
Pov Dinda
Setelah aku menerima siksaan itu mulai dari situ aku sedikit trauma dengan namanya keluarga, karena keluarga kandung sendiri saja sudah bengitu bengis apalagi orang lain, tapi disini aku belajar ternyata aku salah dalam mengartikan.
Adakalahnya orang lain yang lebih menghargai dan menggangap kita ada dibandingkan keluarga sendiri, bahkan ibu kandungku sendiri menjadikan aku barang yang kapan saja bisa ia menjualnya, asal dapat harta itulah keahlian ibu Anjani, mau dibilang dia ibuku juga tidak pantas. Tapi jika dibilang bukan ibuku juga dia yang melahirkanku.
Dulu aku anak yang patuh kepada orang tua dan sangat menghargai mereka, namun berbedah dengan sekarang aku sudah tidak sudih berhubungan dengan mereka lagi.
Setelah siksaan itu aku dirawat di rumah sakit hampir satu minggu, dan akhirnya aku diboyong ke rumah suamiku, aku benar-benar terkejut mendapati fakta jika suamiku adalah putra tunggal dari orang terkaya nomor satu di negara ini. Disatu sisi aku bahagia karena dengan seperti ini aku bisa membalaskan dendamku kepada keluargaku.
Belum sampai disitu fakta kedua yang aku dapatkan dari suamiku dan orang kepercayaannya adalah bahwa ternyata Lexza bukan anak kandung ayah, melainkan anak hubungan gelap antara bu Anjani dan kekasihnya, setelah mengetahui dia hamil akhirnya mencari cara dan menjebak Ayah.
Dan sekarang kekasihnya bu Anjani lagi dalam pencarian. Fakta itu selama ini ibu pintar menyembunyikannya tapi sayang sepandai-pandainya tupai melonpat akan jatuh juga, artinya sepandai-pandai manusia menyembunyikan kejahatan suatu saat akan terbongkar juga.
Seperti itulah yang di alami oleh bu Anjani selama dua puluh lima tahu ia menyembunyikan kejahatan itu, tapi sayangnya satu tahun yang lalu ayah mengetahuinya dan secara diam-diam ayah tes DNA dengan Lexza ternyata benar Lexza bukan anak ayah.
Tapi ayah tidak sekalipun menyinggung hal itu didepan kami dia menyimpan sendiri. Saat aku mendengar fata ini dari suamiku jujur aku syok banget, berarti selama ini ayah menyimpan luka yang begitu menyakitkan.
Bukan hanya itu aku juga tahu bahwa aku sejak dilahirkan ibu tidak perna peduli denganku, bahkan berikan aku asi aja ibu tidak sudih. Sakit ya jelas aku sakit, saat mendengar fakta menyakitkan ini. Tapi aku berseyukur karena aku mendegar semua fakta ini setelah aku sudah tidak ada, hubungan apa-apa lagi dengan mereka sehingga tidak sesakit yang dulu masih tinggal di rumah itu, sekarang aku bisa mengobati luka itu dengan kebahagiaan yang tengah kurasakan saat ini di keluarga besar suamiku.
Aku membuang keluarga jahat dan aku mendapatkan keluarga yang baik dan sangat menyayangiku.
__ADS_1
Sekarang sudah beberapa hari aku tinggal di rumah ayah dan ibu. Aku di biarkan hidup normal seperti biasa dan aku diberikan fasilitas yang cukup..
Tepat hari ini, aku di injinkan keluar oleh suami dan ayah ibuku. Mereka pengen aku harus belanja berlian dan ikut arisan karena ibu sudah masukin aku ke grup Arisan untuk mengantikan posisi ibu.
Paginya aku pamit sama ayah, ibu dan mas Dava untuk pergi terlebih dulu ke mall selepas itu baru lanjut ke restoran dimana tempat yang sudah disepakati ternyata restoran bintang lima itu milik suamiku.
