DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
ulang tahun membawa petaka


__ADS_3

Muthia, Irma, Selfia, Dimas, Saridi dan Riko mencari Mimi di dalam balairoom hingga ke balkon balairoom.


Mereka berpencar, mereka juga bertanya-tanya pada teman-teman mereka namun mereka tidak ada melihat Mimi.


Muthia bertemu dengan mbak asih yang sedang duduk berdua bersama tunangannya di balkon. dia lun mendekatinya dan bertanya.


"Mbak Aish maaf." ucap Muthia.


"Ya dek, ada apa? kenapa kamu panik gitu" tanya mbak Aish pada Muthia.


"Maaf mbak, mbak ada lihat Mimi nggak?" tanya Muthia yang sudah penuh kecemasan.


"Tadi sih waktu tiga puluh menit yang lalu, ada apa dek? jawab kenapa kamu panik gitu?" tanya mbak Aish.


"Kita tidak menemukan Mimi mbak." jawab Muthia.


"Mungkin dia pulang duluan yank." ucap si tunangan mbak Aish.


"Dia nggak akan pulang duluan yank, dia datang kesini selalu beesmqa sahabatnya, kalau sahabatnya masih disini nggak mungkin dia pulang duluan." jawab mbaknaishbpada kekasihnya.


"Kamu sudah cari dia ketoilet?" tanya tunangan mbak asih pada Muthia.


"Sudah kak, tapi Mimi nya nggak ada. Yang ada hanya slingbag nya." jawab Muthia.


"Apa!! Ya Allah." ucap mbak Aish yang ikut panik.


"Kemana kamu dek?" ucap mbak Aish sembari berjalan masuk kedalam dengan tergesa-gesa dan mbak Aish juga menarik paksa lengan sang tunangan


"Pelan-pelan yank." ucap sang tunangannya.


"Nggak bisa yank, kita harus segera kasih tau Abi.'' jawab mbak Aish dengan terus berjalan.


Di sebuah rumah sakit LA, Syahril masih tidak merasa tenang. Karena hatinya tak tenang diapun mengambil laptopnya dan mulai berselancar di dunia satelit tanpa ketiga sepupunya.


Syahril terus fokus mencari jaringan dimana Mimi berada. Syahril menemukan dimana titik koordinat keberadaan ponselnmiki terakhir kali disebuah hotel.


"Hotel! kenapa Mimi disini." Gumamnya dengan terus berselancar sampai dia menemukan alamat serta nama hotel tersebut.


"Inikan hotel Abi." Gumamnya. Syahril langsung menghubungi abinya.


Saat duduk bersama para koleganya, ponsel Abi bergetar di dalam sakunya. Dilihat nama yang tertera adalah nama Syahril lalu dia langsung permisi dengan lara kokehnya untuk menerima telpon.


"Hallo assalamualaikum, ada apa nak?" tanya Abi


"Waalaikum salam, Bi.. Abi di hotel FAI Abi ya?" tanya nya.


"Iya, abi lagi di hotel. Ada apa nak?" tanya Abi lagi.


"Bi apa Mimi disana? apa dia bersama Abi?" ta ya Syahril.


"Tidak, dia bersama teman-temannya, emang sih dia ada disini juga, emang ada apa Riil?" jaabbabi dan kembali bertanya.


"Nggak apa-apa BI, cuma perasaan Syahril tidak enak Bi, dan barusan Syahril melacak ponselnya terlahir tiga puluh menit lalu berada di hotel Abi. Apa dia pulang atau gimana ya bi?" ucap Syahril mengungkapkan kegelisahan nya.


"Emm kayaknya belum Riil, Abi lihat para temannya masih disini." jawab Abi yang tak sengaja melihat Irma dan Selfia.


"Emang ada acara apa Bi?" tanya Syahril.


"Acara ulang tahun serta tunangan anak teman Abi. Nah yang cewek teman sekelas Mimi." jelas Abi.


Irma yang melihat Abi sedang menelpon dekat pintu luar, Irma mendekat kearah abi. Irma diam sejenak ketika Abi masih berbicara, abinhqng melihat Irma ada disampingnya akhirnya menjeda telponnya dengan Syahril.


"Bentar ya nak" ucap abinoada Syahril.


"Ada apa nak, kenapa kamu khawatir seperti itu?" tanya Abi lada Irma.


"Bi, apa Abi sudah lama berdiri disini? apa Abi ada melihat Mimi?" tanya Irma dengan gusar.


