Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
103


__ADS_3

Saat aku dan Dinda sampai di rumah tidak lama kemudian Ayah pulang tapi tidak langsung menemui ibu, namun ayah langsung masuk kedalam ruangan kerjanya dan ternyata ayah juga sudah menghubungi pak Erik jadi mereka berdua sampai bersamaan.


Aku langsung memberitahukan kepada Dinda kalau pak Erik dan Ayah sudah datang mereka sudah menunggu di ruang kerja ayah.


"Sayang ayah dan pak Erik sudah datang yuk kita ke ruang kerja ayah takutnya ibu keburu bangun, nanti kalau ibu tahu apa yang baru saja terjadi aku takut ibu tidak akan mengijinkan kamu pergi keluar lagi."ujar ku


"Baiklah yuk mas kita ke ruangan ayah jangan sampai ayah lama menunggu kita."


Aku dan Dinda gegas ke ruangan kerja ayah ternyata pak Erik dan ayah sudah duduk santai ya jadi ayah itu selalu menghargai orang yang bekerja di rumah, sebenarnya kalau di bilang sih pak Erik ini bukan seperti seorang pengawal tapi tepatnya seperti anak juga di anggap oleh ayah karena memang selama ini ayah menyayangi pak Erik.


"Ayah, pak Erik maaf sudah menunggu" ujar aku dan Dinda


"Tidak nak ayah dan Erik juga baru sampai kok"


"Tidak apa-apa Tuan muda dan nona saya baru sampai." ujar pak Erik.


Aku dan Dinda langsung duduk di sofa yang ada di ruangan ayah, astaga sofanya emput jadi bikin ngatuk tadi mau tidur sebentar sudah keburu ayah pulang.


"Jadi apa yang mau putry ayah bicarakan, silakan" tanya ayah memang aku yakin ayah dan pak Erik sama sekali belum tahu kejadian tadi karena Dinda melarang keras para pengawal untuk memberitahu ayah dan pak Erik dulu sebelum kami bicara.


Dinda menatap kami bertiga bergantian dan sembari berkata lirih," ayah...maafkan Dinda jika Dinda lancang namun saat ini tidak ada waktu bagi kita untuk main-main. Tapi jika ayah merasa pertanyaan Dinda tidak sopan tidak masalah tidak perlu memberitahu Dinda. Apakah selama ini ayah memiliki musu di masa lalu ayah atau masa sekarang ini juga." tanya Dinda.


Aku melihat ayah dan pak Erik saling pandang dengan tatapan yang tidak bisa di artikan kemungkinan besar ayah belum ingin menceritakan masa lalu tentang kakak Hawari.

__ADS_1


Namun diluar dugaanku ayah tidak banyak bicaran tapi langsung to the point saja.


"Iya ada nak, dan juga keluarga besar Adinata memiliki rahasia yang sangat besar yang sudah ayah simpan berntahun-tahun, ayah dan yang lain sengaja melupakan masalah itu karena takut kesehatan ibu jadi terganggu."


Dinda yang mendengar kejujuran ayah menghela napas panjang dan menatap aku dan ayah bergantian padahal baik ayah maupun aku belum memberitahukan kepada Dinda masalah apa.


"Ayah tidak perlu menceritakan kepada aku jika ayah belum siap, Dinda tidak perlu mengetahui rahasia apa yang di sembunyikan oleh ayah dan yang lain karena aku juga baru saja masuk ke keluar ini"


"Tidak nak kamu harus tahu masalah ini agar kedepannya kamu bisa menjaga diri dengan baik, tapi tunggu dulu ada apa sehingga kamu tiba-tiba menanyakan soal masa lalu apakah ada yang menganggu kamu atau kalian berdua"? Tanya ayah


Ayah jadi curiga karena dengan pertanyaan Dinda seperti itu pasti nemiliki maksud tertentu.


"Baiklah kalau memang ayah tidak keberatan boleh aku tahu ayah masalahnya seperti apa."


Deg..... " jantungku merasa tidak aman saat melihat mimik wajah Dinda awalnya tersenyum sekarang beruba mengelap, aku yang mendengarkan penjelasan ayah saja hati aku sakit sekali rasanya kayak tertusuk beribu belati di jantung ini.


