DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Keinginan kakek


__ADS_3

Bercinta dengan nuansa tempat yang berbeda kadang kala perlu di ciptakan untuk meningkatan kualitas keharmonisan serta keromantisan rumah tangganya.


Siang itu entah berapa kali gempa lokal menggetarkan area percintaan. Hasr*t terpendam beberapa hari seolah menjadi booster bagi mereka berdua.


Menu makan siang, masih setia menunggu di wajan di atas kompor. Dua insan pencipta menu asik dengan dunianya sendiri.


Setelah beberapa gempa susulan terakhir berakhir dan meninggalkan sisa puing-puing nya saja, deru nafas saling berebutan menarik oksigen.


Ryan mengecup pucuk kepala sang istri yang sudah terkulai lemas.


"Jadilah Di'ah ku yang dulu.'' ucap Ryan sambil memeluk Di'ah erat.


"Kakak rindu dirimu yang dulu, buang rasa iri mu dek. Ituntidak baik buat kita." ucapnya. Di'ah semakin mempererat pelukannya. sambil memejamkan matanya.


"Maafkan aku kak." jawabnya.


.


"Kakak maafkan tapi tolong buang rasa itu."


"Kamu merasakan sendiri kan, dengan sifat seperti itu membuat kita renggang, bahkan persahabatan mu juga renggang."


"Sebenarnya apa yang kau irikan dari Mimi.?" tanya Ryan perlahan. Awalnya sunyi lama kelamaan Ryan merasakan dadanya basah.


Ryan mengangkat wajah sang istri, terlihat wajah Di'ah yang di basahi air mata. Dengan sabar Ryan mengahapus air mata di pipi Di'ah.


"Katakan ada apa? jangan di pendam. Jika ada yang membuat mu resah, katakan pada kakak."


"Kita sudah suami istri, sudah sewajarnya kita saling berbagi duka maupun suka."


"Kakak hanya ingin dalam rumah tangga kita tidak ada kecocokan yang tak bisa di bicarakan atau tidak diselesaikan segera."


"Katakan apa yang membuatmu begini." ucap Ryan panjang lebar dan berakhir sebuah pertanyaan yang sama.


"Emm a aku tidak tau, aku tidak tau kenapa begini. Aku cuma merasa aku selalu kalah sari Mimi, aku tidak suka melihat dia selalu mendapatkan apa yang di inginkan nya."


"Aku tidak tau kenapa seperti ini." jawab Di'ah.


"Astaghfirullah, astaghfirullah. Jika ada rasa begitu lebih baik adek perbanyak istighfar dek, jangan sampe rasa itu mendarah daging di diri kamu, Itu tidak baik." ucap Ryan dengan menggeleng, Di'ah hanya diam.


"Saat kau merasa tidak suka dengan apa yang di raih Mimi, beristighfar lah yang banyak. Kenanglah kebaikannya kepada mu."


"Coba kamu lihat, apa pernah Mimi membuatmu sakit hati, apa pernah dia memperlakukan mu tidak baik."


"Lihatlah Mimi, belajar lah dari dia, dari sifatnya, sikapnya. belajarlah dari dia yang selalu berpikir positif terhadap orang lain."


"Berpikiran positif lah dek, jauhkan pikiran negatif agar rasa iri dengki tidak menghampiri mu."


"Jika kau iri dengan pencapaiannya, belajar dan berkerja keras lah karena dengan kau berkerja keras maka apa yang kau inginkan pun akan tercapai."


"Lihatlah Mimi, kau pasti tau bagaimana kehidupannya dahulu." ucap Ryan yang selalu memberikan nasehat nya, Diah masih diam dek dalam dekapannya.


"Kau tau kan bagaimana kehidupannya dulu, bagaimana perjuangan nya dulu." ucap Ryan dan Di'ah mengangguk.


"Jika kau tau, maka jangan kau beri iri hati. Setiap orang memiliki masa lalu dan setiap orang juga memiliki kehidupan seperti roda yang terus berputar."


"Kadang ada di atas dan kadang ada di bawah, Allah pun memberikan porsi rezeki lada hambanya sesuai dengan apa yang di kerjakan hambanya."


"Jika hamba nya terus berkerja keras tanpa lelah, maka Allah akan memberikan hasil akhir yang juga memuaskan."


"Asal adek tau, apa yang di raih Mimi saat ini merupakan buah dari kerja kerasnya selama ini."


