DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
temu kangen sahabat


__ADS_3

Keesokan pagi, Mimi terbangun seperti biasanya, sehabis sholat Mimi mandi dan langsung mencuci pakaiannya. Setelah itu Mimi membuat sarapan buat semua nya bersama emak.


Sehabis sarapan bersama, Mimi langsung membereskan dan mencuci semua piring kotor nya.


Langit terlihat cerah karena semalam hujan yang sangat deras hingga subuh hari.


Mimi mengecat sahabat-sahabat nya yang belum menikah, Di'ah, Emma, Manda dan Sila. Mimi buat group chat khusus mereka berlima.


"Assalamualaikum, girls. Keluar yok" Mimi chat di group sekawan tingting.


"Waalaikum salam, Mimi di Jambi yo?" tanya Sila di group.


"Waalaikum salam sayang kuh, cuy lah. Kemana?" tanya Manda.


"Waalaikum salam, baru bangun cuyy" ucap Emma.


"Woyy Emm anak gadis baru bangun, kalah sa!a ayam tuh." seru Manda.


"Emm, buruan mandi. Keluar yok." ucap Mimi.


"Emm, kemana nih?" tanya Emma.


"Mana aja yang penting refreshing." jawab Mimi.


"Yaudah kita ke taman payung yok?" ajak Emma.


"Ok" jawab Sila.


"Ok" Manda


"Ok kalau gitu, siap-siap yo??" ucap Mimi.


"Siip lah." jawab Emma dan yang lain.


Chat pun berakhir.


Sehabis chat Mimi keluar kamar dan hendak turun ke rumah Di'ah, karena Mimi chat dia tidak ikut nimbrung.


Sesampainya dirumah Di'ah, Mimi melihat Di'ah sedang menjemur pakaian.


"Assalamualaikum" ucap Mimi, Di'ah pun tersenyum.


"Waalaikum salam." jawab nya


"Ayo Mi, naik." ajaknya dan Mimi pun naik dan duduk di bangku yang ada di serambi /teras rumah Di'ah.


"Pantesan ndak ikut gabung di chat?" tanya Mimi.


"Emang lagi chat apa?" tanya Di'ah dengan tangan terus menjemur pakaian.


"Chat sama kawan-kawan tadi, kita keluar yok." jawab Mimk dan mengajak Di'ah keluar.


"Emm boleh, tapi tunggu aku masak sambal dulu yo, tadi tinggal numjs nya bae." jawab nya, seraya menyingkirkan baskom.


"Oke," jawab Mimi.


"Yaudah aku masuk dulu biar cepat kerjaan." ucap Di'ah.


"aku ikut masuk mau nengok wakte." ucap Mimi dan Di'ah lun memgangguk, mereka berdua masuk kedalam rumah.


"Bah, ni ada Mimi." ucap Di'ah pada babahnya yang terbaring di atas kasur depan TV.


"Heh" jawab Babah Di'ah. Mimi pun duduk dekat Babah Di'ah seraya mengambil tangan nya dan bersalaman tak lupa !encium punggung tangannya


"Mi, aku tinggal dulu ya." pamit Di'ah, Mimi mengangguk dan Di'ah lun berlalu ke arah dapurnya untuk menyelesaikan kerjaannya.


mimi duduk di samping Babah Di'ah, terlihat badan yang mulai mengurus. Babah Di'ah terkena stroke setelah mendengar kabar anak pertamanya sudah tidak berkerja lagi dan telah menikah di negeri Jiran.


"Wakte, apa kabar?" tanya Mimi, dengan masih memegang tangan wakte.


"Ma cam ya ng Mi mi Li hat." jawabnya dengan terbata karena bibirnya yang miring.


"Wakte sudah minum obat?" tanya Mimi.


"Su dah" jawabnya.


"Mi mi a pa ka bar?" tanya wakte.


"Alhamdulillah Mimi baik Wak." jawab Mimi dengan tersenyum.


"Mi mi ya ng sa bar yo." ucapnya dengan memegang jemari Mimi, Mimi hanya mengangguk.


Mimi merasa terharu dikala orang-orang yang menyayanginya menguatkan dirinya.


"Emm Wak, Mimi balek dulu yo. Mimi mau siap-siap,'' ucap Mimi berpamitan.


" I yo" jawab nya.


"Nah Mi, mau kemana?" tanya emaknya Di'ah.


