
Syahril dsan Mimi sehabis pulang dan telah !anruhntas di dalam kamarnya, mereka berdua sama-sama menuju dapur. Mimi membumbui ikan lele yang telah di cairkan nya pagi tadi sedangkan Syahril langsung menuju belakang untuk memasukkan ayam pemberian warga.
Mimi yang melihat magiccom masih ada nasi dan nasi banyaknya masih sama saat dia tinggalkan lagi tadi. Mimi menyalin naainterswbut dan menanak baru.
Nasi sisa itu pun Mimi kasih ke Syahril untuk diberikan ke ayam-ayam nya.
Syahril yang sedang menaruh ayam-ayam pemberian warga tadi melihat ke arah pondok yang berada di pinggiran sungai belakang rumahnya.
Syahril mengetahui siapa pemilik tubuh di dalam pondok itu. Setelah mengurung ayam-ayam itu, Syahril pun turu dan berjalan menuju pondok.
Ryan sedaei tadi masih betah menenangkan dirinya di pondok, semilirnya angin sore membuat dirinya sedikit rileks. Ryan terus memandang ke arah hamparan sawah, sehingga dia tidak mengetahui bahwa Syahril telah ada si belakang nya.
Perlahan Syahril duduk di samping Ryan, epryan menoleh ke arah samping swjank dan kemudian dia kembali menatap hamparan padi di sawah.
"Ada apa?" tanya Syahril yang mana pandangannya juga mengarah ke arah hamoaran tanaman padi, Ryan masih diam.
"Jangan kau pendam, jika kau ingin cerita, ceritakan lah. Agar tak membuat mu sesak." ucap Syahril, Ryan menutup matanya dan menarik nafas dalam.
"Aku gagal Riil." ucap Ryan.
"Gagal apa?" tanya Syahril.
"Aku gagal jadi suami yang baik, aku gagal mendidik istriku." ucapnya parau. Syahri! menarik nafasnya seraya tersenyum.
"Kenapa kau bilang gagal? bukannya ujian mu baru di mulai? Kau belum mencoba nya. Jangan menyerah." ucap Syahril.
"Ya ujian ku baru di mulai, di usia yang terbilang masih muda, baru hitungan bulan dan baru beberapa hari ini kurasakan nikmatnya. Namun.. Entah apa yang membuatnya berubah." jawab Syahril.
"Jika dia menginginkan nya, seharusnya dia bilang. Bukan seperti ini, bukan membjat dirinya dn diriku malu. Aku malu Riil, aku malu pada Mimi. Dia saja yang belum menjadi istri mu saja sudah pandai me bagtur waktu dan membawa diri nya." ucap Ryan.
"Sifat orang itu berbeda Yan, tidak semua sifat itu sama. Coba kau nasehati dia, nasehati seacea perlahan jangan pakai emosi apa lagi kekerasan."
"Aku tau apa yang kau rasakan, aku juga minta maaf jika caraku untuk !menyadari Di'ah salah. Kau tau sendiri, aku tidak bisa melihat orang yang aku sayangi dan akuncibtai di buat semena-mena."
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi sama dia?" ucap Syahril. Ryan menarik nafasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Syahril.
Ryan bingung harus menjawab apa, jawaban yang mungkin sangat memalukan bahkan jawaban yang tidak semestinya ada.
"Dia ce!buru dan iri sama Mimi." Jawa Ryan.
"Cemburu? Iri? apa yang membuatnya cemburu dan iri?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Syahril.
"Ya dia cemburu pada Mimi, saat aku menceritakan bagaimana perjuangan dan kehidupan Mimi saat kuliah di Semarang dulu, dia sangka aku menyanjung dan memuji Mimi."
"Aku menceritakan sama dia bagaimana Mimk berjuang dan jauh dari sanak keluarga, aku menceritakan bagaimana Mimi kuliah sambil berjualan kue bahkan Mimi tidak memiliki waktu untuk bersantai."
"Tapi dia menanggapinya lain, bahkan dia mengungkit masa lalu kita." Ucap Ryan, Syahril hanya tersenyum dan menepuk bahu Ryan.
"Aku ingin dia sadar Riil, aku menceritakan semua itu agar dia tidak memiliki rasa iri pada Mimi. Aku ingin dia seperti Mimi, maksud aku belajar seperti Mimi yang menghargai waktu."
