
Hari yang kami tunggu tiba juga, hari ini aku berangkat juga keluar negeri dengan Dinda sudah jam lima aku dan Dinda selesai siap, untuk berangkat ke bandara karena kami tidak perlu ngatri beli tiket lagi kami pergi dengan naik jet pribadi ayah jadi. Tidak perlu ngantri segala macam karens semua sudah di urus oleh asisten pribadiku.
"Sayang sudah siap belum biar kita berangkat mobil sudah menunggu di bawah" tanyaku pada Dinda
"Sudah mas yuk kita pergi, sekalian pamit dulu dengan ayah, ibu dan semua keluarga" kami berdua keluar dari kamar dan turun kebawah ternyata semua keluarga menunggu di bawah.
"Bu, yah. kami pergi dulu ya doakan biar kami tidak kenapa-kenapa di sana dan pulang sampai di sini dengan selamat Ibu, yah jaga kesehatan ya jangan sampai sakit" ujar Dinda
Ibu peluk Dinda dengan erat kayak takut kehilangan saja. Ibu begitu menyayangi Dinda.
"Iya sayang kalian juga hati-hati di sana, Dava jaga putri ibu dengan baik ya, dan semoga kalian pulang bawah pulang cucu ibu" ujar ibu membut semua kompak mengaminkan.
"Bu, sebenarnya Dava ini anak ibu bukan kenapa hanya perhatian sama Dinda sedangkan aku tidak" ujarku cemberut membuat semua tertawa.
"Haha...ada yang cemburu...kamu itu anak cowok jadi untuk apa ibu kuatirkan kamu, justru ibu kuatir dengan putry ibu karena takut gak sanggup menanagi kamu nanti disana" astaga ibu bikin malu saja deh.
Setelah selesai pamitan kami langsung berangkat ke bandara asisten sudah menunggu dengan pengawal dan pelaya karena nanti disana semua akan di urus oleh mereka. Bukan hanya itu ada dokter pribadi juga.
Kami masuk kedalam mobil di antar oleh Rafa, Ririn dan Gama, sampai di bandara. Hampir satu jam perjalanan kami akhirnya kami sampai di bandara ternyata semua sudah menunggu.
"Tuan, nona bolah langsung masuk kedalaman pesawat karena semua sudah siap dan kita tinggal berangkat." Ujar asisten pribadaku yang dia adalah seorang terlatih dan sangat bagus kualitas belah dirinya. Kalau dia sama Dinda sepertinya seimbang.
__ADS_1
Aku menatap Ririn, Dafa dan Rafa suruh pulang sampai dirumah," kalian pulang hati-hati ya, jangan ngebut ada pengawal menjaga kalian jika kalian masih mau singah kemana jangain Ririn dengan baik"
"Iya kakak hati-hati ya jangain kakak ipar dengan baik disana dan saat kembali semoga sudah ada Dava junior saingan kakak Dava hahahs" dasar Gama bisa juga.
Dinda dan Ririn berpelukan," hati-hati ya kakak, jaga kesehatan kakak disana ya kalau ada apa-apa kakak kabarin"
"Hati-hati kalian pulang ya Rin, lebih baik kalian langsung pulang saja ini juga sudah malam" Ririn hanya nganguk saja mendengar nasihat dari Dinda dan tersenyum. Akhirnya kami gegas masuk kedalam pesawat.
Aku menarik tangan Dinda dan langsung melangkah masuk kedalam bandara, dan kami masuk kedalam jet pribadi yang sudah siap dengan sempuna ada satu pramugari dan satu pramugara dua orang pilot karena mengingat ini perjalanan sangat jauh memakan waktu hingga lima belas sampai enam belas jam baru sampai jadi biar gantian.
Setelah kami masuk istri gak lepas dari gegamanku Dinda terpaku dengan jet pribadi ayah.
"tidak selama perjalanan bisnis ayah selalu pakai jat sayang, ayah pakai kecuali benar-benar mendadak kalau tidak ayah sering naik pesawat biasa juga karena katanya ayah pengen merasakan seperti apa naik pesawat bersama dengan penumpang lain seru juga."
Setelah kami semua duduk akhirnya kami bersiap dan berangkat, Dinda Duduk bersandar di dada bidangku dengan begitu manja humm ternyata istriku sangat manja namun saat enak-enak kami bercerita tiba-tiba Dinda mengangkat kepala.
