
Semua telah berada di rumah Muthia, semua tamu undangan yang terdiri dari sanak keluarga besar Muthia dan Satria serta tetangga dekat mulai memasuki rumah besar Muthia.
Acara kembali berlangsung dengan acara sungkeman setelah itu sesi foto-foto beranda keluarga inti, keluarga besar dann sahabat.
Setelah itu mereka menyantap hidangan yang sudah disediakan.
Satria selalu memepet Muthia dan Muthia selalu menghindarinya.
"Yank jangan gitu dong, masa iya dengerin omongannya mereka ." ucap Satria memelas. Muthia tidak menghiraukannya
"Muth, mau makan pakek apa?" tanya Mimi.
"Sate matang aja Mi.'' jawab Muthia.
Tanpa menjawab Mimi langsung pergi mengambil kan Muthia makanan. Tak hanya sate Mimi juga mengambil nya nasi serta lauk khas dari Aceh.
"Yank," rengek Satria tapi Muthia tetap tidak menggubrisnya.
"Dosa lohnyank, kalau kamu ngikutin kata-kata mereka." rengek Satria.
"Pftt, tahan Muth tahan." sindir Reno dengan menahan ketawanya. Satria mental Reno tajam.
"Kamu ini, dari tadi bahas itu aja." ucal si mamah Satria yang lewat di depan Satria.
"Yee mamah mah nggak ngerasa." jawab Satria yang langsung dapat jeweran si mamah.
"Bhuahhaaaa" sahabat-sahabatnya Satria tertawa puas terutama Selfia.
"Terus nte, jewer amle putus." ucap Selfia dengan girang.
"Ckk dasar kompor meleduk" ucap Satria.
Sehabis makan rombongan mamah Satria kembali ke hotel begitu pula dengan Satria dan Muthia serta para sahabatnya karena resepsi akan dilaksanakan malam hari.
Papah satria tidak mengundang seluruh rekan bisnisnya, dia hanya mengundang rekan-rekan bisnis yang berada di kota ini saja.
Rencananya mereka nanti juga akan mengadakan resepsi di Semarang.
Sampai hotel di dalam kamar, Satria masih merengek.
"Udah dek kak, nggak capek apa dari tadinmeeengek mulu." ucap Muthia yangbjengah atas rengekkannya Satria.
"Udah ah sana, Fia mau mandi dan setelah itu maunistifahat bentar." ucap Muthia dengan memundurkan tubuhnya Satria yang menempel di tubuhnya.
"Yank, jangan mandi dulu. Mending kita buka puasa yank." bisiknya.
"Buka puasa apaan, Tia nggak lagi puasa." jawab Muthia yang masih lurus.
"Ckk yaaank, hampir tiga bulan Lo yank kita nggak jumpa." rengek Satria.
"Salah siapa." jawab Muthia cuek.
"Udah ah Tia mau mandi." ucap Muthia.
"Mandi bareng ya yank." ucap Satria.
"Ti dak." jawab Muthia yang langsung masuk kamar mandi dan menguncinya.
"Yank, buka dong. Dosa lo." ucap Satria namun tidak di gubris.
"Nasib nasib. Gara-gara mulut lemes Reno dan si kompor meleduk." ucap Satria gusar dan mengacak rambut nya.
Tak lama Muthia keluar dengan pakaian yang lengkap hanya dia tidak memakai hijabnya karena rambutnya sedikit basah dan Muthia jepit tinggi sehingga memperlihatkan lehernya.
Satria melihatnya dari atas ranjang, ini kali pertama Satria melihat Muthia berpakaian santai tanpa hijab.
Satria beranjak dan berjalan mendekati Muthia, Satria berdiri di belakang Muthia dan tiba-tiba Satria menaeuhndagunya di pundak Muthia.
Dihirupnya aroma wangi dari tubuh sang istri, dan perlahan mulut Satria menuju leher Muthia.
"Kak, ih" ucap Muthia risih.
"Bentar yank, masa cium ajaa nggak boleh." ucap Satria yang terus memeluk tubuh Muthia.