"Mungkin juga buah dari sedekah yang selama ini dia lakukan. Dia dulu tak pernah memandangi dirinya sendiri, bahkan saat dia lapar sekalipun nasi bungkus di tangannya dia berikan lada orang lain yang lebih membutuhkan dari nya."


"Mungkin itu lah kunci kesuksesan nya, dengan dia bersedekah dengan ikhlas maka do'a dari orang yang dia bantu pun akan mengalir ke dirinya." ucap Ryan.


"Jadi kakak harap kau belajar pada Mimi, jika kau malu bertanya kau lihat dengan mata apa yang Mimi lakukan dan kau terapkan pada diri mu."


"Insya Allah dek, dengan kita berbuat baik lada orang lain Allah akan melimpahkan pahalanya kepada kita."


"Adek dengarkan apa yang kakak katakan?." tanya Ryan.


"Iya, Insya Allah aku akan memperbaiki diri " jawab Di'ah.


""Berjanjilah dek, berjanji pada diriku dan Allah." ucap Ryan.


"Iya aku berjanji." jawab Di'ah.


"Kalau begitu mulai saat ini kau bantu juga Mimi mengurus rumah ini ya, kalau pagi kau bantu dia membereskan rumah dan membuat sarapan."


"Begitu juga siang atau sore nya. Emm atau kalian bagi tugas saja, biar adil." ucap Ryan.


"emm kalau lagi bagaimana bisa aku membantunya, apa lagi kalau kakak selalu meminta yang lupa waktu "


"Kakak tau sendiri, Mimi itu bangun selalu pagi. Lah aku.. Kalau Kaka sudah gempur usahkan bangun cepat, walau dah cepat kakak gempur lagi." ucap Di'ah dengan mengkrucutkan bibirnya.


"Ya mau gimana lagi, masa yang enak-enak di lewatkan, kamu aja suka kan." ucap Ryan dengan mengedipkan matanya.


"Emm" jawab Di'ah.


"Gini aja dek, kalau lagi kita sibuk. Adek siangnya bertugas di dapur atau sore nya gitu." ucap Ryan dengan usulnya.


"Kan kalau siang kita bisa masak berdua, ya masak sambil anu enak juga ternyata." ucap Ryan terkekeh.

__ADS_1


"Aisss, udah ah" ucap Di'ah dan beranjak.


"Mau kemana?" tanya Ryan.


"Mau mandi kak, lihat tuh jam emang Ndak masuk kerja lagi. Perut juga dah berbunyi nih." jawab Di'ah.


"Yaudah, mandi berdua hemat waktu." ucao Ryan yang juga langsung beranjak.


Dikamar mandi mereka mandi bersama namun waktu yang mereka pakai untuk mandi lebih lama dari biasanya.


Ryan lagi-lagi menggarap kebunnya di kamar mandi. Di'ah hanya bisa pasrah apa lagi dia juga suka Ryan kembali seperti semula.


Yah secapek apa pun itu, dengan mereka saling mengisi maka capek itu tak akan terasa.


Sehabis mandi, Di'ah bersungut-sungut pada Ryan yang tak pernah ada kata capek.


"Udah jangan ngomel mulu nanti junior bangun lagi." ucap Ryan denagn mengedipkan mata nya.


"Aisss" ucap Di'ah dan langsung keluar kamar dari lada di terkam singa lapar nya. Ryan terkekeh sendiri melihat tingkah sang istri.


Ryan tau kalau sang istri pun sebenarnya juga suka dengan adegan mereka namun mengingat waktu mereka pun harus menjedah adegannya.


Di'ah sampai dapur langsung membereskan dapur yang berantakan dengan pakaian yang beeserakan. Di'ah melihat setiap helai pakaian mereka jangan sampai ada terlewatkan setelah semua dinyatakan lengkap, Di'ah memasukkannya kedalam mesin cuci dan langsung dia cuci pakaian-pakaian kotornya.


Setelah itu Di'ah membersihkan dapur nya dahulu, dapur telah selesai di pel nya dan meja pun telah di lapnya baru Di'ah memasukkan masakannya ke dalam wadah dan di letakkan di atas meja.


Di'ah mengambil nasi dan di masukkan ke dalam piring Ryan dan dirinya dan mereka pun makan bersama dengan lahap hingga nasi yang dimasak Mimi lagi tadi habis tak tersisa di magiccom.


