
Tidak terasa sudah sore aku bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, aku hanya pastikan saja kondisi ibu dan anak itu karena aku takut terjadi sesuatu dengsn anak itu setelah ayahnya datang ngamuk- ngamuk kesana. Apalagi kalau Tuam Adrak sudah berhasil mengambil perusahaan itu aku yakin Tuan Maulana makin menjadi.
Akhirnya pekerjaan selesai juga masih ada sih pekerjaan lainnya tapi rencana nanti aku bisa kerjakan di ruang kerja saja setelah sampai di rumah nanti, rasanya lelah sekali padahal hanya duduk dan menatap leptop tapi capek sekali.
Capek pikiran, cape badan pokoknya semua cape.
" Sekretaris Dani" panggilku karena kebetulan aku lihat sekretaris Dani lagi asyik ngobrol sama asisten Arfan, beginilah kalau mereka berdua sudah ketemu kaya perangko aja tidak mau lepas.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawabnya.
"Sebelum kita berangkat ke kota X saya perna minta berkas keuangan tiga bulan ini mana? Sudah di buat belum saya tunggu sampai besok, yang kemarin kamu kasih itu hanya proposal keuangan untuk peoyek di kota X belum ada laporannya." tanya ku.
" Maaf Tuan muda saya lupa kalau saya sudah selesai print tinggal kasih aja, saya pikir sudah saya serahin ke Tuan ternyata belum" ujar sekretaris Dani gegas kedalam ruangan dan saat dia kembali astaga dia membawah setumpuk kertas dokumen, ya Tuhan apa yang sekretaris Dani lakukan kenapa sebanyak ini, binggung membuat sekretaris Dani tersenyum.
"Sekretaris Dani apa ini kenapa banyak sekali saya minta tiga bulan kenapa setumpuk ini sekretaris Dani mau ngerjain aku ya" ujarku.
"Tuan periksa dulu baru komplain, itu bukan hanya berkas untuk keuangan tapi berkas lain juga, hitung-hitung untuk kerjaan tambaham Tuan satu bulan kedepan" ujar sekretaris Dani. Astaga sekretaris ku ini sudah mulai kurang ajar sama Tuannya.
"Sekretaris Dani, masih mau kerja tidak? Dan masih mau terimah gaji tidak?" Tanyaku.
"Masih Tuan hehehe" ujarnya.
"Letakkan semuanya di atas meja saja dan rapikan, besok saja saya periksa karena waktu tidak cukup kita harus segerah kerumah sakit karena masih banyak yang jarus kita urus." ujarku.
__ADS_1
Setelah sekretaris Dani meletakan berkas di atas meja, aku mematikan leptop dan hendak mau pulang, karena harus ke rumah sakit.
Asisten Arfan dan pak Erik sudah menunggu di luar bersama sekretaris Dani, aku keluar mereka langsung mengikuti ku dan kami masuk kedalam lift, saat kami turun ke bawah dan keluar dari Lift ternyata Andy sudah menunggu di bawah.
"Tuan muda...besok saya berangkat ke kota X jadi saya serahkan kembali pekerjaam saya kepada pak Erik untuk mencari penganti saya disini" ujarnya.
"Baik pak Andy itu bisa di atasi selamat di tempat yang baru tidak lama kok disana, setelah itu pak Andy boleh lembali kesini lagi karena perusahaan selalu menunggu pak Andy" ujarku.
Setelah kami bicara dengan Andy kami keluar dari perusahaan dan masuk kedalam mobil, aku pak Erik dan asisten Arfan satu mobil sedangkan sekretaris Dani satu mobil. Saat ini kami menuju ke rumah sakit kami ingin mengecek kondisi pasien.
Saat dalam perjalanan aku dapat telpon dari pengawal yang mengawal Dinda dan kedua sahabatnya, dari tadi pagi sampai siang tidak di hubungi untuk memberikan laporan, namun sekarang baru di telpon ada apa.
"Hallo Tuan muda maaf baru hubungi dan melaporkan kalau nona Dinda sudah pulang sampai di rumah dengan keada,an selamat bersama kedua sahabatnya nona Tasya dan nona Sabrina, yang saya dengar mereka mau nginap di sini Tuan" ujarnya.
"Oh...baiklah kalau begitu pastikan semuanya aman ya"
"Tuan jam segini sudah sangat macet" ujar pak Erik.
"Tidak masalah pak Erik karena memang ini jam macet jadi tidak masalah kalau macet, lebih baik kita terlambat tapisampai di rumah dengan keadaan selamat dari pada kita buru-buru terus kecelakaan." ujarku.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya kami sampak di rumah sakit setelah aku tahu dimana ruangan pasien kami langsung menujuh kesana tujuan untuk ketemu dengan dokter dan saudaranya wanita yang sakit itu karena kata Amora dia sama bibinya.