"Udah ah, geli." jawab Muthia berusaha menghindari Satria.
"Dosa loh yank nolak." bisiknha dengan terus mengendus leher putih Muthia.
"Iya tau, tapi achhh emp." jawab Muthia yang berakhir teriakan namhy langsung bungkam karena mulutnya di bungkam dengan bibir Satria.
"Kamu itu selalu aja ngejawab." ucap Satria dan kembali menikmati kentalnya bibir Muthia.
"Kak le pass emmp" ucap Muthia dengan nafas terengah-engah.
"Yank, batalin puasa nya yuk." ucap Satria.
"Puasa apa, gia lagi nggak puasa." jawab Muthia.
"Yank kamu tau nggak beberapa bulan ini aku menahannya yank."
"Nggak" jawab Muthia yang akhirnya lolos dari pelukan Satria.
Muthia naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya, Muthia merasa capek ingin istirhaat sebentar sebelum MUA datang kembali.
"Yaank." rengek Satria dengan naik di atas ranjang dan memeluk Muthia dari samping
"Tahan dulu ya kakak sayang, kamu harus puasa seminggu ke depan." bisik Muthia.
"Apaaaa!!! maksudnya yank?" tanya Satria seketika kaget.
"Tia lagi dapet." bisiknha lagi. Namun Satria tidak percaya dia menyangka kalau Muthia hanya mengerang dirinya dan menghindari dirinya saja.
"Dosa Lo yank kalau bohong,"
"Kamu pasti sedang ngeprank kan'' ucap Satria beruntun.
"Nggak kok, beneran." jawab Muthia.
"Nggak percaya aku" ucap Satria yang langsung menyingkap gamis Muthia.
"Kaaakaaak, ngapain sih ahhh." teriak Muthia ketika gamisnya disingkap ke atas oleh satfria.
"Aku ngak percaya kalau nggak melihatnya langsung." jawab Satria yang berusaha menerobos masuk kedalam gamis Muthia.
"Apa-apaan sih ahh, tuh lihat Tia bawa pemba**t kok." jaqba Muthia.
"Aku nggak percaya, awas kakinya." ucal Satria berusaha membuka kaki Muthia.
Setelah Satria mendapatkan keinginannya, seketika dunianya runtuh. Angan-angannya terbang ke laut samudera cinta seketika memudar.
__ADS_1
Perlahan Satria keluar dari selangk*ngan Muthia dan dia duduk dengan kepala bersandar di sandaran ranjang.
Muthia yang melihat lelaki yang telah menjadi suaminya itu menjadi iba namun ada kelucua tersendiri.
"Yaaank, bisa di skip atau di pending dulu nggak PMR nya." ucap Satria frustasi.
"Yeee emangnya PMR nya laginkatihan di pending." jawab Muthia merasa geli mendengar ucapan sang suami.
"Apess banget yank, udah menahan dirinya nggak ketemu kamu berbulan-bulan, nkat hati sekali bertemu langsung bisa eh malah ke pending." ucal Satria dengan mengacak rambutnya.
"Liat deh yank kasian dia." ucap Satria dengan menunjuk ke arah bawah perutnya. Muthia yang polos lun mengikuti kemana dagu Satria menunjuk.
Muthia menganga ketika melihat pedang rencong Satria siap lepas dari sarang.
"Tutup tuh mulut, nanti masuk lalat." ucap Satria, Muthia langsung mengatup mulutnya rapat-rapat.
"Emm yank, kalau rencong masuk dalam mulut kamu muat nggak yank." ucal Satria dengan menggoda Muthia. Muthia langsung menggeleng dan lamgsungnmanerik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Satria terkekeh melihat tingkah Muthia ketika melihat Muthia memeganga melihat si rencong nya.
"Alws banget kamu cong rencong, sarangmu lagi di terendam." ucap Satria, Muthia yang mendegarnya menahan ketawanya.
Satria berulang kali menarik nafasnya untuk menetralkan gejolak yang hampir membuncah itu, namun tak kunjung reda dia pun berlari menuju kamar mandi.