"Kamu, di rumah aja ya dek. Pasti capek kan." ucap Ryan ketika sudah bersiap berangkat kerja lagi.


"Emm iya, Kakak hati-hati." jaaab Di'ah seraya menyalami Ryan dan Ryan mengecup keningnya.


Sepergian Ryan, Di'ah mulai membereskan ruang lagi, dia menyapu dan mengepel kamarnya hingga ruangan rumahnya. Di'ah membuka seprei dan mengganti yang baru.


Sambil menunggu cucian pakaian di mesin cuci siap, Di'ah mencuci piring di luar.


Mimi dan Syahril masih asik dengan perkejaan mereka di arung mie ayam. Syahril telah mengirim beberapa file ke dinas kesehatan daerah dan propinsi.


Namun sebelum Syahril mengirim nya, Syahril mengecek lagi secara berulang agar tidak ada kesalahan atau kekurangan dalam laporan nya.


Hari semakin sore, Syahril pun telah selesai mengirim laporan nya. Setelah itu baru dia melihat ponselnya.


Saat membuka aplikasi perpesanan, Syahril membaca satu persatu pesan yang masuk beberapa hari lalu.


Satu pesan yang membuatnya terdiam, yaitu pesan dari umma nya, dengan menghelakan nafasnya lalu Syahril langsung menelpon umma nya.


Mimi hanya melihat Syahril berbicara dengan ekspresi yang berbeda-beda. Mimi hanya mendengarkan apa yang Syahril ucapkan menjawab bahkan bertanya lewat ponselnya.


"Iya umma, umma kan tau sendiri." ucap Syahril


"......"


"Iya nanti Arill bicarakan lagi sama dia." Ucap Syahril dengan helaan nafas dan melihat ke arah Mimi.


"......."


"Iya umma bantu do'a saja, isinya Allah nanti Arill coba bicarakan lagi." jawab Ariil dengan tersenyum melihat ke arah Mimi, Mimi hanya diam dan menautkan kedua alisnya.


Mimi tidak dengar apa yang di katakan Umma, apa lagi dia duduk di pojokan dengan berselonjoran.


"Emm, iya salam sama kakek ya umma. Ini sudah sore Aril mau pulang dulu.


"......"


"Insya Allah umma, insya Allah beberapa hari lagi Aril ke Jambi sekalian antar menantu Umma.


"......."


"Lah emang siapa lagi menantu Umma." jawab Syahril.


"....."


"Iya dia ada disini udah hampir dua Minggu." jawab Syahril.


"....."


"Ndak macam-macam umma, cuma semacam dua Bae." jawab Syahril.


"......."


"Udah umma ya, omelnya lanjut pas Arill balek. Aril sekarang itu lagi di warung mie ayam di kecamatan."


"...."


"Iya Aril lagi mengirim laporan. Udah dulu ya umma assalamualaikum." ucap Syahril dan mengakhiri obrolannya dengan umma nya.


Syahril melihat Mimi yang masih melihat ke arahnya.


"Umma dan yang lain kirim salam sama adek.'' ucap Syahril lada Mimi, Mimi mengangguk.


"Waalaikum salam." jawab Mimi.


"Semua baik-baik saja kan kak?" tanya Mimi.

__ADS_1


"Alhamdulillah." jawab Arill.


"Kamu udah pesan untuk bawa pulang?" tanya Syahril.


"Belum, bentar." jawab Mimi dan beranjak menuju gerobak di luar untuk memesan beberapa bungkus mie ayam bakso untuk di bawa pulang.


Setelah semua pesanan terbungkus dan sudah di bayar mereka pun pulang.


Sepanjang jalan Syahril banyak diam, Mimi merasa ada yang beda pada Syahril.


"Kak" panggil Mimi dengan duduk menghadap ke Syahril dengan gaya duduk kaki di sila kan.


"Hmm" jawab Syahril dengan mata masih fokus kedepan karena hari mulai gerimis.


"Ada apa?" tanya Mimi.


"Ndak ada apa-apa." jawab Syahril.


"Ndak ada apa-apa apa nya. Kenapa kakak diam." ucap Mimi.


Syahril diam, dia menghelakan nafasnya seraya tersenyum melihat Mimi dan dia mengusap kepala Mimi.


"Benaran dek, ndak ada apa-apa. Cuma." jawab Syahril uang menggantung.


"Cuma apa?" tanya Mimi ada rasa was-was dan penasaran. Syahril menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Mimi.


