DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
SIAPA DIA


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Ryan segara menuju mobilnnya dan berangkat menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan, dia selalu terngiang akan nasihat Abi nya. Bahkan terkadang dia menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa mendidik istri nya.


"Ya allah, ridhoi lah pernikahan hamba." ucapnya lirih.


Bayangan-bayangan awal mula sang istri berubah pun seolah berputar bak kaset yang sedang memutarkan adegan per adegannya.


Helaan nafas berulang kali di lakukan Ryan. Sungguh hati dan pikirannya bingung akan perubahan sang istri secara tiba-tiba itu hanya karena melihat Mimi di sukai warga setempat dan di tambah Mimi membeli mobil.


"Ya Allah, bantulah hamba. Bukakan mata hati dan pikiran istri hamba. Bukakanlah hati nya agar membuang jauh rasa iri dengkinya itu." Ryan terus berkeluh kesah pada rabb nya di sepanjang jalan menuju rumah sakit.


Kecewa itulah yang dirasakan Ryan saat ini, usia pernikahan yang masih berumur jagung sudah di terpa prahara.


Yang lebih sakit hati dan kecewanya adalah disaat Di'ah seolah meminta dirinya tak bertanggung jawab pada perkerjaannya di rumah sakit umma nya.


Bahkan seolah Di'ah menginginkan Ryan jauh dari keluarga umma nya itu.


Sakit hati nya bila orang yang paling berjasa pada dirinya tak di pandang oleh orang yang di cintainya.


Sehabis Ryan keluar rumah, perlahan Di'ah naik ke atas menuju kamarnya kembali.


Rencana Di'ah akan ikut bersama Ryan, namun di saat dia akan sampai ruang makan, dia mendengar ummi Parida menasehati Ryan sambil mengobati luka di buku-buku tangan Ryan.


Di'ah mendengar ummi Parida menaseehati anaknya bukannya keluar dan segera menghampiri dan mengambil alih tugas untuk mengobati tangan sang suami nya, ini dia malah bersembunyi di balik tembok pembatas antara ruang makan tersebut untuk mendengar pembahasan selanjutnya.


Di'ah mendengarkan semua apa yang mereka bicarakan, ada rasa sedih di hatinya kala Ryan tak menghampiri dirinya untuk berpamitan.


**


Operasi secar yang di lakukan Syahril berhasil. Puji syukur selalu di ucapkannya dikala pasien yang sempat pendarahan kini melewati masa kritis nya.


Anak lelaki dengqn barat badan 3800 gram dengan tinggi badan 61cm lahir dengan selamat.


Nenek serta kwdua pamannya sangat bahagia dengan kehadirannya, begitu puka sang ibu.


Namun di balik kebahagiaan itu ada pula kesedihan meliputi mereka. Anak yang selalu di damba dan dinantikan selama 7 tahun itu lahir tanpa seorang ayah yang mendampinginya.


Rokayyah dan Amirudin adalah salah satu pasangan yang menanti hadirnya anak di tengah keluarga mereka.


Segala upaya mereka mengikuti program hamil, dari medis hingga tradisional.


Di saat tiga bulan sebelum hari ulang tqhun pernikahan mereka yang ke 7 tahun, Rokayyah di nyatqkan pisitif hamil.


Kebahagiaan yang mereka rasakan juga di rasakan kedua keluarga. Amiruddin yang hanya seirang pedagang semakin semangat dalam mengais rezeki.


Sehingga tepat di hari jadi pernikahan mereka, orang tua Amirudin yang sedang pergi kerumah salah satu sanak family meminta jemput.


Amirudin pun menjemput kedua orqng tua nya di kota, namun naas tak dapat di elakkan. Saat Amirudin dan kedua orangtua nya pulang, di perjalanan hujan pun turun dengan sangat lebat.


Mobil yang di bawa Amiruddin tak terkendali saat ban mobil terjeblos kedalam lubang dan naas saat itu jalan yang mereka lewati jalanan yang terjal dan mobil Amiruddin berbelok ke arah kiri yang mana sebelah kiri adalah jurang walau tak terlalu dalam namun di jurang tersebut banyak kayu-kayu.


Amiruddin dan kedua orang tuanya di temukan salah satu warga dusun mereka yang sedang pergi ke kota keesokan hari nya.


Mobip yang di kendarai Amiruddin tersangkut di kayu-kayu yang berada di jurang, tetapi keadaan mobil bagian depan hancur karena menabrak pembatas jalan dan kaca depan pecah tertancap ranting kayu.


