
Makan malam yang tentunya tidak sesuai ekspektasi Dillah maupun Mimi. Riska dia adalah teman sekelas Mimi sewaktu kuliah kedokteran, bahkan dia pernah satu team bersama Mimi.
Saat selesai makan malam sang mami Dillah pun mengutarakan maksud dia mengundang temannya itu.
"Dil, ini Tante Naura dan Om Surya, dia adalah teman mami dan papi waktu kuliah dulu." ucap sang Mami.
"Mami dan papi ingin menjodohkan kamu dengan Riska anaknya. Anaknya seorang dokter juga," ucap si Mami, Dillah melongo tak percaya atas ucapan sang mami.
"Mami apa-apaan sih Mi, mami kan tau kalau Dillah hanya mencintai Mimi. Dan dia..( tunjuk Dillah pada Riska) dia itu teman satu kelas Mimi, dia tau siapa Mimi dan bagaimana hubungan kami Mi." ucap Dillah.
"Iya justru dia satu kelas dengan dia ( sang mami menunjuk ke arah Mimi) makanya dia tau kalau orag yang kamu sukai itu nggak benar." ucap mami.
Deg Mimi merasa di hantam beton di hatinya, Mimi melihat ke arah Riska yang hanya menunduk.
"Orang yang kamu sukai itu nggak bener Dil, bahkan dia itu banyak lelaki mendekatinya." ucap sang mami masih menuduh Mimi.
"Kamu tau apa soal dia, dia nggak sebanding dengan kita Dil. Apa yang kurang dari Riska, dia anaknya cantik, dokter juga dan yang pasti dia anak terpandang." ucap sang Mami.
Perempuan yang duduk gak jauh dari meja Mimi sudah menahan amarahnya dan menggenggam erat tangannya. Ingin hatinya mencakar wanita tak berotak itu.
Yah dia adalah Selfia, dia terus mendesak sang suami untuk ke kota Padang memberi kejutan di ulangtahun Mimi, tak hanya itu Muthia beserta suami, Irma dan Riko pun ada.
Suami Selfia sudah mengetahui sepak terjang sang istri bersama Mimi, jadi secara tidak langsung dia paham melihat ekspresi sang istri yang sudah ingin meluapkan amarahnya semenjak masuk dan melihat siapa orang pertama yang dilihat yang tak lain adalah orang tua Dillah.
"Bang, Fia mohon lepaskan tangan Fia." ucap Fia memohon pada sang suami namun sang suami terus merangkulnya. Muthia, Irma dan yang lain heran melihat Selfia yang mukanya memerah menahan amarah.
"Sabar, kita lihat kedepannya. Abang yakin sahabat kamu bisa menghadapinya sendiri. Abang yakin kalau sahabat kamu sudah mempersiapkan segala sesuatu nya ." ucap sang suami memberikan penjelasan pada Selfia.
"Fi, emang ada apa Fi? Apa ada yang kalian berdua tidak ceritakan pada kita?" tanya Irma .
"Iya Fi, ada apa. Kenapa kamu sedari tadi masuk dan melihat orang tua kak Dillah seperti ketemu musuh." tanya Muthia.
"Ya, mereka berdua musuh terbesar aku dan Mimi, sumpah demi Allah jika sampe dia menyakiti hati Mimi lagi akan ku cakar nenek Lampir itu." ucap Selfia geram dengan merapatkan giginya.
"Emang ada apa Fi?" tanya Satria.
"Sampe sekarang bahkan sampe mati sekalipun aku akan terus mengingat wajah itu." ucap Selfia dengan sorot mata tajam dengan tangan di gempal kan.
"Cerita Fi, ada apa?" tanya Muthia.
"Mereka berdua tidak akan pernah menyetujui hubungan Mimi dengan Dillah, Mimi juga ngapain sih masih mau balikkan sama Dillah" sungut Selfia.
"Emang ada apa Fi?" tanya Riko, dengan deraian air mata Selfia menceritakan semua nya pada sahabat-sahabatnya.
