
Tidak terasa sudah satu minggu aku di luar kota rasa rindu ku terhadap anak dan istriku tidak terbendung, pengen cepat pulang ke ibu kata untuk ketemu dengan istri anak ku, kasusnya Riko juga sudah selesai jadi Riko enam tahu penjarah sedangkan selingkuhannya di vonis tiga tahun karena dia juga sudah berani kerja sama dengan Riko untuk mengelapkan uang. Istrinya Riko datang dan memohon untuk Riko dibebaskan namun justru aku makin kesal karena sudah di hianati saja istrinya masih saja memohon untuk pria bejat seperti Riko katanya kasian anaknya.
"Tuan muda saatnya kita berangkat ke bandara tiket pesawat kita jam tujuh kita sudah lepas landas" ujar asisten Arfan.
Aku keluar dari kamar hotel dan menujuh ke loby, aku langsung masuk kedalam mobil dan menujuh ke bandara. Memang aku sengaja menyuruh sekretaris mengambil tiket agak pagi biar sampai di sana masih pagi juga, hari ini rencana tidak ke kantor biar pak Erik yang ngurus semua itu.
"Tuan muda sebenarnya hari ini meeting penting di kantor, apakah Tuan muda masih bisa hadir? Karena meeting jam sebelas sedangkan kita sampai di sana jam sembilan jadi masih ada waktu." Ujar sekretaris.
"Biarkan pak Erik saja yang menghandle meetingnya karena ada yang lebih penting dari pada itu, jadi tolong hubungi pak Erik untuk menjalankan meeting nanti siang...setelah kita sampai disana kamu boleh istirahat hari ini tidak perlu masuk kantor, karena satu minggu ini sangat melelahkan bagi kita, asisten Arfan juga sampai di rumah asisten Arfan boleh istirahat karena hari ini aku tidak akan kemana" ujarku.
"Wah...yang benar Tuan? tapi Tuan tidak memotong gaji kami kan, kalau Tuan menyuruh kami istirahat tapi gaji di potong sama saja Tuan lebih baik tidak usa istirahat" ujar asisten Arfan bikin gemas aja, dia tidak bersyukur di berikan waktu untuk istirahat justru memikirkan gaji astaga.
Selama kami bertiga di luar kota untuk mengecek proyek, memang rasanya sangat melelahkan sekali apalagi beberapa hari ini kami bertiga bahkan jam dua belas baru sampai di hotel, kami harus membereskan semua di proyek baru pulang, walaupun tidak ada masalah lagi di proyek tapi banyak sekali yang harus kami cek, itu yang membuat kami kecapean ya namanya juga kerja ya pasti cape kalau tidak cape itu bukan kerja namanya. Bermain aja cape apalagi kerja.
"Untuk apa potong gaji kamu sekalian gaji kamu tidak perlu aku keluarkan, di suruh istirahat mala nanya gaji siapa yang mau potong gaji kamu tidak ada potongan yang ada mala tambah bonus karena kalian berdua sudah setia menemani ku."
"Apa....bonus Tuan yang benar, ya ampun Tuan muda paling yang terbaik" kali ini kompak mereka berdua cocok di bilang kakak ade" aku hanya diam saja malas bicara dengan dia asisten ku ini bah.
Tidak lama kemudian kami sampai di bandara dan langsug masuk ke dalam pesawat karena sekretaris Dani sudah selesai cek in jadi tinggal masuk kedalam pesawat aja, sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
"Tuan kita langsung masuk kedalam pesawat karena pesawat sudah ada jadi kita tinggal naik sebentar lagi sudah lepas landas" ujar sekretaris Dani.
Kami masuk kedalam pesawat dan memang tidak berselang lima belas menit pesawat mulai meninggalkan bandara, didalam pesawat kalau lihat dari ketinggian ke bawah indah sekali, aku yang awalnya pengen tidur tidak jadi karena asyik menikmati pemandangan yang ada di bawah, namun tidak terasa dua jam sudah lewat dan kami tiba di ibu kota. Setelah kami take off kami bertiga bersama dengan penumpang lain nya, namun saat aku melangkah hendak ke luar dari bandara tanganku tiba-tiba di tarik hal itu sontak membuat aku terkejut dan menepis tangan orang tersebut, membuat seorang anak gadis cantik kalau aku lihat dari umurnya sekitaran dua belas atau tiga belas tahun agak takut melihatku.
__ADS_1
"Maaf....dik ada yang bisa saya bantu? " tanyaku spontan sedangkan pengawal menyuruh adik itu pergi tapi aku menahan mereka.
"Biarkan saja mungkin ada yang ingin dia bicarakan." Ujarku.
"Tuan muda Dava... maaf jika saya lancang tapi saya terpaksa lakukan ini, selama ini saya hanya lihat wajah Tuan muda di TV saja dan berharap suatu saat saya ketemu dengan Tuan muda, jadi tadi saat saya berdiri disana saya melihat Tuan muda lewat sehingga saya memanggil Tuan muda, ampuni saya yang sudah lancang,
Apakah saya boleh minta bantuan Tuan muda?" ujarnya takut, aku lihat matanya berkaca-kaca. Anak gadis ini cantik dan putih.
"Ada yang bisa saya bantu dan siapa nama kamu"? Tanyaku.
