
Pov Dea.
Brakkkkkk!
"Argrh...kurang ajar "!
Aku terkejut saat aku mendengar teriakan dan bunyi barang jatuh dari kamar ibu, apalagi yang merasuki otak orang tua yang satu itu, sudah malam juga kerjanya teriak kayak orang kesurupan saja, biarpun aku sudah mendengar tapi aku bodoh amat malas tahu, mau dia gantung diri biarin saja aku cape mau istirahat dulu. Kerjanya selalu cari sensi biar di perhatikan atau di kasihani.
Mas Tahir juga mendengar teriakan ibu sangat kencang entah apa yang terjadi di kamarnya atau jangan-jangan malaikat pencabut nyawah datang menjemputnya, sampai suaranya melengking begitu aku dengan mas Tahir saling pandang tapi tidak ada yang bergegas keluar.
Aku mendengar pelayan dan pengawal kasat kusut diluar, sebenarnya aku penasaran apa yang terjadi dengan wanita tua itu tapi jujur aku sudah malas banget berdebat dengannya, tidak ada hari tanpa debat coba orangnya tahu diri dan menyadari kesalahannya tidak masalah, tapi masalahnya justru dia merasa paling benar dan paling tersakiti.
Waktu di restoran kalau seandainya Dinda tidak menghalagi aku mungkin aku sudah melayangkan tinju padanya, tapi disatu sisi dalam semua polimik yang kami hadapi saat ini aku tetap bersyukur karena Adik Dinda sudah hamil dan sebentar lagi dia sudah jadi seorang ibu, begitu juga ayah masih hidup.
Dari awal memang aku benci dengan perempuan ini, namun sebisa mungkin aku tahan karena aku berpikir bagaimanapun dia adalah ibu kandung jadi dia tidak mungkin merencanakan kejatan kepada aku, ternyata aku salah. Ternyata harta bisa membuat semua orang gelap mata sama seperti ibu kandungku, aku sedih ditambah sakit hati dan syok saat mendengar sendiri dia merencanakan kematianku bersama adikku Dinda.
Aku berpikir dimana hati nurani wanita ini, dimana letak akal sehatnya, hanya demi harta dunia dia tega membunuh kedua buah hatinya darah dangingnya.
__ADS_1
Sebenarnya kalau aku di tanya lebih memili keluarga atau harta aku lebih memili keluarga, itu pun kalau keluarga baik dan tidak mendominasi harta, sebanarnya harta hanya titipan Tuhan jadi itu hanya sementara kalau sekarang Tuhan mau ambil kembali kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Kalau keluarga sudah harmonis dan utuh aku yakin harta juga akan diberikan oleh Tuhan, asal tidak ada keserakahan ada didalam hati makanya aku syok banget tahu perempuan itu mau menghabisi aku dan Dinda. Dalam hatiku aku sudah bertekad untuk memberikan pelajaran kepadanya aku juga tidak menyangka tadi dengan reaksi mas Tahir sampai memukul manusia itu.
Aku dengar dari dalam kamar saja, tapi ada suara Lexza sepertinya berdebat dengan perempuan itu, aku jadi penasaran tapi nanti aja jangan keluar dulu tidak lama aku mendengar suara bibi Lya dan paman Gibran. Mereka memarahi perempuan itu karena dari tadi sudah kayak kesetanan semua barang di hancurkan.
"Kurang ajar kalian semua, siapa yang berani masuk kesini untuk mencuri semua hartaku di brangkas ha...bajingan kalian semua di rumah ini selama ini aku hanya menumpang semua iblis dirumah ini, cepat jawab siapa yang berani mengambil semua sertifikat didalam brangkas kembalikan karena itu milikku." teriak perempuan itu.
Oh aku baru tahu penyebab amukan perempuan itu, berarti dia sudah buka brankas itu baguslah dia sudah tahu kalau brangkasnya itu kosong, mas Tahir yang mendengar perkataan perempuan itu langsung memandang aku, meminta jawaban dari ku tapi aku pura-pura tidak tahu soal barang itu, wah seru nih aku keluar ah...
"Sayang, kamu tahu tidak siapa yang berani ambil uang dari brangkas ibu, lagian aku heran bukankah brangkas itu punya kode dan yang tahu kodenya hanya ibu dan ayah, tidak mungkin kan ayah yang sudah mati hidup lagi dan datang kesini untuk mengambil semua barang berharga itu"
"Jaga mulutmu ya mas kata siapa ayah sudah meninggal, ayah itu masih hidup"
"Apa...kamu bilang barusan sayang ayah masih hidup? Yang benar saja sayang, terus kalau masih hidup ayah dimana kenapa tidak pulang"?
"Deg.....astaga ya Tuhan kenapa bibir ini keceplosan sih, bagaimana ini aku harus jawab apa, apakah ini saatnya mas Tahir juga tahu kalau ayah sebenarnya masih hidup. Tapi kalau mas Tahir tidak bisa menyembunyikan rahasia ini sampai masalah selesai bagaimana.
__ADS_1
"Sayang, kenapa diam saja, jawab dong apakah yang barusan sayang bilang itu benar kalau ayah masih hidup"?
"Hehehe...mas ada- ada aja deh..kata siapa ayah masih hidup, tadi mas salah dengar aku bilang tadi kalau seandainya ayah masih hidup loh, tapi kalau benaran ayah masih hidup bagaimana mas"?
"Oh, mas pikir tadi sayang bilang benaran ayah masih hidup, tapi kalau benaran ayah masih hidup jujur mas senang banget karena dengan adanya ayah ibu bisa di atasi, dan bahkan bisa jadi ibu yang dihabisi oleh ayah kalau tahu ibu merencanakan kejahatan untuk membunuh kalian berdua aku yakin pasti ayah marah besar."
Kami berdua yang masih didalam kamar sudah tuli mendengar kata sumpah sarapah dan makian keluar dari mulut perempuan itu, apakah dia tidak cape teriak seharian, gila banget nih orang kekuatan menambah berlipat kali ganda dari sebelumnya.
"Lya...Gibran...Dea, Tahir sini kalian semua jangan diam dikamar saja ya, kalau tidak mau saya bakar rumah ini bisa-bisanya masuk maling kesini, pasti hanya orang yang tinggal di rumah ini yang bisa mengambil uang itu. He..kamu panggil semua pelayan rendahan dan pengawal itu datang kesini aku mau nanya sama kalian semua siapa yang berani masuk kekamar saya dan mencuri didalam jawab"
Tidak ada seorang pun yang menjawab, lah mereka juga tidak tahu terus mau jawab apa soalnya pelaku kan aku yang mengambil semua barang itu.
Aku pengen tertawa melihat wanita tua itu sudah kayak orang gila kehilangan separu jiwanya.
"Hey perempuan gila, ini sudah jam tidur jangan kayak kesetanan disitu tereriak-teriak tidak jelas, orang tidur bikin kanget saja, jangan-jangan kamu kurang dibelai sama brondong ya makanya minta di belai tuh ada pengawal kamu, mau biar aku panggilkan dia juga pasti sangat memuaskan kamu, dari pada kamu bikin kekacauan disini kamu tidak capek dari tadi teriak mulu, aku saja cape apalagi berhadapan dengan wanita gila kayak kami lama-lama aku juga jadi gila seperti kamu"
Mampus aku sangat suka itu, sekarang bibi Lya sudah gercap melawan perempuan itu, tidak seperti dulu kayak kerbo dicucuk hidung dibilang apa saja nurut tapi sekarang bibi Lya tidak sengan menghajarnya.
__ADS_1