
Sehabis turun dari panggung dan telah mempersembahkan dua buah lagu buat mempelai, Mimi berjalan mendekati Di'ah yang sedang bicara denagn Ummi Parida.
Mimi memiliki keyakinan kalau Ummi Parida sedang me!bicarakan hubungan Di'ah dan kak Ryan.
Mimi yang semula ingin mendekati Di'ah mengurungkan niatnya, Mimi kembali celingukan mencari sahabatnya yang lain.
Asing, itulah yang Mimi rasakan dimtemlat ini saat ini. Entah mengapa Mimi menjadi merasa asing, banyak sorot mata melihat ke arah nya.
Mimi tidak tau itu sorotan mata jijik kah, benci kah, iba kah atau menyedihkan kah. Jika boleh teriak mungkin Mimk akan teriak sekuat-kuatnya ditempat ini.
Saat mata Mimi sedang mencari para sahabatnya yang enatah kemana seolah hilang bak di telan bumi. Mimi melihat bang Afkar lalu Mimi pun mengejarnya. Hanya bang Afkar orang yang yang Mimi kenal saat ini.
"Bang" panggil Mimi ketika telajndekat bang Afkar dengan temannya.
"Dek" ucapnya.
"Ada apa?" tanya nya.
"Emm ndak ada apa-apa bang Mimi gabung sama Abang ya." ucap Mimi, Afkar hanya melihat Mimi. Afkar sedari tadi menghindari Mimi, dia tak ingin melihat kesedihannya pada Mimi.
"Boleh ya.. Mimk ndak ketemunkemana semua orang, Mimi seperti orang asing disini." ucap Mimi lirih.
"Ya Allah dek," gumam Afkar dalam hati.
"Kenapa merasa asing dek?" tanya Afkar.
"Coba aja Abang lihat, kenapa mereka melihat Mimi seperti itu?" ucap Mimi. Afkar pun melihat kearah dekat pelaminan, yah semua orang masih ada melihat ke arah Mimi.
"Sudah lah, sini duduk dengan Abang." ucap Afkar !mengizinkan Mimi duduk dengannya.
"Hey Kar? siapa?" tanya teman kampus nya bang Afkar disini dulu.
"Dia, emm dia Mimi adik ipar aku.'' jawab nya.
"Adik ipar? adik ipar dari yang mana Af?" tanya temannya yang satu.
"Dari Syahril." jawabnya.
"Apa!!! gila maksud kamu Syahril udah punya istri gitu? gila Syahril mau-mau nya nikah sama itu cewek." ucap sahabat Afkar yang tahu bagaimana kisah keluarganya Syahril.
"Huuum dia pacarnya Syahril belum jadi istri." ucap Afkar.
"Ya sama aja, knapa nggak di ajak kawin lari aja.'' ucapnya.
Mimi yang mendengar perdebatan mereka hanya diam menunduk, ternyata dia salah gabung itulah pikirannya.
"Sudahlah ndak usah dibahas." ucap Afkar menyudahinya dengan memberi kode lewat pandangan kalaun Mimi bersedih. Semua sahabat bang Afkar pun melihat ke arah Mimi yang menundukkan kepala.
"Maaf ya dek." ucap salah satu sahabat bang Afkar, Mimi mengangkat kepalanya dan mengangguk serta tersenyum.
"Walau tersakiti kau masih bisa tersenyum dek." ucap salah satu sahabat bang Afkar dalam hati iba.
Dimeja Di'ah dan Ummi Parida serta Ummi Zulaikhah sedang menasehati Di'ah.
"Nak, kenapa kamu ikut mengambil keputusan seperti itunpada Ryan?" tanya Ummi Zulaikhah.
"Iya nak, padahal Ummi sudah merencanakan akan melamar kamunsetelah Syahril melamar Mi.." ucap Ummi Parida terhenti tak sanggup mengatakan hal yang tak terjadi.
"Maaf Ummi, sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa melanjutkan hubungan kami. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Di'ah.
"Tapi nak apa alasan kamu?" tanya Ummi Parida. Ryan hanya menatap Di'ah dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti.
