DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
169


__ADS_3

Dillah yang lengah tak dapat lagi melihat sosok Mimi di kerumunan pasar.


"Damn, kemana dia?" gumam Dillah yang terdengar oleh Reno, yah yang menelpon Dillah adalah Reno.


"Hey Dil, Lo ngomong apaan sih." belum juga Reno menyelesaikan ucapannya langsung dipotong Dillah.


"Ah gara-gara Lo nih," Ucap Dillah dengan membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan kasar.


Reno yang masih berada di sambungan telepon menjadi kaget terdengar suara bantingan pintu.


"Lo kenapa Dil, hallo Dil Dil Lo kenapa?" tanya Reno khawatir.


Gimana sang sahabat tidak khawatir, awalnya Dillah mengumpat terus membanting pintu dan tak menghiraukan pertanyaannya.


"Dilll." panggil Reno.


"Ah udah dulu ya, gara-gara Lo hilang dia." ucapnya dan langsung mematikan sambungan telepon sepihak.


Sementara Mimi masih berada di lapak si Mbah, si Mbah bercerita kehidupannya. Seolah si Mbah merasa ada teman untuk berkeluh kesah meringankan rasa penat dan beban di hatinya.


Mimi membeli berbagai macam jajanan yang di dagang oleh si Mbah, dari getuk, cenil, urap, dan pecalnya serta kerupuk. Setelah merasa cukup mendengarkan keluh kesah si mbah Mimi pamit kepada si Mbah untuk belanja yang lainnya lagi.


"Mbah, Mimi pamit ya mau belanja yang lain dulu." Pamit Mimi.


"Iya ndok, makasih nggeh." ucapnya


"Sama-sama Mbah." Mimi pun berlalu tak lupa membayar belanjaannya dan mencium tangan si Mbah.


Mimi terus berjalan menelusuri lapak-lapak para pedagang hingga masuk ke dalam. Dillah pun menelusuri setiap lapak hingga dia masuk ke dalam pasar untuk mencari keberadaan Mimi.


"Kemana sih kamu." Gumamnya dengan terus berjalan dan pandangan terus menelisik setiap pembeli yang lalu lalang.


"Ah ngapain aku bisa ngikutin dia sampe masuk kedalam pasar gini ya?" Gumamnya seketika sadar akan apa yang dilakukan nya.


"Ya Tuhan kenapa aku sampe ngikutin dia gini, ada apa dengan diriku." ucapnya dalam hati namun kaki tetap terus melangkah dan mata tetap menelisik kerumunan.


Mimi tiba di depan lapak pedagang lauk pauk, Mimi melihat-lihat apa aja yang didagangkan oleh pedangan disana. Mimi melihat ada berbagai macam yang dijual para pedagang dari lauk yang berasal dari air tawar hingga ada dari laut.


Mimi menghampiri pedangan ayam dan Mimi pun membeli ayam disana, setelah itu Mimi melihat ada pedagang jual ikan gurame, Mimi pun membelinya.


Setelah itu Mimi melihat ada cumi-cumi dan Mimi pun menghampiri pedagangnya dan membeli cumi-cumi tersebut. Mimi masih asik menelusuri lapak pedagang dan entah mengapa Mimi melihat pedangan menjual ikan kakap merah Mimi pun menghampirinya dan membeli ikan kakap tersebut.


Semua buat lauknya sudah Mimi beli dan Mimi kembali menenteng belanjaanya menuju ke lapak pedagang yang jual sayuran dan buah. Merasa cukup Mimi kembali menelusuri lapak pedagang penjual bumbu-bumbu dapur dan membeli bumbu-bumbu dapur yang Mimi perlukan.


Begitu banyak kantong plastik yang Mimi tenteng, tak jauh dari lapak bumbu Mimi melihat ada pedagang yang menjajakan tas jinjing buat belanjaan, Mimi pun menghampiri nya dan membeli satu. Setelah membeli Mimi pun menyusun belanjaannya ke dalam tas tersebut.


Ikan, ayam, cumi, sayur dan buah serta bumbu sudah terbeli, Mimi merasa ada yang kurang, yah Mimi belum membeli cabe dan bawang nya. Disaat Mimi menelusuri jalanan menuju ke lapak pedangan cabe, Mimi merasa tangannya di cekal.


Mimi kaget tangannya di cekal dari arah belakang, Mimi yang merasa kaget pun sontak mengayunkan tangannya sebelah ke arah belakang dengan tiba-tiba.


Bugh bugh bugh berkali-kali Mimi mengayunkan tangannya mengenai wajah si pelaku.


"Aduh, hei stop." ucap sang pelaku langsung memegang tangan Mimi satunya. Mimi tambah kaget ketika yang kena bogemnanya adalah Dillah.


