
Sebelum kami masuk kedalam rumah kami atur strategi biar kami memberikan kejutan kepada paman Gibran dan bibi Lya kebetulan pintu agak sedikit terbuka.
Kakak Dea di barisan pertama baru mas Tahir, Dinda ikuti mas Tahir baru aku di belakang Dinda, setelah itu tante Riska baru ayah mertua pengawal ikuti dari belakang, ayah bersama asisten Arfan jadi ayah aku dan Dinda tidak kelihatan karena dari depan hanya kakak Dea yang duluan kelihatan, .
Kakak Dea mengetok pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok!
Paman, bibi" panggil kakak Dea tidak lama kemudian paman Gibran yang duluan keluar baru bibi Lya mereka terkejut melihat kedatangan kakak Dea.
"Eh Dea kamu datang sama siapa tumben datang kesini siapa yang di belakang kamu nak, nak Tahir ya? Astaga anak ini pake cara ngumpet lagi yok masuk" pinta paman Gibran dan bibi Lya.
"Paman, bibi. Dea datang kesini tidak sendirian bukan hanya mas Tahir yang ikut sama Dea tapi ada orang-orang special yang mungkin membuat paman dan bibi kanget"? Ujar kakak Dea.
"Ha! Siapa itu nak? Paman jadi penasaran"? Pinta ayah mertua.
"Ok baiklah Dea akan tunjukan siapa mereka tapi jangan sampai paman pingsan yang soalnya Dea kuatir dengan jantung paman dan darah tinggi paman" ujar kakak Dea terkekeh sebenarnya kakak Dea hanya bercanda, tapi memang paman Gibran mengidap penyakit jantung dan juga darah tinggi.
"Ah kamu ini ya nak bikin paman takut aja deh"
"Ya sudah paman nanti perhatikan ya nanti Dea pindah tempat dan di ikuti mas Tahir sampai paman melihat siapa orang yang Dea sebut orang special."
Kakak dea langsung pinda ke kiri terus mas Tahir pinda ke kanan nampak lah Dinda , karena memang selama aku dan Dinda pergi dari rumah dan ketemu terakhir di rumah sakit waktu itu, sampai sekarang kami tidak perna bertemu, padahal kakak Dea perna bercerita kalau paman dan bibi ingin meminta maaf sama kami berdua.
Paman dan bibi Lya membulatkan mata mereka dengan sempurna itu baru Dinda loh belum ayah.
"Dinda! Aduh nak akhirnya kamu datang juga sudah lama paman dan bibi mau minta maaf sama kamu dan Dava nak, tapi Dea melarang katanya jangan nganggu kalian dulu karena kalian masih sibuk paman dan bibi minta ampun maafkan kami nak, atas kejadian hari itu tapi kalau kamu dan Dava mau menghukum paman dan bibi silahkan saja, nak Dava mana biar paman dan bibi minta maaf.
__ADS_1
Seharusnya sekarang tinggal paman yang menjadi ayah mengantikan mas Evan membuat kamu dan kakak kamu senang bukannya justru membuat kalian menjauh, kalau mas Evan masih hidup pasti sangat membenci paman karena paman bukan paman yang baik" ujar paman Gibran.
Dinda pinda ke sebelah kiri bersama kakak Dea tadi bibi Lya mau menghampiri Dinda untuk memeluknya tapi kalau bibi Lya datang berarti ketahuan semua.
Aku yang muncul setelah Dinda pinda, aku melihat senyum tulus dari wajah bibir paman Gibran dan bibi Lya mereka tidak buat-buat.
"Paman, bibi Dava kembali lagi kesini, apakah bibi dan paman keberatan"? Tanyaku.
"Selamat datang nak, tidak ada yang keberatan disini, yuk masuk lah biar kita berbincang didalam saja" ujar paman Gibran.
"Serius paman dan bibi tidak mau lihat siapa yang kami bawah? Kalau paman tidak mau biar kami pulang" ujar ku.