"Di'ah tidak mempunyai alasan apapun ummi, selain.." jawab Di'ah dengan menghentikan sejenak dan menatap ke arah Ryan yangbgerus melihat kearahnya.
"Selain apa nak? apa karena Mimi dan Syahril tidak bersatu? atau kamu takut Ryan juga akan dijodohkan?" ucap Ummi Parida.
"Ryan bebas, Ummi dan abingidak pernah membungkus perjodohan bhat anak-anak kami, termasuk Babah dan Umma. Mereka hanya terpaksa menerima karena semua sudah diatur oleh kakeknya. Kalau Ryan samlai dijodohkan seperti Syahril, Ummi yang pertama akan membawa lari anak Ummi." terang Ummi Parida.
"Bukan, bukan karena itu Ummi. Di'ah mengambil keputusan ini karena Di'ah tidak bisa Ummi Di'ah tidak bisa melihat Mimi semakin terpuruk dan bersedih. Apalagi bila melihat Di'ah dan kak Ryan bersatu, pastinya ada kesedihan di hatinya. Di'ah tidak bisa bahagia diatas penderitaan sahabat Di'ah." ucap Di'ah.
"Maafkan Di'ah, semoga kelak kak Ryan mendapatkan yang lebih dari Di'ah." ucap Di'ah dengan meneteskan air mata nya.
"Sayang." ucap Ryan.
"Maaf kak, bukan Di'ah tidak sayang sama cinta sama kakak. Tapi Di'ah tidak bisa kak. Bukan hanya Mimi saja tentu pastinya kak Syahril pun akan ada rasa sakit dihatinya bila melihat kita tetap bersatu." Ucap Di'ah dengan memegang kedua tangan Ryan dengan deraian air mata.
"Maafkan Di'ah, semoga kakak kelak mendapatkan lebih baik dari Di'ah. Coba kakak lihat ( Di'ah melihat ke arah pelaminan tepatnya ke arah Syahril ) lihat kak Syahril, hanya statusnya saja yang berubah, tapi tidak dengan tatapan mata, hati, jiwa dan raganya."
__ADS_1
"Hanya status yang dia sandang, tapi tidak kebahagiaan. Lihatlah dia kak, Di'ah yakin kaak Syahril lebih tersakiti disini. Tapi lihat Mimi kak ( Di'ah melihat ke arah Mimi yang sedang duduk dengan bang Afkar dan sahabatnya) dia pun sama, hati mereka tersakiti. Mimi berusaha untuk tegar tapi di dalam hati mereka sangat terpuruk."
"Apa Di'ah akan sanggup melihat mereka lebih tersakiti dengan kota tetap bersatu? tidak kak, Di'ah tidak sanggup. Di'ah tau betul siapa Mimi, dia akan selalu menjaga hatinya mungkin seumur hidupnya dia tidak akan lagi ingin mengenal rasa cinta, atau mungkin seumurnya juga dia tidak akan ingin mengenal laki-laki."
"Bagaimana bisa kak, bagaimana bisa jika kita bersatu kita berjalan berdua dan ketemu mereka, apa lagi kakak dan kak Syahril adalah satu keluarga dan tidak mungkin tidak bertemu. Bagaiman apersaannya bila melihat Diah yang bahagia disamping kakak." ucap Di'ah dengan tersedu-sedu.
"Ummi, kak, maafkan Di'ah. Di'ah tidak bisa, biarlah Di'ah juga mengorbankan rasa cinta ini untuk kebaikan kita bersama." ucap Di'ah lagi dengan deraian air mata.
Rasa empati nyabyerhadap seorang sahabat, bukan hanya sekedar sahabat bagi dirinya Mimi adalah saudaranya. Dia tidak ingin dengan kebahagiaan dirinya ada hati orang-orang yang tersakiti.
Ryan akhirnya pun memahami Di'ah, mungkin jika dia menjadi Di'ah oun akaan melakukan hal yang sama.
Begitu pula ummi Parida tidak ingin memaksanya lagi. Apa yang ditanyakan Di'ah memang benar adanya. Ryan adalah anaknya Syahril pun anaknya. Dia juga tidak ingin melihat anaknya bahagia namun ada anak yang memendam rasa sakit.
