
Akhirnya aku memutuskan bawah Dinda pergi untuk makan diretoran biar isi perut dulu yang sudah bunyi-bunyi dari tadi minta di berikan makan karena cacing-cacing sudah melompat-lompat didalam.
"Sayang kamu gak ingin pergi jalan-jalan kemana begitu, kalau kamu mau boleh kok mas ijinkan kamu pergi tapi jangan sendiri, kamu boleh pergi tapi dengan Ririn dan juga pengawal biar kamu aman sayang mas tidak mau kamu kenapa-kenapa." ujarku
"Mas siapa juga yang mau mencelakai aku mas, gak ada palingan yang mau mencelakai aku hanya keluarga Winata tapi mas lihat sendiri mereka sekarang lagi pada tidak berdaya. Aku tidak perna merasa punya musu mas jadi untuk apa aku harus di kawal lagian aku bisa jaga diri."
"Hmmm sayang kamu sadar tidak sekarang ini kamu sudah jadi bagian dari keluarga Adinata orang terkaya di Negara ini, jadi jangan salah sayang banyak musu ayah bukan karena ayah jahat tapi banyak musu yang mengincar harta dan kekayaan ayah."
" Dengan cara mencelakai orang-orang yang ada dekat dengan ayah cukup satu kali mas kehilangan sayang jangan yang kedua kalinya tolong ya dengarkan mas jangan buat mas kuwatir" ujarku memohon aku harap Dinda mengerti maksudku karena memang apa yang Dinda katakan itu benar dia tidak punya musu tapi dia tidak menyadari dia istri siapa.
Jujur aku berkata seperti itu hatiku sangat sakit rasanya pengen menangis tapi ini belum saatnya Dinda tahu semua tentang keluargaku, tapi aku janji akan jujur agar Dinda nanti tidak salah paham karena aku tahu lambat laun ayah dan ibu akan ceritakan semua ke Dinda. atku yakin ibu gak sanggup mengingat kembali masa kelam itu tapi ayah pasti akan cerita.
Rasanya aku tidak bisa menahan air mataku akhirnya air mataku mengalir begitu saja aku memang masih lemah dalam mengingat tentang apa yang terjadi dengan kakak Hawari.
Dia satu-satunya kakak kesayanganku dia tidak perna sekalipun marsh padaku, makanya saat aku kehilangan dia rasanya aku pengen gila, dan dari situlah aku mulai masuk pergaulan bebas.
Oh ya tunggu dulu kok aku baru sadar kalau ternyata wajah Lexza mirip sekali dengan seseorang yang sangat aku kenal, tapi apa iya itu anaknya semoga saja tidak, kalau gak aku akan membunuh Lexza kalau itu memang benar.
Karena perkataanku tadi selalu memicuh pertanyaan dari Dinda apalagi dia melihat aku menangis membuatnya curiga menimbulkan tanda tanya besar dalam hatinya, aku kok jadi kepikiran terus dengan Lexza ya ah jangan sampe lah itu terjadi.
__ADS_1
Dinda tidak tahu apa yang membuat aku menangis tapi dia memelukku dengan penuh kasih sayang sembari berkata" mas jika ada yang ingin kamu katakan sama aku katakanlah namun jika mas belum siap jangan di paksa jika itu hanya menyakiti hatimu mas, aku tahu pasti ini bukan masalah kecil, karena kalau masalah kecil tidak mungkin membuat suamiku sakit hati dan suami yang tanpan ini mengeluarkan air mata."
"Dinda tidak tahu seperti apa masalalu dari keluarga Adinata mas, tapi apapun itu aku siap hadapi mari kita hadapi sama-sama aku selalu ada bersama kamu mas kamu kuat ya jangan sedih begini dong masa suamiku yang terlihat gentle menangis gini hahah."
Ya ampun Dinda kamu bisa aja ya buat moodku jadi kembali baik padahal tadi hanya ingat kembali masa lalu aja hatiku hancur memang kamu penyemangatku.
Aku memandang Dinda yang senyum tulus kepadaku sambil memelukku membuat aku susa bernafas apalagi aku sambil nyetir.
