
Dalam perjalanan pulang kerumah, Gama dan Asisten Arfan ribut aja kerjanya aku sampai heran entah apa yang mereka lakukan dibelakangku sampai brisik banget. Saat aku menoleh kebelakang ternyata mereka berdua sibuk dengan hp entah apa yang mereka lihat sampai brisik.
"Gama..apa yang kalian lakukan di belakang sih kok brising banget, orang lagi tidur jangan brisik awas kalau sampai dirumah kalian berdua masih brisik aku kurang kalian dengan penjahat yang di penjara bawah tanah." ujarku
"Ah kakak Dava mah suka kepo deh...orang tua diam saja ini urusan anak mudah, kalau kakak masukan kami ke penjarah bawah tanah Gama tinggal lapor aja sama kakar ipar dan bibi hehe" astaga benar-benar anak ini masa dia bilang aku orang tua, dia tidak lihat apa gimana umur ku saja belum kepala tiga aku masih tanpan masih muda enak saja dibilang orang tua. Ah bodoh amat lebih baik aku lihat hp ku aja dari tadi aku belum lihat hp karena terburu-buru tadi aku ambil hp jadi tidak lihat juga mungkin ada masuk pesan.
Aku keluarkan hp dari saku jaketku, astaga ternyata aku salah ambil hp aku bawah hpnya Dinda, berarti hpku tinggal di rumah tapi tidak masalah lagian tidak ada rahasia apapun di hp itu jadi untuk apa aku harus takut biarkan saja aku buka hp Dinda aja.
Ternyata banyak pesan dari Sabrina menanyakan kabar Dinda, tapi ada yang menarik perhatianku adalah ada dua pesan masuk satu dari Lexza dan satu dari nomor baru aku menaikan kedua alisku karena aku penasaran akhirnya aku buka pesan dari nomor baru terlebih dulu, namun betapa terkejutnya saat aku baca pesan itu.
("Kamu harus mati!!!!!") Siapa ini yang berani wa seperti ini ke hp istriku aku, cepat-cepat minta pinjam hp Gama untuk simpan nomornya karena aku mau lacak nomor ini aku juga beritahu ayah ini ancaman bukan main-main.
"Gama kakak minta pinjam hp kamu bentar boleh?" Gama yang lantas mau berikan hpnya, aku langsung bilang tidak perlu tapi biar dia ngetik aja nomornya terus simpan.
"Tidak perlu Gama, ketik saja nomor ini dan simpan ya jangan sampai kamu tidak simpan kakak mau hapus dari sini soalnya, oh ya. Ayah ini ada nomor baru wa Dinda dia mengancam Dinda ayah kira-kira siapa ya" ujarku.
"Mana? Sini ayah lihat" ayah langsung mengambil hpnya dan melihatnya, ayah memang terkejut tapi tetap tenang.
__ADS_1
"Siapa kecoak kecil ini yang berani menganggu putryku, mereka belum tahu seperti apa keganasanya. Ayah sih tidak keberatan kalau dia bertarung hanya saja dia lagi hamil kalau sudah melahirkan ayah berikan kebebasan kepadanya untuk menghajar siapa saja yang berani menganggunya mau cari masalah saja."
"Terus bagaimana ayah, apa Dava hapus saja pesan ini atau biarkan saja" tanyaku pada ayah takutnya setelah aku hapus justru ayah bilang tidak usa.
"Tidak perlu hapus biarkan saja biar Dinda bacah agar dia tahu kalau bahaya yang selalu mengincarnya, supaya saat dia kemana pas kamu tidak ada dia selalu waspada, ayah tahu putry ayah hebat biarpun dia hamil tapi itu tidak akan pengaruh dengan kekuatannya. Tapi ambil saja nomornya biar kita lacak siapa manusia tidak beradab itu" benar kata ayah biarkan saja agar istriku tahu aja yang ingin mencelakainya.
