
Sesampai aku di dalam kamar, betapa terkejutnya aku saat melihat kondisi Andy sangat memprihatingkan, aku langsung memanggil pengawal untuk bantu mengkat tubuh Andy kedalam mobil. Aku panik bukan main.
Aku langsung minta ijin sama pak Herman dan melarikan Andy ke rumah sakit, entah sakit apa dia sampai separah ini. Berarti setelah dia pulang dari rumah sakit waktu itu langsung sakit dia, ya ampun kenapa waktu itu aku tidak langsung kesini aja, coba langsung kesini mungkin Andy sudah sembuh.
Aku benar-benar panit, kami langsung pergi kerumah sakit dan langsung di tangani oleh dokter aku tenpatkan Andy di ruang vip biar nyaman. Setelah sudah di tangani dokter aku langsung telpon ayah! Minta bantuan kirim dua pengawal dan kalau suster nanti suster rumah sakit aja minta tolong jagain Andy.
"Hallo ayah, maaf Dava minta bantuan ayah, tolong kirim dua pengawal ke rumah sakit kita yah, soalnya teman Dava yang pernah datang ke rumah sakit waktu ibu dirawat disini. Dia sakit parah ayah tapi tidak ada lagi keluarganya, jadi sekarang Dava dan pak Erik di rumah sakit tolong ya yah."
"Ok nak, ayah suruh mereka datang, atau begini aja tinggalkan kedua pengawal yang ada sama kalian itu disana, dan nanti ayah menyuruh pengawal yang ini langsung ke kantor aja gimana"?
"Ok baik ayah, kalau begitu mereka langsung ke kantor aja."
Setelah selesai aku telpon ayah, aku langsung bilang sama kedua pengawal untuk tetap dirumah sakit menjanga Andy, aku juga tidak lupa telpon ke restoran kami untuk mengirim makanan ke tempat aku kerja dulu untuk teman-teman, aku bersyukur Allah berikan kepadaku berkat yang melimpah, jadi berbagi untuk mereka yang membutuhkan lebih mulia dari pada menyombongkan diri, dan memperkaya diri tapi banyak orang menderita.
Setelah selesai pak Erik mengurus semuanya aku mengajak pak Erik hendak pergi, namun tiba-tiba dokter keluar dari dalam, aku langsung urungkan niatku ke kantor aku menghampiri dokter yang masih berdiri menatapaku.
"Maaf dokter bagaimana kondisi teman aku dok, dan sebenarnya teman ku itu sakit apa dok"
" Maaf Tuan muda, ternyata teman Tuan muda menderita penyakit usus buntu jadi harus segerah di lakukan operasi Tuan muda, karena memang sudah sangat parah untung secepatnya dibawah kesini karena kalau tidak bisa lewat"
Betapa syoknya aku mendengar Andy sakit begitu parah, ya Tuhan Ndy kamu begitu baik padaku waktu kita berdua masih tinggal sama, aku tidak ada uang kamu selalu belikan aku makan sampai maksa aku makan takutnya aku sakit. Tapi lihat sekarang kamu sakit parah aku tidak tahu.
"Dok selamatkan temanku lakukan yang terbaik untuknya dok"
__ADS_1
"Baik Tuan muda, itu adalah tugas saya, tapi semua sudah diatui oleh Tuhan kita berdoa saja, saya parmisi Tuan muda."
Dokter berlalu pergi sedangkan aku terduduk di kursi depan kamar IGD, tiba-tiba kepalaku terasa pusing, maafkan aku Ndy aku tidak bisa menunggumu disini, tapi aku pastikan kamu baik-baik saja, aku harus kekantor karena masih ada kerjaan yang harus di selesaikan.
Akhirnya aku dan pak Erik pergi dari rumah sakit, kami berdua harus segera ke kantor karena ada kerjaan yang harus kami selesaikan sedangkan kedua pengawal. Aku biarkan mereka tetap di rumah sakit menjaga Andy, nanti kalau sore pulang aku usahakan akan singah kerumah sakit semoga Andy baik-baik saja.
