Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
57:57


__ADS_3

Pov Author.


Satu minggu sudah berlalu dan hari ini Kenedy akan melakukan kampaye di kota sebelah, karena ia sudah mendapatkan dukungan dari keluarga Adinata, itu semata Dava lakukan karena nanti biar Kenedy memiliki hutang terhadapnya dan jika tidak bisa di bayar makan akan ada tanggungnya.


Namun sebelum Kenedy bersama dengan Istri dan yang lain berangkat tiba-tiba bu Anjani keluar dari dalam kamar dengan muka panit dan ketakutan, sepertinya terjadi sesuatu. Bu Anjani langsung membuang bokongnya di atas kursi kebesarannya membuat yang lain juga ikut panik dan langsung bertanya ada apa.


"Bu ada apa sih teriak begitu kelihatan ibu ketakutan deh....ada apa sebenarmya ini mas Kanedy mau pergi kampaye loh nanti terlambat" gerutu Lexza


Bu Anjani masih diam ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkanya dengan kasar. Untuk meenangkan dirinya baru bu Anjani buka suara.


"Kalian tahu gak ini benar-benar gawat. Kenapa kita begitu ceroboh sekali, waktu kematian ayah, ibu lupa untuk memblokir semua kartu kreditnya ." bentak bu Anjani membuat semua terkejut.


"Lah kalau hanya masalah itu ibu tinggal datang aja ke bank untuk memblokir semua atm ayah, sekarang ayah sudah tidak ada lagi jadi buat surat kematian ayah agar semua bisa di ambil, hanya itu aja kenapa ibu sepanik ini sih bikin kita juga ikut panik aja pake bentak segala lagi" ujar Lexza kesal.


"Diam anak sialan....siapa yang menyuruh kamu bicara sih...belum juga orang tua selesai bicara langsung di potong aja kebiasaan deh" bentak bu Anjani membuat Lexza jadi marah karena di katain anak sialan.


"Bu....gak usa ngegas begitu juga kali, kalau memang ibu tidak mau bicara ya bodoh amat, tidak perlu maki, lagian mau ada uang apa gaknya itu ibu pernah gak peduli dengan kehidupan kami gak adakan? Giliran ada masalah begini ibu justu pusing dan mbentak sebarangan" emosi Lexza

__ADS_1


Bu Anjani dan Lexza akhirnya bersih tengang baru kali ini mereka berdua berant ini sejarah Lexza berani melawan bu Anjani.


"Makanya jangan potong dulu aku belum selesai bicara, waktu itu ibu lupa mengambil barang-barang yang sudah disita oleh kantor polisi untuk menjadikan bukti tapi kenapa sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mereka melaporkan siapa pelaku yang menabrak ayah. Dan sepertinya kasusnya juga tiba-tiba menghilang.


"Tapi tadi pagi ibu terimah telpon dari seseorang yang mengaku jika dia dari pegawai bank mengatakan kalau buku tabungan atas nama Tuan Evan Winata baru saja mengeluarkan uang sebesar lima ratus miliyar, dan uang itu adalah uang perusahaan"


"Apa....kok bisa bu" jawab semua orang yang ada di ruang tengah tidak ada yang tidak terkejut dengan berita itu, karena uang yang dikeluarkan bukan uang sedikit dan yang paling membuat mereka terkejut adalah uang itu dikeluarkan dari tabungan yang orangnya sudah dinyatakan meninggal.


"Ya dan kalian mau tahu, dari kartu ayah kamu juga dia pake untuk memboking sebuah hotel bintang lima di dekat tengah kota. Siapa ya yang kira-kira berani memakai kartu ayah.."


Makin di buat terkejut oleh berita yang tidak masuk akal ini masa orang sudah meninggal bisa keluarkan uang, dan hal ini tidak di terimah oleh bu Anjani. Itu juga yang membuat bu Anjani jadi ketakutan karena bu Anjani takut kalau Tuan Evan belum meninggal, bisa mati dia karena rencana untuk membunuh suaminya gagal.


