
Keesokan harinya semua keluarga sudah berkumpul di restoran hotel untuk makan bersama termasuk kakak Dea dan mas Tahir, aku bangun dari tidurku dan gegas kekamar mandi setelah selesai membersihkan diri aku turun kebawa tanpa ada Dinda, karena mungkin semalam dia capek sekali selain capek karena mengikuti acara sepanjang hari kami berdua juga bertempur semalam makanya tidur telat.
Saat aku turun kebawah semua mata tertuju kepadaku sambil senyum-senyum aku jadi binggung kenapa mereka semua melihatku kayak pencuri ketangkap basa. tak heran sih karena aku kembali kramas jadi memang rambutku agak basah.
"Wah....kelihatan sengar banget wajah kamu nak semalam berapa kali...kalian lembur sampai jam berapa"? Tanya paman mengalihkan pandangannya ke arah ayah dan ibu sambil tertawa mereka semua, astaga ternyata mereka mengejekku.
"Mas...harus siap banyak uang karena sepertinya tak lama lagi mas kembali mengelar pesta dan kami akan kembali kesini karena saya yakin, tak lama lagi cucu pertama kita akan lahir kalau anak kita kerja siang malam begini." Semua yang mendengar perkataan paman serempak mengaminkan di barengin dengan tertawa.
"Pah....lihat wajah anakmu wajahnya sudah kayak kepiting rebus. Jangan nganggu dia tapi ya, bibi juga setuju sih dengan perkataan paman kamu nak, buktinya Dinda gak ada sama kita disini bisa jadi kelelahan semalam karena keganasan kamu terhadap istrimu, semoga saat bibi pulang tak lama ayah dan ibumu kembali mengundang kami semua kembali kesini untuk mengelar pesta menyambut cucu pertama."
Astaga suami istri kok kompak banget sih ngejek aku pagi ini entah semalam mimpi apa aku, tapi benar juga sih yang di katakan oleh paman dan bibi hehehr...sangking ganasnya istriku tepar, tapi gak perlu bicara disini juga banyak orang mendengarnya apalagi di meja makan kami saja hampir lima puluh orang gila benar paman dan bibi.
"Iya dong siapa dulu anak Edy Adinata kekuatan super pasti turun dari ayahnya buktinya putraku hampir semua mirip dengan Ayahnya, dan kalau secepatnya punya cucu itu sangat bagus biar ada saingannya hehehe."
__ADS_1
"Mana ada mirip papa..ingat pah, papa yang bikin tapi ibu yang mengandung dan d melahirkannya, Dava mirip sama ibu lihat putih tingga alisnya mirip sama ibu, papa jangan serakah jadi ayah bagi-bagi masa dia hanya numpang lahir saja. Ibu gak terimah papa bilang begitu"
"Buahhhhhh.......!"
Perkataan ibu sontak mengundang tawa semua yang ada di ruangan itu, tapi berbedah dengan kakak Dea kelihatan ada raut kesedihan di wajahnya, seketika membuat semua diam karena bukan hanya aku yang melihatnya tapi semua yang ada merasakan hal yang sama.
Melihat itu kakak dari ibu langsung bertanya, kenapa kakak Dea seperti sangat sedih apakah karena candaan tadi tapi perasaan dari tadi tidak ada yang menyinggungnya.
"Nak Dea kenapa, kenapa muka kamu kelihatan ada kesedihan? Apakah tadi ada perkatan kami yang menyakiti hati kamu nak? Kalau memang iya, maafkan kami karena memang disini seperti itu apalagi semua keluarga besar sudah berkumpul sebenarnya ini tidak semua hadir karena masih beberapa yang halangan jadi tidak bisa hadir.
Setelah selesai bibi bicara begitu tidak ada yang buka suara tapi kami semua setuju dengan perkataan bibi, air mata kakak Dea seketika mengalir dengan deras...tanpa ada suara, kakak Dea menangis dalam diam karena mas Tahir tahu kakak Dea tidak akan bicara kerena menangis akhirnya mas Tahir angkat bicara.
