
Bu Anjani membulatkan matanya dengan sempurna karena bu Anjani pikir Dinda akan senang dengan kedatangannya ke perusahaan ku, dan akan membelanya karena karyawan itu menampar dan merendahkannya namun bu Anjani menelan rasa kecewa , karena Dinda tidak merasa empati sedikit pun terhadap bu Anjani, apa yang di pikirkan tidak sesuai ekspetasi tidak ada kata ramah di kamus Dinda untuk mengajak bu Anjani ikut naik keruangan aku.
Tapi bukan Anjani namanya kalau tidak punya seribu satu cara, bu Anjani mulai akting di depan semua karyawan seolah-olah dia ibu yang baik buat Dinda tapi Dinda anak yang durhaka terhadap dia. Aku saja yang melihat jadi muak.
"Dinda sayang kok kamu tegah banget sih bicara dengan ibu kandung kamu sendiri. Ibu salah apa sama kamu Dinda jika ibu salah ibu minta maaf tapi tolong jangan merendahkan harga diri ibu seperti ini, ibu juga mau bertemu dengan menantu ibu tolong" ibu Anjani pura-pura menangis begitu agar orang bersimpati sama dia, namun bukannya mendapatkan impati dari karyawan justru bu Anjani dapat hinaan dari karyawan.
"Lihat tuh perempuan itu jago sekali bersandiwara tadi sama resepsionis garang banget tapi sekarang justru dia merasa tersakiti oleh nona muda." ujar salah satu karyawan.
"Iya aku juga heran melihatnya banyak kali dramanya"
Dinda di antar oleh pengawal naik ke atas sedangkan pak Erik sudah sampai di bawah dan rencana pak Erik akan membawah bu Anjani keruangannya. Aku yang menyuruh pak Erik.
"Maaf nyonya ada keperluan apa ya datang kemari soalnya nyonya belum buat perjanjian untuk pertemuan hari ini, nyonya tahu sendiri kalau disini tidak buat janji maka tidak bisa menemui Tuan muda, saya tidak perna membuat janji dengam sekretaris Alea kalau hari ini myonya berkunjung kesini" ujar pak Erik ramah.
Awalnya bu Anjani pura-pura menangis saat mendengar suara pak Erik langsung nenoleh dan menatap pak Erik dengan tajam.
"Tuan Erik apakah seorang mertua datang berkunjung ke perusahaan menantunya harus buat perjanjian juga, saya datang kesini karena ingin bicara hal penting dengan menantu saya apakah sesulit itu ketemu dengannya? Lagian barusan saya melihat putry saya baru naik ke atas saya yakin tanpa buat janji juga dia langsung di ijinka, kepada saya tidak bisa apa bedahnya coba"
__ADS_1
"Nyonya disini selain dari keluarga Adinata harus membuat janji dulu baru bisa masuk, dan tadi nyonya bilang kenapa nona muda bisa masuk sedangkan nyonya tidak, dan nyonya juga menanyakan perbedaan, biar saya jelaskan ya nyonya. Jelas sangat bedah jauh nyonya, karena bukan bagian dari keluarga Adinata, sedangkan nona muda adalah satu, menantu kesayangan Tuan Adinata dan nyonya Adinata. Dua, kenapa nona bisa segampang itu masuk karena nona adalah istrinya Tuan muda masa nona muda harus buat janji. Jadi nyonya tidak menang dalam segi apapun paham kan nyonya."?
"Jelas sama dong saya ini ibu dari nona muda seharusnya kalian semua menghargai saya, bukan diperlakukan seperti ini dan satu lagi saya minta anda pecat karyawan rendahan ini karena berani menampar saya"
"Nyonya maaf sebelumnya, saya disini sudah puluhan tahun jadi saya tahu kualitas di perusahaan ini merekrut karyawan, mereka adalah karyawan-karyawan terpilih dari segi apapun dan disini kami lebih mementingkan karyawan yang memiliki attitude yang baik kepada siapun tamu yang datang, namun jika tamu yang datang tidak mrmiliki attitude yang baik dan tidak menghormati karyawan kami.
Maka mereka juga akan melakukan hal yang sama, ingat nyonya jika kita mau di hormati dan di hargai belajar terlebih dulu menghargai dan menghormati orang lain, biarpun menurut nyonya mereka hanya karyawan rendahan tapi meraka juga punya harga diri. Dan kami disini tidak segampang itu untuk pecat karyawan nyonya, lagian kenapa dengan resepsionis sehingga nyonya menyuruh saya harus memecatnya ?"
"Karyawan rendahan itu sudah berani merendahkan saya dan bahkan menampar saya, itu yang anda bilang kalau semua karyawan disini sangat berkualitaa saya rasa tidak, buktinya dia berani menampar saya"
Aku heran melihat Bu Anjani sangat emosi dengan pak Erik tapi bu Anjani masih berusaha sabar, karena kalau bu Anjani marah bisa jadi dia di usir secara paksa dari perusahaan. Bu Anjani tidak akan pulang kalau belum bertemu dengan aku dan Dinda secara langsung walaupun sudah di tolak berulang kali bu Anjani tidak akan menyerah.
"Ya sudah saya minta pak Erik antar saya ke ruangan menantu saya, karena saya perlu penting dengannya"
Tenang saja saja nyonya saya akan membawah nyonya kesana, Tuan muda menyuruh saya datang kesini untuk menjemput nyonya tapi kita di ruangan saya saja karena nona muda dan Tuan muda belum bisa di nganggu oleh siapa pun." Ujar.
"Tidak bisa saya langsung ke ruangan Dava saja ngapain di ruangan anda, saya bukan perlu dengan anda Tuan Erik tapi saya kesini mau ketemu dengan menantu saya."
__ADS_1
"Kalau nyonya masih ngotot seperti itu lebih baik nyonya tidak perlu naik ke atas, lebih baik nyonya pulang saja dari pada nyonya buat kekacauan disini, nyonya mau nurut tidak kalau tidak saya mau naik kembali ke atas masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."
Bu Anjani berpikir kalau nanti dia bersih keras tidak mau justru dia di usir jadi tidak jadi ketemu dengan aku lebih baik dia pura-pura saja ikut apa yang di katakan pak Erik nanti baru dia pergi ke ruangan aku.
Karena kalau pak Erik kembali naik ke atas pasti bu Anjani tidak bisa masuk kedalam lift karena harus ada kartu akses baru bisa.
"Baik kalau begitu saya ikut saja" ujar bu Anjani menatap tajam arah pak Erik.
Pak Erik mempersilahkan bu Anjani masuk kedalam lift dan mereka naik kelantai atas dimana letak ruangan Aku hanya khusus orang penting yang berhubungan dengan aku.
Saat keluar dari Lift bu Anjani pura-pura ke toilet hanya alasan saja untuk mengalihkan perhatian pak Erik, agar bu Anjani mau menerobos masuk ke ruangan aku karena bu Anjani penasaran Aki dan Dinda ngapain di ruang sampai tidak bisa di nganggu.
"Tuan Erik toiletnya dimana ya, saya mau ketoilet sebentar" ujar bu Anjani.
Ternyata kalau ke toilet harus melewati ruangan aku dan asisten Arfan jadi bu Anjani aku melihat matanya berselewran kesana kemarin bu Anjani memang dia pergi ke toliet tapi itu hanya modus aku bilang sama Dinda.
"Sayang cobak lihat deh perempuan itu sepertinya dia mau masuk kesini tapi tidak bisa makanya dia cari alasa." ujar ku Dinda hanya tersenyum.
__ADS_1