Rokayyah yang mendapat kabar tersebut mengalami pendarahan namun janin masih selamat hingga di bukan berikut nya pendarahan kerap terjadi bila Rokayyah dalam pikiran stress. Setelah di bawa periksa Rokayyah di nyatakan plasenta previa.


Yah yang menangani Rokayyah saat itu adalah Syahril.


**


Di LA Mimi tengah melakukan tindakan operasi pencangkokkan jantung. Di saat pencangkokkan berhasil di lakukan dan pasien hendak di pindahkan ke ruangan observasi, tiba-tiba pasien mengalami kejang dan detak jantung sempat mengalami kelemahan.


Mimi dan tim yang semula telah keluar dari ruangan operasi kembali berlari masuk ke dalam ruangan observasi.


Mimi dan tim pun segera melakukan seranggkaian tindakan untuk membantu pasien agar bisa kembali normal.


Alhamdulillah satu jam penanganan akhirnya pasien bisa di atasi dan pernafsan serta detak jantungnya pun kembali normal. Lega itu yang Mimi dam tim rasakan.


Keesokan harinya pasien pun sadar, Mimi juga telah memerintahkan perawat agar mengingatkan bagian konsumsi rumah sakit untuk memberi makanan sehat yang khusus untuk pasien ini.


Tak hanya kepada tim konsumsi, Mimi juga memberitahu kepada pigak keluarga untuk tidak memberi makanan yang di pantang bahkan yang Mimi larang konsumsi buat pasien.


Bahkan Mimi memberitahukan kepada pihak keluarga dengam tegas karena Mimi tidak ingin kejadian lampau terulang kembali.


Dua hari Mimi berkutat dengan pekerjaannya dari pagi hingga hampir tengah malam.


Hari ini Mimi memulai ujiannya, karena dua hari lalu sibuk dengan perkerkaan maka waktu mimi belqjar hanya ei subuh hari himgga menjelang ujian diadakan.


**


Di'ah yang merencanakan pulang hari senin di tunda nya menjadi hari selasa.


"Kak" panggil Di'ah, setelah melihat Ryan selesai berganti pakaian.


"Hmm'' jawab Ryan, Di'ah hanya bisa menghelakan nafasnya karena Ryan belum juga ingin untuk menegurnya.

__ADS_1


"Emm kak, aku pulang ke LA nya selasa atau rabu saja ya?" ucap Di'ah.


Ryan mendengar ucapan Di'ah menarik nafasnya seraya memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya.


"Kamu tau kan kalau tiket sudah di pesan" ucap Ryan dongkol.


Bagaimana tidak dongkol, tengah malam disaat dirinya lelah Di'ah membahas keberangkatan yang sudah mereka planingkan.


Seharusnya mereka minggu berangkat namun tidak jadi dan di undur hari senin karena kehabisan tiket di hari itu.


Ryan mengambil cuti hingga hari kamis namun sekarang Di'ah minta di undur kembali tanpa mempertimbangkan.


"Tapi kak aku masih rindu sama emak dan abah." ucap Di'ah.


"Hmm huhh, terserah." icap Ryan seraya merebahkan dirinya di atas kasur.


Karena lelah seharian ini dia mwlakukan tindakan operasi membuat dirinya cepat terlelap dan tak di hiraukan keberadaannya Di'ah.


Di'ah maneik nafas nya dalam-dalam dan di pandanginya wajah lelah Ryan.


"Kenapa kau tak mengerti akan diriku kak." ucap Di'ah lirih.


"Aku hanya ingin kau memberikan perhatian lebih mu padaku, seperti kak Syahril terhadap Mimi." ucapnya lagi.


Perhatian yang bagaimana lafi yang dia inginkan, padahal Ryan selalu mberikn perhatian bahkan selalu mengalah pada dirinya, namun akhir-akhir ini Ryan memang selalu tersulut emosi nya apa bila Di'ah selalu membandingkan dirinya sendiri terhadap Mimi.


Ryan selalu meminta pada Di'ah agar tak membandingkan diri, Ryan ingin adi'ah menjadi sirinya sendiri. Tetapi Di'ah tak ingin mendengarkan apa yang Ryan ucapkan.


Bila sedang berdebat, Di'ah selalu mbawa Mimi dalam perdebatan mereka. Ryan selalu mengingatkan Di'ah bagaimana perjuangan Mimi dahulu hinhga saat ini, karena hati telaj diliputi rasa iri, Di'ah tak bisa berpikir secara sehat.


Terkadang Ryan merasa iri dengan Syahril yang mendapatkan pasangan yang pengertian, perhatian dan tidak banyak menuntut.