"Bu uang lima ratus miliyar itu bukan uang sedikit, bisa bangkrut perusahaan bu, nanti dapat dana dari mana lagi, mendingan ibu ke bank deh terus urus semua dan nanti kita pergi cek ke hotel yang di maksud orang tersebut, aku tidak yakin ini ayah, karena bukannya ayah sudah meninggal tidak mungkin arwahnya kan yang pergi mengeluarkan uang sebesar itu." ujar Kenedy


"Lagian pihak bank kan sudah tahu ayah, meninggal kenapa mereka kasih? Bodoh banget sih yang sebayak itu masa mereka tidsk melihat data dulu apa gimana" tambah Dea


"Baguslah semua uangnya hilang agar kak ipar yang serakah ini bangkrut dari pada sombong dan suka merendahkan orang, tapi kira-kira siapa ya yang berani mengeluarlan uang itu." gumam paman Gibran dalam hati. Dia justru mala senang uang itu hilang.

__ADS_1


"Kamu lupa ya, kalau waktu itu ibu melarang keras wartawan untuk mempublikasihkan kematian ayah kalian, karena kalau semua orang tahu dan nanti kasus itu akan di perpanjang makin ribet, ibu malas banget berurusan dengan polisi karena itu sudah takdir ayah." ujar bu Anjani tapi justru dia mala dapat tatapan tajam dari semua orang.


"Bu...kita tidak bisa berdiam diri seperti ini bu kita harus cari tahu pelaku pengambilan uang itu karena aku yakin mereka yang ada di TKP waktu ayah kecelakaan yang melakukan itu, oh ya bu, bukannya pengawal ayah juga sampai sekarang mereka tidak pulang? bahkan waktu antar mayat ayah kesini juga mereka berdua tidak turut hadir, apa ibu tidak curiga mereka berdua kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja"


Keluarga Winata makin panik karena banyak hal yang menganjal di kematian Tuan Evan, apalagi Anjani dia sudah ketakutan dalam hatinya.


"Ya aku juga sependapat dengan Dea kak ipar, karena kedua pengawal mas Evan tidak pulang kesini, jadi sebenarnya mereka kemana kita memang harus segerah menghentikan ini semua. Takutnya nanti mereka akan melakukan penarikan uang lagi gimana. Dan aku akan cari tahu siapa yang sudah mencelakai. Mas Evan."


Mendengar itu mendadak bu Anjani diam mana mau membiarkan paman Gibran melakukan itu, kalau itu terjadi Anjani yang pelaku utama.


Anjani menatap paman Gibran dengan tatapan melangsat. pengen mau menerkam paman Gibran.


"Siapa yang menyuruhmu menyelidiki kasus itu, aku aja istrinya tidak melakukan, untuk apa kamu sok jadi pahlawan". ujar bu Anjani dan mendapatkan tatapan intimidasi dari yang lain mereka heran kenapa bu Anjani tidak mau mereka menyelidiki kasus kecelakaan ayah mereka.


"Hahaha....kak ipar kenapa wajah kamu begitu seperti ketakutan, kenapa atau kak ipar lupa kalau aku Gibran adik landungnya mas Evan, anda itu hanya perempuam yang di punggut di jalan sana. Kenapa kamu tidak mau, apa kamu takut polisi mendapatkan jejak dan tahu siapa pelakunya."


"Seharusnya anda yang sebagai istri itu dengan susa paya mencari keadilan untuk suami anda, aku lihat anda santai saja kayak tidak terjadi sesuatu bahkan anda juga yang menutup kasus itu ada apa? bahkan waktu mayat suami kamu datang juga kamu tidak mau membukanta, apakah ada rahasia besar yang tidak kami ketahui kak ipar?"

__ADS_1


perkataan Paman Gibran makin membuat Anjani tidak tenang pikirannya melayang kemana-mana, karena ketakutan sudah mulai menghantuinya, biar mampus jadi perempuan kok jahat sekali sih.


__ADS_2