Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
365


__ADS_3

Mobil langsung berbelok masuk ke tengah hutan, dan di tengah-tengah hutan itu ada sebuah lapangan luas. Kami langsung parkir mobil di tengah hutan agar tidak ada yang melihat kendaraan kami, ternyata semua sudah sampai dan memunggu kedatangan aku, bahkan Dinda dan asisten Arfan juga sudah sampai.


Sebenar kami bersamaan sampai karena Dinda masih di dalam mobil belum turun, sesuai dengan pesanku kalau Dinda harus nutup mata dan tetap didalam mobil tunggu sampai aku datang. Jadi Dinda juha menurut saja menunggu sampai aku datang.


Setelah aku turun dari mobil barulah aku menuntun Dinda keluar dari mobil dan membawahnya ke tengah lapangan, sedangkan pengawal sudah menjaga sekeliling dari keluarga yang hadir, ayah, Gama, paman, Rafa, mas Tahir dan kakak Dea. Masih ada beberapa lagi yang aku tidak sebut satu persatu.


"Sayang, turunlah ada yang ingin mas tunjukan sama kamu," ujarku Dinda yang mendengar suaraku tersenyum.


"Mas, sudah datang ada apa sih sebenarnya, kita lagi dimana sekarang, dan untuk apa kita datang kesini"? tanya Dinda lagi.


"Makanya turunlah biar kami tahu, kenapa kita datang kesini hari ini kamu akan bermain sepuas kamu, mas akan bebaskan kamu untuk meluapkan emosi kamu disini sayang.


Dinda keluar dari dalam mobil dan kami berdiri mengelilingi manusia penghianat yang ada di tengah-tengah kami, Marlan dan Lexza beserta dengan kedua orang tua Marlan dan adiknya, sebenarnya aku juga punya hati jadi tidak ingin memperlakukan kedua orang tuanya Marlan seperti ini, hanya saja aku ingin memberikan pelajaran kepadanya.


Jadi malam dimana Marlan tertangkap, aku langsung mengirim anak buah ke kampung halaman Marlan untuk membawah orang tua dan adiknya kesini, begitu juga Aisya dan kedua orang tuanya. Sebenarnya mereka juga ada disini tapi aku ingin menyiksa mereka berbedah dari Lexza dan Marlan sehingga aku pisahkan mereka dari kedua orang ini, karena masih ada waktu aku ingin menyiksa ketiga orang itu dengan semua anak buahnya di tengah hutan, saat pembantain terjadi.


"Kamu sudah siap sayang? kalau sudah bukan penutup matanya" tanya ku.

__ADS_1


"Sudah mas" jawabnya.


Aku langsung membuka penutup mata Dinda dan seketika mata Dinda membulat sempurna saat melihat Lexza dan Marlan beserta orang tua dan adiknya Marlan.


"Kamu menyukai hadia itu sayang"? Tanyaku.


"Hadia yang paling istimewah mas, karena sudah lama Dinda tidak bermain seharusnya tidak perlu gantung dan rantai mereka begini mas, tapi tidak maslah Dinda suka." ujar Dinda senyum sarkas.


Dinda langsung berjalan mendekati Lexza yang sementara di belenggu dengan rantai di tangan, baru di ikat di dua tiang yang sudah di siapkan oleh pengawal. Mulutnya tersumpel dan wajahnya juga di tutup sehingga dia tidak tahu dimana dia berada saat ini.


Prokkkl....prokkk prokkk!


Baru saja di buka Lexza langsung memberontak dan keluarkat kata-kata mutiara dari mulutnya, tapi Dinda tidak membalas justru Dinda tersenyum dan makin mendelatinya.


"Hai kakak Lexza yang paling baik dan paling cantik, sebenarnya Dinda tidak sudih memanggil kamu dengan sebutan kakak karena kamu tidak pantas mendapatkan itu. Tapi saat ini Dinda masih berbaik hati jadi sebelum Dinda mengirim kamu untuk bertemu dengan ayah kamu itu, Dinda memanggil kamu dengan kakak, walaupun dari dulu kamu sangat kejam sama Dinda tapi tidak masalah. Sebenarnya Dinda tidak ingin melalukan ini terhadap kamu kakak ku yang paling cantik, tapi karena kamu sudah berani masuk ke ruangan Dinda dan hampir sedikit mencelakai anak dan juga Dinda.