Mimi masih diam dan berusaha tenang, Mimi akan melihat sejauh mana Dillah akan membela nya, sesekali Mimi melihat ke arah Riska, teman yang sudah di tolong nilainya bahkan orang tua Riska pun seakan lupa dengan Mimi.
Dulu mereka menyanjung Mimi namun sekarang seolah mereka melupakan segalanya.
Mimi tidak menggubris omongan Mami Dillah, Mimi hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri sehingga apa yang mereka omongkan seolah tidak Mimi dengar.
Sesekali Mimi juga menatap lekat wajah papi dan mami Dillah, sambil mengingat-ingat dimana Mimi melihat mereka selalu di dalam cafe itu.
Bagaikan terhipnotis, Mimi hanya bengong mengingat wajah papi Dillah dan Mami nya Dillah sampai Mimi teringat kalau dia pernah melihat foto yang pernah di tunjukan ke dia.
"Ya Allah.." ucap Mimi setelah mengingat wajah mereka berdua.
"Mi.. Apa salahnya dengan Mimi Mi.. Dia juga seorang dokter bahkan dari dulu dia berprestasi Mi. Apa salah jika dia kuliah sambil berjualan, nggak kan Mi." itu yang Mimi tangkap dari mulut Dillah, Mimi kembali mendengarkan obrolan mereka.
"Dia juga seorang spesialis jantung yang memiliki prestasi di bidangnya Mi." ucap Dillah lagi, Mimi hanya bengong.
Mimi melihat ke arah Riska yang tersenyum penuh arti, Mimi hanya menggeleng. Terkadang orang yang telah kita bantu dapat menyakiti kita dari belakang, bahkan mereka bisa saja menikam kita dari belakang.
"Heleh prestasi apa! Dia dekatin para dekan ya iyalah dia dapat nilai bagus." ucap mami Dillah.
"Tau apa mami tentang Mimi, dia berprestasi semenjak sebelum dia masuk ke undipo bahkan nilai yang dia dapat murni dari kerja kerasnya bukan dari sogokan seperti yang Mami katakan." ucap Dillah yang masih membela Mimi.
"Kamu tau apa Dil, Riska sendiri yang bilang kalau dia selalu dekat dengan dekan dan rektor." ucap sang Mami. Dillah dan Mimi melihat ke arah Riska yang menunduk dalam.
"Tega kamu ya menjelek-jelekkan orang yang sudah membantu menaikkan nilai kamu." ucap Dillah.
"Kamu kira dengan kamu mengadu domba orang tuaku aku respek sama kamu. Bukan respek yang aku berikan sama kamu tapi jijik aku melihat kamu " ucap Dillah dengan menunjuk ke arah Riska.
"Jika bukan Mimi yang bantu nilai kamu, mungkin sekarang bukan gelar dokter yang kamu raih mungkin bisa jadi.. Dasar perempuan murahan." ucap Dillah murka. Riska semakin menunduk dalam.
Plaaak Dillah kena tamparan keras dari sang Papi.
"Jaga mulut kamu Dillah." ucap sang papi murka.
''Kenapa pi, papi juga mau bela dia?" ucap Dillah.
"Dan tante, Om, heh dulu aja kalian memuja-muja Mimi karena nilai anak kalian bagus sekarang kalian bertiga menyebarkan fitnahan." ucap Dillah yang terbawa emosi.
"Ini bukan fitnah Dillah, emang itu nyatanya kalau tidak mana ada dia terus mendapat beasiswa." bela ibu dari Riska, Mimi menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Dia kalau ndak dekat sama rektor atau dekan mana ada dapat nilai bagus." sahut si bapak Riska, Mimi hanya tersenyum simpul mendengarnya dan menarik nafas dalam.
"Apa begitu Riska?" akhirnya Mimi bersuara dan bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan. Riska menatap Mimi sekilas setelah itu dia terlihat gugup.
"Apa benar begitu saudari RISKA ANDRIANI" ucap Mimi sekali lagi dengan menekankan nama lengkap Riska.