"Eh wakte mau balek Wak." jawab Mimk sembari berdiri dan menyalami tangan emak nya Di'ah.


"Wak, nanti Mimi ajak Di'ah jalan yo." ucap Mimi dengan me!jnta izin pada emaknya Di'ah.


"Iyo, hati-hati." jawab nya dengan memandang Mimi sendu.


"Mi," panggilnya


"Iya Wak." jawab Mimi.


"Yang sabar yo nak?" ucaonya dengan memegang tangan Mimi dan menatap wajah Mimi dengan sendu.


"Iya Wak." jawab Mimi dengan senyum getir.


"Emm Wak Mimi balek dulu ya." ucap Mimi berpamitan.


"Iyo." ucaonya.


"Assalamualaikum" ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab nya, Mimk keluar rumah dan turun serta langsung pulang menuju rumahnya.


Mimi telah siap, Di'ah dan yang lain sudah ada di rumah Mimi.


"Mimii" ucap Sila, Emma dan Manda seraya memeluk Mimi saat Mimi keluar.


"Rinduu" ucap Manda.


"So kita kemana dulu nih?" tanya Emma.


"Emm Mimi nurut kalian, kemana aja ayo." jawab Mimi


"Kita langsung ke wisata payung aja ya." ucap Emma.

__ADS_1


"Boleh" jawab Mimi.


"Oke lest go." jawab mereka berempat.


Mereka pun segera berangkat menuju tempat refreshing memakai motor.


Sepanjang jalan menuju tempat wisata kami bercengkrama di atas motor tak gatal membuat kendaraan di belakang kami sering membunyikan klakson karena jalan mereka terhambat oleh ulah kami.


Kelakuan ABG ketuaan, saat klakson-klakson bersahutan di belakang kami hanya ketawa riang. Yah baru kali ini mereka berkelakuan buruk di jalan.


Hampir satu jam perjalanan mereka pun sampai, begitu banyak pengunjung dkmtempatnwisata payung yang baru dibuka ini.


Wisata yang masih bernuansa alam, karena tempatnya masih didalam kawasan hutan. Kiri kanan masih ada ponon besar berdiri kokoh.


Banyak pohon duku, durian dan pohon buah-buahan lainnya.


Disini terdapat saung yang mana di bawah saung adalah kolam buatan. Ya bisa dimanfaatkan seperti tempat makan apung karena saung nya berdiri dinatas kolam yang besar dan di dalam kolam terdapat ikan-ikan yang sengaja di lepas sama pemilik tempat wisata ini.


Spot-spot foto juga disediakan disini, gak hanya spot buat berswafoto, pemilik juga menyediakan sepeda untuk pengunjung yang ingin melakukan perjalan masuk ke area dalam.


Kami semua duduk di saung yang berada di pinggir dekat dengan pohon besar, sehingga tak terasa hangat nya mentari karena tertutup oleh pepohonan.


Di tempat ini menyediakan menu makanan seafood, Mimi dan yang lain memesan beberapa macam jenis menu yang tersedia.


Sehabis makan, Mimi dan yang lain berkeliling dengan bersepeda dalam area.


Setelah bersepeda mereka kembali ke saung yang telah mereka sewa sebelumnya. Sambil menunggu minuman yang dipesan tiba mereka saling bercerita soal seputar perkuliahan mereka.


"Oh ya Manda katanya mau nikah ya? Kapan?" tanya Mimi.


"Mimi tau dari mana? emm.." jawab Manda dan melihat ke arah Emma, yah siapa lagi yang akan membocorkan selain Emma.


"Hehee piiisss Nda." ucap Emma dengan menunjukkan dua jarinya dengan pemberian serta kesiapan mata.


"Huhh dasar ember." ucap Manda mencibir Emma.


"Jadi beneran Nda, kapan?" tanya Mimi lagi.


"Iya Mi, tapi tahun depan. Karena dia lagi banyak kerjaan dan belum dapat cuti banyak." jawab Manda.


"Wah Manda bakal jadi ibu Bhayangkari dong." ucap Mimi.


"Iya Mi, mudahan. Atau Mimi mau juga nanti biar akibatnya sama kak Fadhil." jawabnya.


"Bukan Bhayangkari Mi, tali Persit." ucap Manda lagi.


"Oo Persit, jadi bukan sama polisi toh, kirain sama polisi." jawab Mimi.


"Iya Mi, bukan polisi tapi tentara." ucapnya.


"Wah hebat Manda." sahut Di'ah.