"Tidak abi tidak ada melihat Mimi keluar. Bukannya Mimi bersama kalian tadi." ucap Abi.


"Iya Bi, tapi tiga puluh menit lalu dia ke toilet bersama teman sekelas kita namun sampai sekarang dia nggak balik ke dalam dan saat kita cek ke toilet kita hanya menemukan slingbagnya." ucap Irma dengan mata berkaca-kaca karena merasa cemas.


"Apa kalian sudah cek di dalam toilet?" tanya Abi yang masih berusaha tenang.


"Sudah Bi, tapi kosong. Irsyad beserta kak Dillah dan yang lain sedang memeriksa di ruang CCTV." jawab Irma dengan menghapus air mata yang telah lolos.


"Kamu yang tenang ya." ucap Abi.


Syahril yang mendengar hal itu langsung terduduk, kekhawatiran nya terjadi.


"Ya Allah lindungi dia ya Allah. Jangan kau beri dia ujian di luar batas kemampuannya." ucap Syahril beroda memohon perlindungan pada Allah SWT buat Mimi.


Deraian air mata Syahril pun mengalir, dia tidak bisa kuat bila menyangkut Mimi. Hidupnya seakan hancur bila terjadi sesuatu pada Mimi.


"Maafin kakak dek, maafin kakak tidak bisa menjagamu, maafin kakak dek." Syahril terus menyalahkan dirinya.


Syahril memutuskan sambungan telponnya dengan Abi dan dia menghubungi abangnya Afnan dan memberitahu perihal tersebut.


Bang Afnan mendengar hal itu langsung murka dan langsung menelpon orang yang dia suruh untuk mengawasi Mimi.


Syahril pun begitu dia mencoba menghubungi salah satu suruhan abangnya.

__ADS_1


"Kau cari dia sampai dapat, kalau tidak kau yang berhadapan denganku."


"..."


"Aku tidak mau tau.. Kau cari orang yang membawa Mimi dan beri dia ganjaran yang setimpal" Syahril terus berbicara dengan orang suruhan abangnya, setelah itu dia menghempaskan ponsel nya kedinding.


Ryan dan yang lain baru masuk langsung terkejut ketika ponsel itu melayang di dinding samping pintu.


"Awas saja secuil kuku terjadi sama Mimi aku cari kalian sampai ke akar-akarnya." ucap Syahril dengan geram


"Arggg"


"Hei Riil ada apa?" tanya Ryan.


"Mimi di bawa orang, orang suruhan Abang kecolongan." jawab Syahril dengan mata yang memerah


Di dalam ruang CCTV, Dillah dan yang lain masih mengamati sampai ketiga gadis masuk kedalam sebuah kamar. Tak lama ketiga gadis itu juga keluar lagi.


"Berhenti" ucap Dillah


"Balik kebelkang dan zoom ketiga gadis yang baru keluar itu." ucap Dillah dan mereka pun melakukan apa yang diperintahkan Dillah.


Dillah melihat dengan teliti setelah itu dia beranjak dan berlalu pergi.


"Damn, awas saja kubunuh kalian jika terjadi sesuatu pada Mimi." ucapnya sambil berjalan setelah melihat ke arah gadis yang baru keluar itu.


"Dil tunggu." ucap Reno dan mengejar diikutinirsyad dan yang lainnya.


Dillah langsung berlari menuju lift dan langsung menekan lantai yang akan dia tuju.


Setelah lift terbuka- Dillah langsung berlari dan mencari nomor kamar yang terlihat dilayar CCTV.


Di dalam sebuah kamar Mimi ketakutan karena di tinggal oleh Syifa dan kedua gadis yang merupakan Kaka seniornya. Mulut Mimi masih terlakban dan tangannya pun masih terikat hingga Mimi tidak bisa lari mau pun berontak.


Seorang laki-laki yang sedari tadi telah berada dikamar itu mendekati Mimi dengan senyum yang merekah.


"Hai adik manis, telah lama aku menginginkan mu." ucap nya seraya membuka lakban yang menutupi mulut Mimi.


SREEK. lakban terbuka dengan sekali tarikan.


"Awww" Mimi teriak merasa kesakitan saat dia menarik lakban tersebut.


"Siapa kamu, lepaskan aku " ucap Mimi.


"Tenanglah sayang setelah ini kita. akan bersenang-senang. " jawabnya sambil mengelus pipi Mimi dan Mimi segera mengalihkan pipinya.