"Nama saya Amora Tuan, saya dari kota X datang kesini bersama ibu saya yang sakit keras saya ingin rujuk ibu saya ke rumah sakit Adinata, tapi saya tidak punya banyak uang Tuan....saya tidak mau kehilangan ibu saya karena hanya ibu saya yang saya punya saat ini, Tuan tolong bantu saya Tuan jika Tuan mau saya bekerja di rumah Tuan sebagai membersihkan toilet saya bisa Tuan." Ujar Amora anak yang cantik dan manis dia langsung menangis dan sujud memohon, aku langsung ingat Gretta aku bayangkan kalau ini adalah Gretta, aku reflek peluk dia sambil ngelus kepalanya sembari berkata.
"Dimana ibu kamu, antar lah kerumah sakit yang kamu maksud percayalah kamu tidak di punggut biaya apa pun, apakah kamu masih sekolah? Dan dimana ayah kamu kenapa dia tidak ada bersama kamu."? Tanyaku.
" Iya saya masih sekolah Tuan, Ibu ada bersama bibi Tuan, ada didalam masih menunggu pakian, ayah saya sudah menikah lagi dan dia tinggal di kota ini juga karena punya perusahaan disini, tapi dia tidak peduli sama saya dan ibu, padahal yang saya dengar harta yang dimiliki ayah adalah harta ibu sebelum menikah dengan ayah, tapi ayah merampas semuanya dan pergi dengan istri baru."
"Siapa nama ayah kamu dik?"
"Namanya Maulana Tuan" ujarnya.
Ha....Maulana apa iya, ini anaknya Tuan Maulana kalau benar...aku harus bantu anak ini dan ibunya untuk mengambil kembali apa yang Tuan Maulana ambil.
Akhirnya aku memberitahu sekretaris Dani untuk mengurus semua keperluan ibu dan anak ini di rumah sakit dan tempat tinggal untuk mereka sementara waktu, aku kasih pengertian kepada anak ini agar tetap kuat.
__ADS_1
Sedangkan aku pulang ke rumah karena aku sudah tidak sabar ingin ketemu dengan kedua anak dan istriku, selama perjalanan pulang kerumah aku memikirkan anak kecil itu, kalau memang benar putrynya Tuan Maulana yang sudah di terlantarkan benar-benar keterlaluan, pantas saja sikap arogan terhadap putrynya Tuan Adrak sangat kejam.
Aku harus memberitau masalah ini ke Tuan Adrak agar aku dan Tuan Adrak kerja sama supaya mengambol kembali perusahasan ibunya Amora. Kalau benaran yang di maksud adalah Tuan Maulana berarti Tuan Maulana sudah menikah lagi ada peruang besar untuk menjatuhkan dia, seorang pembisni harus hati-hati dalam melakukan kesalahan karena nanti akan hancur sendiri akan berimbas ke bisnis.
Akhirnya aku sampai di rumah mobil masuk kedalam gerbang besar dan aku keluar dari mobil, aku gegas kedalam rumah saat aku masuk kedslam rumah aku melihat ibu dan ayah hanya berdua lavi berbincang di ruang tengah.
"Ayah, ibu" ujatku.
"Sudah pulang kamu nak" tanya ibu.
"Sudah bu, mana Dinda bu, oh ya. Ayah...kok tidak kekantor ayah biasanya jam segini ayah sudah berangkat ke kantor" tanyaku.
"Tidak masalah ayah pengen berduaan dengan mantan pacar ayah, kamu juga pasti kangen kan sama mantan pacar kamu makanya kamu buru-buru pulang kerumah, walaupun ayah setiap hari bertemu dengan mantan pacar ayah, tapi ayah tetap rindu hehehe" ujar ayah terkekeh sedangkan ibu justru memutar bola matanya.
Astaga ayah ku kayak memasuki puber kedua, sudah tua juga kata romantisnya itu tidak hilang dari mulut ayah, tapi aku bahagia ayah begitu mencintai ibu, tidak perna sekalipun ayah menyakiti ibu karena memang dari dulu ibu adalab cinta pertama ayah.
"Hahaha...ayah bisa aja, tapi iya sih Dava jelas kangen dong yah sama Dinda dan si kembar sama seperti ayah, ayah aja setiap hari ketemu dengan ibu masih kangen apalagi Dava sudah satu minggu tidak ketemu." ujarku.
"Ya sudah sana, Dinda di kamar tadi dia ada di sini tapi karena kepalanya agak sedikit pusing katanya sehingga ibu menyuruhnya istirahat mungkin kurang istirahat semenjak kamu pergi nak makanya Dinda sakit kepala, masuk lah sana lihat dulu Dinda tadi pelayan sudah memberikan obat untuknya." ujar ibu.
Aku langsung gegas pergi, kenapa Dinda tidak memberitahuku kalau dia sakit istriku memang aangat bandel sakit tapi tidak di beritahu suaminya bagaimana sih.
Saat aku masuk kekamar ternyata benar Dinda ada tidur aku langsung duduk di sampingnya dan mengecup keningnya, tapi karena tidak ada reaksi dari Dinda akhirnya aku juga ikut merebahkan tubuh ini di samping Dinda dan memeluknya.
__ADS_1
"Sayang....apa yang sakit mau mas panggilkan dokter, kalau sakot jangan tahan sayang nanti makin parah gimana"
Dinda juga belum ada respon akhirnya aku juga tertidur di samping Dinda.