"Emm Di'ah sama Mimi kalau mau nanti aku bilangnke bang Fadhil kapan dia balek biar ajak kawan." ucap Manda.


"Ah ndak mau Nda, Mimi ndak mau jodoh-jodohan. Nanti ndak sreg dihati." jawab Mimi menolak.


"Ayo lah Mi, biar kita bisa satu team di persit." ajak Manda.


"Maaf manda sayang, Mimi ndak berminat." ucap Mimi.


Puas mereka berbincang dan bermain di tempat wisata payung, mereka pun kembali ke rumah namun sebelumnya mereka akan pergi ke mall.


"Mi, besok Mimi datang ya ke acara kak Syahril?" tanya Emma.


Ingin mereka bertanya lebih pada Mimi, tapi mereka tak ingin menambah kesedihan di hati Mimi.


"Aku tahu hatimu sakit dan bersedih sobat, tapi kau berupaya untuk baik-baik saja di hadapan kami dan kau selalu memberikan senyuman pada kami." gumam Emma dalam hati dan melihat ke arah Mimi yang masih bercanda dengan yang lain


"Yaudah yok kita ke mall dulu, kita beli baju." ajak Sila.


"Oke, ayoo." ucap mereka semua dan berlalu pergi menuju mall di kota Jambi ini.


Sesampainya di mall mereka memasuki toko baju yang berada di mall tersebut dan memilih baju sesuai keinginan mereka.


Mimi terpaku pada satu set pakaian yang di pakaikan di manekinnya.


"Mbak yang ini satu set ya?" tanya Mimi pada pegawai tokonya.


"Nggak mbak cuma itu kami pasangkan saja." jawab mbaknya.


"Oo." Mimi hanya berdiam o ria tapi matanya masih memperhatikan pakaian yang terpajang itu. Mimi tertarik akan padu padannya yang simpel.


"Mbak saya mau seperti ini, ada size nya nggak?" tanya Mimi.


"Ada mbak, mbak mau?" jawab si mbaknya dan bertanya kembali pada Mimi.


"Boleh mpsaya lihat mbak warna-warna dan size nya?" ucap Mimi.


"Boleh mbak, mari.." ucap si mbak seraya berjalan menuju rak dimana baju serta pantai nya berada.


"Ini mbak warna yang tersedia untuk pakaiannya, dan sebelah sini untuk celana yang sama dengan yang dipajang, silahkan dipilih." jawab si mbak.


Mimipun memilih warna yang diinginkannya dan Mimi juga memilih size sesuai ukuran nya. Setelah terpilih Mimi membawa pakaian serta celana kedalam kamar pas untuk mencobanya.


Serasa cocok Mimi pun memberikan dua set pakaian pilihannya pada mbaknya untuk di catat, setelah menerima nota Mimi kembali mengitari toko-toko lain untuk mencari hijab yang sepadan dua set pakaiannya.


"Gimana Mi, dah dapat?" tanya Emma.


"Udah nih nanti di pass2." jawab Mimi dengan mengatakan kasir pass2.


"Mimi beli gamis?" tanya Sila.


"Ndak Sil, Mimi beli setelan celana saja biar simple." jawab Mimi.


"Kok setelan celana, jadi kondangannbesok pakai apa?" tanya Manda


"Ya pakainsetelan itunaja Nda, biar simple dan nanti ndak usah ganti pakaian lagi waktu mau balik lagi." jawab Mimi.


"Balik lagi?" ucap mereka bertiga dan Mimi mengangguk.


"Maksudnya balek kemana nih?" tanya Di'ah.


"Balek kesemarang lagi Di'ah, habis dari kondangan itu Mimk balek lagi kesemarang besok sore." jawab Mimi.


"Kok balek ke Semarang. Bukannya dah libur Mi?" tanya Manda.


"Emm iya Nda, Mimi ada orderan." jawab Mimi dengan alasan ada orderan.


"Jangan bohong Mi, Mimi menghindari kak Syahril bakal nyusul Mimi kan." ucap Di'ah dan di angguki Emma.


"Ndak kok Di'ah, beneran Mimi ada orderan kue." jawab Mimi.


"Jangan balek lah Mi, cancel aja orderannya. Kita !asihnkangen tau." ucap Manda.

__ADS_1


"Ndak bisa Nda, maaf." ucap Mimk dengan tersenyum.


"Udah semua kan, yok kita pulang." ajak Mimi.


