Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
61:61


__ADS_3

Setelah Dea masuk kedalam kamar ia tidak menemukan bu Anjani hanya saja ia melihat buku yang di baca bu Anjani ada di atas tempat tidur Dea tidak tahu kalau bu Anjani terjatuh dan sudah terkapar di sisi ranjang sebelah kanan.


Dea melihat jendela terbuka lebar begitu juga gorden tidak di tutup, Dea gegas ke arah Jendelah untuk memeriksa siapa tahu ibunya terjatuh kesana karena suara teriakan tadi seperti orang merengang nyawa.


"Ya ampun kenapa sih ibu kebiasaan deh sudah malam begini juga bukannya tutup jendelannya justru di buka lebar" Dea mengerutu sambil berjalan ke arah jendelah


Dea yang hendak gegas ke depan jendelah ekor matanya tidak sengaja menangkap kaki bu Anjani yang berseloroh di lantai.


"Ibu...." teriak Dea histeris ia mendekat dan betapa terkejutnya ia melihat ibunya sudah bersimbah darah dan terkapar di lantai membuatnya syok dan hampir sedikit ia terjatuh.


Dea berlari keluar sambil berteriak memanggil nama seisi rumahnya.


"Tolong kak Lexza, paman Gibran tolong, mas....tolong ibu... Mas tolong..."


Teriak Dea. Sambil menangis ia masuk kembali kedalan kamar dan memengang denyut nadi bu Anjani, ia mau memastikan apakah bu Anjani sudah mati atau masih hidup.


Teriakan Dea berhasil membuat semua penhuni rumah gempar dsn panik.


mereka panik dan berlarian ke lantai atas dimana bu Anjani berada


Setelah Dea cek ternyata bu Anjani masih hidup bersamaan dengan itu semua isi rumah berkerumun masuk kedalam kamar bukan hanya keluarga Winata tapi semua pelayan dan juga pengawal ikut panik, yang tidak panik hanya dia orang yaitu Maya dan pengawal utusan pak Erik.


Ini bersejara bagi keluarga Winata gimana bu Anjani mengalami insiden yang tidak terduga


"Astaga ibu...."teriak Lexza saat tiba didalam kamar dan menyaksikan sendiri nu Anjani tergeletak di lantai. Dan yang lain juga ikut panik, terutama Lexza dan Dea sudah menangis histeris, sampai Dea pingsan melihat ibunya terbujur di lantai.


"Ibu.....bangun bu....ibu kenapa" menangis Lexza.

__ADS_1


Karena Dea pingsan jadi Tahir terpaksa mengurus dulu istrinya sedangkan Kenedy dan seorang pengawal langsung mengangkat tubuh bu Anjani dan membawah kedalam mobil pribadi karena kalau telpon ambulans takutnya kelamaan, sebenarnya keluarga Winata juga ada dokter pribadi tapi lebih baik di bawah ke rumah sakit karena luka bu Anjani tepat di lengan kanannya itu sangat serius.


"Cepat angkat ibu dan kita bawah kerumah sakit jangan sampai ibu kehabisan darah, kita terlambat sedikit saja, bisa lewat." ujar Kenedy panik


Lexza duduk di kursi belakang menemani bu Anjani sedangkan Kenedy yang bawah mobil, ada beberapa pengawal ikut dengan mereka dan tidak lupa juga dua orang pelayan turut hadir salah satunya adalah maya. Sedangkan Dea sudah di bawah oleh Tahir kedalam kamar dan di olesih minyak kayu putih di hidungnya.


Setelah Dea sadar ia kembali histeris dan meminta kepada suaminya agar mereka sengerah menyusul ke rumah sakit. Namun sebelum mereka berangkat menyusul yang lain ke rumah sakit, Tahir meminta pelayan yang masih tinggal untuk membersihkan kamar bu Anjani sampai bersih.


"Pelayan....."Panggil Tahir tidak lama kemudian semua pelayan datang menghampiri Tahir yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Iya Den" jawab pelayan.


"Sekarang kalian masuk ke kamar nyonya dan bersihkan kamarnya sampai bersih jangan sampai masih bauh amis ya, bagaimana caranya kalian harus membuat kamar itu sewangi mungkin, dan selama kami pergi, kalian tetap disini jangan kemana-mana"


"Baik Den" ujar pelayan berlalu pergi, setelah itu Dea bersiap dan menyusul ibunya ke rumah sakit.