"Baiklah nak, jika itu keputusanmu. Ummi paham, maafkan Ummi ya nak. Tapi Ummi harap jangan sampe kita putus silaturahmi, Ummi akan selalu menganggap kamu anak gadis Ummi." ucap Ummi seraya memeluk Di'ah.
"Makasih Ummi, makasih." jawab Diah denagn membalas pelukan Ummi Parida.
Ryan pun memeluk Di'ah untuk terakhir kali, diapun ikut sakit namun mungkin sakitnya tak sebanding dengan Syahril.
Syahril melihat Di'ah dan Ryan berpelukan menghelakan nafasnya kasar. Syahril menyangka jika hubungan sepupunya baik-baik saja.
"Semoga kalian selalu bahagia.'' Gumamnya sendu melihat ke arah Ryan dan Di'ah yang sedang berpelukan. Ryan melihat Syahril di balik pelukannya dengan Di'ah.
"Kamu benar dek, dia melihat kita berpelukan terlihat tatapan sendu diwajahnya." gumam Ryan.
"Semoga kelak adek mendapatkan yangnlebih baik dari Kakak." ucap Ryan dengan senyum.
"Aamiin , semoga kelak kakak oun demikian." ucap Di'ah dan mereka bersalaman, Di'ah bersalaman dengan menciumi tangan Ryan dengan lama hingga air matanya menetes di tangan Ryan.
Ryan mengelus punggung Di'ah dan Ryan ke!Bali memeluk Di'ah untuk saling menguatkan.
"Maafkan kakak ya." ucapnya.
"Maafkan Di'ah juga." jawab Di'ah, mereka pun !melepaskan pelukan nya.
Mimk dari temkat duduknya melihat interaksi Di'ah dengan keluarga Ryan ikut terharu, Mimk melihat kepelaminan dan Mimi melihat Syahril menatap Ryan dan Di'ah yang sedang berpelukan, Mimk yakin hati Syahril sakit melihat itu.
"Terimakasih Di'ah, maag jika hubungan mu ikut berakhir karena Mimi." gumam Mimi dalam hati dengan melihat ke arah Di'ah dan Syahril.
"Mau kemana dek?" tanya bang Afkar.
"Mau pulang bang. Emm miminouiang dulu ya dan maafkan Mimi jika Mimi ada salah sama Abang, Mimi juga ucapkan banyak berterima kasih sama Abang dan keluarga atas kebaikan kalian." ucap Mimi dan bersalaman dengan bang Afkar dan menciumi tangannya.
"Mimi pamit, assalamualaikum." ucap Mimk dan berlalu mendekati Di'ah.
Miminyersengum melihat ke arah Ummi Parida, Ummi Parida memeluk Mimi.
"Makasih nak" ucap nya.
"Mimi yang berterimakasih Ummi, terimakasih atas kebaikan keluarga Ummi pada Mimi dan keluarga Mimi. Maafkan Mimi ya Ummi jika Mimi dan keluarga ada salah dan selalu merepotkan." ucap Mimi pada Ummi Parida.
"Ummi Ikha, maafkan Mimi ya Ummi kalau ada silaf salah. Terimakasih atas kenaikan Ummi dan keluarga pada Mimk dan keluarga Mimi." ucap Mimi dengan menyalami Ummi Zulaikhah dan memeluknya.
"Tidak nak, kami yang minta maaf sama kamipu dan keluarga. Maafkan keluarga Ummi ya nak. Makasih karena kami dan keluarga kamu Andri pun berteriak dengan Dewi." ucapnya Mimi hanya tersenyum tak bisa berucap.
Interaksi Mimk dengan kedua Ummi ini menjadi sorotan mata orang-orang disekitar. Mereka juga ikut bersedih, mereka tau bagaimana keluarga Syahril menyayangi Mimk sebagai anaknya bahkan melebihi anaknya sendiri.
Mereka tau jodoh maut serta rezeki sudah ada yang mengaturnya, kita sebagai insan hanya !mengikuti skenarionya saja.
Didalam hati mereka yang melihat interaksi Mimi dengan keluarga ini mendo'akan Mimi agar kelak mereka dipersatukan kembali.
