
Keenam anak buah om Angga masih diam belum memberikan komentar apa pun, tapi nyonya Angga sudah berteriak memaki om Angga dengan kata-kata hinaan dan makian. Ya istri sispa yang tidak sakit hati melihat sikap buruk suaminya yang begitu kejam.
"Semua ini karena keegoisan kamu, dasar suami tidak berguna lebih baik kamu meninggal saja, aku tidak sudih melihat manusia seperti kamu lagi di hadapan ku, kamu ayah yang paling buruk yang aku temui di dunia ini seorang ayah yang baik itu akan menjadi garda terdepan untuk menjaga dan menyayangi putry nya bukan justru menyakitinya." ujar nyonya Misel.
"Diam kamu perempuan sinting apa hak mu berbicara begitu sama suami kamu sendiri, bukankah selama ini kamu juga menikmati semua harta yang aku dapatkan? jadi lantas kesalahan apa yang aku berbuat terhdap kamu dan putry mu, kamu tidak lupa bukan bahwa Aisya dari dulu aku tidak perna menginginkan dia lahir kedunia, kamu mau tahu kenapa karena aku tidak perna menginginkan seorang anak perempuan sialan yang hanya merugikan aku saja. Aku ingin memiliki anak laki-laki tapi justru kamu tidak bisa melahirkan lagi, jadi aku terpaksa mencari perempuam di luar namun ternyata semuanya mata duitan mereka hanya ingin memanfaatkan aku saja tapi tidak mau melahirka.
Jadi kalau putry kamu meninggal itu artinya sudah takdirnya dia kembali ke pada sang penciptanya, jadi untuk apa kamu tangisi dia buang-buang energi aja deh. Lebih baik diam saja bikin pusing aja" Ujar om Angga.
"Hahaha....apa kamu bilang menikmati hasil dari rampokan kamu? Memangnya sejak kapsn kamu berikan nafkah untuk aku, bukankah semua yang kamu miliki saat ini adalah milik aku dasar pria miskin tidak tahu diri, kamu bangga dengan harta dan kekayaan aku"?
Astaga aku makin terkejut dengan pengakuan pria tua yang satu ini kenapa tidak dari awal aku dan ayah tahu , memang Aisya sudah melakukan kesalahan besar tapi itu karena terpaksa sedangkan nyonya Misel tidak perna melakukan kesalahan dan aku sudah menyelidikinya juga selama ini hanya Aisya dan om Angga yang berperan penting.
Plakkkkkkk!
"Berani-beraninya kamu bicara begitu terhadap putry kamu sendiri darah danging kamu, memang kamu bukan manusia tapi iblis asal kamu tahu kamu kaya raya seperti sekarang ini karena harta warisan dari orang tua ku juga. Kalau tidak dulu aku menikah sama kamu masih hidup gembel, disini aku menyesal menerimah kamu menjadi suami ku dan bertahan selama ini denganmu. Tuan muda ini senjatahnya bunuh saja aku untuk menyusul putry ku, untuk apa aku hidup sedangkan putry ku meninggal karena keserakahan pria bajingan yang tidak tahu bertanggung jawab ini." Teriak nyonya Misel.
Aku baru tahu ternyata semua kekayaan yang di miliki oleh om Angga adalah harta warisan peninggalan orang tua nyonya Misel, kok aku baru tahu ya selama ini ayah tidak menyinggung soal masalah ini, jadi aku tidak tahu ternyata begini ceritanya, nyonya Misel mengulurkan tangannya yang hendak mengambil sebuah pistol yang tergeletak di tanah milik seorang pengawal om Angga, belum sempat nyonya Misel menyentuh pistol itu kami di kangetkan dengan teriakan ayah memanggil namaku, ternyata ayah dan ayah mertua baru saja tiba dan berjalan mendekat.
"Dava awas......" teriak ayah membuat kami semua terkejut ayah mendorong aku dengan sekuat tenaga sampai aku terpental ke tanah kalau aku tidak di tangkap oleh pengawal , namun yang membuat aku dan yang lain terkejut dan histeris melihat darah segar mengalir keluar dari perut ayah.
"Argr!"
__ADS_1
Bukkkkk!
"Ayah......!" Teriak ku melihat ayah terjadi sambil memengang perutnya yang sudah berlumuran darah.
Ternyata tanpa kami semua sadari masih ada seorang penjahat di belakang kami yang belum sepenuhnya meninggal, sehingga dia masih berusaha bangkit berdiri dan hendak menikam aku dari belakang tapi karena ayah melihat dan mendorongku akhirnya ayah lah yang kena tikam pas di perut ayah.