"Dia iri melihat Mimi selalu pergi memakai mobil baru. Dia sangka itu mobil mu, dpsetelah aku mengatakan kalau itu mobil Mimi dia menyangka lagi kalau itu kau yang beli."
"Apa yang aku ceritakan tentang bagaimana pejuangan Mimi ternyata tak di dengarnya. Aku sudah katakan padanya kalau apa yang Mimi miliki saat ini adalah buah dari kerja kerasnya, buah dari kesabaran serta buah dari do'a-do'a orangbyang menyayangi nya." ucap Ryan dengan selalu !menarik nafasnya untuk mengontrol emosi nya.
"Kau ndak ceritakan bagaimana Mimi kerja di tiga rumah sakit?" tanya Syahril.
"Sudah, tapi... Hummm huh, entahlah kenapa dia memiliki Risa iri dengki itu."
"Apa ini sifat aslinya ya Riil." ucap Ryan dengan menghembuskan nafasnya kasar.
"Kau ceritakan saja lagi, kalau Mimi kerja si tiga rumah sakit sewaktu di Padang, bahkan di LA pun dia kerja tak hanya di satu rumah sakit."
"Iri itu boleh-boleh saja tapi iri lah dengan positif. Jika dia iri keberhasilan Mimi, kau motivasi dia untuk giat serta kerja keras."
"Jika dia giat dan mau berusaha serta kerja keras insya Allah apa yang dia inginkan bisa tercapai."
"Dan satu lagi, sedekah. Sedekah itu tak harus dengan uang, dengan tenaga pun bisa di namakan sedekah. Lah ini aku lihat beberapa hari ini, dia semakin jadi. Kau juga, kalau menikmati surga dunia jangan sampe lupa waktu."
"Gara-gara terus kau harap dia, waktunya terbengkalai. Masa iya buat sarapan dan makan mu saja dia sampe tidak punya waktu."
"Aku tidak mau urusan rumah dikerjakan Mimk semua, aku ingin mereka berdua bahu membahu, saling bantu. Jangan piring kotor bekas makan dia saja Mimi ya nyuci. Itu sudah keterlaluan, bagaimana rezeki mau ngalir media kalau dia menguras tenaga orang." ucap Syahril panjang lebar, syahril tak hanya memberi nasehat untuk Di'ah saja melainkan dia juga menyindir Ryan.
"Sudah lah, kau yang sabar menghadapi nya. Ingat semarah apa pun kau, jangan pakek kekerasan." ucap Syahril.
__ADS_1
"Aku cuma heran Riil, kenapa dia berubah. Di'ah sekarang bukan Di'ah yang aku kenal dulu."
"Duku dia pendiam serta menurut apa yang aku katakan, tapi sekarang..." ucal Ryan dengan menghelakan nafasnya.
"Dia selalu menjawab apa yang aku katakan." ucap Ryan.
"Mungkin dia lagi ada masalah." jawab Syahril.
"Ya dia bermasalah dengan hatinya." ucap Ryan.
"Terus mau mu apa? apa kau menyesal menikah dengan nya?" tanya Syahril. Ryan tersenyum sumbang dengan mata terus menghadap ke persawahan.
"Kadang terbesit rasa penyesalan itu Riil, tapi buat apa aku menyesal toh semua sudah terjadi. Bahkan kesuciannya pun aku yang ambil." jawab Ryan dengan senyum kecil.
"Berarti memang dia jodohmu. Baik buruknya dia ya kau harus terima. Sekarang kewajiban mu menasehati, membimbing dia kejalan lebih baik lagi."
"Setiap orang memiliki tolak ukur kemampuan masing-masing, saat ini Allah sedang menguji mu. Allah memberikan ujian pada mu dan Allah percaya padamu untuk membimbing Di'ah lebih baik lagi."
"Ngomong-ngomong Di'ah kemana? kenapa tidak kelihatan?" ucal Syahril bertanya keberadaan Di'ah.
"Tadi aku tinggalin dia di kamar." ucap Ryan.
"Aku sengaja meninggalkan dia, aku takut aku lepas kontrol." ucap Ryan lagi.
"Emm memang sebaiknya begitu, saat emosi merasuki kita, sebaiknya kita segera pergi. Apa lagi dua-duanya dalam balutan emosi."
"Sudah mau Maghrib, yok pulang." ucap Syahril dan mengajak Ryan untuk pulang.
"Emm" jawab Ryan , mereka lun pulang ke rumah.
