DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
mulai aktivitas


__ADS_3

Keesokan harinya, kedua sahabat Mimi yang masih jomblo dayang ke rumah Nyai, siapa lagi kalau bukan Emma dan Sila.


Saat mereka sampai dan melihat Mimi yang sedang menyapu di teras, mereka langsung naik dengan berlari dan mereka langsung memeluk Mimi.


"Mimiii" ucap mereka berdua dengan langsung memeluk Mimi erat.


"Yang sabar ya Mi" ucap Emma dan Sila.


Mereka berdua di saat hari lamaran Mimi di kota Semarang, mereka dengan suka cita pergi. Sahabat-sahabatnya Mimk dari jambi juga sudah tau siapa Abizar dan hanya Emma dan Sila yang pernah ketemu secara langsung saat Mimi liburan pulang bersama Abizar.


"Assalamualaikum" ucap Mimi menyindir mereka yang datang-datang langsung naik dan meluk.


"Waalaikum salam" jawab mereka dengan cengengesan.


"Kalian tau Mimi darimana?" tanya Mimi.


"Dari Di'ah." ucap merea, Mimi hanya menautkan alisnya.


"Di'ah?" tanya Mimi, mereka pun mengangguk.


"Emang Di'ah ada disini?" tanya Mimi lagi karena Mimi tidak ada melihat Di'ah.


"Mungkin" jawab mereka.


"Mi, kita jalan yok?" ajak Emma.


"Bonceng tiga gitu?" tanya Mimi lagi karena Mimi lihat mereka bawa satu motor.


"Iya juga ya hahaahhaa" jawab Emma dan tertawa.


"Ya ajak Di'ah la." ucap Sila.


"Iya, sekalian kita lihat Manda yok." ajak Emma.


"Manda sudah lahiran?" tanya Mimi.


"Udah mau setahun kali Mi " jawab Sila.


"Iya juga ya, hehee" jawab Mimi.


"Emma sama Sila kapan, mumlungbmimi di Jambi nih" ucap Mimi.


"Hmm, kapan-kapan Mi." jawab mereka berdua serentak.


"Lah emang bang Ridho samaa bang Erwan ndak ada niat ngajak nikah gitu?" tanya Mimi dan mereka menggeleng.


"Kata bang Erwan, dia mau nabung dulu Mi buat adat." ucap Emma.


"Iya sama, emm entahlah Mi.." sahut Sila.


"Emm yok kita jalan, suntuk aku kalau ndak kerja gini." ucap Ema.


"Emma masih di Jambi yo?" tanya Mimi.


"Iya Mi, mungkin tinggal beberapa bukan bae Emma di Jambi." jawab Emma.


"Lah emang mau pindah kemana?" tanya Mimi.


"Kalau jadi pindah ke cabang Bintaro Mi." jawab Emma.


"Hmm kalau Emma pindah, tinggallah aku seorang diri yang Jomblo." sahut Sila.


"Hahaaa, ya sekali-kali keluar Sila. Oh ya Mimi masih di Semarang ya?" tanya Emma, Mimi menggeleng.


"Kenapa?" tanya Emma.


"Mimi mau mandiri Ma, Sil." jawab Mimi.


"Lah memangnya Mimi selama ini kan sudah mandiri ya ?" tanya Sila.


"Iya Mimi sudah mandiri, tapi Mimi kerja kan sudah di fasilitas, sudah di kasih tempat. Mimi ingin mencoba berdiri di kaki Mimk sendiri dan jauh dari pantauan." ujar Mimi.


"Emang Mimi pindah kemana?" tanya Emma.


"Sebenarnya banyak yang meminta Mimi untuk berkerja di rumah sakit daerah-daerah, kemarin ada dari Palembang, Medan, Riau, Aceh dan Padang." jawab Mimi.


"Terus Mimi pilih yang mana?" tanya Sila.


"Mimi pilih kota pedang, Sil. Alhamdulillah Mimi disana juga dapat tawaran di dua rumah sakit." ucap Mimi.


"Wah, dekat rumah kak Syahril dong." ucap Sila.


deg Mimi tercengang, Mimi melupakan jika posisi tempat kerjanya dekat dengan rumah Syahril.


"Emm" jawab Mimi.