Kamu tidak pantas di biarkan hidup, karena nanti kamu menjadi perusak bangsa ini dan menjadi penyakit bagi Dinda dan keluarga, cobak kehidupan kamu dulu tidak ikutan bejat ibu Anjani mungkin sampai sekarang kehidupan persaudaraan kita masih harmonis, biarpun kamu bukan saudara kandung kami Dinda dan kakak Dea."

__ADS_1


"Dinda....! Tolong lepaskan aku, kamu kenapa begitu kejam Dinda dan kamu juga Dea ternyata seperti ini kebhsukan kamu, aku pikir kamu adik yang baik tapi ternyata kamu juga sekongkol dengan ayah Evan dan Dinda terus kalian nikahkan ayah dengan perempuan gatal itu." ujar Lexza, sudah di gantung pun Lexza tidak takut sama sekali justru Lexza mengeluarkan kata-kata mutiara untuk Dinda dan kakak Dea.


"Jaga mulut kotor kamu ya Lexza! Jangan asal bicara jika kamu tidak mengenal siapa ibu Riska, dia perempuan baik-baik dan terhormat sedamgkan ibu Anjani tidak bedah jauh sifatnya dari kamu. Kalian berdua sama-sama jahat" ujar Dinda.


"Hehehe tidak perlu berteriak begitu Dinda penjahat kok teriak penjahat, apa bedahnya kamu dan suami kamu dengan aku dan ibuku, aku rasa kita sama deh...justru kalian yang sangat kejam membunuh ayah kandungku yang jadi korban fitnah ayah mertua kamu kurang ajar, kamu membunuh ayah ku tanpa ada rasa hati kemanusiaan dan tanpa dia melakukan kesalaha..ingat Dinda dosa ayah ku kamu dan keluarga kamu menanggung turun temurun."


Ternyata penjelasanku waktu itu kepada Lexza tentang kejahatan ayahnya dia tidak percaya, aku pikir sia percaya dengan penjelasan ku. Beginilah jadinya kalau bicara dengan orang bodoh kita makin bodoh, biarlah ayah sendiri yang menjelaskan semuanya kepada Lexza biar dia meninggal pun dia tidak menyimpan dendam karena dia sudah tahu kesalahannya.


"Hehehe...dari segi mana lah kamu menilai aku seorang kejam sama seperti ibu dan kamu, perasaan aku melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ayah kamu perbuat, bukankah nyawah ganti nyawah? Ayah kamu membunuh kakak ipar aku yang tidak bersalah dengan cara yang sadis jadi aku akan membuat kamu merasakan apa yang mbak Hawari rasakan, aku tahu ibu kamu sudah mendoktrin kamu sedemikian rupah makanya kamu berpikir kalau kami melakukan itu tanpa tahu kesalahan apa yang sudah ayah kamu lakukan."


"Apa pun itu tolong lepaskan aku jangan jadi pengecut disitu, karena aku pastikan akan membunuh kalian semua, lepaskan aku Dava kurang ajar, Dinda, Dea cepat lepaskan aku. Mana ayah Winata aku tahu ayah Winata pasti baik jadi aku ingin ayah Winata ada disini untuk menolong aku, tolong panggilkan ayah mana? Argah....sakit...lepaskan..." ujar Lexza, sambil memberontak tapi parcuma karena tangannya di rantai pakek rantai besi jadi semakin dia bergerak, semakin kencang ikatan dan makin sakit membuat Lexza menjerit kesakitan.


Aku dan Dinda hanya pandang sambil tersenyum, tapi kemana Kenedy ya aku pengen tahu kemana dia sehingga selama Lexza di kurung sampai mau di eksekusi, Kenedy tanpak tidak kelihatan.


Oh ya, author minta pendapat para pembacah, apakah Lexza di eksekusi aja atau di penjarah jangan lupa komen.


*****

__ADS_1


Maaf sudah hampir satu bulan lebih, saya tidak up dengan baik, karena jujur saya di kampung jadi sinyal jelek sekali, jangankan up baca komen aja tidak perna. Karena buka aplikasih novel aja harus tunggu berjam-jam dan cari sinyal yang bagus.


Tidak masalah jika saya di marahin asal jangan pakek kata-kata kotor.


__ADS_2