
Dinda mendesak aku tentang golongan darah ayah, memang aku dan ayah golongan darah sama dan juga langkah cari golongan darah AB+ susa, sekarang ayah sangat membutuhkan donor darah sedangkan hanya aku yang punya golongan darah AB. Ah aku jangan putus asa dulu siapa tahu ada pengawal yang memiliki golongam darah yang sama, kalau tidak juga biar aku membuat sayembara dengan bayaran dua miliyar bagi yang memiliki darah AB dan siap mendonorkan darah.
Apapun yang bisa ku lakukam untuk menyelamatkan ayah aku akan lakukan asalkan ayah selamat, kenapa harus banyak cobaan yang datang silih berganti sudah seharian tidak ketemu dengan kedua anak ku, pikiran ku punyeng.
"Mas apa golongan darah ayah? Secepatnya kita harus mendapatkan pendonor untuk ayah jangan diam saja mas, waktu terus berjalan dan kondisi ayah juga menurun" ujar Dinda, karena dokter melihat aku tidak kunjung menjawab pertanyaan Dinda akhirnya dokter yang menjawab.
"Maaf nona muda golongan darah Tuan Adinata AB, golongan darah AB sangat langkah nona muda " ujar dokter.
Dinda diam sejenak tidak ada tangapan dari Dinda mungkin Dinda juga berpikir bagaiman caranya untuk mendapatkan donor darah untuk ayah.
"Mas, ayuk kita pergi donor darah, Dinda juga golongan darah AB dan sisa tiga lagi nanti kita cari, maaf dokter silahkan ambil darah saya untuk ayah karena golongan darah saya AB dok, kalau bisa ambil dua kantong sekalian kalau masih banyak darah saya dok" ujar Dinda, membuat dokter menaikan kedua alisnya sambil menahan tawa.
" Nona muda setiap pendonor itu paling tinggi itu satu kantong saja sudah cukup karena kalau lebih dari satu bisa bahaya, jadi bagaimana saya bisa mengambil darah anda begitu banyak" jelas dokter
"Yang benar kamu sayang? kok mas baru tahu kalau kamu golongan darah AB? Tapi mana bisa ambil darah kamu sebanyak itu tidak bisa sayang kalau memang kamu bisa donor cukup satu kantong aja." tanyaku.
"Mas bukan waktu yang tepat untuk bertanya, sekarang kita harus segerah melakukan pendonor supaya kita tidak terlamat menyelamatkan ayah " ujar Dinda menarik tanganku dan meminta aku untuk pergi donor darah.
Ya Tuhan pertolongan mu sunggu luar biasa kenapa sangat kebetulan begini apakah ayah mertua juga golongan darah AB, kalau benar berarti sudah tiga tapi dua lagi siapa kalau memang yang dua harus dengan sayembara tidak masalah yang penting ayah selamat.
Sebelum dokter membawah aku dan Dinda pergi donor darah aku datang mendekati pak Erik dan menyuruh pak Erik, Gama dan asisten Arfan untuk bertanya semua pengawal apakah ada yang memiliki golongan darah AB, kalau ada bawah kesini begitu juga aku menyuruh pak Erik buat iklan tentang sayembara bagi siapa yang memiliki golong darah cocok dengan ayah dan bersedia mendonorkan darahnya akan aku berikan imbalan dua Miliyar.
__ADS_1
"Pak Erik, Gama dan asisten Arfan tolong tanya semua pengawal ada yang memiliki golongan darah AB tidak kalau ada tolong suruh mereka segerah kesini, dan satu lagi pak Erik segera buat Iklan soal sayembara pendonor darah golongan darah AB jika bagi siapa yang siap mendonorkan daranya akan di berikan imbalas dua Miliyar" ujarku.
Soal uang itu tidak seberapa di bandingkan nyawah pria terhebat ku, aku melakukan apa pun demi menyelamatkan ayah ku, tidak ada yang berani membantah. Kalau aku kehilangan ayah rasanya aku kehilang sebagian jiwa ku.
"Baik Tuan muda" ujar pak Erik.
Akhirnya aku dan Dinda di periksa dulu, dan tiba-tiba langkah ku terhenti saat aku mengingat bahwa Dinda belum selesai masa nifasnya. Aku langsung menatap mata istriku dan dia juga terkejut mungkin Dinda juga baru menyadari.
"Ada apa mas kok tiba-tiba berhenti"? tanya Dinda
"Sayang, kamu lupa ya kalau masa nifas kamu belum selesai masih beberapa hari lagi, jadi kamu tidak bisa mendonorkam darah kamu sayang, cobak kamu telpon ayah siapa tahu ayah punya golongan darah AB sama kayak kamu atau kakak Dea bisa saja. Kalau kamu memang belum bisa sayang maaf mas baru ingat tadi hampir sedikit" ujarku.