"Rumah sakit mana aja Mi dua itu?" tanya Emma.


"Rumah sakit daerah kota sama rumah sakit swasta." jawab Mimi.

__ADS_1


"Jujur Mi, aku salut sama Mimi. Mimi bisa meraih segalanya dengan cepat. Bahkan Mimi dinumur segini sudah menjadi dokter spesialis." ucap Sila.


"Iya betul tuh, kita kuliah yang bukan kedokteran aja 4,5th baru selesai, lah dia kita baru lulus sudah masuk S2." ujar Emma


"Kamu nggak dapat beasiswa lagi Mi?" tanya Sila.


"Sebenarnya dapat Sil, tapi bukan di Indonesia." jawab Mimi.


"Lah terus dimana?" tanya Emma.


"Di Columbia dan Harvard." jawab Mimi.


"Wawww amazing" ucap Emma dan Sila tercengang.


"Terus kenapa ndak Mimi ambil?" tanya Emma.


"Emm, jauh Ma, Sil. Yang pasti biaya dan emm .." ucap Mimi dan terakhir raut wajah Mimi sedih.


"Emm, emang waktu itu Mas Abi nggak ngizinin gitu?" ucap Sila lirih dan hati-hati.


"Dia malah sangat mendukung, bahkan sewaktu Mimj masih ujian dia menyarankan Mimi untuk lanjut kuliah dan ambil beasiswa ke luar."


"Tapi Mimi mikir emak dan bapak, sedangkan di Semarang bae Mimi pas liburan puasa pulang terus kalau di luar pasti Mimi tidak bisa untuk pulang." terang Mimi.


"Dan.. Alm juga berniat mau minang jadi Mimi pikir buqtbaoa ngelanjut jauh-jauh." ucap Mimi sendu.


"Sabar ya Mi.." ucap Emma dan mereka berdua kembali memeluk Mimi


"Dah yok, kita jalan-jalan yok." ajak Emma.


"Yaudah tunggu Mimi siap-siap dulu." jawab Mimi dan segera beranjak berdiri, kala Mimi akan masuk terlihat Di'ah menaiki anak tangga dengan tersenyum.


"Assalamualaikum." ucap Di'ah.


"Waalaikum salam," jawab Mimi dan yang lain, Mimk bersalaman dan berpelukan dengan Di'ah.


"Yang sabar ya Mi." ucap Di'ah dengan memeluk Mimi.


"Kita senasib" ujar Di'ah dan Mimi mengangguk.


"Nah, ada Di'ah nih. Yok Di'ah kita jalan-jalan." ucal Emma.


"Jalan-jalan kemana?" tanya Di'ah.


"Emm ke tempat yang menyenagkan hati lah." ujar Emma.


Hari itu mereka berempat pun pergi jalan-jalan ke mall nonton bioskop dan berakhir di saung kito untuk makan.


Keesokan hari Mimi pulang ke desanya, didesa tak banyak yang Mimi lakukan, paling sesekali perginke lahan sawit atau ketebing.


Hari-hari hanya rebahan dan chat sama sahabatnya. Mimi juga selalu chat dikeluarga besar Abizar. Keluarga mereka masih berharap kalau Mimi kembali kesemarang dan berkerja di rumah sakit itu.


Di LA Syahril uring-uringan kala dia tidak bisa melacak keberadaan Mimi via satelit. Apa lagi dia tau kalau Mimi sudah pindah. Namun dia tidak mengetahui Mimi pindah kemanna. Orang-orang yang dia suruh untuk selalu menjaga Mimi pun tidak mengetahuinya, mereka kehilangan jejak Mimi. Begitu juga orang-orang Abi tidak mengetahuinya.


"Yan, apa kamu sudah mengetahui nya?" tanya Syahril pada Ryan yang juga sedang meelacak Mimi. Mereka sangat mengkhawatirkan Mimi, apa lagi kejadian sebelumnya hampir mencelakai dia dan akhirnya Abizar yang kena.


"Ya Allah kamu kemana sih dek?" ucap Syahril dengan menggusar rambutnya.


Hampir dua bulan Mimi di desa, dan saatnya Mimi pun kembali pulang ke kota pedang.