"Hah." ucap Mimi dengan mata melotot, mulut menganga tak percaya kalau yang dia pukul adalah Dillah.


"Ckk, tutup tuh mulut nanti dimasukin lalat." ucap nya dengan mengusap satu tangannya ke pipinya, Mimi pun langsung mingkem.


"Emm maaf kak, kakak kok ada disini." ucap Mimi.


"Yah mencari kamu." ujarnya dengan menahan perih di pipi.


"Ngapain cari Mimi." jawab Mimi sekenanya.


"Ckk takut kamu hilang." ucapnya lagi.


"Hmm emang Mimi anak kecil." jawab Mimi dan langsung berbalik arah untuk melanjutkan jalannya menuju lapak cabe dan bawang.


"Mau kemana?" tanya Dillah


"Mau main." jawab Mimi asal.


"Hah main? dipasar gini?" tanya Dillah lagi.


"Iya." jawab Mimi jutek dengan terus berjalan sehingga sampailah Mimi di pedagang cabe.


"Bude, berapa cabe merahnya, cabe rawit nya juga berapa? bawang berapa?" tanya Mimi beruntun kepada pedagang tersbut.


"Cabe merah 20 ribu, cabe rawit 22rb bawang merah 25rb, bawang putih 28rb." jawab si pedagang.


"Itu buat sekilo ya bude?" tanya Mimi kembali.


"Iya mbak." jawab si pedagang.


"Emm bude, cabe merah sama cabe rawit nya disamain ya harganya sama cabe merah?" Mimi mencoba menawar.


"Terus sama bawang merah dan bawang putih juga disamain juga ya bude harganya sama bawang merah." Mimi mencoba merayu si pedagang.


"Yo wes, rapopo. Mau berpa kilo?" jawab si pedagang dan kembali bertanya kepada Mimi.


"Emm cabe merah nya setengah dan cabe rawit nya setengah bude, terus bawang merah sama putihnya campur jadii sekilo aja tapi bawang putihnya tiga bonggol aja." ucap Mimi.

__ADS_1


Bude sipenjual cabe dan bawang dengan cekatan langsung membungkus nya. Setelah itu Mimi pun memberikan uang pas kepada bude penjual cabe.


"Ini bude, pas ya bude." ucap Mimi.


"Iya makasih mbak." jawabnya. Saat Mimi akan melangkah kan kaki Mimi kembali menghadap ke budenya dan membeli kembali cabe dengan berat yang sama dengan yang dibelinya sebelumnya.


"Bude, bungkusin lagi bude sama yang tadi." ucap Mimi.


"Loh banyak banget, mau kenduri apa?" tanya si bude.


"Nggak bude, cuma ada titipan aja." jawab Mimi beralasan.


"Oh gitu toh." jawab si bude dengan cekatan lagi dia membungkus dan Mimi pun membayar sama seperti yang pertama.


Setelah cukup Mimi pun melangkahkan kembali kakinya menelusuri jalanan dalam pasar ini. Dillah terusnmengikuti Mimi di belakang.


"Sini biar aku bantu bawa." ucapnya seketika ketika melihat Mimi kerepotan membawa belanjaannya.


"Emm nggak usah." jawab Mimi ketus namun Dillah tidak menggubrisnya, dia langsung membawa tas belanjaan Mimi.


"Eh nggak usah kak, Mimi bisa bawa sendiri." ucap Mimi ketika tasnya di ambil alih oleh Dillah disaat Mimi meletakkan tasnya sejenak untuk melepas kepenatan tangannya.


"Hmm nggak usah di tolak kalau keberatan membawanya." ucap Dillah dan Mimi pun memanyunkan dirinya.


Sebenarnya Mimi merasa senang jika di bantu bawakan tas belanjaanya apa lagi kalau yang bawa gratisan.


"Mau kemana lagi?" tanya Dillah.


"Mau kesana?" jawab Mimi menunjuk ke arah lapak si Mbah yang terlihat dari jaraknya berdiri, Dillah hanya ber o ria dan terus mengikuti langkah kakinya.


"Mbah." panggil Mimi.


"Loh, udah belanja nya?" ucap si Mbah kaget melihat Mimi kembali menghampiri nya.


"Iya Mbah alhamdulillah." jawab Mimi sembari mengambil tas belanjaan yang dipegang Dillah dan mengeluarkan belanjaannya yang sengaja di beli double.


"Mbah, ini buat si Mbah ya?" ucap Mimi dengan menyerahkan belanjaan yang sengaja di doublenya tadi.


"Loh ndok nggak usah," tolak Simbah.