Lama Satria berada di dalam kamar mandi, entah apa yang dia lakukan hingga selama itu. Muthia sudah pulas tertidur dinbawa selimut.
Mimk dan yang lain juga istirahat dimkamar yang disediakan oleh pihak Satria.
Mimi yang sudah terbangun terlebih dulu, keluar dan menuju balkon kamarnya.
Mimi tidak mengenakan hijab saat berdiri di balkon, angin yang bertiup membjat rambut panjangnya ikut berayun.
Tak jauh dari kamar Mimi ada juga seorang pemuda sedang duduk di balkon kamarnya bersama sepupunya.
Tanpa disengaja sang pemuda yang sedang berdiri di pinggir balkon melihat ke arah balkon yang berjarak empat kamar itu.
Mata mereka saling bertemu, walau tidak begitu jelas karena jarak pandangan. Entah mengapa mata itu saling melengkapi satu sama lain.
Mata saling bersitatap jantung saling berpacu dengan detakan.
Siratan rindu terpancar di kedua pasang mata. Rindu yang terlarang, hanya bisa memandang dan merasa tali gak bisa di ungkapkan.
"Mimii" ucap sang pemuda.
Sang sepupu yang mendengar sepupunya menyebut nama yang tak asing itu pun beranjak dari duduknya dan berdiri di balkon serta melihat kemana mata sang sepupu melihat.
"Mimi" ucapnya juga yang terkejut bisa melihat orang yang lama tak pernah di jumpainya.
Mimi yang merasa hati serta perasaan yangbtakmkaruan buru-buru masuk kedalam kamarnya. Mimi terduduk di sofa kamar.
"Ya Allah, Mimi tidak salah melihatkan?"
"Ya Allah, kenapa kami harus bertemu lagi."
"Ampuni Mimi ya Rabb, ampuni Mimi yang tidak bisa menjaga perasaan hati ini." gu!am Mimk dalam hati.
"Kak, kenapa harus bertemu dengan kakak disini." ucap Mimi dalam hati.
Yah yang Mimi lihat adalah Syahril dan Ryan. Ini keduakalinya dia melihat Syahril setelah hampir dua tahun tak bersama lagi.
"Riil, itu benaran Mimi kan?" tanya Ryan lada Syahril.
"Hmm kita tidak tau ada rencana apa di balik semua ini Riil. Mungkin Allah sedang mengabulkan satu dari setiap dia kamu." jawab Ryan.
"Mungkin, tapi apa aku sanggup melihatnya jika dia sedang bersama cowok nya." ucap Syahril.
"Sangguo tidak sanggup harus sanggup. Apa kemari. siang yang kamu lihat itu juga Mimi?" jawab Ryan dan balik bertanya.
"Hmm." jawab Syahril, Syahril menghelakan nafasnya dan kembali duduk di kursi balkon.
"Aku merasakan kalau dia juga merindukan ku Yan." ucap Syahril.
"Sudah lah Riil, saat ini Mimi tidak sendiri, ada hati yang harus dia jaga." ucap Ryan dengan menepuk pundak syahril.
"Kita kebawah yuk atau jalan gitu " ajak Ryan dan Syahril pun menyetujuinya.
Di kamar Mimi, Dillah mendatanginya. Dillah ingin mengajak Mimi untuk jalan-jalan berdua.
"Dek" panggil Dillah ketika pintu sudah terbuka.
"Iya kang" jawab Mimk di balik pintu.
"Udah mandi?" tanya Dillah dan Mimi menggeleng.
"Yah." ucap Dillah.
"Emang mau kemana?" tanya Mimi.
"Kita jalan yuk." ajak Dillah dan miminoun mengangguk.
"Yaudah tunggu bentar, Mimk aalin baju dulu" ucap Mimi dan Dillah mengangguk.
Setelah menutup pintu, Mimi segera masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka, sikat gigi serta berganti pakaian.
Setelah sial, Mimk membangunkan Selfia dan Irma.
