Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
230


__ADS_3

Aku berusaha menyakinkan mereka berdua untuk membantuku, bahkan Gama dan Arfan berikan saran untuk minta tolong sama pak Erik, sebenarnya sih bisa tapi pak Erik umurnya sudah lebih tua dari kami kalau nanti pak Erik kena bogem dari Dinda kan tidak lucu.


"Kakak jangan cari masalah dengan kakak ipar, kakak tahukan kakak ipar hamil, perempuan hamil itu moodnya beruba-uba kakak kalau waktunya pas moodnya baik kita selamat, kalau waktu pas moodnya buruk Gama dan asisten Arfan tidak boyok, Gama yakin kakak juga tidak akan lepas dari kakak ipar apalagi perempuan itu bisa mati tempat, semoga kakak tidak lupa dengan kejadian kemarin menyaksikan bagaimana kakak ipar memutar kepala pengawal itu hanya sekali putar leher patah apalagi perempuan lemah dan kecil itu."


"Maaf Tuan muda saya sependapat dengan Tuan muda Gama. Lagian memang tidak ada cara lain selain cara itu Tuan, jangan sampai nona muda berpikir kalau saya dan Tuan muda Gama mendukung Tuan muda Dava untuk selingkuh, saya tidak mau kepala dan leher saya pindah tempat Tuan" ujar Gama dan Arfan sebenarnya mereka serius bicara tapi kenapa kedengaran lucu.


Astaga aku mau marah sama kedua orang yang ada didepan juga tidak mungkin, karena apa yang mereka katakan benar adanya, sedangkan mau tertawa juga bagaimana ya, masa mereka berdua laki-laki setakut itu sama istriku, padahal aku juga takut hahaha.


"Saya sengaja lakukan ini agar membuat Dinda cemburu dan menghajar pelakor itu, supaya bisa kapok dia dan tidak perna menganggu aku lagi Gama, kamu tahu tadi waktu kita makan siapa yang telpon ke nomor hp istri, ternyata perempuan itu dan yang paling parah dia mencaci maki istriku dan menghina dia kalau tadi Dinda yang angkat hancur semua.


"Kalau Gama sih mau membantu tapi kakak tahu resikonya bukan hanya kakak ipar yang kita hadapi tapi paman dan juga bibi, apakah kakak sudah siap di usir dari rumah, dan kalau kakak ipar marah Gama akan jujur kalau semua ini ide dari kakak hahaha"


Memang adik tidak ada akhlak betul, masa dia bahagia aku di usir dari rumah, mereka tidak mau bantu tapi justru ngledek lagi.


"Kamu ya Gama, bukannya bantuin kakak kamu yang lagi susa justru kamu ngejek, jadi bagaimana kalian bantuin aku tidak? tugas Gama hubungi perempuan itu dan tugas Arfan nyiapkan tempat Dinner yang romantis, kalian pastikan semua di siapkan dengan rapi jangan sampai ada celah dan ketahuan Dinda sebelum kita menjalankan misi sepertinya kita libatkan Ririn deh.."


"Baiklah Gama mau, ini demi kebahagiaan keluarga kecil kakak tapi ini pertama dan terakhir untuk Gama bantu kakak kalau soal masalah seperti ini. Tapi kalau bantu yang lain boleh. Kakak harus tanggung jawab jika kami bertiga yang kena hajar dari kakak ipar, Gama yang bilang kalau kakak yang nyuruh. Lagian bukannya perempuan tidak jelas itu yang di usir oleh bibi waktu di restoran ya kakak? kenapa dia belum kapok juga mungkin benar juga kata kakak dia kaki kecilnya itu harus di patahkan baru tahu rasa."


Aku bicara baik-baik dengan Gama dan Arfan akhirnya mereka berdua mau membantuku. Banguslah kalau mereka mau jadi biar aku kasih pelajaran kepada perempuan itu, setelah selesai kami rencanakan semuanya aku mulai membuka leptop dan kerja sedangkan asisten Arfan dengan Gama entah apa yang mereka lakukan, aku tidak peduli yang penting mereka sudah bersedia membantuku.

