
Tak terasa sudah 4 hari diriku di rumah orang tua, karena telah punya teman yang sedaerah sini walau berbeda desa jika ada motor menganggur maka aku pun main ke tempat Dewi di desa sebelah.
Seperti saat ini bapak tidak kemana-mana sehingga motor pun menganggur kesempatan bagiku untuk pergi main kerumah Dewi, namun sebelumnya aku hubungi Dewi terlebih dahulu supaya jika aku kerumahnya dia sudah stay.
"tututututut" nada sambung tersambung.
"Hallo assalamualaikum Dewi." ucapku
"Waalaikum salam Mi, ada apa?" Tanyanya.
"Dewi ada di rumah nggak?" Tanya ku.
"Kenapa Mi? Maaf aku lagi di luar." Ucapnya.
"Oh, emm sebenarnya pengen main ke rumah Dewi tapi kalau nggak ada Dewi ya sungkan lah Mimi."
"Oh iya Mi maaf ya, aku ma keluarga lagi ke tempat paman ku di desa ku yang kemaren." Ucapnya.
"Ya udah gak apa Wi, eh kalau ketemu Asri salam ya.' imbuh ku lagi.
"Oke ntar ku sampein." Jawabnya.
"Ya udah ya Wi, salamualaikum." Ucapku mengakhiri.
"Waalaikum salam." jawabnya dan sambungan telpon pun terputus.
Oh ya Dewi ini juga pendatang di desa Adi jaya, sebelumnya dia juga tinggal di desa suka jaya dan rumahnya beda blok dengan Asri.
Dewi anaknya hitam manis memiliki tubuh kecil kami bilang dia memiliki tubuh semekot alias semester kotor hahaha.. Padahal tingginya kurang lebih 115-120cm emang pendek dari kami-kami semua dan dia bersuku Sunda.
Sedangkan Asri dia bersuku Jawa Lampung dan kalau dia bicara logat Jawa nya kental terdengar. Asri orangnya bergaya tomboy tapi feminim. Ehmm maksudnya yah dia pakai rok rambut sebahu cuma kalau jalan seperti gaya cowok.
Empat hari pula aku tak bertemu dengan Syahril dan terakhir video call pun 2 hari lalu entah ada apa dengan dia tak menghubungiku lagi. Aku beranggapan mungkin dia lagi happy kumpul bersama keluarganya disana sehingga tak ada waktu.
Esok adalah hari Sabtu yaitu penerimaan raport, seperti biasa kalau diriku pulang yang mengambilkan raport adalah pakcik suami dari Bicik.
Sekitar setengah hari pakcik menelpon ku memberitahukan hasil raport ku.
"Assalamualaikum Mi,"
"Waalaikum salam cik, cakmano cik raport Mimi," tanyaku.
"Alhamdulillah nilai meningkat tapi harus ditingkatkan." ucap pakcik.
"Oh ya Mi, Syahril kemaren jadi ke kota kembang?" tanya pakcik ku.
"Jadi cik, kenapa?" tanyaku kembali
"Emm tadi pakcik ketemu dia sama kawannya, apa dia sudah pulang dari kota kembang?" tanya pakcik.
"Mungkin cik,." Jawabku "kok gak ada ngasih kabar ya kalau udah pulang." diriku ngebatin.
"Loh kok mungkin! emangnya Syahril Ndak ada kasih tau?" tanya pakcik.
"Belum ada dia kasih tau kalau dia dah pulang cik," Ucapku.
"Oh ya udah pakcik mau pulang dulu." Jawabnya.
"Nah emang pakcik dimana?" Tanyaku pula karena udah jam 11.30 dia baru pulang.
"Pakcik masih di sekolah nih sudah pada bubaran." Ucapnya.
"Oh gitu, ya udah Cik makasih sebelumnya."
"Iya assalamualaikum."
"waalaikum salam." sambungan pun terputus.
"Ada apa? kenapa dia sudah pulang dan akhir-akhir ini juga tidak menghubungi ku,." aku ngebatin tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dia sedikit berubah.
Ingin ku menghubungi nya terlebih dahulu namun kuurungkan karena aku tak ingin jika aku bertanya seolah aku mengekangnya.