"Nggak apa Mbah, Mimi sengaja tadi beliin buat mbah." jawab Mimi dengan tersenyum. Dillah begitu takjub melihat Mimi.


"Begitu baik hatimu, perhatian sama orang yang baru kau kenal." ucap Dillah dalam hati.


"Oh yaudah kalau gitu, makasih ya ndok." ucap si mbah dengan memeluk Mimi dan menangis.


"Eh kok Mbah jadi nangis, maafin Mimi ya Mbah kalau Mimi salah." ucap Mimi meminta maaf merasa tak enak hati.


"Mimi nggak merasa merepotkan kok Mbah, Mimi hanya teringat akan nenek dan mamak Mimi aja. Biasanya Mimi kalau belanja kepasar sama mamak." jawab Mimi.


"Oh ya udah mau habis ya Mbah dagangannya." ucap Mimi melihat dagangan Simbah sudah berkurang banyak.


"Alhamdulillah ndok " ucap si Mbah, tak lama mbah lanang menghampiri mengajak Simbah pulang.


"Bune, yok muleh." ucap si Mbah Lanang.


"Oh iyo pak, sek tak beres ndisek daganganne." jawab si Mbah.


Mimi melihat si Mbah membereskan dagangannya dan masih ada beberapa lagi jajanan nya Mimi brorong aja sekalian biar si Mbah nggak berat bawanya pulang.


"Emm Mbah, getuk, ketan manis sama cenilnya Mimi beli aja semuanya." ucap Mimi.


"Beneran ndok.'' ucap si Mbah berkaca-kaca.


"Iya mbah." jawab Mimi dan si Mbah pun membungkus semua yang tersisa.


"Oh ya mbah Lanang, singkong nya masih?" tanya Mimi pada si Mbah Lanang.


"Masi banyak ndok." ucapnya.


"Emang nggak ada yang beli ya Mbah." tanya Mimi iba.


"Ya namanya dagang nggak selalu habis ndok." jawabnya dengan mengusap peluh.


"Emm biasa kalau nggak habis diapain Mbah?" tanya Mimi.


"Ya biasanya mbah wedok buat getuk, cenil kadang kalau banyak sisa gini di buat tape." jelas si Mbah Lanang.


"Emm Mbah, Mimi mau singkongnya semua ya" ucap Mimi dan itu membuat Dillah kaget dan heran.


"Beneran ndok? emang mau di buat apa sebanyak ini." ucap si Mbah Lanang.


"Emm Mimi kepingin buat keripik Mbah." jawab Mimi.


"Oh gitu, yo wes tunggu Mbah ambilkan." ucapnya.


"Eh nggak usah di bawa kesini Mbah, biar Mimi kesana aja." ucap Mimi dan mereka pun bersamaan menuju tempat dimana si Mbah Lanang menjual singkong nya.


Sampai disana si Mbah langsung menimbang semua dan ternyata masih tersisa sekitar sepuluh kiloan. Karena Mimi telah mengatakan akan membelinya semua maka Mimi pun akan membelinya.


"Emm Mbah, kata Mbah Lanang Simbah bisa buat tape ya?" tanya Mimi kepada Simbah wedok.

__ADS_1


"Bisa ndok." ucapnya


"Emm Mbah bisa nggak buatkan Mimi tape, itu kira-kira berapa hari jadi Mbah." tanya Mimi lagi.


"Ya kurang lebih lima hari ndok." jawabnya .


"Oh gitu ya Mbah. Emm." jawab Mimi dan menghitung lima hari ke depan. Ya lima hari ke depan tentunya Mimi nggak bisa untuk menjemput nya.


"Emm Mbah, besok Mbah kepasar lagi nggak?" tanya Mimi.


"Emang ada apa toh ndok?" tanya si Mbah wedok.


"Ini singkong nya, Mimi mau minta tolong simbah buatkan tape sekitar setengahnya, itu kalau Simbah nggak keberatan dan besok Mimi jemputnya." ucap Mimi.


"Oh, kaalau besok ya belum Mateng ndok tape nya." ujar si Mbah Lanang.


"Iya nggak apa Mbah, nanti biar Mimi simpan di kosan aja, soalnya lima hari ke depan mungkin Mimi nggak bisa kepasar.'' jawab Mimi.


"Oh gitu, yaudah biar Mbah buatkan." ucap simbah wedok.


"Bisa ya Mbah, makasih banyak ya Mbah." jawab Mimi.


"Iya justru Simbah yang makasih, simbah jarang kalau pulang nggak bawa dagangan pulang." Ucap si Mbah wedok.


"Emm, sama-sama mbah, yaudah kalau gitu separoh mbah bawa pulang lagi ya untuk tape." ucap Mimi.