Mimi sehabjs menyalin nasi sisa dari magiccom berniat memberikan nasi itu pada Syahril untuk di berikan pada ayam-ayamnya namun saat Mimi keluar dari dapur sudah tidak menemukan keberadaaan Syahril.
Kaeprwna tidak menemukan Syahril, Mimi yang memberikan ayam makan. Saat dia berdiri dekat kandang ayam, dari kejauhan Mimk melihat dua orang lelaki yang dia kenal.
"Sejak kapan mereka di pondok." gumam Mimi.
"Emm kalau kak Ryan di pondok, Di'ah dimana?" ucap Mimi lada dirinya sendiri, setelah itu Mimi lun masuk kembali kedalam rumah.
Ikan lele telah di bumbui, Mimi pun mulai menggoreng cabe rawit serta bawang baru setelah itu dia hakuskn dengan menggiling nya manual pakai batu gilingan/cobet, sayuran seperti pare, terong serta pete Mimi rebus sebagai lalapannya nanti.
"Emm sambal terasi ya dek?" ucap Syahril.
"Eh,emm iya." jawab Mimk dengan senyum.
"Enaknya ayam kampung goreng atau bebek goreng dek." ucal Syahril.
"Bekam saja beli ayam kampung yang sudah di potong." jawab Mimi yang mengerti arah pembicaraan Syahril yang mana sedari tadi dia mpingin mqkannayam kampung namun ayam pemberian warga tidak boleh di Poong sama Mimi.
"Besok kalau di kasih warga lagi ayam di potong ya dek." UC
Syahril. Mimi !enoleh ke arah Syahril.
"Emm kalau di kaaihbhidup lebih baik di pelihara saja, apa
lagi kalau mereka masih sepasang." jawab Mimi.
"Lah kalau setiap dikasih selalu di pelihara kapan makan ayam kampung goreng atau ayam kampung gukai nya dek." ucal Syahril.
"Ya makanya kalau mereka mau kasih minta ynagbsidah di potong dsn susah di bersihkan hehehee." jawab Mimi.
"Ckk bilang saja kalau malas membersihkannya." ucap Syahril yang barubgau alasan Mimi tidak boleh memotong ayam pemberian warga.
"Salah satunya hehee" jawab Mimi cengengesan.
"Emm, kalau besok ada yang nagsihnya mau langsung kakak potong titik." ucal Syahril.
"Eh janganlah kak, kasian dia itu mau hidup juga." jawab Mimi.
"Ckk banyak alasan, biar kakak yang bersihkan. Adek cukup masaknya saja." ucap Syahril.
"Oo kalau gitu mah gampang, kecil.." jawab Mimk dengan menjentikkan jarinya.
"Yaudah kalau gitu ayam tadi aja kakka potong ya." ucap Syahril.
__ADS_1
"Eh jangan kak, itu buat pelihara." cegah Mimi.
"Kalah adek dah pulang siapa yang ngurus nya." jawab Syahril.
"Ya kakak lah." ucap Mimi.
Saat Syahril dan Mimi saling berbicara, Ryan langsung masuk kamarnya. Ryan melihat Di'ah yang tertidur sambil duduk di tepian ranjangnya.
Ryan berjongkok dan melihat wajah sang istri. Bekas air mata Di'ah masih terlihat di pipinya.
"Maafkan aku,belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu." gumam Ryan dengan merapikan anak rambut Di'ah an Ryan juga mengusap Kell Di'ah penuh kasih sayang.
"Emmm" ucap Di'ah saat dia merasa tubuhnya diangjat Ryan dan dipindahkan ke atas ranjang. Perlahan Di'ah membuka matanya. Mata yang sembab memandangi ryan dalam diamnya.
"Bangunlah, sudah mau Maghrib." ucap Ryan setelah melihat Di'ah telah bangun.
"Mandilah." Ucap Ryan dengan memberikan handuk pada Di'ah, saat Ryan hendak beranjak, Di'ah memegang lengan Ryan. Ryan melihat ke arah Di'ah.
"Maafkan aku kak." ucap Di'ah.
"Emm sudah lah, mandilah bentar lagi maghrib." ucap Ryan dengan mengusap kepala Di'ah dan Ryan pun beranjak mengambil handuknya.
Ryan lebih dulu keluar menuju kamar mandi, Ryan melihat Syahril dan Mimi masih bahu membahu menyelesaikan masakan.
