DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Murka nya Selfia dan orang terdekat Mimi A


__ADS_3

Malam yang hampir tengah malam, Mimi berlari sekarang diri di jalanan. Taksi yang di tunggu-tunggu tak kunjung jua tiba. Deraian air mata terus mengiringi langkah nya, air mata penyesalan, air mata kekecewaan dan air mata ketakutan yang pastinya.


Ada rasa takut di hati Mimi ketika berjalan seorang diri di daerah yang belum pernah dia jalani. Ponsel yang digenggamnya pun tak mau menemani nya.


"Ya allah, ini dimana?" ucap Mimi yang semakin melebarkan langkahnya karena sedari tadi merasa di ikuti.


Saat terdengar suara orang melangkah semakin Mimi melebarkan langkanya, entah berapa kilo meter yang dia lalui malam ini seorang diri.


"Mak, balak, ayah, bunda. Maafkan Mimi, mas Abi." Ucap Mimi dengan air mata tak terus berhenti mengalir.


Sejauh kaki melangkah baru terdengar suara mobil, ada rasa senang ada pula rasa takut jika mobil yang lewat bukanlah orang baik-baik.


"Ya Allah, lindungi hamba." ucap Mimi.


Mimi terus berdoa dan dzikir dinswtial langkahnya larean itu salah satu kekuatan baginya untuk sedikit melawan rasa takut.


Orang yang di dalam mobil, memicingkan matanya melihat seorang wanita berjalan seorang diri dengan sepatu yang sudah di tenteng.


"Rud, tuh cewek asli atau lekong!" tanya sahabat Rudi.


Yah yang didalam mobil adalah sekretaris Rudi berserta sahabatnya Bintang.


"Mana gue tau lah Tang, coba Lo lihat dan kenali tuh wajah cewek." ucap Rudi sambil fokus nyetir.


"Ya elo pelan bawa mobilnya." seru bintang sambil melihat siapa perempuan berjalan seorang diri di tengah malam gini.


Mimi yang merasa mobil itu seakan mengikutinya semakin memperlebar jalannya. Sedangkan mobil yang sudah berada di samping Mimi si penghuni mobil melihat ke arah luar.


"Astaga Rud bukannya itu dokter bebuyutan Lo ya?" ucap bintang menyebut Mimi dokter bebuyutan sekretaris Rudi karena memang setiap mereka berdua bertemu seperti orang menabuh genderang permusuhan.


"Ah masa sih Ntang, ngapain dia malam-malam jalan kaki?" ucap Rudi tidak percaya.


Mimi yang merasa mobil itu seolah mengikutinya berusaha berlari walau tenaganya mulai menipis.


"Lah tuh anak kenapa lari." seru Rudi.


"Mungkin dia takut Rud, buruan kejar." ucap Bintang, Rudi lun mempercepat laju kendaraannya, Bintang membuka jendela mobilnya dan menongolkan kepalanya.


"Hahaa coba Lo kerjain Ntang." ucap Rudi


"Hai cewek, sendirian aja." ucap Bintang mengerjai Mimi dengan menongolkan kepalanya, karena merasa lelah Mimi pun berjalan dan tak menghiraukan lelaki yang mengerjainya.


"Gila tuh cewek cuek amat hahaa" Sahut Rudi, Mimi tak menghiraukan dan terus berjalan yang tak tau kemana tujuannya dengan deraian air mata.


"Woyy Mimot, mau naik nggak" teriak Rudi yang kesal karena Mimi tak menghiraukan godaan nya. Mimi yang merasa mengenal dengan suara itu berhenti dan melihat ke arah mobil.


Dengan masih berderaian air mata dan bibir manyun melihat ke arah Rudi dan Bintang denagn kesal.


"Buruan naik, kalau mau naik kalau nggak kita tinggal nih." ucap Rudi, Mimi pun akhirnya masuk kedalam mobil mereka.


Sepanjang perjalanan Mimi hanya diam namun air mata tak henti mengalir.


"Ntang, kenapa tuh bocah?" bisik Rudi dengan menyenggol tangan Bintang.


"Nggak tau gue." jawab Bintang. Bintang yang merasa penasaran dengan Mimi melihat ke arah belakang dengan membalikkan badannya.


