Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
55:55


__ADS_3

Setelah aku duduk tidak lama kemudian bu Anjani bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, teman-teman arisan sibuk memanggilnya namun justru bu Anjani berkata kalau ia masih punya pekerjaan yang belum selesai dikerjakan jadi dia harus pulang, aku tahu, itu hanya alasannya saja karena dia tidak akan bertahan disini melihat aku, akhirnya dia benar-benar pergi dan tinggallah kami sekitar dua puluh orang, bisa jadi nanti nambah lagi.


Akhirnya kami mulai acara arisan dan setelah selesai arisan kami langsung makan kebetulan juga sudah jam makan siang jadi sekalian aja.


Hampir satu jam lebih aku di restoran, sekarang semua sudah pada pamit untuk pulang jadi aku juga awalnya berniat cepat-cepat mau pulang, tapi pas aku berjalan keluar aku masih melihat mobil yang tak asing itu masih berteger di tempatnya, oh...berarti nenek lampir belum pulang dia hanya menghindar saja, aku mulai melambatkan langkahku karena aku sengaja biar semua teman-teman arisan pada pulang dulu.


Aku mau tahu rencana apalagi yang mau nenek lampir itu lakukan. Setelah aku masuk sampai didalam mobil aku sengaja belum menghidupkan mobilnya, dan benar saja sih nenek lampir mulau bereaksi dia keluar dari mobilnya dan berlengak-lengok menghampiri mobilku.


Memang orang ini tidak ada etika sama sekali, ia langsung mengetuk pintu mobil dengan kuat dan kasar aku sengaja biarkan agar sampai sakit dulu tangannta itu.


"Anak miskin keluar kamu, berani sekali kamu menunjukan batang hidungmu disini setelah kamu kabur dari rumah punya mental kuat juga kamu ya, memang kamu tidak takut aku seret kamu pulang kerumah."


Aku buka pintu mobilku dan aku dorong dengan kasar, memang aku sengaja karena nenek lampir itu masih berdiri pas didepan pintu jadi biar aja agar ikut terdorong. Dan benar saja sekali aku dorong hampir sedikit dia tersungkur ke tanah untung masih bisa ia menjaga keseimbangannya kalau tidak bisa babak belur dia.


Karena dia merasa aku mempermalukannya apalagi pas didepan restoran dan banyak, orang wajahnya merah karena marah di tambah malu mampus. Siapa yang menyuruh dia dengan kuat mengetuk pintu mobil aku keluar dari dalam mobil dan berdiri tepat di hadapannya.


Matanya melotot ke aku dan langsung ia mencaci maki aku tanpa berikan jedah benar-benar luar biasa hebatnya nenek lampir ini.

__ADS_1


"Dasar anak tak berguna berani sekali kamu sama aku ya, bisa-bisanya kamu mendorong aku. Biar aku berikan pelajaran untukmu Bu Anjani ancang-ancang mau menanpar tapi dengan singap aku menepis tangannya membuatnya kesakitan.


"Singkirkan tangan kotormu itu nyonya Winata yang terhormat, ternyata benar kata pepata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ibunya saja sudah seperti ini sifat dan tingkah lakunya bagaimana dengan anak-anaknya ya apa mereka seperti ini juga bobrok sekali, katanya orang terhormat tapi tidak ada attitude sama sekali."


"Untung aku bukan bagian dari keluarga tidak punya etika seperti kalian, kalau tidak aku malu dengan memiliki keluarga yang tidak ada adabnya seperti anda, ingat nyonya Winata sampai kapan pun sifat biadab kalian itu tidak akan saya lupankan."


"Ayokkk kita pulang ke rumah tidak usa kamu ceramahi aku, aku tidak sudih mendengar ceramah murahan kamu itu, cepat kita pulang ikut aku, jangan-jangan suami kamu nyolong ya sampai kamu punya mobil mewah dan dan barang-barang mahal."


"Hahah apa hubungan barang aku dengan anda nyonya lebih baik urus diri sendiri.