Lagian ini sudah malam jadi jalanan sudah mulai sepih. Jadi itu juga mempermuda untuk mempercepat laju mobilnya, hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit ternyata dokter pribadi keluarga Winata sudah menunggu di loby rumah sakit dan langsung di bawah bu Anjani kedalam ruang IGD.


Untuk mendapatkan penanganan intensif, setelah sampai di depan pintu ruangan Lexza lantas mau masuk kedalam tapi langsung di cegah oleh dokter.


"Nona Lexza mohon tunggu diluar, biarkan kami memeriksan nyonya Winata dulu, untuk memastikan apa yang terjadi"


Terpaksa Lexza juga menurut dan ia duduk di kursi yang sudah di sediakan di ruang tunggu, Lexza menangis sejadi-jadinya ia merasa bersalah karena sebelum ibunya jatuh mereka berdua sempat berdebat.


Kebedy yang melihat istrinya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpah ibunya membuat merasa sedih, ia mendekap istrinya ke dada bidangnya dan memberikan kekuatan kepadanya, agar Lexza bisa tenang.


"Sayang kamu tenang ya jangan nangis terus begini, nanti kamu sakit loh..lihat Dea tadi mungkin karena dia syok sampai jatuh pingsan, mas tidak mau kamu seprti itu kamu harus menahan diri jangan sampai kamu drop."

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang mas, sedangkan kita tidak tahu apa yang terjadi terhadap ibu, kenapa banyak sekali darah mengalir begitu, apakah ibu ingin bunuh diri karena banyak pikiran sehingga ibu melukai tubuhnya." Tanya Lexza.


"Jangan berpikir seperti itu dulu sayang, kita tunggu penjelasan dokter nanti, biar kita tahu apa yang terjadi, karena mas lihat sepertinya luka yang ibu alami ada di lengan sebelah kanan ibu itu bukan seperti kena benda tajam."


"Mas siapa yang pergi lapor polisi, atau tidak usa mas, takutnya ibu tidak mau lapor polisi."


"Kamu tenamg aja ya sayang sekarang mas sudah menelpon Tahir dan Dea untuk mereka ke polisi aja"


Kenedy mengambil hpnya dan langsung menghubungi Tahir untuk menyampaikan maksud menelpon Tahir, agar menyuruh Tahir ke kantor polisi melaporkan kejadian tang menimpah bu Anjani.


"Hallo Dea...kamu lagi dimana, kalau kamu lagi sama Tahir ya, lebih baik kalian langsung aja kek kantor polisi untuk membuat laporan polisi atas kasus yang menimpah ibu."


"Hallo juga kak ipar, iya rencana juga begitu tapi kita belum tahu kasusnya apa, tunggu dulu setelah selesai pemeriksaan dokter biar kita tahu kenapa ibu bisa seperti ini baru, kita lapor polisi jangan asal lapir saja."


"Yaudah kalau begitu cepatlah kesini soalnya ibu sudah masuk ke ruang IGD tapi belum ada tanda-tanda dokter keluar dari dalam"


Akhirnya Kenedy dan Tahir sepakat untuk tidak melaporkan dulu kasus ini ke kantor polisi karena belum tahu penyebabnya.


Tidak lama kemudia Dea dan Tahir sampai, Dea dan Lexza saling pelukan dan menangis, sejahat apapun bu Anjani terhadap mereka, namun bu Anjani tetap ibu yang mengandung mereka.


"Kak semoga ibu tidak kenapa-kenapa ya, aku takut terjadi seduatu terhadap ibu." ujar Dea


"Kamu tenang aja ya, kak yakin ibu baik-baik saja, cuman sampai sekarang kita belum tahu ibu kenapa bisa mengalami hal seperti itu"


Mereka tunggu diluar dengan perasaan yang was-was, takut terjadi sesuatu terhadap bu Anjani.


Tidak selang lama pintu rungan bu Anjani terbuka tampaklah dua dokter dan satu suster berdiri di sampai kedua dokter itu mereka bertiga berdiri di drpan pintu dengan wajah tengang.

__ADS_1


Semua yang melihat itu gegas menghampiri dokter dengan ekspresi panik.


__ADS_2