Jujur aku sangat terpukul dengan kejadian yang ayah alami, aku juga merasa bersalah, Gama yang melihat ayah terluka emosi dan langsung menembak kepala penjahat itu hingga tewas seketika di tempat. Aku tidak berpikir sampai disitu lagi tanganku bergetar sakit ketakutan kehilangan ayah.
Dorrrrrrr!
"Ketua Heri habisi mereka semua, jangan sisahkan satu pun juga dan kita akhiri semua ini" teriak Gama.
Ayah mertua yang melihat ayah tergeletak di tanah dengan kepala di pangkuanku langsung mengeluarkan pistolnya dan memberikan satu tembakan tepat di jantung om Angga dan meninggal di tempat.
Sedangkan semua pengawal yang masih sisa di habisi oleh pak Erik dan ke tua Heri.
"Tuan besar bertahan lah biar langsung di tangani oleh dokter Riski dulu sementara waktu sampai di antar ke rumah sakit tolong siapkan mobil cepat" ujar pak Erik panik, untung juga kami datang dengan dokter Riski karena aku takut kalau ada yang terluka dan ternyata benar justru ayah yang baru saja datang terluka parah.
"Dokter Riski bagaimana tolong selamatkan ayah dokter Riski, kalau sampai ayah kenapa-kenapa aku tidak bisa memaafkan diri ini" ujarku jujur aku tidak bisa menahan tangisku kalau soal masalah seperti ini aku sangat lemah.
Ya Tuhan apa yang harus aku sampaikan ke ibu dan Dinda, kenapa harus ayah yang terluka. Tolong selamatkan ayah ku ya Allah jamgan mengambilnya dulu aku belum sanggup untuk hidup tanpa ayah.
__ADS_1
"kakak, sekarang kakak pulanglah dengan asisten Arfan dan benerapa pengawal biar kami yang membereskan semua ini, paman harus di rawat di rumah sakit lukanya lumayan dalam jangan sampai pamam kehabisan darah, cepat sekarang cari rumah sakit terdekat saja jangan sampai terlambat" ujar Gama menahan air matanya aku tahu Gama sangat menyayangi ayah.
Aku menatap mata Gama dan Arfan yang ikut duduk berjongkok di sampingku. Mereka berdua mengelus pundakku itu tandanya aku harus semangat dan harus sengerah membawah ayah ke rumah sakit terdekat.
"Semangat percayalah lah om baik-baik saja sekarang kamu cepat ikut ke rumah sakit nanti setelah semua disini sudah beres kami langsung nyusul ke rumah sakit, oh ya Gam lebih baik kamu temani Dava aja ke rumah sakit" ujar Rafa.
"Baiklah aku ikut kakak Dava saja ke rumah sakit, kakak tolong bereskan kekacawan disini ya" ujar Gama.
"Tuan muda tolong kita secepat bawah Tusn nesar ke rumah sakit karena lukanya sangat dalam jadi harus secepatnya melakukan operasi" ujar dokter Riski membuat aku terkejut.
"Tuan muda saya sudah menghubungi rumah sakit terdekat disini, jadi semuanya sudah siap segerahnya membawah tuan besar ke rumah sakit dari sini hanya sekita empat puluh menit" ujar pak Erik dan di benarkan oleh ketua Heri juga.
Aku, Rafa dan Gama. Memopong tubuh ayah kedalam mobil aku yang melihat ayah tidak bergerak membuat perasaanku tidak tenang, apakah aku harus melaporkan kejadian ini ke ibu. Tapi aku takut nanti terjadi sesuatu sama ibu jadi biar saja dulu setelah sampai di rumah sakit dan mengetahui hasilnya barulah aku kabarin ibu dan Dinda.
Aku dari awal sudah melarang ayah ikut tapi ayah selalu memaksa ikut, tapi untung ayah yang menolongku kalau tidak aku juga sudah meninggal, selamatkan ayah ku ya Allah.
"Gama tolong beritahu pak Erik jangan sampai ada yang melaporkan masalah ini kepada ibu dan Dinda, sementara waktu jangan beritahu mereka dulu tunggu setelah kita tahu hasilnya barulah kita berirahu Dinda dan ibu, terus satu lagi tolong beritahu ketua Heri dan pak Erik untuk membakar semua mayit itu aja jangan di kuburkan soalnya begitu banyak mau kubur sampai kapa"
"Baik kakak" ujar Gama.
Aku pikir dengan adanya aku mengakhiri semua polemik ini jadi tidak ada lagi masalah, tapi ternyata ini masalah lebih besar dari sebelumnya bukan hanya sedih tapi ada rasa takut di hati ini.
__ADS_1