
Kelihatan sekali kemarahan ayah mertua terhadap bu Anjani tapi siapa pun juga jika di posisi ayah mertua pasti marah apalagi istrinya sendiri yang sudah puluhan tahun hidup bersama berani sekali menghianati pernikahannya bukan hanya itu tapi berani juga merencanakan pembunuhan terhadap sang suami.
Setelah aku melihat ayah sudah tenang aku masih punya satu pertanyaan lagi untuk ayah mertua soal penyerangan yang terjadi terhadap kami di jalan.
"Ayah...maaf sekali lagi Dava ingin bertanya sesuatu sama ayah, ini juga tidak kalah penting ayah sebenarnya Dava tidak ingin menanyakan soal ini ke ayah tapi Dava ingat betul waktu itu Dinda pernah bilang kalau seandainya ayah masih hidup pasti ayah tahu, maka dari situ ayah, Dava mau tanya sebenarnya siapa klan bintang atau di katakan kelompok pembunuh bayaran itu"?
"Memangnya kenapa nak kok kamu bertanya begitu." tanya ayah aku tahu kalau sebenarnya ayah sudah mengetahui soal penyerangan itu tapi ayah sengaja bertanya apakah aku berkata jujur atau tidak.
"Panjang ceritanya ayah karena waktu itu Dava dan Dinda sengaja kerumah sakit untuk mengetaui kondisi bu Anjani sekalian jenguk teman Dava di rumah sakit, tapi setelah kami pulang dari rumah sakit kami diserang oleh sekelompok orang ayah tapi pada akhirnya putry ayah juga yang melumpuhkan mereka dan satunya jadi tawanan kami ayah"
Ayah mendengar setiap penuturanku hanya mangut-mangut saja dan tersenyum.
"Iya nak ayah tahu siapa klan itu tapi sudah lama ayah tidak bergabung dengan mereka setelah bos mereka mati jadi sekarang ini yang bergabung dengan klan itu hanya anak-anak igusan, seandainya bos klan itu masih hidup mungkin ayah gampang sekali datang kemarkas mereka tapi sayangnya tinggal anak-anak yang baru bergabung jadi mereka tidak mengenal ayah. Dulu ayah perna ngajak Dinda kesana karena bos dari klan itu yang ngajarin Dinda menembak waktu itu Dinda masih kecil umur enam tahun dia sudah pintar menembak."
__ADS_1
"Tapi karena markas besar kebakaran entah siapa yang sengaja membakar kebetulan bos besar istirahat dan sebagian anak buahnya keluar ada juga yang masih di markas tapi mereka lagi asyik minum sampai mabuk, jadi mereka tidak menyadari ada kebakaran setelah mereka sadar begini ternyata semua sudah hagus tidak ada yang bisa di selamatkan termasuk bos mereka akhirnya mereka bangun lagi markas baru tapi kalau setahu ayah jauh sekali dari sini mereka ada di pinggir kota."
"Kalau anak buah yang lama masih ada pasti mereka kenal ayah tapi belum tentu mereka kenal Dinda karena waktu Dinda kesana masih kecil. Setahu ayah biarpun mereka itu bisa di bilang kelompok jahat tapi kalau tidak ada orang yang menyuruh mereka dengan bayaran yang mahal mereka tidak akan mau apalagi itu menyangkut nyawa. Ayah yakin ada seseorang di balik penyerangan terhadap kalian itu tapi target bukan Dinda namun melainkan kamu nak, kamu harus waspada karena ada seseorang yang mengincar nyawa kamu"
"Pantas saja Dinda lihai dalam bersenjata karena sudah terlatih dari kecil gak heran juga sih, tapi siapa ya yang menyuruh mereka datang menyerang aku, aku merasa tidak perna melakukan kesalahan sama orang ane saja tiba-tiba diserang begitu saja, atau ini musuh lawan bisnis ayah karena kalah saing makanya dia sengaja ingin menjatuhkan ayah dengan cara mencelakai aku atau keluarga yang lain, biar ayah takut dan menyerah agar mereka yang menang tapi setahu aku selama ini ayah menjalani semua bisnis dengan baik tidak perna melakukan kecurangan kepada siapapun terus dari mana musuh itu."
"Jadi ayah tidak tahu siapa bos dari klan itu sekarang ayah? Dava yakin ada seseorang di balik ini semua ayah tapi Dava takut Dinda nanti yang di celakai ayah, soalnya waktu penyerangan itu Dinda yang menghabisi mereka semua"
" Khususnya kamu nak harus jaga diri karena ayah yakin kamu juga dalam bahaya, jangan meremekan klan itu biarpun kekuatan mereka tidak sebanding dengan kekuatan yang kalian miliki tapi kalau kalian meremekan mereka bisa jadi kamu yang akan menjadi korban kalau gak Dinda."
"Iya ayah Dava akui kehebatan Dinda karena Dinda menghabisi lima orang itu ada di depan mata Dava ayah, bagaimana cara dia memegang senjata api dengan santainya tanpa ada rasa takut sedikit pun awalnya Dava heran dari mana Dinda bisa belajar menembak. Dan paling mengejutkannya selama ini Dava gak tahu kalau Dinda punya senjata api, namun pas kami di serang tiba-tiba Dinda keluarkan senjatanya dari dalam tas bahkan ada pisau di dalam tas itu juga"
"Saat Dava tanya Dinda soal senjata itu katanya dia dapat dari ayah sudah lama tapi dia menyembunyikannya, apa bemar begitj ayah"?
__ADS_1
Aku bertanya pada ayah mertua namun bukannya menjawab justru ayah mertua mala tertawa, astaga sangat mengerikan deh sifat Dinda dengan ayah mertua hampir mirip ya bagaimana gak mirip orang anak sama ayah kandung. Tapi membuat aku binggung kenapa ayah mertua tidak mengajari kakak Dea dengan Lexza belajar menembak ya setahu aku mereka yang tidak mau belajar belah diri, atau mereka juga tidak mau belajar menembak.
Setelah aku selesai bahas semuanya dengan ayah mertua aku pamit pulang dan aku pesan kepada ayah mertua kalau besok aku akan datang lagi kesini untuk mengantar kedua putrinya.
Aku harus cari alasan agar mereka mau mengikuti aku tanpa banyak bertanya kalau Dinda aku yakin dia pasti nurut saja tapi kalau kakak Dea belum tentu.
"Ayah kalau begitu Dava pulang dulu karena Dava masih mau ke kantor jadi Dava tidak bisa lama-lama disini nanti Dava janji besok Dava kembali kesini dengan membawah kedua putry ayah. tapi Dava tidak bisa pastikan jam berapa Dava datang, Dava harus menunggu kabar dari kakak Dea semoga kakak Dea bisa ayah"
"Kalau nanti Kakak Dea bisa, Dava akan hubungi pak Reno untuk memberitahu ayah, takutnya nanti kakak Dea gak bisa"
"Baik nak kamu hati-hati ya ingat pesan ayah, makasih sudah mau melihat ayah disini dan sudah mau menjaga Dea dan Dinda untuk ayah, ayah tidak salah memilih kamu menjadi menatu ayah selain kayak raya kamu juga suami yang baik"
Ah ayah bisa saja bicaranya jadi berdirikan telingaku hahhaha.
__ADS_1