Mimi melihat ke arah Wak Ainun, Mimk oun mengalami Wak Ainun.
"Wak maafkan Mimi ya kalau Mimi ada salah sama Wak." ucap Mimi pada wak Ainun. Wak Ainun memeluk Mimk dengan deraian air mata.
"Wak yang mjnta maaf nak, semoga kelak kalian dipersatukan oleh Allah lagi." ucapnya dengan memeluk Mimi.
Orang yang bersama Wak Ainun pun ikut terharu, orang-orang ini adalah tetangga Umma. Mimi juga menyalami orang-orang yang dekat dengan Wak Ainun dan Umma.
"Wak, maafkan Mimk ya Wak." ucap Mimk dengan masih memberi senyum lada mereka. mereka hanya mengangguk tak bisa berkata-kata dan menerima uluran tangan Mimi. bahkan ada juga mereka menarik Mimi untuk dipeluknya karena merasa tidak tahan dengan kesedihan.
"Makasih semuanya, Mimk pamit pulang." ucap Mimi pada mereka.
Interaksi Mimi ini juga tidak luput dari perhatian sang kakek. Kakek juga memperhatikan cucunya di atas pelaminan yanbbjjga sedang melihat ke arah Mimi yang sedang berinteraksi dengan Wak Ainun dan tetangga nya. Kakek menghelakan nafasnya kasar.
"Maafkan Kakek Riil." Gumamnya dalam hati. Ada rasa penyesalan dihatinya telahnmemaksa kehendaknya lada cucunya.
__ADS_1
Semalam pun setelah acara akad pihak perempuan melihat Afkar dan Afnan tiba,meminta Afkar dan Afnan untuk mereka jodohkan dengan anak mereka yang lain dan dengan tegas Kakek menolaknya langsung. Mungkin dia tersadar akibat keras nya dianyerhadap sang cucu membuat kegagalan tersendiri.
Cukup Syahril yang dia lihat tersakiti bahkan hampir merenggang nyawa akibat kecelakaan, dia tidak ingin melihat lagi cucu-cucunya yang lain akan mengalami hal serupa.
Insyaf yah Kakek telahninsyaf walau terlambat, namun dalam kehidupan tidak ada kata terlambat. Walau sebelumnya telah terjadi jangan lagi membuka lubang batu untuk hal yang baru lagi.
Kakek melihat Mimi dengan tatapan sendu, dia baru mengerti kenapa cucunya serta keluarganya yang lain begitunsangat menyayangi Mimi.
Karena Mimi yang bersikap dewasa, berpenampilan!lklan sederhana dan tidak memandang bulu.
"Maafkan Kakek nak, maafkan atas keegoisan Kakek." ucaonya dalam hati.
"Bah, tidak perlu menyesalinya." bisik nenek disampingnya.
"Semua sudah terjadi, seharusnya dialah cucu menantu kita. Anak yang sopan." bisik nenek, Kakek hanya diam mencerna ucapan sang istri.
Mimk dan Di'ah menaiki panggung pelaminan, Mimk bersalaman pada kedua orang tua mempelai perempuan. Mimi mengalami nya dengan menciumi punggung tangan mereka.
Mungkin bagi semua orang terlihat tabu melihat orang yang bukan siapa-siapa menyalami dengan menciumi punggung tangan, bagi kami di Jambi ini merupakan sebuah kehormatan bagi orang yang lebih tua.
Bagi adat di Jambi yang muda akan menciumi punggung tangan orang yang lebih tua bila bersalaman sekalipun itu bukan keluarga mereka sendiri.
Setelah bersalaman dengan kedua orang tua mempelai wanitanya, Mimk bersalaman pada mempelai wanita dan berucaoa selamat dengan senyuman.
Tiba giliran Mimi menyalami kak Syahril dan mengucapkan selamat pada nya.
"Selamat ya kak, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." ucap Mimk setelah menciumi tangannya.
Syahril tak berucap apa-apa hanya gelengan kepala yang dia berikan. Lalu dia memeluk Mimi dengan erat. Mimi merasakan getaran tubuh Syahril yang mendalam kalau dia menahan Isak tangis nya.
Mimi membiarkan sejenak Syahril memeluknya untuk meluapkan rasa emosional nya.
