Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
446


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun bergati tahu....hari-hari yang aku lewati begitu cepat berlalu, perasaan baru kemarin aku antar jemput kedua anak ku, tidak terasa mereka sudah dewasa dan sebentar lagi mereka akan masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, aku sangat bahagia ternyata aku sudah tua begitu juga istriku.


Kami sudah tua ayah dan ibu juga sudah sering kali sakit-sakitan sehingga perusahaan ayah sekarang sudah di serahkan ke Grey....walaupun Grey masih muda tapi dia sudah mulai belajar untuk mengelola bisnis, karna jika terjadi sesuatu dengan kami berempat berarti semua warisan jatuh ke tangan Grey dan Gretta.


Mereka berdualah yang pewaris dari keluarga Adinata, siapapun yang akan menjadi suami Gretta nanti aku selalu berdoa agar putry ku tidak salah memilih pasangan nanti, harus pasangan yang rendah hati dan tidak sombong atau serahka.


Saya sudah meminta kepada pak Erik untuk mempersiapkan keberangkatan kami ke Kanada. Sementara Waktu perusahaan di tangani dulu oleh pak Erik kalau perusahaan istri di tangani oleh orang kepercayaannya, karena bukan hanya pergi berlibur saja melainkan pergi mengantarkan Grey dan Gretta untuk melanjutkan kulia mereka disana.


Itu adalah pilihan mereka jadi aku dan istriku tidak perna melarang, sebenarnya ayah dan ibu tidak mengijinkan kedua cucu kesayangan jauh dari mereka, tapi aku jelasin ke ayah dan ibu kita sebagai orang tua tidak bisa membatasi kebebasan meraka selagi mereka tidak berbuat kesalahan, tidak bisa kita melarang keinginan mereka jika apa yang di inginkan masih bisa di atasi.


Akhirnya ayah dan ibu setujuh kalau mereka iklas kedua cucunya pergi kulia di luar negeri, hari ini kami tidak ada yang masuk kantor karena persiapan untuk berangkat nanti memang dua hari lagi baru berangkat tapi memang sengaja istirahat di runah, karna kami keluarga besar jadi kami berangkat dengan pesawat pribadi saja.


Saat aku dan Dinda asyik di kamar pintu di ketuk dari luar aku gegas pergi membuka pintu, ternyata asisten Mawar yang datang menyampaikan jika pak Erik ada menunggu di bawah.


Tok....tok...tok!


Krekkkkk!.


"Ada apa asisten Mawar"? Tanyaku.


"Maaf Tuan muda ada pak Erik di bawah" ujarnya.

__ADS_1


"Suruh pak Erik datang ke ruang kerja aku saja ada yang ingin aku bicarakan dengan pak Erik" ujarku.


"Baik Tuan muda parmisi"


Asisten Mawar berlalu pergi dan aku bicara dengan Dinda jika aku ada perlu dengan pak Erik di ruang kerja sebentar.


"Siapa itu mas?" tanya Dinda.


"Itu asisten Mawar sayang katanya pak Erik ada tunggu di bawah, jadi mas menyuruh pak Erik untuk datang aja ke ruang kerja mas soalnya ada hal penting yang ingin mas sampaikan, kita pergi ke kanada bukan waktu sebentar sayang kita lama di sana satu bulan, karena hurus urus semua keperluan Grey dan Gretta baru pulang kita jadi mas ingin bicara dengan pak Erik mengenai beberapa proyak yang harus di selesaikan dalam bulan ini" ujarku.


"Ya sudah mas pergi sana nanti pak Erik menunggu lagi biar Dinda dengan pelayan aja yang bereskan ini semua, lagian bukannya bawah barang juga dari sini, hanya mau rapikan lemari dan jamar aja " ujar Dinda memang kami tidak bawah pakian dari sini, sampai disana saja baru beli dari pada bawah dari sini sangat ribet.


Aku gegas ke ruang kerja ternyata pak Erik sudah menunggu di luar, kami berdua langsung masuk kedalam ruangan dan aku mempersilahkan pak Erik duduk.


"Iya pak Erik, jadi begini. Pak Erik kan tahu bahwa aku dan keluarga besar pergi berlibur ke kanada dengan waktu yang cukup lama satu bulan menurutku lama, tapi pak Erik tahu ada dua proyek besar yang masih dalam tahap pembangunan jadi semua proyek itu aku percayakan kepada pak Erik untuk menghandlenya.


Hayo lah kakak pertama bantu aku untuk melakukan ini semua, siapa suruh kakak pertama tidak mau menjadi di rektur di perusahaan cabang padahal aku tahu ayah pasti rencana memberikan perusahaan itu sama kakak pertama, alias pak Erik tapi kakak pertama justru menolak sekarang aku sudah kewolahan jadi tolong bantu. Adik mu kakak pertama hahaha" ujarku ngejek Pak Erik.


Siapa suruh dia tidak mau jadi kakak ku padahal kalau dia mau aku juga senang lantaran dia baik sejak dulu dia paling sayang mbak Hawari makanya waktu meninggal mbak Hawari pak Erik juga merasa terpukul, kemarin ayah menawarkan untuk mengangkat pak Erik jadi direktur di perusahaan cabang pak Erik tidak mau. Aku sampai heran dengan jalan pikiran pak Erik.