"Diam kamu." ucap Mami Dillah.
"Kenapa saya harus diam Tante? saya hanya bertanya sama Riska nya, apa benar yang dia katakan itu?" ucap Mimi menjawab omongan Mami Dillah.
"Dasar anak nggak tau sopan santun." cibir orang tua Riska.
"Waw pandai sekarang Tante bilang saya anak tak tau sopan santun, yang tak tau sopan santun itu anak Tante yang bernama Riska." jawab Mimi.
"Semua mahasiswa kedokteran di kelas kami tau siapa Riska. Oo atau emang ajaran anda sebagai orangtuanya yang mengajari anaknya tidak tau terima kasih." ucap Mimi yang sudah jengah dengan malam ini.
"Dan kamu Riska, kenpa diam. Kamu ada cerita bagaimana nilai setiap pelajaran mu anjlok? bagaimana nilai praktek tak di pandang oleh para dokter." ucap Mimi.
"Ah sudahlah mungkin kamu lupa Riska." sindir Mimi.
"Hei jangan kurang ajar kamu ya. Huh kamu itu juga bisa menjadi dokter spesialis juga karena uangku." ucap Mami Dillah dengan membuka rahasianya sendiri.
"Uang apa Mi?" tanya Dillah.
"Emang dia tidak cerita sama kamu. Heh mana ada dia mau cerita bilang dari beasiswa bullshit." ucap sang Mami. Mimi hanya diam.
"Ya Allah apa inikah jalan yang kau berikan pada hamba. Jika iya ampuni hamba jika kali ini hamba berkata kasar pada yang lebih tua." gumam Mimi yang masih berusaha tenang.
Mimi yang masih terlihat tenang namun tidak dengan Selfia, Irma dan Muthia yang sudah mengetahui cerita nya.
"Sabar" ucap suami Selfia.
"Iya yank, jangan gegabah ingat kamu sedang hamil." ucap Satria mengingatkan.
Sungguh Satria sangat syok mendengar cerita dari Selfia, dia tidak menyangka jika orang tua Dillah tega melakukan hal itu. Satria juga merasa kasian kepada Dillah sahabatnya, sedari dulu selalu mendapatkan tekanan dari sang mami.
"Kamu tau." ucap sang Mami.
"Sewaktu kamu di Thailand, mami dan papi menawari dia uang. Awalnya mami ingin melihat apa dia benaran mencintai kamu atau hanya ingin uang kamu saja." ucap sang Mami.
"Mami dan Papi memberinya cek senilai 1M, apa kamu tau.. Dia mengambil nya" ucap sang mami.
"Jika dia memang mencintai kamu dia tidak akan mengambil dan mempertahankan cintanya sama kamu, tapi apa. Dia menerima nya bahkan kamu tidak muncul dia malah bertunangan dengan anak rektornya." ucap sang mami.
"Benar gitu yank?" tanya Dillah. Mimi melihat ke arah Dillah dan tersenyum.
"Hah, kenapa yank? kenapa kamu hargai cintaku dengan cek." ucap Dillah.
"Akang nggak tanya sama Mami akang bagaimana caranya dia memberikan cek itu?" tanya Mimi dengan tenang.
"Hei dasar perempuan murahan, atau orang tua kamu mengajari kamu mencari uang dengan instan makanya kamu bisa sampe jadi dokter " ucap sang mami yang membawa nama orangtua Mimi.
Braaak
"Jaga ucapan anda nyonya Sheryl Amanda. Orangtuaku lebih terhormat daripada Anda yang seorang teman menusuk dari belakang." ucap Mimi yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya.
"Mimii, jaga ucapan kamu. Dia mamiku." ucap Dillah yang ikut membentak Mimi.
"Oo Mami mu, oh iya aku lupa kalau sekarang aku berhadapan dengan mami mu yang munafik itu." ucap Mimi.
"Dasar kamu tidak tau terimakasih, dasar kamu kacang lupa di kulit kalau bukan karena uang pemberian ku kau tak akan menjadi dokter jantung seperti sekarang." ucap mami Dillah, Mimi merapat kan giginya dan menatap nyalang mami Dillah.