"Kak, jadilah suami yang baik bagi istri kakak, kakak sekarang sudah memiliki tanggung jawab. Status kakak sekarang adalah suami nya. Maafkan Mimi." ucap Mimi bergetar saat mengatakan hal itu. mimi melepaskan pelukan Syahril.
"Belajarlah untuk membuka hati kakak untuk dirinya, cintailah dia, sayangilah dia. Binalah rumah tangga yang harmonis." ucap Mimi dengan bibir bergetar.
Tak dipungkiri dada Mimk juga merasakan sesak dan sakit. Tak seharusnya Mimi mengucapkan kata-kata ini yang bisa menyakoyindirinya sendiri dan Syahril. Tapi hanya kata-kata ininyangnbisa mengalihkan rasa sakitnya.
"Terimakasih atas segalanya terimakasih atas perhatiannya selama ini. Mimi ikhlas melepasmu kak, Mimi ikhlas." ucap Mimi dengan suara parau kala mengucap ikhlas melepasmu.
"Maafkan Mimi." ucap Mimi dan beralih kepada Umma dan Babah.
Syahril tak mengucapkan sepatah pun, sesak yang dia rasakan saat ini. Bukan ini yang dia mau, bukan ini yang dia inginkan.
Tak hanya Mimi dan Syahril yang merasa sesak didada. Di'ah serta yang lain berada di bawah panggung pelaminan yang menyaksikan itu lun ikiyt sesak.
Bahkan Dewi terisak melihat momen itu, kak Andri terus menguatkan Dewi. Ummi Parida, Ummi Zulaikha, Ummi Rohana dan yang lain pun ikut menangis melihat momen di atas pelaminan.
"Selamat ya kak, semoga samawa." ucal Di'ah dengan menghapus air matanya.
"Umma, maafkan Mimk ya Umma." ucap Mimk dengan menyalami tangan Umma dan menciumi tangannya berulang kali.
"Maafkan Mimi tidak bisa memenuhi keinginan Umma, maafkan Mimi yang telah mengecewakan Umma." ucap Mimk dengan deraian air mata begigunlula dengan Umma.
"Tidak nak, Umma yang minta maaf sayang." ucapnya seraya memeluk Mimk erat.
"Mimi tetap menantu di hatinya umma sayang.Maafkan Umma." ucap Umma, Mimi melepaskan pelukan Umma.
"Bah, maafkan Mimk ya Bah." ucap Mimk dan menyalaminya. Babah ohn melakukan hal yang sama dengan Umma. Babah memeluk Mimi.
"Maafkan Babah ya nak, yang tidak bisa berbuat apa-apa." ucapnya. Mimi mengangguk dan tersenyum.
"Umma, Mimi mau mengembalikan ini sama Umma." ucap Mimi dengan me!berikan kotak bludru.
"Tidak nak, tolong jangan Mimi kembalikan pada Umma. tolong Mimi terima pemberian Umma ini nak, Umma mohon." ucap umma memohon pada Mimi, Umma !menolak Mimi mengembalikan cincin pemberiannya.
"Tapi umma, mimjngidak berhak memakainya, mungkin Umma bisa memberikan pada nya." ucap Mimi
"Tidak nak, Umma tidak akan memberikan hak anak Umma pada orang lain. Umma mohon sayang." ucap Umma, Mimi pun bimbang.
Mimk bimbanga dengan barang ini, jika Mimi berikan langsung pada mempelai wanitanya pastinya akan membuat masalah baru. Akhirnya Mimi pun mengabukkan permintaan Umma dan babah, Mimi menerima kembali cincin itu.
"Umma sekali lagi Mimi minta maaf, Mimi pamit. Assalamualaikum." ucap Mimi dan langsung berlalu turun karena hatinya sakit dan sesak. Begigunlula dengan Di'ah mempercepat langkahnya mengejar Mimi.
Mimk menyalami Abi Thoriq, Abi Mansyur sertankaakek dan nenek. Mimi juga meminta maaf pada mereka semua. Setelah itu Mimi pun pulang membawa dan !meninggalkan duka lada semua nya.
tbc
__ADS_1