"Astsga mas, Dinda lupa karena semalam pulang setelah mandi langsung istirahat dan tas semalam yang Dinda pake langsung Dinda masukin kedalam lemari jadi Dinda lupa keluarkan berlian yang Dinda beli dan berikan kepada ibu, punya Dinda juga sama masih didalam tas satupun belun Dinda ambil sayang bagaiman ini." Dinda terlihat sangat panik karena hadia untuk ibu lupa di berikan.
"Sayang kamu tenang ya, itu mah gampang nanti setelah kita pulang baru sayang berikan untuk ibu, lagian barang ibu bukan barang yang mudah bauh jadi kalau lama simpan bauh busuk dan rusak. Tenang sayang jangan kuatir lagi kamar kita itu tidak ada yang berani masuk tadi mas kunci semu lemari dan juga pintu kamar biar saja kamar kita tidak perlu di bersihkan oleh pelayan nanti kita pulang baru di bersihkan."
"Hammm...baiklah mas Dinda sudah takut kalau hadia untuk ibu hilang," heheh lucu istriku siapa yanf mencuri di istana keluarga Adinata mau cari mati serahkan nyawah kalau mau datang kesana.
__ADS_1
"Sayang, siapa yang berani masuk kesana untuk mencuri tidak akan sayang karena selama ini belum perna terjadi, jadi jangan kuatir semua aman sampai kita pulang juga pasti aman."
Dinda kembali nenyadarkan kepalanya di dada bidang ini dan akhirnya tertidur aku yang melihat hanya senyum saja kalau soal tidur istri ku jagonya, tapi tidak masalah lebih baik dia tidu biar saat dia bangun sudah makan malam jadi tidak kelaparan "setelah aku tidurkan Dinda aku menutup mata ikut tidur juga. Sambil duduk nemanin Dinda
Aku mau bawah Dinda kedalam kamar tadi katanya tidak perlu ia pengen tidur di kusri saja lagia di kursi juga sudah kayak tempat tidur mini.
sekitar jam delapan aku sadar, ternyata perutku terasa lapar sekali karena cium ada wangi makanan, hummmm ternyata makanan sudah di siapkan oleh pramugari dan asistenku.
Aku hendak mau bangunin Dinda tapi tidak tega karena kelihat dia pulas banget tidurnya jadi aku biarkan saja, namun tidak lama kemudian sementara aku makan Dinda mengeliat dan melihat ke arahku dan langsung bangun dari tidurnya. Aku langsung tersenyum ke arahnya.
"Sayang sudah bangun yuk, sini kita makan sayang kamu sudah laparkah. Sinilah duduk disamping mas biar mas suapin" Dinda hanya nurut saja dan gegas duduk disamping aku dan membuka mulutnya dan aku suapin.
"Mas aku sudah lama ya tidurnya tadi ngantuk banget sialnya gak bisa nahan kantuk mas apalagi adem banget tempatnya sangat empuk jadi rasanya kayak tidur dirumah tahu gak hahaha."
"Tidak lama juga sayang kamu tidur, nanti kalau sudah selesai makan mau tidur lagi tidak apa-apa yang penting sudah kenyang, tadi mas mau bangunin kamu tapi takut menganggu makanya mas biarkan saja ternyata kamu bangun sayang. Tapi kalau mau tidur lagi langsung kekamar saja jangan disini"
Aku menyuapi Dinda dan mencium keningnya aku jadi teringat kembali bagaimana perjuangan dia memperjuangkan aku waktu masih satu atap dengan ibu mertu, dia istri yang sangat berjuang walapun dia menangung malu dan menangung beban atas semua hina-an tapi dia tidak perna sedikit pun untuk berlikir berpaling dariku.
Saat ini aku yang berjuang membahagiakan kamu sayang aku janji tidak akan membuat air mata kamu jatuh karena aku, apapun yang aku lakukan demi kebahagiaan kamu, saat kami berangkat aku sudah pesan untuk keluarga semua terutama ayah dan ibu jangan cobak-coba berikan kesempatan untuk bu Anjani masuk ke kediaman aku dan Dinda tinggal.
Karena aku yakin dia akan datang untuk mencari Dinda dan aku, sebelum semua masalah selesai aku dan Dinda belum pindah rumah. Tunggu semua aman baru kami pindah ke rumah yang sudah dibelikam oleh ayah dan ibu.
__ADS_1