
Aku mendengar semua perkataan tidak mengenakan dari orang-orang yang ada di sekitar kami tentang Emelia, tapi aku tidak peduli karena apa yang sudah dilakukan oleh Emelia sangat keterlaluan.
Sedangkan Ririn masih setia menghajar Emelia, setelah selesai di hajarnya Ririn yakin sudah tidak berdaya, Ririn membiarkan perempuan itu tetap di lantai dan duduk, karena kami sibuk mengurus Emelia jadi lupa kalau pempek nya Dinda sudah di antara oleh mas tersebut.
"Maaf nona pempek sudah selesai di buat."ujar mas pempek.
"Oh, baik mas tolong letakan disitu saja nanti istri saya makan " jawabku aku langsung membawah Dinda untuk duduk tapi justru Dinda berkata kalau dia tidak mau makan lagi, sudah lewat waktunya sehingga selerahnya sudah hilang. Aku jadi kasian dengan istriku dia tadi dengan semangat datang kesini untuk makan, giliran sampai disini gagal karena perempuan gila ini."
"Tidak mas Dinda tidak mau makan lagi , lebih baik mas aja deh yang makan, Dinda tidak selerah lagi jadi Dinda tidak mau makan gara-gara perempuan iblis ini selerah makanku hilang seketika, mungkin di bosan hidup aku habisi aja dia disini lebih bagus dari pada aku biarkan dia hidup tapi selalu menganggu ketenanganku." Ujar Dinda aku takut dia nekat dan membunuh Emelia di muka umum, karena aku tahu Dinda orangnya nekat apalagi tadi hampir sedikit terhadi sesuatu dengannya dan bayi kalau itu terjadi aku juga tidak segan membunuh perempuan licik ini.
Aku langsung memeluk Dinda dan aku menenangkannya aku jelaskan kalau sekarang kita lagi di tempat umum bukan hanya itu yang aku takutkan, Dinda lagi hamil aku tidak mau dia selalu menumpahkan darah manusia lagi karena membunuh, cukup yang sudah itu saja kalau Dinda sudah melahirkan baru dia mau melakukan apapun yang dia mau terserah kalau sekarang jangan dulu.
"Sayang kita pulang aja yuk kamu mau makan apa biar asisten Arfan yang membelihnya nanti sampai di rumah saja baru makan." ujarku. Aku ingin Dinda tenang karena wajahnya agak sedikit terlihat menahan sakit.
"Iya kakak ipar kita pulang saja yuk ini juga sudah malam, kakak ipar harus tahu kalau sekarang ini kakak ipar itu lagi hamil, jadi jangan sampai kakak ipar kembali membunuh orang lagi, jujur Ririn takut kalau kakak ipar kembali menghilangkan nyawah orang. Kasian nanti ponakan Ririn kakak tolong kakak ipar mengerti perasaan kakak Dava"
__ADS_1
Kebetulan Ririn juga ada jadi aku tanya kenapa mereka juga ada disini apa mereka lagi cari makan atau hanya sekedar jalan-jalan aja. Karena aku tidak tahu Ririn dan Rafa dari mana sehingga mereka bisa sampai disini.
"Rin, kok kamu sama Rafa disini, kalian berdua dari mana dan mobil kamu mana bisa sama kalian? Kakak pikir kamu sudah sampai dirumah"? tanya ku
"Iya kakak maaf, tadi mas Rafa ngajak Ririn jalan-jalan kesini sekalian cari makan juga, tapi saat kami baru saja sampai Ririn melihat kakak ipar dan kakak lagi pesan pempek makanya Ririn samperin kakak Dava dan kakak ipar. Tahunya ada juga ketemu dengan perempuan gila itu." Ujar Ririn.
"Sayang pulang ya, ini sudah malam, lagian sayang juga tidak mau makan apa-apa lagi jadi untuk apa kita tetap disini kita pulang ya kalau ibu dan ayah tahu kamu jatuh pasti mereka sangat panik ayah dan ibu pasti salahin mas" ujarku membujuk Dinda.
"Iya mas kita pulang aja deh malas Dinda disini kalau Dinda disini makin tambah emosi. dari pada nanti Dinda menghabisinya lebih baik Dinda pulang untuk istirahat.
Aku langsung menuntun Dinda dan kembali ke mobil, sedangkan aku menyuruh kedua pengawal mengurus Emelia kali ini aku akan memberikan pelajaran untuk perempuan itu tapi tidak dengan tanganku sendiri. Terserah pelajaran apa yang ingin diberikan oleh pengawal kepadanya.
"Sayang kamu tidak kenapa-kenapa kan? Ada yang sakit sayang kita ke rumah sakit ya" tanyaku.
"Tidak apa-apa mas nanti dokter Riski aja yang periksa nanti kalau sudah di rumah soalnya perut Dinda agak sedikit sakit mas mules banget." Ujar Dinda membuat aku panik karena mimik wajahnya seperti menahan sakit.
__ADS_1
Asisten Arfan cepatan sedikit soalnya perut nona muda lagi sakit" ujarku.
"Kita antar nona muda ke rumah sakit saja Tuan, kita juga dekat dengan rumah sakit kalau nanti sampai di rumah baru di periksa takut terjadi sesuatu dengan nona muda." Ujar asisten Arfan karena aku juga sudah panik jadi aku tidak peduli dengan teriakan Dinda, untuk tidak membawahnya kerumah sakit tapi aku menyuruh asisten Arfan langsung aja kerumah sakit, jangan ke rumah lagi karena apa yang di katakan oleh asisten Arfan ada benarnya juga lantaran dorongan dari perempuan itu sangat keras.
"Tidak perlu asisten Arfan aku tidak apa-apa hanya keram sedikit aja kita langsung pulang kerumah nanti baru di periksa oleh dokter Riski aja"ujar Dinda.
"Tidak asisten Arfan kita langsung ke rumah sakit saja, karena kebetulan kita juga sudah di dekat rumah sakit jadi untuk apa harus sampai di rumah baru periksa kalau sudah disini. Jadi kita harus periksa biar aku bisa tenang kalau tidak aku tidak akan tenang."
Kami langsung ke rumah sakit dan langsung di tangani oleh dokter pribadi. Aku tidak mau di periksa oleh dokter lain, selain di periksa oleh dokter pribadi dari rumah sakit.
Setelah di tangani oleh dokter pribadi dan mendengar penjelasannya, baru aku bisa tenang karena dalam hatiku kalau berani terjadi sesuatu dengan istriku akan ku bunuh perempuan sinting itu. Gila benaran perempuan itu bisa-bisanya dia melakukan ini kepada istriku.
"Dokter bagaimana dengan kondisi istri saya dokter Tidak terjadi apa-apa kan, periksa semua dokter jangan sampai terjadi sesuatu dengan anak dan isttiku dok?" Tanyaku panik.
"Tenang Tuan muda, tidak terjadi apa-apa dengan kandungan nona muda, karena kandungan nona muda baik-baik saja, mungkin nona muda kanget karena di dorong oleh orang itu sehingga memberikan reaksi yang agak sedikit tengang. Tapi nona muda baik-baik saja."
__ADS_1
setelah di periksa dan aku tahu Dinda tidak apa-apa akhirnya aku jadi tenang.
Setelah itu Dinda dikasih vitamin oleh dokter untuk diminum agar kandungan Dinda makin kuat dan visiknya makin sehat, yang aku takutkan adalah semoga ibu dan ayah tidak marah saat tahu kalau Dinda jatuh.