"Fi, Ir." Mimk membangunkan mereka dengan mengguncang badan mereka.
"Hemm" jawab mereka berdua.
"Ir, Fi, Mimi mau keluar. Kunci pintu nya ya." ucap Mimk berpamitan.
"Emang mau kemana sih Mi?" tanya Muthia.
"Mau jalan sama kangmas." jawab Mimi.
"Hmm yaudah" jawab Selfia yang juga ikut beranjak.
Mimi dan Dillah berjalan dari hotel menuju pantai karena tak jauh dari hotel ada pantai yang sangat indah.
Untuk mengisi waktu mereka berdua menikmati sore hari di pantai ulee lheue.
Disaat Mimk berjalan sambil bercanda ria dengan Dillah, ada dua pasang melihat ke arah mereka siapa lagi kalau bukan Syahril dan Ryan.
"Yan, kita balik ke hotel yuk." ajak Syahril yang tak sanggup melihat kedekatan Mimi dengan orang lain.
"Riil," ucap Ryan.
"Aku tidak sanggup Yan." jawab Syahril jujur.
__ADS_1
Mimi duduk di bebatuan, Dillah pergi ke warung terdekat untuk membeli minuman dan camilan.
Syahril terus memandangi Mimi yang menatap ke arah hamparan air laut.
"Kakak hanya bisa melepas rindu dari kejauhan dek." gumam Syahril dalam hati dengan mata memandangi Mimi.
Mimi merasa dirinya sedang di lihat seseorang dan entah mengapa jantung nyabkembaki berdetak.
"Ya Allah, apa kak Syahril juga berada di pantai ini." ucap Mimi dalam hati. Mimi merasa jika Syahril berada di dekat nya.
"Kak, kenapa jqngungbini selalu berdetak saat merasakan kehadiranmu." gumam Mimi.
Mimi mentaomlurus ke arah hamparan air laut, Mimi enggan mencari tau keberadaan Syahril walau hatinya mengatakan kalau Syahril berada
ini Mimi pendam kak, karena rasa rindu ini rindu yang terlarang." gumam Mimi.
Tak dipungkiri, Mimi pun merindukan Syahril. Rasa rindu itu selalu ada di hatinya. Walau saat ini hati itu juga sudah di naungi oleh orang lain.
"Dek" panggil Dillah, Mimi menoleh dengan tersenyum.
"Kok ngelamun?' tanya Dillah dengan memberikan minuman botol pada Mimi.
"Terus Mimi harus ngapain? teriak." jawab Mimi dengan mengkrucutkan bibirnya.
"Ya nggak harus teriak, mungkin berselfi ria." ucap Dillah.
"Hmm nggak enak kalau sendiri." jawab Mimi.
"Yaudah kita berselfi berdua." ajak Dillah dan mulai merangkul Mimi dan mulai cekrak cekrek.
Aksi dua anak manusia ini membuat satu anak manusia merasa panas hati dan akhirnya Syahril lun berlalu pergi dari pantai ini.
Saat Syahril berjalan melewati Mimi duduk, Mimi melihat ke arah nya, Mimi melihat punggung yang sangga familiar itu.
"Maafkan Mimi." gumam Mimi dalam hati.
Setelah puas jalan-jalan sore, Mimk dan Dillah kembali ke hotel. Sehabis Maghrib mereka pun bersiap-siap karena acara akan dimulai di jam delapan malam.
Terlihat wajah bahagia Muthia dan Satria di atas pelaminan. Teman-teman sekolah Muthia lun banyak hadir begitu pula dengan relasi-relasi ayah Muthia dan relasi paoah Satria.
Zacky yang juga ada di dalam pesta itu bersama dua sahabatnya duduk bersama.
Zacky adalah Abang sepupu Muthia, Zacky melihat kemana arah mata Syahril selalu memandang. Yah Syahril dan Ryan berada di dalam pesta itu.
Syahril dan Ryan tidak tau jika yang menikah ini adalah Muthia sahabt Mimi, Syahril dan Ryan juga tidak tau jika Muthia adalah adik sepupu nya dari Zacky.
