
Perdebatan antara paman Gibran dan bu Anjani makin memanas, karena bu Anjani tidak akan ijinkan paman Gibran untuk menyelidiki kasus kematian Tuan Winata, namun paman Gibran bersih keras untuk tetap melakukan penyelidikan.
Kenapa diam saja kak Anjani, apakah benar seperti yang aku katakan kalau ternyata kak yang sudah merencanakan pembunuhan mas Evan, buktinya kak ipar tidak mau kasusnya di buka, padahal baru satu bulan lebih loh mas Evan meninggal, aku lihat kak ipar seperti bahagia sekali tanpa mas Evan.
"Diam kamu Gibran! Tutup mulut busukmu itu, dan stop omong kosong apa itu yang kamu bicarakan, aku tidak seburuk itu aku mencintai mas Evan mana bisa aku setengah itu sama mas Evan kalau bicara itu yang benar saja"
"Tidak usa teriak....teriak juga kayak nenek lampir, aku bukan anak kecil jadi anda meneriakin aku, anak kandung anda sendiri aja anda menyiksanya sampai dia kabur dari sini karena mendapatkan siksaan dari ibu kandungnya sendiri, terus bagaimana lagi dengan mas Evan yang hanya status suami kamu, aku yakin semua ini ulah kamu, bukankah anda pernah bilang apapun bisa kamu lakukan untuk kebahagiaanmu semata, jadi bisa sajakan kamu juga melakukan hal keji itu."
"Paman sopan ya kalau bicara sama ibu, paman itu disini hanya numpang, jadi harus tahu diri, memang paman adalah adik ayah tapi bukan dalam arti paman begitu terhadap ibu, pasti ibu punya alasan tersendiri untuk melakukan semua ini" ujar Lexza membelah sang ibu membuat paman Gibran makin emosi, sehingga dia langsung bicara kasar terhadapan Lexza membuat bu Anjani terkejut begitu juga yang lain.
"Diam kamu juga anak haram....kamu itu yang seharusnya tahu diri karena kamu bukan bagian dari keluarga ini seharusnya kamu yang pergi dari sini dan Dinda yang tinggal disini. Berani sekalian kamu mengatakan aku tidak berhak apa-apa disini he..Lexza coba tanya dulu gih sama ibu mu siapa kamu sebenarnya biar kamu tidak semena- mena bicara begitu dengan aku"
"Dan kamu kak Anjani semua rahasia terbesar kamu ada di tanganku, selama ini aku diam bukan karena menghargai kamu tapi masih ada mas Evan, namun sekarang mas Evan sudah tidak ada jadi tidak perlu ada yang ditutupi."
"Deg....."perkataan paman Gibran membuat jantung Lexza seperti di tusuk ribuan belati. Dan juga Lexza langsung menatap tajam ke arah paman Gibran untuk meminta jawaban namun, paman Gibran diam seribu bahasa seolah engan untuk mengatakan apa-apa, kalau yang lain sangat terkejut apalagi Dea Dan Kenedy suami Lexza.
"Ma, maksud paman apa bicara seperti itu dengan menyebutkan aku ini anak haram...aku ini bukan anak haram paman, aku anak ayah dan ibu jadi paman jangan sembarangan berbicara omong kosong itu, jawab paman ini yang kedua kalinya paman bicara seperti itu." suara Lexza ikut meninggi
__ADS_1
Dengan santai paman Gibran tertawa melihat bu Anjani berkeringat dingin dan ketakutan, bisa jadi sebentar lagi Lexza tahu jatih dirinya, jadi akan membencinya.
"Haha Lexza...Lexza selama ini kamu nyaman sekali hidup di tengah-tengah keluarga Winata yang kamu pikir ini adalah keluarga kamu yang sesunggunya, tidak Lexza jadi kamu jangan berbangga diri disini karena kamu itu hanya tumbal ibumu, tanya saja sama ibu kamu, siapa kamu sebenarnya ." ujar paman
"Paman....sudah cukup tidak perlu dilanjutkan lagi, paman tidak kasian melihat kak Lexza menangis begitu " ujar Dea sambil memeluk Lexza
"Paman Maksud paman apa ya, bicara seperti itu terhadap istriku, kenapa paman tengah itu mengatakan seperti itu kenapa istriku." tanya Kenedy.