"Kakek sakit." ucap Syahril, Mimi diam menunggu cerita Syahril.


"Sekarang kakek tinggal di Jambi, sudah sebulan ini."


"Kakek dan Nini tinggal di Jambi, di rumah Babah. Selama Kakek sakit, umma dan Babah yang merawat nya." ucap Syahril.


"Kakek sakit apa?" tanya Mimi.


"Biasa dek sakit orang dah tua."


"Kakek dari dulu sudah punya riwayat jantung, bahkan dia sudah pernah pemasangan ring di jantung nya." ucap Syahril.


"Cuma.." ucap Syahril yang lagi-lagi ngegantung dan membuat Mimi kesal, Syahril tersenyum melihat tunangannya kesal.


"Kakek ingin kakak segera menikah, kata kakek dia ingin melihat kakak menikah di sisa umurnya." ucap Syahril sendu.


Walau bagaimanapun perbuatan kakeknya duku lada dirinya, Syahril sangat menyayangi kakeknya.


"Kakek ingin melihat kakak dan bang Afnan segera menikah, dia ingin melihat kami menikah dan.. Dan katanya kakek ingin menimang cicit dari kami berdua." ucap Syahril dengan menarik nafasnya.


Mimi hanya bisa diam, entah mengapa hatinya merasa akut jika menyangkut kakek. Bayang-bayang lama seolah kembali di otaknya.


Ada rasa takut di hati Mimi, Mimi takut kalau Syahril akan di jodohkan kembali. Walau hubungan Mimi dan kakek sudah membaik namun jika sudah menyangkut nikah dan kakek Mimi merasa takut.


Mimi melihat ke arah luar, Syahril tau jika tunangan nya ini pasti merasa takut. Syahril menggenggam jemari Mimi, Mimi yang merasa jemarinya di genggam melihat ke arah Syahril dengan senyum manisnya namun terlihat di mata sendu.


"Kamu jangan khawatir." ucap Syahril dengan mengelus jemari itu.


"Ingat.." ucap Syahril dengan menunjukkan jari serta jari Mimi yangbgekah melingkar cincin tunangan mereka.


"Selamanya di hati kakak hanya kamu, tidak ada yang lain." ucap Syahril.


"Apa kakek tidak di rawat di rumah sakit?" tanya Mimi, Syahril menggeleng.


"Kakek tidak mau," jawab Syahril, mik hanya mengangguk paham.


"Jadi?" tanya Mimi.


"Jadi apa?" tanya Syahril.


"Emm apa kakak akan.. Emm." ucap Mimi yang tidak mampu berucap.


"Apa apa?" tanya Syahril melihat Mimi dengan senyum.


"Apa kakak akan menuruti kemauan kakek?" tanya Mimi dengan menggigit bibir bawahnya.


"Iya." jawab Syahril.


"Kita tidak tau ajal kapan akan menjemput nya, kakak juga ingin melihat nya bahagia di sisa usia nya." ucap Syahril sendu, Syahril merasa sedih jika dia tidak bisa mengabulkan keinginan sang kakek.


"Apa sudah ada calonnya." pertanyaan yang konyol yang Mimi lontarkan.


"Sudah, semua sudah di persiapkan, bahkan umma pun tadi sudah berbicara sama keluarga sang gadis, keluarga sang gadis pun menerimanya." ucap Syahril.


"La lalu." ucap Mimi dengan dada yang sesak


Syahril masih fokus menjalankan karena hujan telah turun, Syahril tetap memfokuskan perjalanan nya karena jalanan di sini adalah jalan tanah kuning.


"Ya kakak terima saja keputusan mereka, semua juga udah di rencanakan oleh mereka. Tinggal persetujuan gadisnya kapan acara di laksanakan." ucap Syahril dengan mata tetap fokus lada jalanan.


Mimi terdiam dan melihat ke samping, tak terasa air mata nya mulai turun sebagaimana hujan juga turun membasahi bumi


Takut, itulah yang Mimi takutkan. Mimi kadang merasa bersalah menunda waktu. Namun saat waktu itu dekat hanya beberapa bulan kedepan, Mimi dihadapan lagi dengan cobaan hatinya.


Syahril yang fokus lun tidak menggubris Mimi yabg diam, Syahril sangat berharap perencanaan orang tua nya dan orang tua si gadis berjalan dengan lancar. Sehingga dia bisa membahagiakan kakeknya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2