"Maaf semuanya mungkin Tuan dan nyonya terus semuanya binggung kenapa istriku tiba-tiba sedih karena baru, kali ini kami merasakan kenyaman dan kebahagiaan bahkan keharmosian dalam keluarga di tempat ini, itu yang membuat istri saya menangis, maaf jika saya secara tidak langsung membuka aib atau keburukan dalam keluarga Winata"
__ADS_1
Semua yang mendengar itu para wanita termasuk ibu dan yang lain bangkit serempak dari duduk mereka dan mendekati kakak Dea sambil memeluknya. Aku tahu apa yang ada didalam pikiran kakak Dea karena aku perna tinggal di kediaman keluarga Winata jadi aku tahu bagaimana kehidupan di keluarga itu sewaktu ayah mertua masih ada dan jug tidak ada.
Jadi tidak salah sih kakak Dea merasa sedih melihat keluarga baru Dinda sangat menyayangi Dinda dan menjadikan Dinda ratu bahkan keluarga baru Dinda sangat harmonis, Ayah selalu menasehati saudara-saudari ayah jangan karena harta dan kekayaan persaudaran dan kekeluargaan itu putus, karena harta itu hanya sementara kalau kekeluargaan itu selamanya.
saudara kandung ayah ada dua satu perempuam dan satu laki-laki tapi sebelum kakek meninggal kakek sudah membangikan harta warisannya jadi mereka bertiga sudah punya hak masing-masing dan saling membantu satu sama lain. Seperti waktu itu setelah kakek meninggal saham dari perusahaan sempat menurun dan hampir sedikit bangkrut tapi paman dan bibi tidak tinggal diam mereka membantu ayah tanpa pengetahuan ayah karena mereka tahu pasti ayah tidak akan menerima bantuan mereka.
Seperti itu juga bibi dan paman jika mereka dalam kesulitan ayah selalu membantu mereka dan hubungan persaudaraan sampai sekarang ini sangat baik, tidak seperti paman angkatku paman Admaja yang serahkan dan mengiginkan harta peninggalan kakek padahal dia juga dapat bagian restoran dan juga kerja di perusahaan ayah tapi justru dijualnya dan menghilang setelah kematian kakak Hawari.
"Nak kamu jangan bersedih seperti itu karena kami semua adalah keluarga kamu, kapan saja kamu datang ketempat ini dan datang ke rumah tapi ibu selalu menerima kamu, ingat hanya kamu dan suami kamu yang kami terimah dan besan laki-laki seandainya masih hidup saya pengen ketemu dengannya tapi sayang besan sudah meninggal. saya tidak memiliki besan perempuan jadi kamu jangan sedih!."
Perkataan ibu sangat dalam dengan tatapan agak sedikit emosi saat mengatakan ibu tidak punya besan perempuan, mungkin karena ibu sudah tahu semua tentang bu Anjani sehingga ibu sudah tidak sudi mengenalnya lagi.
" Makasih banyak bu...keluarga yang sangat harmonis saya tidak akan memberitahu dimana Dinda tinggal, kalau nanti pun ibu Anjani datang kesini itu bukan dari saya, tapi bisa jadi dari pengawal yang suruh untuk cari tahu karena pasti sekarang ibu sudah mengetahui siapa Dava, jadi dia pasti melakukan banyak cara untuk mendekati Dinda dan Dava bahkan ibu sendiri untuk menarik simpati."
__ADS_1
"Hahaha...kamu tidak perlu kuatir tetang itu karena ibu dan semua sudah tahu jadi kamu jangan sedih lagi, sebentar lagi kita mau makan tidak elok air mata jatuh kedalam makanan. Ibu dengan tulus mencium kening kakak dengan dan memeluknya"