Aku kembali membuka pasan dari Lexza ternyata dia meminta Dinda untuk ketemu untuk apa ya dia meminta Dinda untuk ketemu, apakah dia mau tanya kenapa istriku klarifikasih begitu kalau dia minta ketemuan tidak masalah aku akan ijinkan istriku pergi untuk ketemu dengannya. Tapi aku harus ikut aku tidak mau terjadi sesuatu dengan istriku lagi aku tahu istriku bisa melawan tapi aku sebagai suami harus siaga karena istriku lagi hamil aku tidak mau hal yang dulu kembali terulang lagi.
"Ayah, Lexza minta ketemuan dengan Dinda besok bagaimana Dava ijinkan tidak? Dinda ketemu dengannya, Dava takut nanti Lexza jahatin Dinda yah," ujarku bukannya aku tidak bisa ambil keputusan sendiri tapi sekarang posisinya aku ada sama ayah jadi tidak masalah sekali-sekali minta pendapat ayah.
Tapi kalau ayah lihat Dinda sekarang jauh sekali perbedaannya dia tidak berikan toleransi kepada orang yang ingin kencelakainya, biarkan dia pergi menemui kakak tirinya itu tapi kamu harus ikut karena Dinda lagi hamil jadi kadang karena pengaruh hormon moodnya Dinda beruba-ubah pas baik moodnya Lexza selamat, kalau pas buruk ayah takut Dinda membunuh Lexza, kamu tahu sendiri sekarang sebenci apa Dinda sama Lexza"
"Iya ayah Dava paham, kalau begitu besok Dava temani Dinda pergi ketemu dengan Lexza" karena kami keasyikan ngobrol jadi tidak terasa kami sudah sampai mobil memasuki gerbang setelah mobil berhenti dengan sempurna kami keluar dari mobil dan gegas masuk kedalam rumah.
Ternyata kami sampai pas jam tiga aku harap-harap Dinda masih tidur dengan pelan aku membuka di pintu dan langsung masuk kedalam ternyata istriku masih pules banget tidurnya untung Dinda belum bangun, jadi aku bebas dari banyak pertanyaan aku segerah ganti pakian dan lap badan karena sudah sangat ngantuk aku langsung naik ke ranjang dan berikan satu kecupan di kening istriku dan aku ikut istrahat.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya sekitar setengah tujuh baru aku bisa bukan mata, seperti biasa hal pertama yang aku cari adalah istriku aku harus memeriksa samping ku ada atau tidak istriku, ternyata aku tidak mendapatinya di sampingku dia pasti sudah mandi seperti biasanya, aku bangun dari tidurku dan masih duduk di pinggir ranjang.
Cekrekkk!
Pintu kamar mandi terbuka dan ternyata istri keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang fress dan segar tambah makin cantik saja.
"Sayang kamu sudah bangun kok mandi tidak bangunin mas sih sayang, sudah sering loh sayang mandi tidak ajak mas"
"Maaf mas, Dinda tidak tega bangunin mas soalnya mas pules banget tidurnya kayak baru tidur makanya kelihatan nyenyak sekali"
Hmmm untung Dinda tidak curiga kalau aku memang baru tidur sekitar jam tiga, tapi kalau aku bilang baru tidur nanti di tanya lagi kenapa tidak tidur dan dari mana makin ribet.
"Lain kali bangunin mas ya sayang jangan mandi sendiri begitu, sini biar mas keringkan rambutmu ini masih basah" aku bantu keringkan rambut Dinda nanti selesai baru aku kasih tahu kalau Lexza minta ketemuan, aku mau lihat seperti apa reaksinya, belum tentu Dinda mau ketemu dengan Lexza.
"Mas jadikan hari ini pihak bank ke rumah untuk menyitah semua asetnya Dinda? penasaran seperti apa reaksi perempuan itu saat pihak bank datang pasti dia histeris hehehe Dinda bisa bayangin wajah panik perempuan ular itu, biar tahu rasa ibu sama anak entah mereka tinggal dimana semoga mereka tidak menganggu Dinda saja Dinda tidak akan mau menerima mereka."
Waduh bagaimana aku kasih tahu Dinda ya kalau Lexza minta ketemuan
__ADS_1