"Hahaaaa kau boleh mengelak sayang tapi sayangnya kau takkan bisa mengelak lagi setelah ini." ucapnya.


Dia perlahan mengambil tangan Mimi yang terikat, dia menyentuhnya perlahan.


"Halus, harum." ucapnya dengan menciumi tangan Mimi.


Mimi hanya diam dan menangis.


"Ya Allah lindungi hamba ya Allah." ucap Mimi dalam hati.


"Tolong lepaskan saya.Tolong" ucap Mimi.


Tiba-tiba Mimi merasa ada yang aneh pada tubuhnya, ada rasa panas dan desiran aneh.


"Ya Allah ada apa denganku. Lindungilah aku ya allah" ucap Mimi dalam hatinya.


Tiba-tiba rasa itu semakin menjadi dan semakin bergejolak terutama pada daerah intimnya.


"Ya Allah, tolong aku ya Allah hiks tolong." ucap Mimi dengan. mengigit bibirnya untuk melawan rasa yang telah bergejolak dalam dirinya.


"Emak, bapak maafkan Mimi Mak, pak, maafkan Mimi.." ucap Mimi dalam hati. Air mata mengalir deras, Mimi semakin kuat menggigit bibir bawahnya.


"Kak Syahriillll tolong Mimi kaak."


"Maafin Mimi kaaak, maafin Mimi jika Mimi tidak bisa menjaga nya"


"Maak, paaak maafin Mimiii. hiks hiks" Mimi terus bergumam dalam hatinya dengan terus mengigit bibirnya.


Lib*d*nya semakin membuncah, Mimi terus bertahan dan berdoa agar ada yang menolongnya. Mimi terus mengigit bibirnya hingga berdarah.


"Hei sayang, jangan kau gigit bibir sexy mu itu. Mari aku bantu untuk melepaskannya" ucap si cowok dengan berupaya melepas jilbab Mimi.


Mimi terus mengelak namun apalah daya dia hanya seorang perempuan lemah. Saat jilbabnya terbuka terurai pula rambut panjang Mimi.


"Wawww kau begitu cantik bila tanpa jilbab ini, Umm rambutmu wangi sayang. Itu membuat aku semakin menginginkan mu." ucapnya dengan menciumi helai demi helai rambut Mimi.


Melihat Mimi yang selalu menghindari nya dan mengelak, dia menarik Mimi hingga Mimi berada dalam pelukannya.


"Ooh sayang.. Kau membuatku tak bisa menahannya lagi." ucap si cowok.


Si cowok memegang wajah Mimi dan menghapus air mata serta darah yang terus mengalir dari bibir Mimi.


"Sudah ku katakan jangan ditahan sayang, lebih baik kita lepaskan bersama-sama." ucapnya dan membuka resleting gamis Mimi.


Dengan pandangan penuh hasrat dia membuka resleting itu, Mimi terus menggeleng Mimi tidak bisa berbuat apa-apa selain menutupnya dengan kedua tangan yang masih terikat.

__ADS_1


"Lepaskan sayang, kau menghalangi mataku untuk melihatnya" ucapnya dengan menarik tangan Mimi yang menutupi dadanya.


"Kenapa kau tutupi dia dengan pakaian lagi hah!!" racau nya dan jlebb dia memegang kedua benda itu. Mimi semakin terisak dan takut.


"Kak Syahril, emak, Pak maafkan Mimi. huhuhuhu" ucap Mimi lirih.


Semakin Mimi menahan rasa gejolak itu semakin membuat kepala Mimi pusing, Mimi hanya pasrah apa yang akan terjadi pada dirinya


"Wawww kau menutupi keindahannya dan lihatlah dia pas buat di genggam sayang.. Ummm" ucap nya dan diapun beralih mengecup ke leher Mimi yang selalu Mimi elakkan.


Mimi menahan rasa sakit saat dia mengecup lehernya dengan sangat bringas.


Braak braak braak terdengar pintu didobrak dari luar.


"Si'al siapa yang telah mengganggu kesenangan ku." ucapnya dan menghentikan aksinya sejenak namun dia melanjutkan aksinya dan tak menghiraukan gebrakan pintu.


Braak braak akhirnya pintu pun terbuka. Dillah langsung masuk dan berjalan cepat menuju laki-laki yang sedang asik dengan aktifitasnya.


Bugh bugh bugh Dillah menarik baju lelaki itu dan langsung memukulnya dengan membabi-buta.