Di'ah terus memandang wajah Ryan.


"Kenapa kakak berubah kak?"


"Apa salah jika aku juga ingin seperti Mimi." ucap nya sendu.


Di'ah merebahkan dirinya di samping Ryan, Di'ah berupaya memejamkan matanya namun semakin di coba memejamkan matanya terasa perih.


Di'ah mwnarik nafasnya beruoang kali, di lihat nya wajah Ryan, karena matanya belum inhon tidur akhirnya dia mwlihat ke arah langit-langit kamar.


"Aapa salah ku tuhan... Kenapa nasib ku tak seberuntung Mimi."


"Kenapa nasib nya begitu baik. Walau dulu dia hampir menikah dengan orang lain, tapi keluarga mantannya tetap menyayanginya. Bahkan mengangap nya anak dan di beri kemewahan."


"Kenapa nasib mu mujur Mi. Kau selalu dikelilingi orang-orang yqng menyayangi mu"


"Bahkan orang dusun pun senang dengan dirimu, jujur aku iri Mi.. Aku ingin seperti kamu."


"Lihatlah.. Kak Ryan suami ku, dia pun bangga padamu. Lihatlah Mi.. dia lebih mementingkan perkerjaan yang diberi Umma dari pada aku."


"Padahal itu tugas anaknya, kak Syahril yang lebih berhak atas kerjaan itu tapi kenapa suami ku yang jarus mengembannya."


"Ah iya, karena budi.. Ya karena budi karena membalas budi suamiku rela mengembankan kewajiban kak Syahril."


"Suamiku yang berkerja tapi suami mu dan kamu yang menikmati hasilnya Mi."


"Dengan mudah nya kak Syahril membelikan mu mobil, huh. Aku juga ingin Mi, tapi kata kak Ryan buat apa karena aku tidak tinggal disini."


"Namun lihat kamu Mi, kamu juga ndak tinggal disini tapi kak Syahril tetap membelikannya buat keluarga mu." ucap Di'ah dengan menghapus air mata yang mengalir ke pipinya.


Di'ah tak juga mengerti jika mobil yang Mimi beli saat itu bukan dari Syahril melainkan dia beli dari tabungannya sendiri.


**


Hari ujian pertama di lalui dengan lancar, Mimi sangat bersyukur bisa mengisi setiap soal ujiannya.


Sepulang ujian, Mimi pergi ke rumah sakit yang Abidzar bangun. Sesampainya disana Mimi langsubg dihadapi dengan pasien yang terkena serangan jantung.,


"Dokter Mimi." panggil salah satu dokter UGD ketika melihat Mimi yang hendak berjalan ke lift.


Mimi yang mendengar namanya di panggil pun berhenti dan membalikkan badannya guna meligat siapa yang memanggilnya.


Terlihat seseorang yang berlari mendekati dirnya.


"Iya dok" ucap Mimi.


Hoh hoh hoh terlihat dokter UGD tersebut sedang mengatur nafasnya, setelah merasa tenag barukah dia kembali berbicara.


''Syukurlah dokter databg tepat waktu, mari dok ikut saya keruang UGD, ada pasien yang di duga terkena serangan jantung." ucapnya sembari menarik Mimi.


"Sudah berapa lama?" tanya Mimi sambil berjalan cepat menuju ruang UGD.


"Sekitar sepuluh menit lalu tiba dok, dokter jantung lain sedamg bertugas." jawabnya dengan melangkah cepat mengikuti Mimi.


Mereka berdua pun tiba dalam ruangan UGD, pasien yang terkwna serqngan jantung juga telah di beri tindakam sama dokter UGD lainnya.

__ADS_1


"Dok" ucap perawat dan dokter yang ikut menangani pasien.


"Bagaimana?'' tanya Mimi dan langsung mendekat ke brankar pasien.


"Detak jantung meningkat dok." jawab perawat yang sedang periksa pasien.


"Tekanan darahnya bagaimana?" tanya Mimi kembali.


"Tekanan darahnya juga tinggi dok." jawab perawat tadi.


"Emm apa pasien habis olah raga?" tanya Mimi.


"Seperti nya begitu dok karena yang mengantar pasien adalah temannya." jawab perawat.


Setelah melakukan serangkaian tindakan pertama pada pasien dan pasien terlihat membaik Mimi pun kembali ke ruangannya.


"Oh ya apa keluarga nya sudah diberi tahu?" tanya Mimi sebelum keluar.


"Sudak dok." kawab perawat yang bertugas.


