,
"Emm yang santai aja dek." jawab Syahril.
"Yan Lo nggak bawa baju ganti?" tanya Syahril kepada Ryan.
"Emm beli aja ntar Riil." jawab Ryan yang mlas beranjak.
"Sekalian Icad ya bang." ucap Irsyad dengan mengambil keripik singkong di dalam toples yang berada di pangkuan kak Ryan.
"Hmmm." jawab Ryan yang masih asik chattan.
Syahril masuk kedalam kamar Mimi dan meminta handuk.
"Dek handuk mana?" tanya nya pada Mimi.
"Nih kak, kakak mau mandi dulu ya?" ucap Mimi dengan bertanya.
"Iya dek, gerah. Tapi sebelum itu... emm" Syahril menjawab namun dengan segera dia menarik Mimi dan lagi-lagi dia mencium bibir Mimi seperti maling.
"Isss kakak kebiasaan lah, sudah sana kalau mau mandi." ucap Mimi dengan mendorong tubuh Syahril.
Entah mengapa Syahril selalu tidak bisa menhan diri bila melihat wajah mimk terutama bagian bibir. Seolah bibir miminada magnet dan menarik dirinya untuk meraih bibir ranum itu.
Mimi telah selesai menyiapkan pakaian ganti nya dan Mimk pun juga mengambil handuk, Mimi juga akan mandi terlebih dahulu sebelum pergi setelah kak Syahril selesai mandi.
Syahril sudah selesai mandi, dia tak mengenakan pakaian hanya handuk yang dililitkan di panggang nya, dia langsung masukmke kamar Mimi.
"Isss kakak kebiasaan." ucap Mimk yang kaget karena Syahril tiba-tiba ada di belakangnya dengan hanya memakai handuk. Mimi btidak risih ataupun jaim melihatnya walau kadang mata dan otaknya tak sejalan.
"Dek, baju kakak maanau?" tanya Syahril, Mimi pun langsung mengambil pakaian buat Syahril dan menyerahkan pada nya, Mimi bak istri yang patuh akan suami.
"Dah cocok dek," ucap kak Syahril.
"Cocok apa kak?" tanya Mimi
"Dah cocok jadi istri." jawabnya.
"Iya tunggu lulus dan dapat gelar." ucap Mimi dengan senyum dan berlalu pergi.
Setelah Mimi siap mereka pun mulai berangkat menuju tempat wisata yang tak jauh dari daerah Mimi kini, ya mereka !mencari tempat wisata di sekitar kota Semarang.
Di panti, bunda Ainun masih bersedih. Bunda Ainun melihat-lihat foto Berliana saat bayi hingga terakhir sebelum dirinya meninggal.
"Bunda harus apa nak? apa yang di katakan adik-adik mi benar adanya." ucap Bunda lirih sembari mengelus wajah Berliana didalam pigura tersebut.
Kebenaran apa yang akan terungkap? Next bab.
*tbc*
__ADS_1