
Ririn memang selalu cari sensasi masih pagi-pagi sudah mulai cari celah untuk membuat jadi candaan, selalu bertengkar dengan Gama sampai kapan kedua sepupuku ini bisa akur. Mendengar perkataan Ririn justru mengundang tawa semua orang tapi aku dan Ririn hanya tersenyum. Dasar Ririn awas aja kalau dia sudah nikah akan aku ngerjain mereka.
"Wah....bibi..masih pagi loh rambut kakak ipar basah dan lihat deh bibi, kakak Dava juga sama rambutnya juga basah padahal masih jam segini memangnya tidak kedinginan ya kakak, rajin banget nyucih rambut ya kakak, tadi Ririn juga rencana mau cuci rambut tapi karena kedinginan makanya Ririn urunkan niat padahal bisa pakai air hangat sih" ujar Ririn
"Hmmm kakak Dava yang membuat kakak ipar cuci rambut itu, anak kecil seperti kamu Ririn jangan kepo takutnya nanti setelah kamu menikah, Rafa kembuat kamu cuci rambut setiap jam soalnya aku lihat dari cara Rafa sama juga kayak kakak Dava ngencar haahahha" ujar Gama.
Ririn langsung memutar bola matanya mendengar penuturan Gama, akhirnya mereka berdua mulai bertengkar. Melihat itu ayah mulai menyelah dan menghentikan pertengkaran mereka berdua dan ayah menjelaskan kepada aku dan Dinda soal masalah semalam dengan om Angga aku maklumi karena memang kamu semua tidak mengetahui rencana busuk om Angga jadi aku tidak menyalahkan ayah atau ibu, Dinda juga sama kata Dinda dia tidak menyalahkan siapapun.
Hanya saja Dinda kecewa dengan perbuatkan om Angga. Dinda juga bilang kalau ada sesuatu yang ingin Dinda bicarakan hanya saja nanti tidak sekarang.
""Nak...ayah tidak bermaksu membuat kamu kecewa atau sakit hati, tapi disini ayah benar-benar tidak tahu kalau ternyata om Angga sudah merencanakan hal licik itu, ayah juga terkejut mengetahui rencanananya kalau seandainya dari awal ayah tahu, ayah tidak akan pergi apalagi membawah kalian semua ikut kesana." ujar ayah.
" Tidak masalah ayah, Dinda tahu kalau ayah tidak tahu apa-apa soal rencana licik om Angga, hanya saja Dinda kecewa tapi semua sudah selesai mas Dava juga sudah memutuskan kerja sama dengan om Angga, semoga putry nya tidak datang menganggu rumah tangga kami ayah. Takutnya Dinda bertindak lebih jahat dari semalam. Dan ada satu hal penting yang ingin Dinda bicarakan hanya saja tidak sekarang nanti setelah Dinda pulang ayah." ujar Dinda
__ADS_1
Ayah juga tidak memaksa begitu juga aku, tapi kali ini aku harus mengikuti kemana istriku pergi aku penasaran. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk bukan untuk Dinda melainkan burul untuk orang lain, aku rasa Dinda melakukan sesuatu di luar pengetahuan aku dan yang lain.
"Ya sudah nak, tidak masalah jika memang belum sekarang di beritahukan tidak apa-apa, tapi kalau kamu keluar hati-hati ya nak ingat kamu lagi hamil sekarang jadi jaga kendungan kamu, atau Dava temani kamu saja sayang pergi kemana kamu ingin pergi jangan pergi sendiri" pinta ayah.
"Tidak ayah, tidak perlu mas Dava lagi sibuk kerja jadi biar saja Dinda sendiri juga bisa" ujar Dinda.
Setelah selesai kamu berbincang ayah pamit pergi ke kantor begitu juga Ririn dan Gama, aku juga pura-pura pergi untuk memancing Dinda mau kemana nanti aku ikuti dari belakang saja. Bukannya aku tidak percaya sama istriku sendiri hanya saja gerak-gerik Dinda sangat mencurigakan dan sampai sekarang pak Erik juha belum kasih kabar tentang dimana tempat tinggal Emelia.
"Ya sudah mah, papa pergi dulu ya, soalnya ada info dari Criss kalau ada meeting penting hari ini, hati-hati kamu ya nak" ujar ayah mengecup kening ibu, itu adalah rutinitas ayah setiap hari pergi padahal ayah dan ibu sudah tua juga tapi sangat romantis.
"Asisten Arfan kita berhenti di depan ya agak sedikit masuk kedalam tapi perhatikan jalan raya, kalau nona muda lewat kita ikuti mobil dari belakang." ujarku.
"Loh kenapa Tuan mengikuti nona muda dari belakang apakah Tuan ada curiga dengan nona muda? Bukankah nona muda di kawal juga Tuan"? tanya asisten Arfan.
__ADS_1
"Asisten Arfan, aku mau tanya tapi pagi kamu lihat nona muda jonging tidak di taman belakang atau samping, soalnya kata nona muda tadi ada jonging." tanya ku.
"Ha...jonging? Maaf ya Tuan tadi pagi saya melihat nona muda dari arah pavilliun, saya tidak tahu kapan nona muda keluar tapi saya pikir nona muda keluar lewat gerbang pavilliun karena gerbang itu semalam di jaga oleh empat pengawal tapi salah satunya sakit dan satunya lagi sempat sakit perut jadi ketoilet. Dan anenya dua pengawal lagi tidak terlihat di cctv, namun setelah nona mudah terlihat di pavilliun barulah kedua pengawal itu kelihatan" ujar Asisten Arfan.
Kami yang asyik ngobrol tiba-tiba mobil yang di tumpangi Dinda lewat bersama dengan ketiga pengawal yang menemani Dinda.
"Ikuti mereka Asisten Arfan tapi jaga jarak karena mobil ini Dinda kenal jadi jangan terlalu dekat nanti ketahuan." ujar ku.
Saat kami mengikuti Dinda dari belakang tiba-tiba aku mendapatkan telpon dari pak Erik yang menyampaikam kalau subuj tadi orang suruhan pak Erik mendatangi kediaman Emelia namun ternyata mereka terlambat jadi Emelia sudah tidak ada, sepertinya ada perkelahian terjadi di rumahnya sampai rumah itu berantakan.
Tapi Emelia sudah tidak ada, aku terkejut mendengarnya kalau begitu perempuan itu kemana dan siapa yang membawahnya, atau jangan-jangan Dinda pelakunya karena dia pergi subuj mendahului pak Erik dengan pengawal itu.
Aku mengudahi telpon dengan pak Erik dan masih berpikir siapa yang menculit Emelia, tapi tidak masalah biarkan saja aku juga senang kalau ada orang lain yang menculiknya bukan aku.
__ADS_1
Asisten Arfan langsung mengikuti kemana Dinda pergi dan tidak lama mobil Dinda berbelok ke sebuah gedung agak masuk kedalam hutan, aku terkejut ini gedung apa kenapa istriku datang kesini ada apa disini, banyak sekali pertanyaan timbul di pikiranku, dan ternyata pengawal itu juga ikut turun dan yang membuat aku dan asisten Arfan terkejut ketiga pengawal itu mengeluarkan seseorang dari dalam mobil dengan kaki dan tangan di ikat dan mulut di lakban sehingga orang tersebut tidak bisa berteriak.
Kepalanya juga di tutup aku penasaran dan mengikuti mereka masuk kedalam gedung itu, Dinda mengeluarkan pistolnya dari dalam tas membuat jantung ku berdegup kencang siapa yang akan di eksekusi oleh Dinda.