Emak sangat berat melepaskan Mimi, namun emak juga tidak ingin Mimi terus larut dalam kesedihan. Walau Mimi tidak menampakkan secara langsung tali emak mengetahui jika Mimi selalu menangis.


Yah emak sangat tau siapa anaknya, emak juga mengira Mimi menangis karena mengenang kenangan-kenangan nya sama Abizar saat mereka berlibur di desa.


"Hati-hati di sana nanti.Jaga diri baik-baik, jaga kesehatan." ucap emak kala Mimi akan berangkat.


"Iya Mak, insya Allah. Tolong do'a kan Mimi ya Mak, pak.' ucap Mimi.


"Emak selalu mendoakan yang terbaik buat kamu nak." ucap emak dengan suara bergetar menahan Isak tangis dan mengecup kening Mimi.


"Emak jangan menangis, Mimi tidak apa-apa." ucap Mimi.


"Mimi pergi dulu ya Mak, assalamualaikum." jawab Mimi.


"Waalaikum salam, bilang ke Nyai Mak ndak bisa ke Jambi Ay mau Ujian." ucap emak


"Iya" jawab Mimi. Mimi pun di antar ke loket sama bapak.


Mimi pukangnke Jambi terlebih dahulu beri esok sore Mimi berangkat ke kota pedang.


Sesampai di Jambi hari sudah sore, entah mengapa hati Mimi bila pulang ke daerah nya merasa hampa. Dan hanya kenang-kenangan indah bersama nya yang selalu terlintas.


Keesokan sore Mimi diantar Pakcik ke loket bus menuju kota pedang, Mimi sengaja ambil keberangkatan jam 6 sore agar sampai di kota pedang pagi hari.


"Hati-hati ya Mi, jaga kesehatan dan jaga diri " ucap Pakcik.


"Iyo cik, makasih. Mimi berangkat dulu. Assalamualaikum." ucap Mimi seraya menyalami dan menciumi tahan Pakcik.


"Waalaikum salam." Jawab Pakcik. Mimi pun naik ke dalam bus karena tak lama Mimi sampai bus sudah siap-siap akan berangkat.

__ADS_1


Pagi hari jam enam Mimi telah sampai di kota pedang, Mimi di jemput sama Andre karena Andre berulang kali menanyakan kapan Mimi pulang ke kota pedang.


"Kak" panggil Andre yang sudah menunggu Mimi di loket.


"Ndre" jawab Mimi seraya berjalan mendekati Andre. Setelah mengambil barang bawaannya Mimi dan Andre pun pulang ke kontrakan Mimi.


Karena hampir dua bulan tidak di tempati maka debu pun mulai mengotori lantai kontrakannya. Mimi membersihkan rumahnya terlebih dahulu di bantu Andre dan temannya.


Setelah selesai, Mimi pergi ke warung makan makwo dan membeli nasi beberapa bungkus untuk makan pagi sekaligus siang bagi Mimi.


"Ayo kita makan dulu." ucal Mimi.


"Makasih kak " jawab mereka.


Yah mereka semua masih mahasiswa semester Lima, dan mereka semua adalah teman-teman Andre.


Awalnya mereka menyangka Mimi seumuran dengan mereka, setelah Mimi menunjukkan KTP Mimi baru mereka percaya. Bahkan mereka juga tidak percaya di usia Mimi yang menginjak 23th sudah menjadi spesialis jantung.


Jadilah Mimi disini tak hanya sebagai dokter jantung melainkan juga sebagai guru private buat mereka dan mereka semua teman-teman Andre adalah mahasiswa kedokteran.


Mimi akan membantu mereka dalam pelajaran, bahkan mereka akan menunggu Mimi pulang kerja bila ingin bertanya tentang pelajaran yang tidak mereka pahami.


Yah Mimi sudah dua hari menjalani aktifitas nya kembali sebagai dokter jantung di dua rumah sakit sekaligus.


Pagi-pagi Mimi akan pergi ke rumah sakit daerah kota, dan siang hari hingga sore atau malam di rumah sakit nurani bunda.


Selama Mimi berkerja Mimi sangat enjoy. Banyak dokter-dokter yang mendekati Mimi tetapi Mimi hanya menganggap mereka rekan kerja semata.