Dia berusaha menarik aku untuk ikut dengannya, tapi aku menepis tangannya membuatnya melepaskan tangannya dari tanganku.


"Maaf nyonya Winata siapa yang anda maksud pulang kerumah, rumah aku lebih mewah dan megah dari pada rumah anda yang kayak neraka itu, jadi tolong jangan memintaku untuk pulang karena aku tidak sudih, lagian siapa anda ngatur-ngatur hidupku kita itu bukan siapa-siapa. Dasar manusia ruba...melihat barang mahal aja langsung memiliki pikiran serahka."


"He anak durhaka ingat kamu, aku ini ibumu kamu harus nurut sama orang tua kamu mau aku kutuk kamu jadi batu. Anak tidak tahu berterimah kasih tahu aku seperti itu dulu pas aku melahirkan kamu sudah aku bunuh kamu biar kamu tidak perluh hidup tapi sayangnya ayah kamu yang menjagamu dengan ketat."


"Deg......sakit banget ya Tuhan rasanya sendi-sendiku mau lepas dari tubuhku, tubuhku sampai gemetaran aku mendengar perkataannya, jujur aku benar-benar tidak bisa bernafas, sesakit inikah ya Tuhan mendengar perkataan keluar dari mulut ibu ku sendiri. Sebenci inikah dirinya terhadapku, padahal dari dulu apa yang tidak bisa aku lakukan untuknya, aku hanya membangkang pada saat ia mau menjodohkan aku dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Pertahananku runtuh seolah dadaku di hantam batu besar, tapi aku kumpulkan semua tenangaku untuk tetap berdiri aku tidak mau menunjukan ke manusia ini kalau aku lemah.


Aku menatap matanya dalam-dalam aku mendapati kebencian ditatapannya itu.


"hehehe.....makasih karena anda sudah melahirkan aku kedunia ini biarpun bukan kamu yang membesarkan aku, tapi aku tahu melahirkan tidaklah muda jadi aku berterimah kasih padamu, tapi kalau seandainya aku disuruh memilih lebih baik aku tidak perlu dilahirkan dari rahim seorang ibu seperti kamu yang tidak punya hati nurani".


"Seperti anda lebih baik aku dulu mati dari pada aku dihirkan oleh anda yang tidak punya hati ibu sama sekali. Dari sebelum aku keluar dari rumah itu aku sudah bilang jika kita tidak punya hubungan darah lagi."


Setelah aku bicara demikian aku masuk kedalam mobil dan berlalu pergi, sedangkan aku melihat dia berdiri dan menatap kepergianku sambil berteriak.


Setelah aku jauh dari restoran aku menepihkan mobil dan aku menangis sejadi-jadinya didalam mobil rasanya pertahananku runtuh seketika. Dan tangisku di saksikan oleh kedua pengawalku karena jelas tiba-tiba menepih pasti ada sesuatu jadi mereka datang memeriksa aku, beginikah rasanya ya Tuhan, padahal tadi aku sudah berusaha kuat tapi bisa.


"Ayah tegah sekali kamu ayah meninggalkan aku disini, pulanglah ayah kalau memang ayah masih sembunyi di luaran sana datanglah temui aku biar kita balas sama-sama"


Sedangkan tidak jauh dari situ ada seseorang yang mengikuti Dinda dan bu Anjani, iya juga menyaksikan perdebatan mereka pria itu tersenyum sinis dan penuh kebencian memangdang bu Anjani dari balik topengnya.


Aku masih belum bisa berhenti menangis aku harus tenangkan diriku dulu baru aku pulang agar ibu tidak curiga tapi biar bagaimanapun aku menyembunyikan masalah ini tetap sampai ke telinga ibu dan yang lain karena aku tahu pengawal selalu memberikan informasih ke ibu dan mas Dava.

__ADS_1


lama aku didalam mobil masih jelas sekali ternyiang perkataan bu Anjani berputar di kepalaku ini, kalau memang dia tidak mengiginkan aku kenapa dia tidak membunuh aku aja dari pada aku disiksa dan tidak di angggap aku yang akan membencinya nanti


__ADS_2