Ayah menceritakan kembali semua masalah kelam yang pernah terjadi hari itu membuat Dinda menangis terseduh-sedih, awalnya ruangan penuh dengan senyum sekarang ruangan ayah berubah menjadi suasana yang mencekam penuh dengan rasa haru, karena bukan hanya Dinda yang menangis tapi termasuk aku dan ayah pak Erik juga berkaca-kaca matanya. Dalam tangis istriku membuat kami terkejut dengan kata-kata yang spontan dari mulut istriku.


"Ayah kita harus tumpas semua penjahat yang tidak punya hati nurani itu ayah, inilah saatnya kita bertindak jangan biarkan mereka merasa kalau mereka yang berkuasa. Manusia biadab itu jangan pernah membiarkan mereka hidup tenang tapi kita harus membuat mereka merasa kehilangan seperti yang mereka lakukan kepada mbak Hawari."


"Deg...."jantung ayah berpacuh dengan cepat aku tahu ayah juga terkejut dengan perkataan Dinda.


"Tapi nak kita tidak tahu siapa pelakunya dan waktu itu ayah sudah membunuh beberapa orang bersama dengan keluarga mereka tapi memang bosnya belum di ketahui sampai sekarang." ujar ayah

__ADS_1


"Ayah tenang saja Dinda punya ide dan trik untuk kita bisa mengetahui siapa pelaku itu"


"Apa triknya nak" tanya ayah antusias begitu juga aku da. Pak Erik tapi sayangnya kami belum mendapatkan jawaban dari istriku.


"Ayah tadi waktu kami pulang dari rumah sakit kami diserang di jalan oleh sekelompok orang mereka dengan dua mobil memakai senjatah api, tapi menurut Dinda mereka masih anak buah lemah, tapi kalau kita biarkan terus menerus seperti ini ayah antara kita yang di habisi satu persatu oleh mereka atau kita bertindak lebih cepat agar kita yang menghabisi mereka."


Perkataan Dinda membuat Ayah dan pak Erik terkejut kelihatan sekali amarah terpancar di wajah mereka berdua.


"Apa....kalian diserang? Sama siapa dan dimana nak? Terus kali tidak apa-apa kan? Ya ampun nak ayah tidak mau kalian terluka lagi cukup Hawari yang jadi korban keserahkahan manusia biadab itu, tapi kalian berdua jangan terutama kamu putryku kamu harus di jaga ketat kalau mau pergu kemana-mana"


Ayah dan pak Erik kanget dan tambah panik dong dengan penjelasan dari aku dan Dinda mereka tidak percaya kalau kami baru selesai di serang tadi oleh sekelompok manusia biadab itu, tapi aku dan Dinda langsung mengatakan ayah pikir kamu berdua terluka dan juga pengawal padahal tidak ada satupun yang terluka.


"Kami tidak apa-apa ayah lihat putry dan putra ayah tidak kurang satu apapun."


"Ayah maafkan Dinda jika Dinda harus mengatakan hal ini mulai besok mas Dava dan beberapa pengawal yang ada disini yang belum lihai dalam memengang senjata Dinda yang akan mengajari mereka karena jangan sampai kita terlambat."


"Cukup mbak Hawari yang menjadi korban atas keserakahan manusia, tapi Dinda yakin ayah orang yang menyerang kami tadi adalah suruhan seseorang yang Dinda yakin dia sangat kemengenal ayah. Karena Dinda tahu target mereka bukan Dinda sebenarnya tapi mas Dava, namun karena Dinda menghalangi mereka dan Dinda membunuh semua anak buahnya sehingga Dinda yakin Dinda adalah target kedua."


"Kami bawah satu tahanan di penjara bawah tanah ayah nanti kita periksa, ayah tidak perlu takut dia sudah terluka parah jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa."


"Apakah orang yang menyerang Dinda dan Dava barusan adalah orang-orang suruhan anak pungut itu Admaja, kamu mau main-main sama sayakan ok baiklah kita bermain bersama nanti kita lihat siapa yang akan menjadi pemenang" gumam Tuan Adinata dalam hati


Ayah belum menjawab semua perkataan Dinda tapi dari rawut wajahnya terlihat dengan jelas kalau ayah terkejut.

__ADS_1


__ADS_2