Mimi yang sedang ditelisik oleh bintang menghadap ke arah jalanan. Sekilas bintang melihat pipi Mimi memerah seperti bekas tamparan.


"Shuut" ucap Rudi dengan menyenggol lengan Bintang kembali.


"Kayaknya habis teraniaya nih anak." ucap Bintang.


"Teraniaya gimana?" tanya Rudi yang masih fokus ke jalanan.


"Noh lihat ada bekas tamparan di pipinya." jawab Bintang


"Apaaaa!! chiiiiet" teeiak Rudi dan mengerem mendadak.


Dug kepala Mimi terbentur dasboard kursi penumpang yang di duduki Bintang.


"Ckk bisa bawa mobil nggak sih." sungut Mimi.


"Kalau mau bunuh dirinya jangan anak-anak, bunuh dirinya aja sendiri." imbuh Mimi kesal dengan mengusap keningnya.


Rudi dan Bintang saling pandang mendengar kesewotan Mimi.


"Eh mimot siapa juga yang mau bunuh dirinya." seru Rudi.

__ADS_1


"Nih mau di antar kemana?" tanya Rudi.


"Kerumah sakit nurani bunda aja " jawab Mimi.


"Lah ngapain kesana mau operasi buk?" canda Bintang.


"Ya mau operasi kalian berdua" ucap Mimi. Rudi dan Bintang saling pandang denagn mukut menganggap.


"Buruan jalan, mau sampe kapan di jalanan gini." ucap Mimi kesal karena Rudi tak juga menjalankan mobilnya


"Ckk" ucap Rudi dan mulai menjalankan mobilnya lagi.


Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit Nurani Bunda, Mimi masih diam dengan mata menghadap keluar. Rudi dan Bintang saling pandang melihat dokter andalan rumah sakit ini banyak diam dan lagi badmood.


"Ehemm" ucal Rudi dengan deheman yang sangat keras, Mimi yang mendengarnya melihat ke arahnya.


"Nggak mau turun non?" ucap Rudi, Mimi pun melihat sekeliling dan tpdia baru tersadar kalau dia sudah sampai.


Dengan cepat Mimi membuka pintu mobil dan mengambil tasnya.


"Makasih" ucap Mimi kepada mereka berdua dan langsung masuk kedalam dengan kaki nyeker.


"Ntang, kira-kira tuh anak kenapa ya?" ucap Rudi, bintang yang sedang memperhatikan Mimi lun melihat kearah Rudi.


"Sepertinya ada yang nggak beres deh Rud." ucap Bintang.


"Tuh anak apa nggak sakit nyekee gitu?" ucap Bintang.


"Apa? nyeker?" ucap Rudi dan melihat ke bangku belakang terlihat sepatu serta ponsel di atas bangku.


"Tuh anak kegnya pikirannya sedang berkelana deh Ntang, noh lihat sepatu sama HP nya di tinggal begitu aja." ucap Rudi. Rudi lun turun dan kembali membuka pintu belakang dan mengambil sepatu serta HP Mimi dan Rudi lun masuk kedalam dengan di ikuti Bintang.


Saat Mimi masuk, Mimk tidak tau jika dia sedang di tunggu-tunggu kedatangan oleh para perawat dan dokter jaga serta dokter Rayhan.


"Dok, itu dokter Mimi." ucap perawat yang sedang bersama dokter Rayhan.


"Mi...Mi." teriak dokter Rayhan namun dia terlambat karena Mimi sudah masuk kedalam lift.


Mimi yang biasanya takut dalam lift sendirian kalau malam, saat ini rasa itu seakan hilang. Sesampainya di lantai dimana letak ruangannya, Mimi segera masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintu cepat.


Sedangkan di restoran Selfia sudah mengeluarkan taringnya yang sedari tadi ditahan.


Papi dan mami Dillah, heran kenapa ada salah satu gadis ynag pernah di culiknya itu ada disini.


"Mau apa kamu?"ucap mami Dillah.


"Apa anda masih ingat dengan saya?"


"Semoga Anda masih ingat karena saya tidak akan pernah melupakan Anda berdua." ucap Selfia menunjuk ke arah Pali dan mami Dillah


"Hah, seharusnya anda malu dengan diri anda sendiri, seharusnya anda juga berterimakasih kepada Mimi orang yang telah Anda hina mati-matian itu."