"Kamu melihat gadis itu ya Riil?" tanya Zacky sontak Ryan pun ikut memandang kemana mata Syahril memandang.
"Dia Mimi, sahabatnya Muthia nsepuou aku yang nikah itu."
"Mimi anaknya baik, sopan lagi. Dan yang pasti dia pintar " ucap Zacky memuji-muji Mimi.
"Usahkan kamu terhipnotis melihat dia, Aku saja pertama kaki melihat dia dulu juga terhipnotis."
"Cuma kata Tia dia sudah ada cowoknya dan dah bertunangan." ucal Zacky.
deg Syahril tersentak ketika mendengar kata bertunangan, Syahril beropini jika Mimi bertunangan dengan cowoknya yang saat ini.
"Kamu jalan kenal sama dia KY?" tanya Ryan mewakili Syahril.
"Emm hampir tiga tahun lalu, waktu Mimi ikut liburan kesini sama Muthia.
deg Syahril dan Ryan tersetak berarti waktu itu, saat Mimi masih berhubungan dengan Syahril atau mereka pas liburan saat Syahril koma.
Mimk berjalan menuju arah luar, Syahril pun ikut berdiri.
"Mau kemana Riil? " tanya Zacky.
"Ke toilet." jawab Syahril. Syahril mengikuti Mimi, Syahril tidak bisa menahan gejolak rindu di di hatinya.
Saat Mimk keluar dari toilet, Mimi terkejut kala melihat Syahril juga berada disana.
"Ka kak" ucap Mimi dengan suara bergetar.Bergetar bukan karena takut melainkan Mimi bergetar terkejut dan rasa rindunya juga tak bisa dia tahan.
Mimi berpamitan pada Dillah ke toilet karena tak sengaja Mimi melihat Syahril yang menatapnya.
"Dek." panggil Syahril, ingin rasanya dia menghambur memeluk Mimi namun dia tahan karena ini tempat umum.
"Ma maaf kak, Mimi harus kembali." ucap Mimi dan berpamitan .
"Tunggu dek," ucap Syahril dengan memegang lengan Mimi, Mimi melihat tangan yang dirindukannya itu.
"Lepas kak, jangan sampe ada kesalahan pahaman " ucap Mimi dan Syahril pun melepasnya.
"Selamat ya dek atas kelulusan nya." ucap Syahril.
"Emm makasih kak, maaf Mimi duluan. Mimi lun berlalu meninggalkan Syahril seorang diri.
Saat Mimi berjalan, Mimi berpapasan dengan Ryan. Mimjnhqnyaa mengangguk dan berlalu kembali masuk ke aula dimana Muthia dan Satria bersanding.
"Dah selesai yank." tanya Dillah kala Mimi kembali duduk disampingnya.
"Udah kang, emm kang mimi mau balik ke kamar aja ya" bisik Mimi.
"Kenapa?" tanya Dillah.
"Mimi lagi dapet kang" bisik Mimi tanpa malu.
"Emm yaudah aku temani." ucal Dillah dan miminoun mengangguk.
"Kang, tapi kita keluar dulu." ucap Mimi ketika setelah keluar dari aula.
"Emang mau kemana? katanya lagi dapet." ucal Dillah.
"Iya, Mimi mau beli rotinya dulu lah." jawab Mimi.
"Emm yaudah, kamu langsung kekamr sendiri berani? biar kakang yang beli." ucal Dillah, miminoun mengangguk.
Tak lama Selfia keluar melihat Mimi keluar.
"kamu kenapa Mi?" ucap Selfia khawatir.
"Mimi lagi dapet, kita ke kamar yuk." ucap Mimk sang mengajak selgia kekamar.
"Yaudah, Ayuk." jawab Selfia dan mereka berdua pun pergi menuju kamar mereka.
Syahril selalu melihat Mimi dari kejauhan saat Mimi pergi bersama Dillah dan seyakhnitu bersama Selfia.
tbc
__ADS_1