Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
422


__ADS_3

Ke-esokan harinya aku terbangun dari tidurku ternyata Dinda masih betah tidur di sampingku, padahal bisanya istriku yang cantik ini dia selalu bangun cepat padahal bukannya bagun untuk masak hehehe... mungkin karena kecapean semalam kami berdua lembur karena olaragah semalam, aku biarkan saja Dinda tidur dan gegas aku ke kamar mandi untuk membersihkan wajahku, aku berpikir sudah jam setengah tujuh makanya buru-buru bangun ternyata masih pagi banget.


saat aku melihat jam ternyata baru setengan enam pagi, aku berpikir kenapa aku tidak sekalian mandi saja sudah jam setengah enam juga jadi biar mandi saja, aku langsung gegas ke kamar mandi karena hari ini aku rencana selain kekantor aku juga sudah janji dengan Tuan Adrak karena ingin membahas soal Tuan Maulana, dan juga proyek yang sementara berjalan, nanti sore aku rencana ke rumah sakit untuk menjenguk anak yang aku temui di bandara Amora namanya.


Aku mau lihat perkembangan disana dan bagaimana operasinya apakah berjalan dengan baik atau tidak. Memang aku tidak mengenal siapa mereka hanya saja saat aku ketemu dengan Amora dan mendengar curahan hatinya aku tergerak hati untuk menolong mereka.


Sebenarnya aku ingin bangunkan Dinda untuk mandi bersama tapi tidak tega, aku lihatnya pules banget tidur lagian baru setengah enam juga jadi biarakan saja. Kasian kalau nanti di bangunin sedangkan belum puas tidur bisa sakit kepala.


Aku merendam tubuh ini didalam bathtub sambil menutup mata merasakan air hanget dengan aroma sabun bunga sakura menusuk disetiap pori-poriku, namun tiba-tiba aku terkejut ada yang ikut Menimpa tubuhku dan masuk kedalam bathtub, aku langsung membuka mata ya ampun bikin kaget aja ternyata istriku. Ternyata Dinda sudah bangun dan datang mencariku pas melihat aku mandi dia juga ikut masuk mau mandi.


"Ya ampun sayang bikin kaget aja deh, sejak kapan sayang bangun kok bisa disini sih. Mas pikir sayang belum bagun "? Tanya ku.


" Kenapa mas bangun tidak bangunin Dinda sih mas, tadi Dinda bangun mas tidak ada jadi Dinda kira mas kemana ternyata enak-enakan disini ya sudah Dinda juga mau ikut mandi hehehe, mandi bareng aja mas lagian tumben mas mandi jam segini biasanya mas bagun jam tujuh" tanya Dinda


"Ihhhh.....istriku makin hari makin cantik dan mengemaskan kalau gambek begini deh, maaf ya sayang tadi mas tidak tega membangunkan kamu sayang makanya mas duluan mandi lagian sayang tidur pulas banget sih jadi mas tidak berani, kebetulan mas mau cuci muka tapi saat mas lihat jam sudah setengah enam jadi nangung makanya mas inisiatif mandi aja." ujarku.


"Ya gara-gara mas lah siapa suruh semalam mas double tiga kali sampai tepar akhirnya Dinda ketiduran kan telat bangun begini, tapi bagus lah kalau mas sudah bagus jadi bisa mandi bareng karena jarang sekali mandi bareng sama mas di pagi hari, mas selalu telat bangun hehehe"


"Apa sayang mau lagi kalau mau lagi kita lanjut yang semalam, kalau kamu belum puas sayang" ujarku bercanda namun aku dapat tatapan tajam dari Dinda, setelah itu Dinda senyum.

__ADS_1


"Kalau mas masih sanggup tidak masalah, takutnya mas nanti tidak jadi masuk kantor nanti di bilang Dinda yang menyiksa mas di kamar, padahal mas sendiri yang cari masalah dengan Dinda"


Istriku ini suka benar aja, kami berdua akhirnya mandi, sebenarnya tidak perlu mandi juga tidak masalah sih karena semalam udah mandi jadi masih bersih, hanya saja tidak apa-apa jika kami berdua mandi lagi tidak ada yang melarang.


Dinda kalau minta di manjain memang kayak gini bikin aku tidak bisa menahan gejolak di bawah sini karena istriku ini seperti obat candu bagiku.


Hampir tiga puluh menit kami berdua berendam di bathtub, aku mengambil kimono untuk aku dan Dinda setelah itu aku mengangkat tubuh Dinda dan membawahnya ke kursi depan meja rias. Dinda mengolesi wajah cantiknya dengan pelembab agar wajahnya tetap cerah dan cantik, Dinda juga menyiapkan pakian kantor untukku.


"Mas...boleh tak Dinda minta ijin untuk sebentar Dinda keluar bersama Tasya dan Sabrina, katanya kami pergi ke mall mas ada yang pengen mereka beli, itupun kalau mas ijinkan kalau mas tidak ijinkan juga tidak masalah. " ujar Dinda minta ijin padahal semalam Tasya dan Sabrina sudah minta injin, langsung ke aku tapi sekarang Dinda minta ijin lagi.