"Ok nanti setelah kekuarga nya datang baru kita lakukan Ryan ndakan selanjutnya untuk memastikan penyebab nya." ucap Mimi.


Sebelum mimi melangkah Mimi pun memberitahukan pada dokter jaga setelah pasien sadar dan keluarganya tiba, Mimi meminta dojter kaga untum membuat rujukan untuk pasien melakukan rongent dan pemeriksaan lainnya.


**


Mimi duduk di kursi kerja nya dan dia pun mulai menyelesaikan perkerjaan nya yang lain hingga jam pulang tiba.


Seperti hari-hari sebelumnya, Mimi tak langsung pulang melainkan langsung menuju rumah sakit lainnya untuk berkerja.


Namun sebelum berangkat Mimi menyempatkan diri visit ke pasiennya terlebih dahulu termasuk pasien yang sempat di tanganinya di UGD.


Yah pasien yang rerkena serangan jantung sianh tadi hasilnya telah keluar. Pasien tersebut mengalami penyumbatan pembuluh darah dan Mimi juga sudah menjadwalkan pasien tersebut operasi pemasangan ring pada jantungnya esok hari dan tindakan itu juga telah disetejui oleh pihak keluarga.


**


Seperti biasa Mimi akan sampai ke apartemen menjelang tengah malam dan Mimi akan langsubg mwmbersihkan diri dan langsung mengistirahatkan diri.


Keesokan hari sehabis melaksanakan ujiannya Mimi segera ke rumah sakit namun sebelum melakukan aktivitas nya Mimi makan siang terlebih dahulu untuk mengisi tenaga nya.


Sehabis makan dan beristirahat sebentar Mimi langsung menuju nuju ruangan operasi.


Operasi pemasangan ring pada jantung pasien pun berjalam dengan lancar. Hal yang sangat membiat Mimi bahagia ialah dapat menolong orang lain.


Saat selesai melakukan Operasi Mimi pun kembali ke ruangannya. Saat di dalam lift Mimi bertemu dengan teman seprofesinya.


"Hai Mi, lama tak jumpa." ucap dokter Angela.


"Hai kak, iya kak biasalah." jawab Mimi.


"Oh ya sebelum nya selamat ya atas pernikahannya." ucap dokter Angela seraya mengulukan tangan memberi selamat.


"Makasih kak, kakak pa kabar nih?" ucap Mimi.


"Ya seperti ini lah hehe.. Emm oh ya Mi apa Syahril tak ada rencana kesini?" tanyanya, Mimi memicingkan matanya.


"Eits jangan curiga dulu." ucapnya lagi kala melihat ekspresi muka Mimi.


"Emang kenapa dan ada apa? Apa ada masalah?" tanya Mimi.


"Emang kenapa kak? apa ada masalah di sini?" tanya Mimi.


"Em masalah sih tidak ada Mi. Emm cuma itu emm." jawab Dr. Angela bingung harus berkata apa.


"Ada apa kak?" tanya Mimi lagi. Terlihat Dr. Angela menghelakan nafasnya dalam.


"Gini emm sebelumnya kamu jangan salah paham dulu ya." ucapnya sambil memikirkan cara buat menyampaikan kepada Mimi, Mimi hanya diam menunggu apa yang akan di sampaikan rekan sejawatnya ini.


"Emm gini Mi, kemarin ada pasien ibu hamil dia menanyakan Syahril. Emm sebenarnya bukan hanya kemarin saja, dari beberapa bulan lalu pun dia selalu menanyakan Syahril."


"Em bahkan akhir-akhir ini dia sering datang, kadang ketemu sama kakak kadang juga sama monica atau dokter lain yang bertugas"


"Oh iya kemarin juga monica ada juga bilang gitu cuma belum detail emang siapa kak?" ucap Mimi.


"Emm kalau di lihat rekam medis nya, dia adalah pasien nya Syahril. Tapi.. emm," Mimi masih menyimak apa yang akan di katakan rekannya


"Jujur sebenarnya aku kasian sama dia," ucapnya sambil menarik nafas dalam.


"Maksudnya?" tanya Mimi


tbc.


maaf bila up nya nggak sesuai jadwal, padahal diriku telap update di tanggal sebelum nya 2 bab siang hari tapi lama proses reviewnya,.


Kucoba ubah tanggal dan waktu masih sama bahkan satu bab di tolak dan sudah di di perbaiki namun masih lama proses reviewnya.


Semoga bab yang ini nggak duluan di review ya karena satu ban sebelum nya belum lolos

__ADS_1


__ADS_2