Bagi orang lain itu suatu kebangaan jadi pasti mereka berlombah-lombah menerima tawaran itu, tapi bagi pak Erik itu hal biasa bahkan pak Erik menolak, katanya dia lebih senang selalu ada bersama aku dan menjaga ku.

__ADS_1


Pak Erik justru tersenyum mendengar perkataanku memanggilnya kakak pertama sembari berkata lirih:" Tuan muda apakah anda memang pengen saya jadi kakak anda? Sehingga sampai segitunya Tuan muda memanggil saya, saya tahu Tuan Adinata merawat dan menyekolahkan saya dari dulu tapi saya tidak pantas menjadi seorang anak dan kakak untuk Tuan muda. Saya ini anak bawahan yang sudah lama mengabdi disini, namun jika Tuan muda masih tetap menginginkan saya menjadi kakaknya Tuan muda saya siap untuk menjadi kakak Tuan muda tapi ada syaratnya." Ujar Pak Erik.


Wah....seru dong kalau pak Erik mau aku memanggilnya kakak, tapi kira-kira syarat apa ya, tidak masalah kalau pak Erik minta belikan dia mobil, rumah atau hotel aku bisa belikan tapi untuk apa semua itu sedangkan pak Erik saja sudah memiliknya.


"Apa itu kakak pertama aku akan memgabulkan semuanya jika bisa aku lakukan, tapi jangan berikan syarat yang susa"


"Saya tidak minta harta kekayaan anda Tuan muda hanya sebelum Tuan saya menyampaikan syaratnya saya mau jelaskan sesuatu terlebih dulu biar Tuan muda mengerti, Tuan muda pati tahu betapa sakitnya waktu nona mdua pergi untuk selamanya, Tuan muda juga tahu betapa saya sangat menyayangi nona muda sebagai adik perempuan saya, setelah nona muda meninggal saya merasa gagal menjaganya sebagai seoeang kakak, Tuan muda tahu itu saya tidak punya keluarga lagi.


Saya tidak punya adik perempuan baik kakak dan sekarang saya juga tidak akan menikah lagi, jadi saya mau boleh kah nona Gretta dan Den Grey memanggil saya paman? Hanya itu yang saya inginkan, itu keputusan dari Tuan muda, kalau Tuan muda terimah syarat itu mulai sekarang saya panggil adik tapi jika berdua saja kalau di depan banyak orang jangan, jika didepan banyak orang kembali memanggil seperti biasa pak dan Tuan muda." ujar pak Erik.


Kenapa aku yang jadi sedih sih mendengar perkata,an pak Erik, aku orangnya tidak tega,an sama orang yang sudah lama mengabdi, tapi apa yang di katakan pak Erik ada benarnya nanti aku bicarakan ini dengan Dinda, pasti Dinda mau dan aku yakin pak Erik pasti sangat menyayangi Gretta, kerena memang dasarnya pak Erik adalah pria penyayang apalagi untuk seorang perempuan.


"Ya aku akan bicarakan ini dulu dengan Dinda satu kali dua puluh empat jam aku kasih kabar, tapi untuk memanggil pak di depan umum aku tidak bisa janji karena aku biasa keceplosan." ujarku membuat pak Erik menarik nafas panjang baru membuangnya.


"Tuan muda itu harus pengang janji, tapi saya janji akan jadi paman yang baik untuk kedua anak ku, aku sudah komitmen pada diriku kalau aku tidak akan menikah lagi, jadi saya harap Tuan muda yang baik hati tolong kabulkan permintaan saya, dan janji akan selalu menjadi yang terbaik untuk mereka berdua, anggap saja Den Grey dan nona Gretta adalah jermaan dari nona muda Hawari, selama ini saya pengen mengendong mereka tapi saya tidak berani.


Saya hanya minta itu saja tidak lebih saya tidak minta kekayaan untuk apa banyak kekayaan kalau unjung-ujungnya saya meninggal tidak bawah apa-apa juga dan semua akan saya serahkab kembali ke nona Grey dan sebagian saya akan donasikan ke panti asuhan."


Jujur aku sangat terharu dengan perkataan pak Erik selama ini aku juga tidak perna merasakan kasih sayang seorang kakak jadi beruntung aku kalau memanggil pam Erik dengan sebutan kakak, tapi yang membuat aku heran kenapa tidak dari dulu saja, kenapa harus sekarang. Aku bangkit dari duduku dan memeluk pak Erik sambil menepuk pundaknya.


"Bukankah selama ini kita keluarga kakak? Kakak saja yang mau menjauhkan diri dari aku, kakak mau tahu kenapa dari semua yang tinggal di rumah ini kakak di istimewahkan bisa tinggal di rumah sedangkan yang lain tinggal di paviliun karena kakak itu adalah anal ayah juga, pokoknya mulai dari sekarang jangan panggil aku Tuan muda lagi tapi panggil adik, dan bila perlu panggil ayaj dan ibu sama seperti aku, kalau kakak mau Grey dan Gretta mengakui kakak sebagai paman malam ini kita makan bersama."

__ADS_1


Pak Erik juga memeluk ku, aku tahu isi hatinya dari dulu semenjak ayah dan ibunya meninggal, pak Erik hidup sendiri dan tinggal disini jadi aku sangat mengenalnya, dia pria yang baik dan palong menyayangi seorang perempuan.


__ADS_2