"Hah apa anda bilang, tidak tau terimakasih, kacang lupa di kulitnya."
"Heh, emang apa yang Anda berikan kepada saya sehingga saya harus berterimakasih kepada Anda."
"Seharusnya kata-kata itu lebih pantas ditujukan pada diri anda sendiri." ucap Mimi.
"Mi.." cegah Dillah.
"Diam kau." ucap Mimi dengan membentak Dillah.
"Dan kau kang, apa kau yakin dia mami mu?" ucap Mimi dengan senyum smirk.
"Hei apa maksud kamu hah, dasar murahan." ucap mami Dillah.
"Wawww kau berteriak murahan seharusnya nya kau teriak itu pada dirimu sendiri." ucap Mimi yang tak lagi menghormati mami Dillah.
Plaaak Mimi mendapat tamparan dari papinya Dillah.
"Jaga ucapan kamu bicara yang sopan dengan orang tua." ucap nya dengan menunjuk ke arah Mimi.
Ini kali pertama Mimi mendapat tamparan dari orang tua, itupun bukan dari orang tua nya melainkan dari orang lain, Mimi memegang pipinya yang terkena tamparan itu, perih itu yang Mimi rasakan.
__ADS_1
"Pi" teriak Dillah, Mimi mengangkat tangannya ketika Dillah akan memegang dirinya
"Wawww ternyata Anda ringan tangan tuan Subroto abdilah Sunjaya." ucap Mimi memanggil nama asli orang tua Dillah. Papi Dillah tercengang darimana Mimi mengenal dan mengetahui nama asli dirinya dan sang istri.
Prok prok prok Mimi menepuk tangan nya dihadapan orang tua Dillah dan orangtua Riska.
"Kalian sangat kompak dan sangat cocok jika berbesanan. Sama-sama manusia munafik." ucap Mimi.
"Dan kau tuan Subroto Abdillah Sunjaya dan nyonya Sheryl Amanda kalian memang cocok menjadi pasangan, sama-sama manusia tidak punya hati." ucap Mimi.
"Mimi" teriak Dillah
"Kenapa kang, sungguh malang ibu yang melahirkan seorang anak yang pecundang." ucap Mimi.
"Dek." ucapnya lirih.
"Dan kau tuan Subroto apa kau benar-benar melihat mayat siapa yang dikubur itu? dan sungguh tega demi wanita ular ini kau sia-siakan wanita yang mengangkat derajatmu." ucap Mimi.
"Dek apa maksud kamu?" tanya Dillah.
"Apa maksud kamu hah?" ucap Mami Dillah.
"Nyonya Sheryl, Anda seorang sahabat bahkan sudah di anggap saudara dari keluarga itu tapi kau tega mengkhianati sahabat kamu sendiri ." ucap Mimi
"Hei jaga ucapan kamu." ucap mami Dillah gelagapan.
"Kenapa? Anda takut terbongkar rahasia besar mu." ucap Mimi.
Selfia dan yang lain tercengang mendengar fakta terbaru yang keluar dari mulut Mimi.
"Dan kau tuan Subroto, kau memang buaya. Kau tak mencari kebenaran terlebih dulu tentang orang yang mendekati mu itu adalah ular."
"Seharusnya Anda tau, saat kau hanya seorang mahasiswa dari beasiswa, sedikit pun dia tak memandang mu termasuk dia." ucap Mimi. Papi Dillah diam.
"Dan kau dokter Suryo Hadinata. Hebat sekali cara kalian untuk mendapatkan keuntungan." ucap Mimi dan itu membuat semua orang tercengang dari mana Mimi bisa mengenal semua orang itu.
"Apa tadi, istri mu bilang aku perempuan murahan? seharusnya istrimu ucapkan itu pada anaknya sendiri yang mana anaknya ikut jejak sang ayah." ucap Mimi.
"Kalian tega mensabotase sehingga membuat wanita sedang hamil mengalami kecelakaan." ucap Mimi dan itu semakin membuat semua merasa getar getir.