Saat kami sampai di depan ruangan ternyata ada juga Tuan Maulana yang masih memberontak meminta masuk kedalam ruangan baguslah aku ketemu dengannya disini, yang paling parahnya lagi Tuan Maulana datang dengan selingkuhannya tidak punya malu memang, tapi Tuan Maulana terkejut saat melihat kedatanganku.
__ADS_1
"Tuan Dava, ngapain Anda disini" Tanya Tuan Maulana. Namun bukannya aku menjawab perranyaannya justru aku balik bertanya.
"Loh Tuan Maulana? Anda ngapain disini Tuan apa ada keluarga Tuan yang lagi sakit" tanyaku membuat Tuan Maulana gugup.
"Eh....eh itu Tuan pembantu saya ada sakit jadi saya datang menjenguknya" ujar Tuan Maulana senyum tanpa dosa sedangkan perempuan yang ada disampingnya justru tebar pesona melihat pak Erik.
"Wah....hebat ya Tuan Maulana saya tidak menyangkah lo seorang Tuan Maulana begitu perhatian sama pembantunya, luar biasa ya sebagai pembantu pasti bangga punya seorang bos baok perhatian begitu" ujar ku memancing.
"Ah Tuan muda kadang berlebihan, sebagai seorang bos yang baik ini sudah sepantasnya kita melakukan yang terbaok biat pembantu kita agar mereka juga bisa betah tinggal kerja dirumah, kalau kita jahat mana mau orang kerja dan betah sama kita Tuan, terus Tuan muda Dava ngapain disini dengan pengawal ada keluarga yang sakit."? Tanya Tuan Maulana.
"Hehehe saya salut sama pikiran cerdas Tuan Maulana karena sama orang lain saja Tuan Maulana sudah sangat baik, apalagi sama istri anak tidak mungkin di terlantarkan bukan yups maaf Tuan saya hanya bercanda. Oh ya saya datang kesini hanya menjenguk seorang wanita yang terzolimi bersama anaknya karena suaminya lebih memilih selingkuhannya ketimbang istri dan anak kandungnya, apakah pembantu anda ada di ruangan ini Tuan? Soalnya wanita itu ada disini ruangannya, ini ruang vip tidak mungkin dua orang didalam bukan?"
Tuan Maulana terkejut mendengar perkataanku dia merasa terseindir, padahal aku tidak berniat menyindir siapa pun aku hanya berirahu sesungunya.
"Apa....kok bisa bersamaan begini ya Tuan muda, atau jangan-jangan yang anda maksuda wanita itu adalah pembantu saya, kok bisa Tuan kenal" tanya Tuan Maulana.
"Tuan Maulana kita sama-sama seorang laki-laki walaupun umur kita berpaut jauh tapi kita sama-sama sudah menikah dan punya anak, Tuan Maulana juga di lahirkan oleh seorang perempuan tapi disini saya lihat Tuan Maulana tidak memiliki hati nurani, bukankah wanita yang anda sebut pembantu itu adalah istri sah anda Tuan Maulana dam kalau tidak salah nama putrynya Amora, saya tidak menyangka seorang Tuan Maulana melakukan hal sekeji ini" ujarku.
Tuan Maulana mulai menatap ku dengan tajam dan penuh amarah begitu juga dengan selingkuhannya, tapi aku tetap santai tidak terpancing dengan emosi mereka.
"Tuan Dava anda tidak perlu ikut campur dalam ueusan pribadi saya, jadi terserah saya mau menikah dengan siapa pun saya mau lantaran saya orang kaya jadi banyak gadis yang ingin mendekati ku, memang dia itu istri tua saya yang sebentar lagi anak meninggal jadi saya bebas"
"Hehehe...jangan banga Tuan Maulana atas kekayaan rampasan dari seorang wanita lemah karena itu tidak muda, saya bisa tebak kalau perempuan yang ada disamping anda datang mendekati anda karena harta bukan karena cinta, soalnya perempuan seperti ini sudah banyak aku temui di luar, bagaimana kalau istri anda sehat dan mengambil kembali apa yang ada pada kamu dan setelah kamu tidak punya apa-apa akhirnya di tinggal oleh dia.
__ADS_1
"Tuan Maulana tahu siapa saya bukan, saya bisa membantu istri sah anda untuk menjobloskan anda dan selingkuhan anda ke penjarah atas tuduhan pembunuh berencana karena Tuan dan selingkuhan yang sudah menaruh bahan kimia kedalam makanam dan minuman istri sah anda" ujarku
Bodoh amat mereka mau apa yang penting dapat ancaman dulu biar tahu rasa.