"Sayang kamu tidak mau kan kalau kita celaka karena pelukan kamu yang sangat kencang ini mas bisa kehabisan nafas loh"
"Hahaha maaf mas lagian aku gemes banget lihat mas begitu makin imut jadi tidak pengen lepas pelukan ini" ujar Dinda
"Sayang ada hal besar yang belum kamu ketahui dari keluarga Adinata, tapi kamu sabar ya ada saat kamu akan tahu semua rahasia dari keluarga Adinata, karena sekarang kamu sudah jadi bagian dari keluarga Adinata jadi apapun rahasia nanti tentang keluarga Adinata kamu pasti akan segerah tahu, tapi kamu harus tahu satu hal mas tidak mau kehilangan kamu jadi boleh kah sayang kamu nurut sama mas"
" Baiklah mas aku akan nurut apa kata mas dan ibu sama ayah, tapi soal masalah dalam keluarga itu tidak masalah bagiku mas kalau tidak di kasih tahu karena mungkin itu sangat menyakitkan untuk mas, ayah dan ibu aku tidak mau menyakiti hati orang yang sangat aku sayangi."
"Sayang boleh mas tanya sesuatu tapi sayang jangan tersinggung ya ini mas tanya serius"
Dinda menatap aku dengan tatapan yang tidak bisa di artikan namun tiba-tiba dia tersenyum sembari berkata" mas apa yang mau mas tanyakan silakan kalau memang aku bisa menjawab kenapa gak yang penting pertanyaan mas tidak ane-ane saja."
__ADS_1
Astaga istriku ini kadang mengemaskan sekali wajah lucunya kenapa kalau aku lihat dia begini pengen aku terkam aja.
"Sayang kamu tahu gak siapa ayah kandungnya Lexza tadi aku baru perhatikan wajah Lexza agak mirip sekali dengan seseorang, tapi semoga aku yang salah karena ada kok manusia memiliki wajah yang mirip walaupun tidak ada hubungan darah. Tapi kalau sayang tidak tahu tidak usa dipikirkan mas hanya penasaran saja"
"Mas bagaimana aku tahu ayah kandung Lexza kalau soal jati dirinya saja aku baru tahu setelah mas ceritakan sama aku, kenapa mas tidak cari tahu saja lewat orang kepercayaan mas bisa jadi orang kepercayaan mas tahu siapa ayah kandung Lexza."
Astaga bodoh banget sih aku kenapa gak kepikiran kesitu tinggal bicara saja sama pak Erik, biar pak Erik cari tahu siapa ayah kandung Lexza aku yakin banget pastk Lexza ada hubungan dengan manusia itu.
"Ya ampun sayang kenapa mas tidak berpikir sampai disitu benar juga yang kamu katakan sayang, nanti mas akan minta tolong sama pak Erik saja untuk menyelidiki siapa ayah kandung Lexza mas tidak bermaksud apa-apa hanya saja penaran aja siapa ayah kandung Lexza."
Dalam perjalanan aku dan Dinda ke restoran kami berdua bahas banyak hal, aku selalu waspada ekstra menjaga Dinda jangan sampai aku gegaba seperti dulu ayah gegaba menjaga kakak.
Tidak lama kemudian kami berdua sampai di restoran dan aku segerah memarkirkan mobil dan merangkul Dinda dan masuk kedalam restoras, saat kami masuk semua mata tertuju kepada kami berdua tapi aku dan Dinda cuek aja aku mengajak Dinda masuk dalam ruangan private agar tidak ada gangguan saat kami makan karena disini rame sekali takutnya Dinda tidak nyaman.
"Yuk sayang kita makan di sana saja jangan disini rame banget kalau di ruang private pasti aman dan kita makan juga tenang dan santai, biarkan pengawal makan disini nanti mas menyuruh manajer untuk siapkan makanan untuk mereka karena mereka juga harus makan"
"Mana-mana aja sih mas aku ikut aja mau didalam juga boleh mau diluar sini juga boleh, karena aku rasa aman kok semuanya, dan memang pengawal harus berikan mereka makanan yang enak dan sehat agar mereka bisa kuat karena mereka yang selalu menjaga kita, karena perasaanku mengatakan kita akan menghadapi sebuah masalah yang besar. Jadi sebelum itu terjadi kita harus memiliki stamina yang kuat "
Ha..apa maksud dari kata-kata Dinda tadi apakah kami akan diserang oleh musu.?
__ADS_1