"Ja***m kau ba***n" ucap Dillah dan langsung memukul lelaki itu tanpa ampun.


"Kubunuh kau," ucap Dillah


"Ya allaah Mimi" ucap Reno Satria dan Yogi ketika melihat Mimi terjatuh.


"Dil, sudah ini biar urusan kita, lebih baik kamu bawa Mimi kerumah sakit segera sepertinya dia pingsan." ucap Reno dengan menghentikan Dillah.


Dillah mendengar nama Mimi langsung berhenti dan melihat Mimi yang sudah terkulai dan tergeletak di samping nakas.


"Ya Allah dek maafkan aku dek." ucap Dillah dan langsung menuju ke Mimi dan memeluk Mimi dilihatnya rambut panjang Mimi sudah acak-acakan.


Dillah membuka jaket blazer nya untuk menutupi tubuh Mimi yang sudah terbuka bagian atas dan di ambilnya jilbab segi empat Mimi dan dipasang asal. Dillah mengangkat Mimi dan berjalan keluar segera.


"Urusan kita belum selesai Mario." ucap Dillah pada lelaki itu.


Saat sampai pintu Irsyad beserta keamanan dan abinya sudah tiba di kamar itu.


Irysad yang melihat ada bercak darah pada baju Mimi pun menjadi beringas, dia segera masuk melihat siapa oran yang tega melakukan hal itu pada saudarinya.


Irsyad melihat lelaki yang sudah babak belur itu dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.


Di pegangnya rahang si lelaki itu dengan kuat hingga otot-otot tangan Irsyad pun keluar. Abi menahan security agar tidak ikut campur dulu.


"Berani kau lakukan itu pada saudaraku." ucap Irsyad yang memegang rahang lelaki itu hingga terangkat dan si lelaki itupun menjinjit.


Mata Irsyad memerah menahan amarah, rahang yang kokoh mengeras.


Irsyad melempar lelakinitu hingga terbentur dinding. Lalu Irsyad memegang tangan lelaki itu dan dipelintir nya kebelakang.


"Tangan ini kan yang kau gunakan untuk menuentuh dan menyakitinya, praaak" ucap Irsyad dan mematahkan tangan si lelaki.


"Aaaa" kelak itu berteriak karena tangannya patah.


Irsyad kembali ke tanah satunya.


"San tahan ini juga ikut andil bukan, praaak" ucap Irsyad dan mematahkan tangan satunya. lalu dia memegang leher si lelaki itu.


"Syad sudah Syad." ucap Abi.


"Tidak Bi, dia harus mati." ucap Irsyad.


"Jangan nak, begitu cepat jika dia merasakan mati sekarang." ucap Abi dan Irsyad pun memeluk muka si lelaki itu.


"Nyawa mu selamat,tapi bukan hidup mu." ucap irsyad.


"Bawa dia." ucap Abi memerintah kan anak buah nya.


Sahabat Dillah yang masih tetap tinggal adalah Yogi dan Reno karena Satria ikut serta dengan Dillah. Dimas dan yang lain juga telah sampai di kamar itu bersama Abi dan Irsyad.


Mereka melihat Irsyad seperti itu merasa merinding, apa lagi melihat mata Irsyad yang memerah kala dia memukul lelaki itu.


"Kalian bawa dia ke markas dulu baru nanti diserahkan ke kantor polisi." ucap Abi dan anak buah Abi pun mengangguk.


"Sudah kalian pulang saja." ucap Abi pada semua dan berlalu pergi.


Hilangnya Mimi dalam acara itu telah tersebar, Ummi Fatma dan mbak Aish dinantarboukang sama tunangan mabk Aish.


Ummi Fatimah sedaei tadi merasa gelisah, begitu pula mami Revano sampai-sampai dia menelpon Revano menanyakan kabar dia beserta istri dan terutama Mimi.


Ummi Fatma menangis dan meminta di antar kerumah sakit setelah mengetahui keadaan Mimi.


Afnan dan Afkar yang mendengar Mimi hilang langsung berangkat ke Semarang, Afnan maupun Afkar belum mengetahui kabar terkini Mimi.


Mimi langsung di beri tindakan oleh tim medis, Dillah dan Satria menunggu diluar ruang IGD.


"Dil, sejak kapan Mario keluar penjara?" tanya Satria.


"Entahlah." ucapnya.


Mereka berdua menunggu Mimi dengan gusar.

__ADS_1


__ADS_2