__ADS_1


Saat aku buka file ternyata aku kembali melihat gmail kembali di kirim oleh Emelia memang perempuan ini kelewatan gatelnya, bukankah aku sudah bilang sama pak Erik untuk menolaknnya kenapa maksa banget sih ane deh perempuan ini.


Aku biarkan saja bodoh amat kalau di balas nanti makin besar kepal kirain aku ladeni dia, heran deh sama perempuan itu padahal dulu jangankan pacara dekat saja tidak terlalu.


Sebentar sore kami akan ketemu dengan kakak Dea dan mas Tahir di restoran, jadi biarkan Dinda istirahat yang puas agar nanti sore segar dia.


Aku memanggil pak Erik datang ke ruanganku karena aku mau tanya tentang perusahaan pak Arlo apakah sudah memutuskan kerja sama dengannya atau belum.


"Pak Erik tolong ke ruangan saya" ujarku langsung aku tutup telpon.


"Baik Tuan muda." jawabnya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan muda". Tanya pak Erik.


"Iya pak Erik saya mau tanya bagaimana dengan perusahaan pak Arlo, apakah sudah putus kerja sama dengan beliau"?


"Maaf Tuan muda, saya belum melakukannya tapi saya sudah cari tahu terlebih dulu Tuan, jadi semenjak kejadian itu pak Arlo dan istrinya bertengkar hebat dan ternyata pak Arlo tahu kalau istrinya tukang selingkuh Tuan. Apakah saya lakukan pembatalan kerja sama saja Tuan muda."


"Oh, kalau begitu nanti saja pak Erik tunggu perinta dari saya saja, dan satu lagi apakah pak Erik sudah kirim gmail ke Emelia soal penolakan kerja sama"

__ADS_1


"Aduh..Tuan muda kalau orang itu saya nyerah deh, tidak tahu sudah berapa kali saya balas gmailnya tapi tetap saja orang itu ngotot tidak mau mengerti, saya sampai heran Tuan muda dengan orang itu tidak ada ngertinya."


Nah, pak Erik saja heran apalagi aku, yang menghadapi perempuan bar-bar kayak dia, padahal perusahaan kecil tapi ngotot banget sebenarnya tidak masalah mau perusahaan kecil juga yang penting bagus saja, ini Ceo nya seorang pelakor yang ingin mendekatiku jangankan istriku yang emosi aku saja oga.


"Ya sudah pak Erik biarkan saja tidak perlu meladeni orang seperti itu tidak perlu ngubris, saya juga capek jadi biarkan saja."


Setelah aku selesai bicara dengan pak Erik aku lanjut mengerjakan pekerjaanku sedangkan pak Erik kembali ke ruangannya.


Waktu terus berjalan tidak terasa sudah sore, Dinda juga sudah bangun dan mencuci mukanya terus kembali memakai make up natural di wajahnya karena kami mau pergi ketemu kakak Dea.


"Sayang, kamu sudah bangun cuci dulu wajah kamu sayang terus peebaiki rambutmu" Dinda hanya menurut saja.


Setelah selesai Dinda bersiap akhirnya aku menggenggam tangan Dinda di ikuti kedua asistenku yaitu Gama dan asisten Arfan, Gama asisten baru hehehe. Kami masuk kedalam Lift dan turun ke kantai dasar pak Erik juga turut ikut ternyata pengawal sudah menyiapkan mobil untuk kami.


Aku dan Dinda langsung masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu pergi, mobil menyapu jalan raya yang sudah mulai di padati pengendara baik kaki dua maupun kaki empat, semua berlombah-lombah pulang ke rumah masing-masing.


"Sayang sudah hubungi kakak Dea belum kalau kita ini sudah di jalan mau ke tempat tujuan, takutnya kakak Dea lupa kalau kita sudah janji mau ketemuan dengannya." tanyaku pada Dinda.


"Iya mas ini Dinda mau hubungi kakak Dea dulu"

__ADS_1


Dinda segera nengambil hpnya dan menghubungi kakak Dea.


__ADS_2