"Kamu juga sama Kenedy kalian disini hanya di peralat kaya kerbo yang dicucuk hidung aja"
"Lexza jangan terpancing emosi dengan paman kamu ini, dia sudah gila jadi sengaja begitu agar kita ini terpecah belah, ingat Lexza kamu adalah anak pertama ayah dan ibu jadi tidak perlu kamu mendengar perkataan paman kamu yang sudah mulai stres ini."
Jawaban bu Anjani tidak membuat hati Lexza membaik karena ini bukan kali pertama paman Gibran menyinggung soal Lexza, jadi Lexza merasa kalau memang ibunya patut di curigai karena setiap kali paman Gibran bicara begitu sang ibu ketakutan.
Kalau tidak ada apa-apa tidak mungkin sang ibu jadi ketakutan kalau pas berhadapan dengan paman Gibran.
Ibu sepertinya memang punya rahasia besar tentang aku tapi apa ya, kenapa paman Gibran menyebut aku sebagai anak haram? apa iya, aku ini anak haram dan bukan anak kandung ayah Evan, tidak mungkin karena selama masa hidup ayah tidak pernah sekali pun menyinggung soal siapa aku kalau memang benar aku bukan anak kandungnya.
__ADS_1
Atau jangan-jangan sebelum ibu menikah dengan ayah Evan, ibu sudah mengandung aku dan aku anak bawaan sama ibu, aku harus mencari tahu, biarlah sekarang aku pura-pura percaya sama ibu aja agar rencanaku bisa berjalan dengan baik.
Lexza merencanakan akan tes DNAnya dengan sang ayah karena kebetulan waktu itu, diam-diam Lexza memotong rambut ayahnya pas ketiduran di sofa jadi ia menyimpan awalnya Lexza dan Dea rencana diam-diam mau tes DNA Dinda dengan ayah Evan makanya mereka menyimpan.
Bu Anjani kalang kabut karena sekarang banyak masalah yang datang silih berganti dari identitas Lexza sudah hampir terbongkar, sekarang pengeluaran uang tak terdunga dari bank sebesar itu membuat bu Anjani tidak bisa tenang. Dia harus mulai dari mana dulu, pikiran bu Anjani kacau saat ini dia harus berpikir tenang agar semua masalah bisa teratasi.
Bu Anjani bangkit dari duduknya dan tanpa sepata katapun ia berlalu pergi dan langsung masuk kedalam kamar, padahal tadi Lexza Dan Kenedy sudah bilang kalau mereka akan berangkat ke lokasi kampaye tapi tidak ada suport dari bu Anjani. Membuat hati Lexza sakit begitu juga Kenedy.
"Kenapa jadi begini sih setelah Dinda dan ayah tidak ada disini keluarga ini jadi kacau, tidak ada lagi kebahagiaan di tempat ini atau kami pindah aja dari sini, ternyata benar yang di katakan Dinda waktu itu, kalau keluarga ini akan hancur perlahan" gumam Dea dalam hati.
"Lihat aja Anjani aku akan membongkar semua kebusukanmu, bisa jadi mas Evan sudah mengetahui kebusukan mu sehingga,as Evan meninggal karena sudah tidak kuat menghadapi manusia serakah seperti kamu itu Anjani." gumam paman Evan dalam hati
"Aku akan membuat Lexza dan Dea membencimu dan tidak ada satu orangpun yang berpihak sama kamu agar kamu tahu bahwa bukan kamu yang berkuasa disini, selama ini kamu yang selalu menjadi pahlawan rumah ini, tapi tidak untuk kedepannya aku pastikan kamu akan menanggung semuanya" gumam paman Gibran dalam hati.
Sedangkan bu Anjani yang masuk kedalam kamar pikirannya tidak tenang ia mondar mandir seperti orang ketakutan, bukan hanya itu dia juga berpikir kalau yang berani mengambil uang itu pasti suaminya yaitu Tuan Evan, kalau itu benar berarti Tuan Evan masih hidup dan kemungkinan dia sudah tahu rencananya selama ini sehingga ia merekayasa kematiannya.
"Aduh gimana ini kalau benar mas Evan masih hidup bisa mampus aku, pasti dia akan kembali kesini dan akan selidiki siapa yang berani mencoba membunuhnya.
__ADS_1