"Kalau dia mau, mungkin Anda sudah mendekam di penjara saat ini" ucap Selfia, Dillah mendongak melihat ke arah Selfia.


"Fia." ucap Dillah.


"Kenapa kak? kaget?" ucap Selfia.


"Kakak mau tau kejahatan apa yang dikakukan kedua orang tua kakak sama Mimi dan aku?"


"Mereka berdua menyuruh orang-orang berbadan kekar menculik Mimi dan aku saat kami di bandara mengantar kedua orang tua Mimi."


"Dan kakak tau kemana mereka membawa kami? mereka membawa kami ke daerah yang tak kami ketahui, beruntung ada orang baik memberitahu kami kala kami berdua berjalan tak tau arah dan gak ada taksi lewat serta HP kami semua lowbat."


"Orang baik itu mengatakan kalau kami berada di daerah selatan dan terletak di perbatasan kota, orang itu juga menunjukkan ke kami dimana ada losmen untuk kami berdua beristirahat di tengah malam." ucap Selfia dengan menggenggam erat kedalam tangannya jika mengingat masa itu.


"Dan kakak tau, mereka ( Selfia menunjuk ke arah kedua orangtua Dillah ) mereka meminta Mimi untuk menjauhi kakak dan meraka meminta Mimi untuk tidak !mendekati kakak karena Mimk adalah anak orang miskin yang tidak selevel dengan mereka.''


"Mereka juga memberikan cek menikah yang wow itu denagn terus menghina Mimi,"


"Heh sekarang baru aku tau kenapa Mimi tidak mencairkannya dan menggunakannya, ternya mungkin dia sudah memiliki firasat kalau masa ini akan tiba." ucap Selfia, Dillah semakin dalam menundukkan kepalanya, kepalanya tak bisa berpikir jernih mendengar fakta-fakta yang baru dia ketahui.


"Jujur, aku sangat marah kala Mimi cerita kalau kakak meminta balikan sama dia, aku tidak setuju namun Mimi orang yang terlalu polos dan tidak pernah menaruh dendam atau pun berpikiran negatif pada orang lain."


"Dia sangat berharap kalau kedua orangtua kakak bisa berubah dan menerima dia apa adanya."


"Tapi apa yang dia dapatkan, tamparan sebuah tamparan ynag dilayangkan oleh Papi kakak dan kakak hanya diam, hingga Mimi keluar pun kakak diam dan tidak mengejarnya."

__ADS_1


Deg Muthia dan yang lain tersadar Mimi tidak ada.


"Kak, ayo kita cari Mimi." ajak Muthia pada Satria.


"Nanti saja, Mimi pasti baik-baik saja." ucap Satria


"Tali kak." ucap Muthia, Satria menaruh telunjuknya di mulut, Muthia pun diam.


"Kakak itu memang laki-laki pecundang, lelaki tak punya pendirian. Aku bersyukur akhirnya Mimi mengambil keputusan nya."


"Hah dan kau nyonya dan tuan, jangan kau pikir dengan menghina bahkan telah menampar Mimi hidup kalian akan tenang."


"Dan kau Riska, sedari dulu aku tidak suka Mimi dekat denagn kamu karena aku tau siapa kamu. Tapi Mimi tidak pernah menaruh negatif thingking pada orang."


"Dan Anda dokter Suryo Hadinata, saya tau anda juga merupakan pengusaha di bidang farmasi dan sepertinya Anda lupa kalau beberapa investor Anda adalah orang terdekat Mimi."


"Anda tentu mengenal pak Arsyad Aljufri, pak Afnan atau Lak Afkar dan satu lagi tentu anda tau perusahaan BW corp yang dipegang oleh pak Chalik Ahmad Wijaya."


Dokter Suryo dan istri serta Pali dannmami Dillah tercengang gang mendengar nama-nama yang disebut oleh Selfia.


"Dari mana kamu tau mereka?" ucap mami Dillah, Dillah hanya diam.


"Kalian salah memilih orang, kalian tidak tau siapa Mimi sebenarnya, mungkin saat ini disini kalian lihat hanya kita-kita tapi kalian tidak tau kalau kalian sedang di pantau apa lagi itu menyangkut Mimi."