"Iya udah, bayar dulu Mi baru pulang." jawab Sila.


"Hehee iya Sil, yok." jawab Mimi dan mereka pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.


"Eh malam ni kami tidur rumah Mimi ya?" ucap Emma.


"Iya ya Mi." ucap Sila dan Novi.


"Boleh." jawab Mimi.


"Yee makasih." jawab mereka dan berpelukan seperti teletubbies.


Saat mereka berjalan menuju pintu keluar ada sepasang melihat mereka lebih tepatnya lada Mimi.


"Kak, itu Mimi bukan?" tanya Dewi pada suaminya kak Andri.


"Yang mana?" jawab kak Andri.


"Itu, yang jalan berlima itu." ucapmdewi dengan menunjuk ke arah Mimi dan yang lain.


"Iya kayaknya, itu akan ada Di'ah, Emma, Sila dan Manda." jawab Andri dengan memelankan suara saat menyebut nama Manda sang mantan.


"Apa Mimi akan datang ke acara besok ya kak?" tanya Dewi.


"Emm ndak tau juga. Semoga saja tidak." jawab Andri.


"Kalau Mimi datang, Ummm" ucapmdewi dengan suara lirih.


"Semoga saja dia tidak datang, kakak ndak tau bagaimana mereka menahan hati mereka." ucap kak Andri.


"Apa kak Syahril tau kak?" tanya Dewi.


"Jangan sampai dia tau, nanti adek juga jangan sampe bilang sama dia atau keceplosan dengan yang lain. Cukup kota saja yang tau." ucap kak Andri.


"Emm." jawab Dewi dan mereka pun kembali makan dengan pemikiran masing-masing.


Sesampainya di rumah Nyai Mimi, mereka masuk ke dalam kamar depan dan mereka mencoba pakaian yang mereka beli.


"Eh ntar kita makan tekwan mang Din yok?" ajak Emma.


"ayoo." jawab mereka semua.


Keluarga Mimi senang bila ada teman-teman Mimi kerumah terutama Emak. Setidaknya dengan adanya teman-teman Mimi sedikit terhibur hatinya.


Namun hatimemal ada rasa sedih keparena besok sore anaknya akan kembali pulang ke Semarang, rindu yang terbendung hanya di bayar dengan dua hari oleh Mimi. Tapi itu lebih baik, biasanya Mimi jika liburan selain hari raya jarang untuk pulang.


Seusai rencana mereka pun pergi ke warung tekwan mang Din yang tak begitu jauh dari rumah Mimi. Namun sesampainya disana ada segerombolan emak-emak rempong yang ternyata lagi menikmati tekwan juga.


"Huh malas nian aku kalau ada orang-orang ini." sungut Di'ah.


"Udah lah Di'ah cuekin bae." ucap Mimi.


"Udah ndak usah tanggapin kalau tuh orang menyebar fitnah." ucap Emma yang juga tahu bagaimana mulut emak-emak rempong tersebut terhadap Di'ah dan Mimi.


Bukan hanya sama Mimi dan Di'ah mereka menyebarkan gosip murahan itu tetapi kepada semua sahabat Mimk lun ikut jadi bahan ghibah mereka.


"Mang, biasa mang " ucap Emma, mang Udin melihat ke arah rombongan Emma.


"Lama ndak pernah datang lagi Mi." tanya mang Udin.


"Iya mang." jawab Mimi


"Apa kabarnya mang, makin jaya lah mamang sekarang yo." ucap Mimi.


"Alhamdulillah Mi, jadi masih kayak biasa nih?" ucap mang Din yang masih ingat kebiasaan Mimi dan teman-temannya.


"Iya mang." jawab Mimi dan yang lain.


Saat Mimi dan yang lain sedang duduk dan bercerita tentang perencanaan pernikahan Manda, mulai sih emak-emak rempog membuat ulah.


"Wah Mi, pacaran lama taunya nikah sama orang." ucap salah satu ibu rempong.


"Iya ndak, kemana-mana selalu berdua dulu eh ndak taunya nikah sama orang lain kasiannya." ucap si rempong satunya.


"Sudah bosan kalk atau sudah ndak fresh makanya di tinggal kaw*n kata satunya lagi.


Mimk dan yang lain hanya diam namun istri dari mang Udin yang menjawab mereka semua sembari membawa jus buat Mimk dan yang lain.