"Jaga mulut kamu jangan asal bicara kamu, saya bisa tuntut kamu." ucap dokter Suryo Hadinata.
"Silahkan Anda menuntut saya maka saya akan membeberkan semua rahasia anda." ucap Mimi, terlihat mami Dillah serta dokter Suryo itu saling pandang.
"Dan Anda nyonya Naura, jangan percaya pada suami anda, mereka berdua demi sebuah ambisi mereka saling berbagi mungkin berbagi juga di atas ranjang." ucap Mimi dengan melihat dokter Suryo dan mami Dillah
"Dan kau kang, mau tau gimana Mimi bisa mendapatkan cek itu? Orang tua mu menculik aku dan Selfia sewaktu aku mengantar orangtua ku ke bandara." ucap Mimi.
"Pasti akang tak akan percaya ucapan Mimi, namun itulah nyatanya. Andai Fia ada, dialah saksi mata dimana kami diculik dan di bawa ke perbatasan kota." ucap Mimi.
"Dan orang tua mu itu, meminta aku untuk meninggalkanmu dan tidak menjalin hubungan dengan kamu lagi."
"Oh ya satu lagi, ini bukan kali pertama dia menghina orang tuaku, seperti yang sudah Mimi katakan Mimi tidak akan mentolerir siapapun yang menghina orang tua Mimi." ucap Mimi.
"Dan" ucap Mimi sembari membuka tas dan mengeluarkan dompet nya. Mimi ambil secarik kertas yang selama ini disimpannya.
"Dan ini silahkan ambil kembali cek ini. Sepeser pun tidak saya gunakan dan saya haramkan menggunakan uang Anda untuk pendidikan saya."
"Dan kau kang, kau tau sendiri bagaimana prestasi ku tapi kenapa kau seakan goyah setelah dia yang kau anggap Mami mu itu mengatakan aku menerima cek dan memakainya." ucap Mimi.
"Terimakasih atas segala kebaikan dan makam malamnya." ucap Mimi dengan menyerahkan cek itu ke tangan Dillah.
"Oh ya satu lagi, buat kalian berempat dapat salam dari ibu Retno Trisna Aji."
"Dan anda tuan Broto dan nyonya Sheryl kembalikan perusahaan yang kalian ambil dari ibu Retno Trisna Aji karena itu bukan hak Anda. Terimakasih atas jamuan makan malamnya."
"Dan kang, maaf mulai saat ini kita bukan siapa-siapa. Aku sangat bersyukur karena Allah telah membuka jalannya siapa yang cocok buat diriku, selama ini ternyata aku telah salah memilih. Terimakasih atas kebaikan dan perhatiannya. wassalam." ucap Mimi dan pergi keluar dari restoran itu.
Mimi berlari selagi dia mampu berlari, deraian air mata luruh di kedua pipinya. Muthia ingin mengejar Mimi namun ditahan oleh sang suami begitu pula Selfia dan Irma.
Dillah melihat Mimi lari keluar hanya diam, Dillah tak tau harus berbuat apa, dia juga tidak tau apa yang dikatakan Mimi, fakta yang tak pernah diketahuinya.
Papi Dillah melihat dengan tajam ke arah Suryo serta istrinya, ada rasa lega didalam hatinya seolah keraguannya selama ini terkuak.
"Bisa jelaskan?" tanya Broto ayah Dillah kepada istrinya dan Suryo.
"Ada apa ini? sabotase, apa kalian menyabotase nya." ucap Broto dengan gemetar.
"Katakan!" teriak Papi Dillah.
"Pi kamu jangan percaya omongan nya pi, dia hanya ingin merusak keluarga kita."
"Entahlah, entah mengapa aku lebih percaya omongannnya daripada kamu." ucapan papi Dillah.
__ADS_1
Dillah hanya diam seribu bahasa, Selfia yang suda tak tahan akhirnya mendekati meja itu dan itu membuat orang tua Dillah terkejut.
tbc