"Sayang tidak masalah bagi mas pergilah dan bersenang-senang sebentar mas transfer kamu uang, lagian semalam Tasya dan Sabrina sudah minta ijin kenapa sayang harus minta ijin lagi." Tanyaku.


"Sayang menurut mas kamu tidak perlu deh ikut kesana kamu dirumah aja ya jagain anak-anak biarkan Tasya dan Sabrina aja yang jalan-jalan bukan apa sih sayang tapi entah kenapa mas berubah pikiran untuk kamu pergi" ujarku, Dinda menatapku sambil tersenyum aku pikir dia marah karena aku melarangnya.


" Ya sudah kalau begitu Dinda tidak usa pergi ya mas biar Dinda hubungi Tasya dan Sabrina saja kalau Dinda tidak bisa ikut, pasti mereka berdus ngerti kok kalau si kembar mas kecil jadi Dinda tidak ikut juga tdak masalah." ujar Dinda dengan santai.


"Memangnya tidak masalah sayang kalau kamu tidak ikut, apa sayang tidak marah karena mas tidak mengijinkan sayang ikut shoping dengan sahabat kamu sayang, mereka itu sahabat kamu loh masa kamu tidak temani mereka kalau mereka salah paham sama kamu terus mereka tidak mau berteman dengan kamu gimana kamu tidak takut" tanyaku.


"Hehehe...mas untuk apa Dinda harus takut, mas itu suami Dinda jadi Dinda sebagai istri harus patuh sama mas, kalau mas bilang tidak perlu ikut tidak masalah Dinda tidak keberatan, dan sahabat yang baik itu mas, mengerti posisi sabatannya apalagi sudah nikah jadi tidak semua kebiasaan dulu kita, kita bawah sampai sudah menikah Tasya dan Sabrina sahabat yang baik jadi pasti mereka paham" ujar Dinda aku langsung memeluknya dan aku mengecup keningnya.

__ADS_1


"Makasih ya sayang, kamu istri yang sangat luar biasa selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat suami, kamu istri yang luar biasa maaf ya tadi mas hanya bercanda. Pergilah dengan mereka apapun yang ingin kamu beli, beli saja jangan takut uang habis jangan pelit kalau untuk diri sendiri harus manjakan" ujarku.


Dinda langsung memelukku aku juga ikut memeluk Dinda, setelah puas kami berdua berpelukan aku langsung ganti pakian begitu juga Dinda kali ini Dinda keluar pake celana jeans sepatu hsihils dan baju kaos putih sangat elengan tapi kok aku tidak iklas biarkan istriku peergi sendiri dengan penampilan begitu cantik.


Aku tidak mau istriku di lirik banyak pria hidung belang di luar sana, tapi aku kembali sadar siapa istriku aku percaya istriku bisa mengatasi semua itu dengan baik aku tidak perlu merisaukan hal ini.


"Sayang sebelum kita turun kita lihat Grey dan Gretta dulu, karena mas tidak keatas lagi setdlah sudah sampai di bawah tidak masalah jika mereka belum bangun" ujarku.


"Iya mas sebentar ya Dinda ganti baju dulu deh mas" ujar Dinda.


"Loh kok ganti lagi bukannya sudah bagus itu sayang tidak perlu ganti" ujarku.


"Tidak mas Dinda sudah menikah apalagi Dinda keluar tanpa suami jadi berpakian sepantasnya saja yang penting tidak mengundang dosa terhadap orang lain apalagi pria hidung belang, jadi lebih baik Dinda ganti aja mas lagian Dinda juga tidak nyaman pake pakian kayak gini, sepertinya pakian Dinda yang sudah tidak ke pake tapi masih bagus sumbangkan semua saja ke panti asuhan mas"


Ya Tuhan terharu banget aku dengar perkata,an istriku dia luar biasa, dia bisa baca pikiranku kalau aku kuatir dengan cara berpakiannya bahkan dia sampai bilang pakiannya sumbangkan saja agar dia tidak pakek lagi.


"Kamu serius sayang mau ganti pakian kamu padahal cantik loh kamu pakek itu, tapi terserah kamu lah sayang kalau mau ganti, kalau soal sumbangan lebih baik kirim aja ke panti aduhan yang sering mas dan ayah datangi, soalnya ayah dan mas sering ke panti asuhan kalau kamu mau nanti kita kesana sekalian antar sembako dan yang lain untuk anak-anak panti"


Aku bahagia memiliki istri secantik dan sebaik Dinda, Dinda tahu apa yang harus Dinda lakukan tanpa aku mengajarinya seperti tadi aku tidak suka pakian yang Dinda pakai, padaha aku aku tidak bicara apapun tapi itupun Dinda merasakan kegundaan hatiku sehingga Dinda langsung ganti pakiannya.

__ADS_1


"Makasih ya sayang kamu istri yang luar biasa hebatnya aku salut sama kamu, memang kita sudah di takdirkan untuk bersama sehingga tiba-tiba aku ketemu dengan kamu padahal waktu itu aku bukan siapa-siapa tapi kamu sama sekali tidak menolak aku, justru kamu siap menderita karena ku." gumam ku dalam hati aja.


__ADS_2