Aku terus pandangi layar hp ku dan aku liat terus kontaknya di aplikasi hijau ini dia nggak online, semakin kutunggu semakin perasaan ku tak enak.
Empat hari sudah semenjak ku ketahui dari pakcik dia sudah pulang namun sampai saat ini juga dia tak ada menghubungi ku. Ada rasa sedih dan penasaran di hatiku ada apa dengan dirinya.
Aku selalu melihat aplikasi hijau ini tapi dia offline sudah satu minggu lamanya.
"Ya Allah ada apa dengan dirinya." Mimi ngebatin ada rasa sesak di dadanya sudah seminggu lebih dia tak menghubungi.
Hari ini hari Sabtu dan hari ini aku akan pulang ke rumah nenek bersama Dewi karena aku sudah janjian untuk pulang bersama.
Sebelumnya orang tua tidak mengizinkan Mimi pulang sendiri tapi karena ku beri keyakinan kepada mereka kalau aku pulang bersama Dewi akhirnya diizinkan juga.
"Mi, sudah kasih tau Syahril kalau Mimi pulang hari ini?" Tanya Emak karena seperti sebelumnya jika aku pulang selalu mengabarinya.
"Emm kak Syahril kan masih di tempat kakeknya mak." ucapku.
"Oh emang belum pulang dia."
"Belum kayaknya Mak."
"Ya udah kasih tau pakcik biar dijemput di pangkal ojek nanti." ucap emak.
"Iya Mak."
__ADS_1
Itulah percakapan ku menjelang aku diantar oleh bapak ke loket travel dan untuk menuju loket dari desa ku melewati desa Dewi dan sebelum aku berangkat dari rumah sudah menghubunginya dan kata nya aku disuruh langsung ke loket aja dan ketemu di loket.
Setelah sampai loket ternyata mobil sudah ingin berangkat karena penumpang sudah pada datang dan tak pakai nunggu lama aku Nyai dan Dewi pun langsung naik ke mobil dan bersalaman terlebih dahulu kepada bapak ku dan bapaknya Dewi.
Nyai sudah menunggu terlebih dulu di loket di antar oleh om Iyan, karena Nyai semalam tidur di rumah om Iyan jadi pagi ini bapak hanya cukup mengantarkan ku saja.
Sepanjang jalan kami berdua hanya bercerita dan berujung tertidur, aku sengaja tak memberitahu Syahril jika aku pulang hari ini.
Karena sampai saat ini yang aku ketahui kalau dia sudah pulang dari kota kembang dan itu pun ku ketahui dari pakcik dan bang Idho.
Ya beberapa hari setelah pakcik memberitahukan bahwa dia pulang tapi sampe saat itu juga dia tak menghubungiku, aku ingin menghubungi nya namun aku liat di aplikasi hijau dia sedang offline dan aku tak tau harus bertanya kepada siapa.
Karena sifat posesif nya sifat pencemburu nya di hp ku tak diizinkan ada kontak laki-laki selain dia dan keluarga ku saja. Karena tak ada kontak kak Ryan mau pun kak Andri dan lain akhirnya aku mencoba hubungi dan bertanya kepada bang Idho dan itupun tak banyak yang kuketahui.
Tiga jam perjalanan akhirnya aku sampai pakcik telah menunggu di pangkalan ojek simpang jembatan Aur duri. Dewi dia tidak turun disini katanya dia mau ke rumah Andika terlebih dulu.
Karena yang jemput hanya pakcik maka Nyai lah yang naik ke motor pakcik dan aku naik ojek.
**
Hari Senin telah tiba dan hari pertama untuk masuk ke rumah ilmu, kulangkahkan kaki bersama sahabat ku Di'ah menuju kesekolah.
Di koridor sekolah tepatnya di depan ruang OSIS aku melihat Ryan dan teman-teman nya tanpa ada Syahril disana.
Sesampainya di depan ruang OSIS seperti biasa kami saling sapa, namun kali ini aku tak banyak bicara dan tak banyak bertanya. Bang Idho melihatku diam dia bertanya padaku.
"Mi, tumben diam mana nih oleh-oleh dari liburan." candanya.
"Emm." Cuma itu yang bisa ku utarakan dan hanya senyum.