"Oh ya Mbah wadah nya pakek apa ya Mbah, emm. " ucap Mimi sambil celingukan dan Mimi melihat ada yang jual barang pecah belah dan plastik.


"Mbah ayo kita kesana." ucap Mimi dengan menunjuk ke arah yang menjual pecah belah dan plastik.


"Mbah, kayaknya cocok pakek yang ini deh Mbah buat tape nya." ucap Mimi dengan menunjuk wadah tertutup.


"Iya bagus juga, tapi yang besaran." ucap si Mbah.


Mimi pun menanyakan kepada pedangan apakah ada yang lebih besar dari yang di tunjuk nya. Dan ternyata yang mimi tunjuk adalah yang paling besar. Karena singkong yang akan dibuat 5kg maka Mimi beli wadah itu tiga, ya rencana Mimi akan meminta si Mbah untuk membuat tape 5kg itu menjadi tiga tempat.


Mimi tak hanya membeli wadah itu saja Mimi juga membeli wadah untuk cabe serta lauk pauk yang dibelinya tadi, dan Mimi pun membelikan barang yang selalu di pegang si Mbah. Setelah membayar, Mimi dan si Mbah kembali ke tempat Mbah Lanang.


"Mbah, ini wadahnya." ucap Mimi dengan memberikan tiga wadah buat tape, ember dan baskom untuk Simbah.


"Lo ndok kok banyak men toh." ucap si Mbah yang menerima barang yang diberi Mimi.


"Ya yang tiga buat tape nya mbok, oh ya mbah nanti singkong yang di buat tape di bagi tiga tempat ini ya Mbah, terus ember dan baskom sama toples ini buat si Mbah." ucap Mimi.


"Ya Allah, makasih ndok. Udah lama mbah kepingin beli ini cuma mbah belum bisa karena belum cukup duitnya." ucap si Mbah dengan mengurai air matanya.


"Udah Mbah, tapi gimana mbah bawanya ya." ucap Mimi.


"Ya nanti di taruh di sepeda." jawab Mbah Lanang.


"La terus mbahnya nanti gimana?" tanya Mimi lagi.


"Ya kami jalan berdua pulangnya ndok." ucap si Mbah.


Nyess begitu sakit Mimi membayangkan orang tua yang berusia lanjut berjalan kaki selama tiga jam. Mimi liat jam ditangannya sudah pukul 11 jika ditambah tiga jam maka kurang-lebih jam dua mereka baru sampe.


Tak terasa air mata Mimi menetes mendengar pernyataan dari kenyataan yang si Mbah lakukan berhari-hari.


"Berarti jam dua lebih dong mbah nyampe." ucap Mimi lirih.


"Ya kadang ampe jam tiga, kadang ampe jam lima ndok kalau banyak berhentinya." terang Mbah Lanang.


Degg terasa lemas Mimi memikirkan dan membayangkan kerja keras si Mbah pasti sangat lelah yang di rasakan nya.


"Emm Mbah, kalau gitu Mbah nggak usah ke pasar besok, hari Minggu aja biar Mimi jemput disini." ucap Mimi.


"Nggak apa ndok, besok biar Mbah antar, atau mbah antar ke kosan kamu ndok." ucap Mbah Lanang.


"Nggak usah Mbah, minggu aja Mimi jemput di pasar ini, besok mbah istirahat aja dulu." jawab Mimi.


"Yaudah, oh ya udah si Mbah pulang dulu ya sekalian nanti mau ngejar sholat Jumat di masjid sana." ucap si mbah lanang.


"Iya Mbah, hati-hati. Eh oh ya ini Mbah uang singkong sama buat tape nya." Ucap Mimi dengan memberikan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Lo ini kebanyakan, nih segini aja." ucap si Mbah Lanang dan mengembalikan dua lembar ke Mimi


"Mbah, ambillah ini buat Mbah." ucap Mimi dengan menaruh uang dua lembar tadi ke tangan renta si Mbah Lanang.


"Ya Allah ndok, semoga Allah membalas kebaikan mu dan di permudahkan segala urusan dan rezekinya." ucap si Mbah wedok dan Lanang mendoakan Mimi.


"Amin ya rabbal alamin." jawab Mimi.


"Yaudah Mbah pamit ya, assalamualaikum." ucap Simbah.


"Waalaikum salam." jawab Mimi dan Dillah, si Mbah pun berjalan keluar dari area pasar.


"Ya Allah berikanlah kesehatan dan mudahkanlah jalan rezekimu buat si Mbah." ucap Mimi dalam hati.


Dillah melihat Mimi penuh dengan kagum, dan entah mengapa dia pun tersentuh akan kebaikan Mimi.


----TbC---

__ADS_1


Se


__ADS_2