"Memangnya siapa lagi yang kalian bawah?"
Aku bergeser ke kiri di samping mas Tahir sekarang muncul bu Riska.
"Hallo Tuan dan nyonya, iya benar saya Riska bukankah kita perna sekali ketemu nyonya Lya, kalau tidak salah waktu itu ada acara ulang tahun perusahaan teman bisnis Tuan Hernawan masih ingat?" tanya tante Riska jadi bibi Lya dan tante Riska sudah saling kenal.
Bibi Lya tersenyum dan menjawab kalau itu benar, dan sekarang saatnya kejutan utama di tampilkan, enak aja pikir ayah mertua barang tampilkan.
"Sekarang kejutan terakhir paman dari kami semua taraaaaaaaa"
Tante Riska pindah ke samping kiri dan nampaklah ayah mertua. Ayah mertua tersenyum memandang adiknya dan istrinya, namun yang di pandang justru terkejut sampai beberapa kali mengucek matanya.
"Mas Evan!....teriak bibi Lya dan paman Gibran hampir bersamaan
"Ha...apakah aku ini mimpi atau halusinasi sampai wajah mas Evan dengan jelas aku lihat ini benar atau tidak."
__ADS_1
Pukkkkk!
"Aduh sakit sayang kuat kali kamu memukul suaminya"
"Kalau sakit itu tandanya mas tidak mimpi tapi itu kenyataan, berarti mas Evan masih hidup"?
Yaelah kedua suami istri ini lucu, mereka berdua bicara santai setelah itu baru mereka saling pandang dan berteriak bersamaan.
"Aduh..paman, bibi teliga kita masih berfungi, bisa tidak jangan berteriak begitu jadi budek."
Sudah di marahin kakak Dea tapi justru bibi Lya dan paman kembali berteriak, kali ini paman langsung berlari nemeluk ayah mertua dan menangis, baru kali ini aku melihat langsung srorang paman Gibran menangis, waktu jenasa yang di bilang itu adalah jazad ayah mertua datang paman Gibran hanya menunduk dalam diam, tidak ada sepata kata pun keluar dari mulutnya walaupun banyak wartawan yang menanyakan perihal tentang kecelakaan waktu itu tapi paman sama sekali tidak mau menjawab.
"Mas ini benaran kamu, berarti aku tidak mimpi, tapi aku bersyukur akhirnya mas kembali soalnya semua aset sudah disita oleh bank, bahkan rumah sekalipun sudah di kunci jadi aku juga tidak tahu kabar Lexza dan Anjani dimana mas. Apakah mas tidak mencari mereka, dan kenapa berita kematian mas ada sedangkan masih masih hidup"?
"Ceritanya panjang jadi kita masuk dulu nanti baru mas ceritakan semuanya sama kamu dan Lya, kalau soal Anjani kamu tidak perlu kuatir karena dia ada sama mas." ujar ayah mertua.
*Maksud mas bagaimana mbak Anjani sama mas"?
Akhirnya kami masuk kedalam rumah dan duduk disofa ternyata, pengal juga kaki ini lama berdiri, padahal berdiri tidak sampai tiga puluh menit juga tapi sudah keram.
"Nanti kita makan siang bersama disini aja entah kenapa tadi bibi masak banyak, mungkin bibi punya filing kuat kalau ada tamu terhormat datang kerumah sebenarnya bukan tamu tapi keluarga, oh ya baru dari mana mas kok kayak rombongan janjian mau datanh kesini"?
"Iya Gib kami semua baru pulang dari pengadilan mengikuti sidang perdana Anjani dan Ogen"?
"Apa! Anjani dan Ogen maksuda mas apa? Mbak Anjani kenapa kok dia bisa di sidang mas ada masalah ya kok Gibran tidak tahu."
Ternyata paman Gibran belum tahu tentang bu Anjani
__ADS_1