Ryan melihatku diam dia menghela nafas nya yang mana ku dengar seperti ada sesuatu yang mereka rahasiakan dariku karena posisi ku di sampingnya jadi aku mendengar desahan nafasnya.
Karena ku lihat dia tak juga berbicara akupun pamit kepada mereka semua untuk masuk ke dalam kelas ku.
"Maaf Mimi ke kelas duluan." ucapku dan langsung berlalu meninggalkan mereka.
Sesampainya di dalam kelas ternyata sepi hal yang umum bila hari pertama masuk sekolah para siswa yang pertama dilakukan adalah menuju kantin.
Karena sepi aku pun duduk di bangku dan ku ambil ponsel di dalam tas dan kulihat aplikasi hijau namun lagi-lagi dia offline.
"Ada apa dengan mu kak" Gumam ku.
Ingin kuluapkan sesak yang kurasakan saat ini tak terasa entah mengapa jatuh juga air mata di pipiku.
Sepintas ku teringat omongan emak sewaktu liburan kemaren, iya emak bertanya kepadaku tentang Syahril dan aku pun bercerita kalau Syahril keturunan hubaib dan bla bla.
Emak mendengar ceritaku tentang Syahril adalah keturunan hubaib diapun menasehati ku.
"Mi, mulai dari sekarang Mimi jangan terlalu menaruh hati sama dia." Ucap emak dan aku tak mengerti apa maksudnya.
karena aku penasaran akan maksud emak, akupun bertanya.
"Emang kenapa Mak?" tanyaku dengan hati yang sudah tidak menentu.
"Bukan emak menakuti cuma emak mau Mimi menjaga hati jangan terlalu dalam menaruh hati sama dia."
Aku masih menunggu emak untuk berbicara dengan hati yang berkecamuk.
"Kita orang biasa Mi ndak sebanding dengan dia."
"Deg." hatiku semakin terasa tak enak "ada apa ini" gumamku.
"Setau mamak kalau orang hubaib itu kalau cari bini tidak sembarangan, mereka selalu di jodohkan." terang emak kepadaku.
Mamak melihat wajahku dan mengelus pipiku, hati seorang ibu pasti tau jika hati anaknya sedang tak baik.
"Mulai sekarang Mimi kuatkan hati ya." Ucapnya dan terus mengelus pipiku.
Itulah percakapan antara Mimi dan emaknya dua hari sebelum Mimi pulang, karena dia selalu menanyakan Syahril dan Mimi selalu menjawab tidak tau.
Sesak yang aku rasakan, ingin ku teriak sekencang-kencangnya tapi ahh entahlah, hanya air mata yang bisa di tumpahkan.
Baru pertama kali mengenal cinta apa yang ditakutkan apakah akan terjadi, iya selama ini Mimi takut membuka hatinya takut akan patah hati.
Untuk menghilangkan kepenatan hati ku menundukkan kepala dengan berpangku kedua tanganku sehingga teman-teman ku masuk ke kalasku aku tak mengetahuinya.
"Mi," aku pun mengangkat kepalaku dan melihat siapa yang memanggilku dan ternyata Dewi dan Asri sudah berada di depan mejaku dan tak lama masuk lah geng rusuh.
"Mi.. Mimi sakit?" Tanya Manda.
"Mi," Panggil Emma.
"Mimi baik-baik aja kok, cuma ngantuk." Aku menjawab mereka dengan kebohongan.
Ryan dan yang lain ternyata juga ada di kelasku tapi mereka berdiri di balik pintu.
"Ayo Mi kita ke kantin." ajak Mereka semua.
"Kalian aja, Mimi masih kenyang." Ucap ku.
"Mi..!" Panggil Emma.
"Ndak apa-apa kalian pergi aja ke kantin, Mimi mau lanjut tidur aja." Jawabku berbohong.
"Mi kalau ada masalah cerita." Ucap Manda.
__ADS_1
"Mimi baik-baik aja Manda, makasih." ucapku namun getir di dadaku.
"Ya udah kita ke kantin dulu ya Mimi mau apa nanti kami belikan." Ucap Novi.
"Ndak usah Nov makasih, Mimi masih kenyang." Jawabku dan mereka pun pergi ke kantin.
Aku melihat ke arah pintu aku lihat Ryan dengan tatapan sendu.