Di rumah sakit nurani bunda Mimi memiliki teman yang saling mengisi dan menyambung bila berdiskusi. Yah Mimi memiliki sahabat baru di rumah sakit ini.


Untuk berteman Mimi tidak memilih dan tidak memandang profesi. Para perawat di dua rumah sakit ini juga sangat senang bila mereka dipertemukan shift dengan Mimi.


"Dok, ini ada pasien anak-anak yang memliki riwayat jantung bocor." ujar seorang dokter anak saat sedang berdiskusi mengenai anak kecil mengalami kebocoran jantung.


Selama Mimi berkerja Mimi belum mendapati pasien anak-anak. Mimi merasa kasihan mendengar anak kecil telah mengalami kebocoran jantung.


Mimi mempelajari riwayat pasien itu dengan melihat rekam medis si anak.


"Sejak kapan orang tua nya baru menyadari dok." tanya Mimi.


"Dua hari lalu dok, dan saat ini anak sedang di rawat di rumah sakit ini." jawab dokter anak itu.


"Apa ada tanda-tanda dari si anak dok?" tanya Mimi.


"Ada dok, sedari pemeriksaan yang saya lakukan dan saya tanyakan kepada orang tua anak kalau anak


*Mudah sesak napas saat sedang berolahraga atau beraktivitas.


*Cepat lelah saat melakukan aktivitas, bahkan pingsan.


*Pingsan saat berolahraga atau beraktivitas.Pembengkakan di beberapa bagian tubuh.


Dan menurut diagnosa saya si anak telah lama mengidap penyakit ini namun diketahui saat ini." jawab dokter anak. Yah pasien ini masih berusia 7th,


"Emm, apa sudah di cek Labor dan apa sudah dilakukan rongent dok?" tanya Mimi.


"Sudah dan hasilnya mungkin akan keluar sore nanti karena baru di cek pagi tadi." ucap si dokter anak.


"Oh baiklah nanti setelah hasil Labor keluar baru kita mengetahui diagnosa sebenarnya.


"Iya benar dok." ucap dokter anak. Mimi masih melakukan diskusi mengenai penyakit jantung pada anak karena disini tak hanya satu anak tetapi ada sekitar lima anak yang mengalami hal serupa.


Mulai hari itulah Mimi mulai disibukkan tidak hanya dengan pasien-pasien dewasa melainkan pasien anak dan bayi pun ditangani dengan penanganan nya degan serius.


Bahkan ada satu orang anak yang harus segera dioperasi karena hasil dari rongent terdapat lubang ventrikel berukuran besar, sehingga menyebabkan banyak gejala, dan menyebabkan pembesaran jantung sehingga menganggu fungsi katup-katup jantung.


Mimi langsung memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruang operasi segera, dan timmmedis lain juga susah Mimi kerahkan.


"Dok, tolong selamatkan anak saya " ucap si ibu dengan deraian air mata.


"Iya dok, bangun cucu saya." ucap si Kakek, Mimi melihat semua keluarga si anak sangat berharap pada nya.


"Insya Allah Bu pak, mohon bantu doanya." jawab Mimi.


"Permisi," ucap Mimi yang hendak masuk ruangan operasi.


"Dok saya mohon dok, berapa pun akan saya bayar." ucap si ibu.


"Insya Allah, tolong bantu doanya juga.Saya tidak bisa menjanjikannya, namun saya akan berusaha sebaik mungkin buat anak ibu." ucap Mimi.


Mimi segera masuk ke dalam ruangan operasi dan memakai pakaian yang steril, sebelum menjalani operasi itu tak lupa Mimi berdoa. Karena Allah lah segala tempat kita meminta kekuatan.


Beberapa jam berlalu, Mimi dan tim medis lain berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa seseorang anak bahkan masih seorang bayi dan anak pertama serta cucu pertama di keluarga ini.


Bayangan-bayangan raut penuh harap dan sedih dari ibu serta nenek si anak menjadi sumber kekuatan Mimi karena Mimi mengingat emak dan Nyai nya.


"Ya Allah bantu hamba," ucap Mimi dalam hati, harap-harap cemas telah dirasakan kala detak jantung si anak sempat terhenti. Namun karena kuasa Allah dan do'a dari keluarga si anak, operasi pun berjalan lancar.


tbc

__ADS_1


__ADS_2