" Ya Tuhan mas maaf Dinda lupa Dinda hanya pengen ayah sembuh jadi lupa kalau diri Dinda masih kotor belum bersih, berarti Dinda tidak bisa dong mendonorkan darah Dinda" ujar Dinda.
Dengan rasa kecewa Dinda keluar dari ruangan dan pergi menelpon ayah mertua , sedangkan dokter langsung cek aku dan ternyata bisa, aku langsung mendonorkam darah satu kantong aja tidak bisa dua apalagi sampai tiga.
Tidak lama kemudian Dinda datang dengan wajah sumbringan katanya ayah segerah datang lagi kesini, kasian ayah mertua padahal baru saja pulang jangan-jangan belum sampai di rumah langsung putar balik, kalau kakak Dea golongan darahnya ikut ibu Anjani jadi tidak bisa, kalau seandanya istriku tidak dalan masa nifas mungkin sudah bisa ikut donor darahnya tapi sayang tidak bisa, tak apalah ayah mertua saja sudah cukup tapi masih tiga lagi.
"Mas, ayah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit karena ternyata Dinda dan ayah sama golongan darah AB . Sabar ya mas masih sisa tiga lagi semoga cepat dapat." Ujar Dinda, Hampir dua puluh menit ayah mertua balik ke rumah sakit ternyata benar mereka belum sampai di rumah buktinya ayah kembali dengan kakak Dea katanya tadi mereka singah makan jadi belum sampai di rumah.
Waktu terus berjalan sekarang sudah jam tujuh malam baru dapat lima kantong darah sedangkan kondisi ayah makin kritis. Sementara waktu ayah tertolong dulu dengan lima kantong darah itu aku bisa bernafas lega, karena sibuk dengan urusan ayah aku lupa datang ke ruangan ibu, ya Allah sampai lupa menjenguk wanita terhebatku.
__ADS_1
" Sayang ayuk kita ke ruangan ibu, ingat jangan beritahu ibu soal apa yang menimpah ayah, kalau nanti ibu tanya biar aja mas yang menjawab" ujarku.
"Baik mas, tenang aja Dinda juga tidak berani memberitahu ibu" ujar Dinda.
Akhirnya kami semua masuk keruangan ibu karena kalau di ruangan ayah tidak bisa di jenguk sebenarnya aku bisa aja membuat ayah dam ibu satu ruangan jadi kami tidak ribet untuk menjanga kesana kemari tapi aku takut ibu syok dan kembali drop sehingga aku meminta ruangan ayah terpisah dari ibu.
Saat kami masuk ternyata ibu lagi di suapin makan sama susten, ibu tersenyum melihat kedatangan kami.
"Nak kalian sudah pulang? Mana ayah kamu nak kok tidak ikut"? tanya ibu.
"Bu, bagaimana kabar ibu? Apa yang membuat ibu begini apa yang sakit kenapa kalau ibu sakit tidak memberitahu Dava kalau ibu sakit" tanyaku mengalihkan perhatian ibu.
"Ibu tidak masalah nak, ibu baik-baik saja justru yang ibu kuatirkan itu kamu sama ayah kam dan yang lain saat kalian berangkat ke hutan."
"Ibu jaga kesehatan ya biar kita cepat pulang ke rumah apa ibu tidak merinduhkan kedua cucu ibu, mereka pasti menunggu nenek nya pulang"
Parcuma aku berusaha mengalihkan perhatian ibu karena pada akhirnya ibu tetap tidak bisa di kelabui, ibu tetap cari cara untuk bertanya soal ayah.
"Nak mana ayah kamu" sekali lagi ibu bertanya, tapi karena aku tidak menjawab akhirnya ibu langsung bertanya pada pak Erik ibu tahu pak Erik tidak bisa bohong.
"Erik, Gama dan asisten Arfan saya tanya sekali lagi Tuan besar dan paman kamu kemana Dava, kenapa paman kamu tidak ada disini apa yang ternyata, kamu tahu kan nak bibi paling tidak suka kebohongan dan kamu Erik sudah berapa tahu kamu tinggal disini, ingat selama ini saya menganggap kamu putra pertama ku tapi kamu yang tidak ingin menjadi kakak nya Dava justru ingin menjadi orang kepercayasn saja jadi sekarang saya tanya dimana Tuan besar"?
__ADS_1
Ya Tuan mampus, kali ini pak Erik tidak akan bohong karena ibu sudah membuat pak Erik diam membisuh.