Setelah mereka keluar aku kembali menundukkan kepalaku dan ternyata Dewi dan Asri masih di dalam kelas mereka duduk di meja belakang ku.
"Mi.." panggilnya, aku pun mengangkat kepala ku dan menoleh kebelakang.
"Eh Wi, Ndak kekantin?" tanya ku.
"Sudah tadi, Mimi baik-baik aja?" tanya nya.
"Iya Wi, Mimi baik-baik aja kok." ucapku dengan senyum.
"Kalau ada masalah Mimi boleh kok cerita sama Dewi." Ucapnya.
"Makasih Wi, tapi Mimi baik-baik aja kok."
"Oh ya udah kalau gitu nih di makan rotinya." ucapnya dan memberikan ku sebungkus roti.
"Makasih." akupun mengambilnya namun tak aku makan.
Karena hari pertama masuk sekolah maka tak ada pelajaran maka kami semua pulang cepat.
Aku dan teman-teman ku pulang bersama seperti biasa kecuali Dewi dan Asri dia ngekost dekat sekolah ku.
Sepanjang aku hanya diam, aku tahu Syahril ada di belakangku tapi aku tak ingin menyapa nya terlebih dahulu begitu pun dengannya.
Selintas ku liat wajahnya sendu seperti ada tekanan pada dirinya tapi aku enggan untuk bertanya, aku lihat ada ojek di depan ku aku pun memberhentikannya. Yah niatku hari ini aku akan pulang naik ojek.
Setelah kuberhentikan ojek akupun mengajak Di'ah untuk bareng tapi dia tak mau dan akhirnya aku pulang sendirian.
"Maaf Mimi duluan." Ucapku kepada yang lain dan mereka melongo tak percaya kalau aku akan pulang naik ojek.
Aku langsung naik ojek dan menyuruh Abang ojek untuk segera jalan.
Syahril menatapku sendu, aku tak tau kenapa dia masih tak ingin jelaskan.
Syahril POV
"Maafin kakak dek." Ucapnya di dalam hati.
Ryan yang melihat syahril menunduk dia menepuk bahu nya dan menguatkan nya.
"Jelaskan segera Riil," Ucapnya.
"Bagaimana bisa aku memberitahunya Yan." ucapnya dengan getir. "Melihatnya seperti itu hatiku juga sakit." imbuhnya lagi.
"Jika kau tak mau memberitahunya sekarang setidaknya jangan kau diamkan dia seperti ini." Ucap Andri menasehati.
Iya Ryan Syahril dan Andri berjalan paling belakang.
"Aku hanya kasih saran Riil, lambat laun pasti dia juga akan tau." ucap Andri kembali.
"Entah lah kenapa harus jadi seperti ini." Ucap Syahri dengan tatapan kosong kedepan.
"Sabar, teruslah berdoa semoga semua tidak terjadi." Ucap Ryan.
Ryan dan Andri sengaja tidak jalan bersama sang kekasih mereka memberi alasan kepada pasangannya kalau mereka akan menemani Syahril dan kekasih mereka pun mengerti.
"Riil, apa tidak sebaiknya kau pulang kerumah!" Ucap Andri.
"Iya Riil pulang lah kerumah dulu kasian Umma dan Abah." Ryan menimpali.
"Iya nanti aku pulang sebentar mau ambil buku." Ucapnya.
"Riil, kasih Abah waktu untuk menjelaskan nya." Ucap Ryan.
"Sudah lah Yan aku malas." ucap Syahril enggan.
"Ya udah setidaknya kau pulang nanti aku dan Andri temani." ucap Ryan.
Niat hati mereka pergi ke kota kembang untuk menikmati liburan tapi mereka hanya empat hari disana setelah itu mereka pulang dan sejak itu pula Syahril tak pulang kerumahnya.
***
Assalamualaikum selamat sore riders setia ku, alhandulillah up lagi kita sore ini terimakasih yah yang masih stay di dokter jantungku jangan lupa kasih kritik dan sarannya juga ya.
sambil menunggu dokter jantungku up yuk mampir ke karya ku juga ya maaf beda nama pena nya.
Dan jangan lupa beri dukungan dan jejak kalian.
vote
rate
like
komen
__ADS_1
favorite