"Aku pastikan mungkin paling cepat tiga detik kalian akan hancur dengan seketika."


Muthia, Irma dan yang lain hanya diam melihat aksi Selfia. Selfia sedikit banyak sudah mengetahui siapa Abi Arsyad, Risyad serta Afnan maupun Afkar, apa lagi perusahaan bw corp yaitu perusahaan dari rektornya yang dipegang oleh anak pertama nya Chalik.


Tak hanya Selfia yang mengetahui hal itu, swmua sahabt Mimi juga sudah mengetahui latar belakang orang-orang yang dekat denagn Mimi.


"Mungkin Mimi tidak akan pernah membalas kebejatan kalian, tapi tanpa dia membalas semua akan di balaska".


"Dan aku yaakin tak hanya orang-orang itu saja, mungkin orang-orang kepercayaan bosnya di rumah sakit tempat dia berkerja saat ini juga akan ikut turun tangan apa lagi jika pimpinan mereka melihat staf-nya teraniaya." ucap Selfia.


"Dan aku ucapkan selamat buat kalian, bersenang-senang lah kalian malam ini dan nikmatilah hidup klajn sebenarnya esok hari."


"Oh ya kak, aku atas nama sahabat ku Mimi. Aku ucapkan terimakasih atas kejutan di hari ulang tahunnya ini," ucap Selfia dan langsung berlalu di ikuti sang suami serta Irma dan Riko.


"Oh ya satu lagi" ucap Selfia sebelum benar-benar meninggalkan restoran.


"Jangan pernah kau dekati Mimi lagi karena kali ini aku sangat yakin tidak ada lagi peluang bhat dirimu mendekati atau memiliki nya lagi,"


"Dan sepertinya kau memang lantas bersanding dengannya." ucap Selfia dengan menunjuk ke arah Riska, Selfia lun langsung berlalu meninggalkan temlat itu.


Satria dan Muthia belakangan, Satria mendekati Dillah dan menepuk pundak Dillah.


"Kau telah mencampakkan nya untuk kedua kalinya, aku kasian melihat mu, susah payah kau dalatkan namun sekarang kau benar-benar tidak akan pernah memiliki nya lagi." ucap Satria.


"Tia harap kedepannya kakak dewasa, kakak telah membuang berlian karena ucapan orang tua kakak. Seharusnya kakak sudah mengetahui siapa Mimi selama ini, namun semua kakak lupakan dengan seketika hanya sebuah cerita yang tidak kakak ketahui kebenarannya."


"Terimakasih atas undangannya, kami pamit." ucap Muthia dan mereka berdua pun pergi, meninggalkan temlat itu.


Setelah kepergian semua sahabat Mimi, dentingan HP terdengar di hal mereka, mereka melihat ke hpnya dan kemudian terduduk lesu ketika melihat diagram saham mereka anjlok seketika dan lara investor mendadak meminta uang yang telah masuk dikembalikan segera.


"Ini semua karena kalian." ucap Suryo kepada kedua orang tua Dillah.


"Hei jangan asal nuduh kau Suryo, ini semua karena anak MU." seru mami Dillah.


Dillah melihat perdebatan itu menjadi semakin pusing kepalanya dan dia pun beranjak pergi.


"Hey mau kemana kamu Dillah?" tanya sang mami.


"Pulang" jawab Dillah.


"Hei katakan sama perempuan murahan itu jangan main belakang kalau berani." seru sang mami.


"Dia tidak tau menau Mi, itu urusan mami." ucap Dillah.


"Dasar anak kurang ajar kamu, anak tak tau diri " seru sang mami namun Dillah tak peduli karena pikirannya oun tengahbkakut denagn semeeusahua ini.


"Dillah tunggu papi." seru papi mengikuti Dillah dan meninggal kan istrinya bersama kedua sahabatnya itu.


"Dasar anak sama bapak nggak tau di Untung, aaachh" seru sang mami dan melempar gelas yang berada di dekatnya.


Pak Suryo ayah dari Riska pun tengah murka kepada Riska, entah kenapa dia sampai melupakan siapa Arsyad Al Jufri.


Orang tua Riska rencana keesokan hari akan langsung kembali kesemarang karena dia akan segera bertemu dengan meminta maaf kepada investor dan pemilik saham seperempat di perusahaan nya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2