Ryan merasa sejuk melihat pemandangan di dapur itu, dia juga ingin melakukan hal yang sama dengan sang istri tapi mungkin itu hanyalah sebuah angannya saja. Namun Ryan selalu berharap bisa melakukan hal yang sama suatu saat nanti.
Ryan mandi dengan cepat, tak lama Di'ah menuju belakang/dapur. Di'ah melihat bagaimana Mimk dan Syahril saling bahu meembahu.
Di'ah diam melihat interaksi antara Mimi dan Syahril yang saling melengkapi, Di'ah sangat tahu jika dia sahabatnha sedari dulu selalu begitu, lagi-lagi rasa iri itu kembali pada dirinya.
Saat Di'ah terpaku melihat Mimi dan Syahril, Ryan yang sudah keluar dari kamar mandi melihat ke arah sang istri yang diam di ambang pintu.
"Mandilah," ucap Ryan dengan menepuk bahu Di'ah, Di'ah yang tersadar pun langsung melanjutkan langkah nya masuk kedalam kamar mandi.
Tanla Di'ah maupun Ryan ketahui, Syahril telah melihat mereka. Syahril sengaja memperlihatkan kemesraannya terhadapbmimi lada mereka berdua.
Saat Ryan masuk ke dalam dan Di'ah masuk ke kamar mandi, Syahril tersenyum simpul.
"Dek, ini ikannya mau digoreng sekarang?" tanya Syahril.
"Nanti kak, pas habis maghrib biar panas-panas saat makan nanti." jawab Mimi dengan !memindahkan sayuran yang telah di rebus kedalam piring.
"Oo, ini nanginswmuanya mau adek masak?" tanya Syahril.
"Hmm" jawab Mimi dengan merapikan dapurnya dan menyingkirkan peralatan kotor dan segera Mimi cuci di belakang dapur dan di bangu sama Syahril.
"Kakak Mandai saja dulu. Ini bjar Mimi yang nyuci." ucap Mimi, ucapan Mimi itu di dengar oleh Di'ah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya nanti, mending kita selesaikan dulu ini biar cepat." jawab Syahril.
"Iya, ini cuma dikit juga. Mending kakak mandi dulu bentar lagi adzan. Nanti gantian mandinya.
"Wmm yaudah, sini yang sudah di cuci kakak bawa masuk." ucap Syahril dan meminta peralatan yang sudah bersih.
"Nih" ucap Mimi dengan memberikanwajan dan periuk beraih pada Syahril. Syahril menerimanya dan setelah itu dia pun langsung masuk ke dalam rumah.
Setelah meletakkan peralatan masaknmiminlada tempat nya Syahril lun mengambil handuknya dan segera pergi mandi. Tak lama mimipun masuk kedalam rumah dengan membawa batu gilingan serta beberapa sendok, gelas dan piring kedalam.
Mimi yang sudah meletakkan semua pada tempatnya segera masuk kamar menyiapkan pakaian Syahril dan membawanya kembali ke dapur.
Mimi tau jika Syahril tak membawa pakaian gantinya. Tak lama terdengar panggilan Syahril.
"Deek" serunya dengan berteriak.
"Nih, di belakang pintu. Kebiasaan." ucap Mimi yang sudah berada di balik pintu kamar mandi.
"Makasih sayang." jawabnya dannke!baki masuk kedalam kamar mandi guna memakai pakaian. Setelah Syahril keluar barulah Mimi masuk kedalam kamar mandi dengan membawa pakaian-pakaian kotornya.
Sambil Mimi mandi, Mimi menghidupkan mesin cucinya. Di kamar Ryan dan Di'ah kembali saling diam. Ryan melihat Diah hanya diam hanya menghela kan nafasnya.
"Kamu lihat kan tadi," ucap Ryan, Di'ah melihat ke arah Ryan.
"Jujur aku iri melihat mereka berdua yang selalu mengisi satu sama lain. Jujur aku ingin seperti mereka." ucap Ryan dengan kejujuran nya.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin seperti mereka?" tanya Ryan, Di'ah hanya diam dengan segala pemikiran nya. Ryan terus mengajak Di'ah berbicara menjurus ke hal positif,Ryan juga memberikan nasehat nya pada Di'ah hingga suara adzan Maghrib berkumandang dan mereka pun bergegas menjalan kan perintah illahi.
tbc