Dalam perjalanan kekantor pikiranku tidak tenang mikirin Kondisi Andy, yang membuat aku sesali kenapa waktu dia dirumah sakit aku tidak memperhatikannya, padahal dia juga tunggu berjam-jam di rumah sakit.
Tiba-tiba bunyi dering hpku menbunyerkan lamunanku, siapa lagi yang telpon mengerutu aku dalam hati, tapi pas aku melihat siapa penelponnya jadi merasa bersalah karena ngumpetin istriku sendiri,... gila.
Aku tidak nenunggu lama lagi, langsung ku angkat telpon dari istriku.
"Hallo mas, mas sudah sampai dikantor belum, maaf Dinda injin ya mau keluar ikut arisan nanti sekitar jam sepuluh"
"Ya tidak apa dong mas ijin lagi takutnya mas lupa"
"Hehehe....ok boleh tapi hati-hati"
Akhirnya aku mengakhiri panggilan dengan istriku, dan melanjutkan perjalanan kekantor.
Masih sama seperti biasa aku diturunkan di pinggir jalan dan menuju ke kantor, karena tadi kebetulan antar Andy dulu ke rumah sakit jadi kami sedikit terlambat sampai di kantor. Sedangkan pak Erik berjanji dengan bu Anjani jam sepuluh tanda tangan kontrak.
Aku tidak menyadari jika ternyata bu Anjani datang lebih awal dari jam yang sudah di janjikan, pas aku asyik berjalan tiba-tiba berhenti sebuah mobil mewa, mobil yang sangat aku kenal, siapa lagi pemiliknya kalau. bukan nyonya Anjani yang terhormat anenya pada saat di melihat aku.
__ADS_1
Justru ia menghentikan mobilnya dan datang menghampiriku, padahal aku sudah di depan loby utama jadi yang jelas banyak cctv bertenger dimana-mana. Jangankan alat cctv yang dipasang, cctv karyawan juga lebih bagus dari pada cctv yang terpasang.
Prakkkkk..prakkkkk!
Dua tamparan mendarat dipipiku, membuat aku terhunyung kebelakang untung seorang pengawal dengan sigap menangkap tubuhku.
Belum sempat aku buka suara, teriakan suara dari ibu Anjani mengelengar, membuat semua karyawannya awalnya beraktivitas berhenti sejenak.
"He...anak miskin tidak berguna mana Dinda, kamu kemanain anak kurang ajar itu suruh dia pulang, aku mau nikahkan dia dengan laki-laki pilihanku"
Perkataan bu Anjani menjadi sorotan bagi semua karyawan yang ada termasuk pak Erik yang menyaksikan dengan sendirinya, tapi yang jelas pak Erik melihat dari jauh, untung ini adalah penyamaranku hanya untuk mengambil alih perusahaan itu kalau tidak sudah aku tampar dia dengan menunjukan siapa aku"
"Hay Nyonya Anjani, maksuda anda apa ya, anak siapa yang anda maksud? oh ya apakah seperti ini perilaku baik dan terhormat istri CEO dari Perusahaan Winata grup? kok buruk sekali attitudenya. Dimana letak kesalahan aku nyonya, hati-hati lo diperusahaan aku bekerja banyak cctv disini sekali tersebar gimana ya"
"He....kurang ajar berani sekali kamu menghinaku, dasar rakyat miskin awas kamu ya kalau aku ketemu sama kamu akan aku berikan pelajaran"
"Bukankah anda sudah tidak mengenal istriku lagi, bagaimana bisa anda berkata jika Dinda adalah anak anda. Ingat nyonya Anjani yang terhormat, Dinda itu bukan bagian dari keluarga kalian lagi, jika suatu saat terjadi apa-apa dengan istriku anda tahu akibatnya"
Baru saja bu Ajani siap mau menamparku lagi tiba-tiba pak Erik datang, pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Selamat pagi nyonya Anjani maaf saya telat, oh ya, nyonya Anjani ngapain berdiri disini dan ada apa ini, kenapa semua karyawan bukannya kerja mala justru mereka menonton, apa ada yang salah nyonya"?
Bu Anjani masih diam belum menjawab apa-apa.
__ADS_1