Setelah aku pamit, aku gegas masuk kedalam garasi mobil untuk memilih salah satu. wah... Mataku terpanah dengan garasi sudah kayak showroom mobil.
Dalam garasi itu ada sepuluh mobil dengan merek berbedah tapi itu hanya punya keluarga, bedah lagi dengan mobil pengawal. Satu mobil aja harganya dua kali lipat di bandingkan dengan harga mobil yang di pake oleh keluarga Winata, bahkan mobil yang aku pakek aja jauh lebih sempurna dibandingkan dengan mobil milik bu Anjani.
Setelah aku menjatuhkan pilihanku aku gegas masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesinnya, terus keluar dari garasi dan berlalu pergi yang jelas aku tidak sendiri ada dua pengawal yang mengikuti aku dari belakang.
Kalau soal mengemudi mobil tidak perlu bertanya karena aku jagonya, dulu ayah bukan hanya memasukan aku ke latihan bela diri namun juga sekalian belajar mengemudi jadi aku tidak ragu bawah mobil merek apapun.
Tidak lama kemudian aku sampai di mall, dan gegas turun aku sudah pesan kepada pengawal untuk tidak perlu terlalu dekat. aku langsung masuk kedalam mall dan mencari toko berlian yang sudah dipesan oleh ibu, akhirnya ketemu, namun saat aku melangkah mendekati tidak sengaja mata ini menangkap seseorang yang sangat aku kenal sementara berdebat dengan pelayan toko itu.
Dia ngotot harus turunkan harganya. Tapi mbak itu juga tidak mau.
Wah...seru nih kayaknya aku sengaja melambatkan langkahku agar aku bisah mendengar percakapan mereka, ada masalah apa sampai mereka berdebat.
"Mbak turunin dong harganya, ini seratus juta ya aku hanya ambil kalungnya saja"
__ADS_1
"Haha...maaf mbak kalung ini tidak saya jual, karena sudah ada pemiliknya dan bahkan kalung ini dipesan khusus, jadi mana mungkin saya jual ke mbak, ini sudah lunas sebentar lagi pemiliknya datang mengambilnya, jadi kalau mbak mau boleh milih yang lain hargannya lebih murah. Karena walaupun mbak hanya membeli kalungnya bukan dalam arti harganya semurah itu mbak ini barang paling bagus."
"Memangnya harga aslinya berapa kalau cuman kalungnya saja, lagian nih kalau memang sudah di pesan kenapa masih bisa di pajang disini coba, ya dikirain mau dijual dong"
Aku melihat pelayan toko hanya gelengkan kepala, mendengar cercaan perempuan itu.
"Kalau hanya kalung saja harganya enam ratus juta mbak tapi kalau ambil semua itu mencapai miliyaran."
Aku melihat Dea terkejut mendengar perkataan pelayan itu.
"Mahal banget mbak aku ambil seratus juta ya,"
"Yaelah mbak kalau tidak punya uang ya tidak usa beli mbak tahukan ini berlian asli, dan ini hanya satu tidak ada lagi yang lain karena ini di buat khusus oleh orang yang pesan gimana sih."
"He...mbak sopan ya kalau bicara, kamu tidak tahu siapa saya, saya ini putry bungsu orang terkaya nomor dua di negara ini Dea Winata. Saya bisa beli toko kamu ini dengan semua isinya, berani sekali kamu bilang aku tidak sanggup." ujar Dea sombong.
Perkataan mengundang tawa bukannya takut dibentak oleh Dea sih mbak justru tertwa ngejek.
"Hahaa mbak kalau memang mbak orang kaya kenapa tidak beli aja yang lain ini juga masih bagus harganya juga bagus loh, katanya orang kaya tapi beli kalung aja minta harga seratus juta, mendingan pulang aja deh mbak saya tidak mau jual ke mbak."
Aku yang menyaksikan perdebatan mereka akhirnya aku maju mendekat aku sengaja membuat Dea terkejut dan ternyata benar dia sangat terkejut melihat aku berdiri di depannya.
__ADS_1