"Awak la Tuo, ndak usah ngurus orang mudo. Belum tentu pula yang dinomongi tu betul. Kalau salah jadi fitnah lebih besak dosonyo. Yang di omongi benar bae bedoso apo lagi salah." ucap istri mang Udin. ( Kita sudah tua, tidak usahnikit campur urusan orang muda. Belum tentu yang di bicarakan itu benar, kalau salah jadi fitnah lebih besar dosanya. Yang di bilangi benar saja berdosa, apa lagi salah )


"Bajadi-jadilah nak buat doso tuh, tengok ke diri cewek dulu baru nak ngomongke orang." imbuhnya dan menghampiri mangnudin untuk mengambil tekwan buat Mimi. ( Sudah-sudahlah berbuat dosa tuh, lihat ke diri sendiri dulu baru ngomongin orang ).


"Emang benar kok yu, kalau dio ditinggal kaw*n. Entah masih segel entah tidak lagi dak tau nya ditinggal kaw*n sama orang lain " ucap ibu rempong itu.


"Iyo yuk, ke mana-mana berdua, seharian kadang di rumah berdua, apo lagi yang dilakukan orang kalau berduo-duoan di rumah." seru yang satu.


.


"Eh Wak, kalau ngomong guh ngaco dulu ( kalau bicara itu ngaca dulu) jangan fitnah orang bae gawe nyo ( jangan fitnah saja kerjaan nya )." ucap Di'ah yang sudah panas tiap bertemu dengan emak remlongnyang kakak beradik itu.


"Di'ah sudah.'' ucap Mimi.


"Kau ndak tau Mi, kayak !ana mulut orang tua ni, umjr sudah mendekati tanah tapi mulut ndak bisa dijaga." ucal Di'ah yang emosi.


"Hai Di'ah kau tu samo bae, dak kasian kau dengan Babah kau tuh ( hai Di'ah kau itunsama saja, tidak kasian kamu dengan Babah mu )" ucap salah satu emak rempong.


"Braaak jago mulut kau tu Wak, ngaco diri kau tu ( jaga mulut kau Wak (ibu), ngaca diri kamu sendiri)" ucap Di'ah yang sudah emosi dengan menggebrak meja.


"Sudah-sudah Di'ah jangan dihiraukan oeang kayak itu." ucap istri mangnudin melerai Di'ah.


Mimk yang diam pun akhirnya berdiri dan mendekati !eja rombongan emak rempong kakak beradik itu.


"Maaf yo wak uwak, setau kami selama ini kami ndak pernah ganggu kehidupan uwak semua, kami ndak pernah cari masalah Samma uwak semua. Tali heran kenapa kalian selalu berilah sama kami. Apa perbuatan kami merugikan kalian semua?" ucap Mimi kepada ketiga beradik emak rempong.


"Oh ya, saya rasa wajar kalau saya berpacaran tidak jadi menikah tapi kami masih menjaga kesucian kami, daripada perut sudah membuncit tali ndak jadi nikah." ucap Mimi menyindir salah satu anak dari mereka.


"Dan apa tadi kami berdua di rumah, heh.. Kami ndak pernah berdua Wak, selalu ada kawan di rumah, ada Di'ah, ada teman yang lain bahkan nyai kami pun ada di rumah. walaupun kami me


lakukan apa yang Wak bilang setidak nya kami ndak berbuat di balik semak-semak." ucap Mimi yang sudah geram dengan mereka.


"Maaf ya Wak uwak sekalian, kalau saya buka aib anak-anak kalian, yang mulai Wak iwak sekalian. Jadi kalau mau nuduh kami seperti dengan apa yang anaknkalian lakukan itu harus punya bukti yang konkrit bukan spasal ceolas ceolos tong kosong kayak gitu." Mimi terus mengatai mereka.


"Dan satunhalmlagi, aib keluarga Wak tu bukan rahasia pribadi wak lagi tapi sekampung pun orang tau siapa dan bagaimana perbuatan anak wak-wak sekalian."


"Jadi jaga ucapan kalian, karena yang kalian omongin ini ndakm sebanding dengan anak kalian." Emma menyahuti.


"Selama ini kami diam karena kamintau siapa Wak sekalian, coba Wak ngaca apa anak wak semua sampe ujung ndak sekolah nya?" tanya Sila yang ikut geram


Tanpa berucap mereka bertiga pun pergi dari warung mang Udin, Mimi dan yang lain beristighfar setelah kepergian mereka semua.

__ADS_1


tbc


__ADS_2