
Pov Dinda.
Jujur aku cukup syok mendengar jika ayah mertua kenah tikam di perutnya, dari pagi suami bersiap untuk berangkat perasaanku sudah tidak enak. Diam-diam aku berencana menyusul mereka tapi aku berpikir lagi sekarang aku sudah punya anak jadi aku tidak boleh ambil keputusan sendiri, lagian mas Dava pergi bukan sendiri tadi dengan pemgawal ayah mertua dan ayah Winata. Bukan hanya itu ketua Heri yang ada di markas ayah mertua juga turut hadir bersama semua anak buahnya.
Entah kenapa pikiran ku tidak tenang setelah aku menghubungi ayah mertua dan mengatakan jika mereka sudah sampai di hutan tapi belum bertemu dengan mas Dava, setelah aku mengakhiri telpon tiba-tiba ibu yang kebetulan duduk di ruang tengah bersama dengan aku dan bibi merasakan sakit yang luar biasa di dadanya dan hampir jatuh dari sofa jika aku tidak secepat mungkin menangkap ibu.
Aku panik bukan kapalang aku melarikan ibu ke rumah sakit sambil menelpon Ririn dan kakak Dea dan untung mereka berdua datang, aku melarang bibi ikut karena bibi kebetulan tidak enak badan, bersamaan dengan itu perasaanku semakin tak karuan. Aku inisiatif untuk menghibungi mas Dava tapi parcuma sama sekali tidak ada respon aku kembali menghubungi pak Erik tapi nihil sama sekali tidak di angkat.
Akhirnya aku sampai di rumah sakit dan ibu langsung di tangani dokter jangan-jangan penyakit jantung ibu kambu lagi. Mas Dava sebenarnya kemana sih? apa yang terjadi terhadap mereka sehingga tidak ada yang berani mengangkat telpon, mas Dava bukan tipe suami yang cuek kalau tidak terjadi sesuatu yang terdesak mas Dava tidak perna tidak angkat telpon dari ku. Aku berusaha menenangkan diri ini, setelah sampai di rumah sakit ibu langsung di bawah ke ruangan karena sebelumnya aku sudah hubungi pihak rumah sakit jadi mereka sudah tahu.
"Dokter tolong ibu saya dok" ujarku panik.
"Mohon nona muda tenang jangan pikiran percayalah semua baik-baik saja, nona muda tunggu di luar saja dulu biar dokter menangani nyonya Ziya dulu" ujar seorang dokter sambil tersenyum.
"Baik dokter makasih" jawabku.
Setelah dokter masuk bersama ibu kedalam ruangan tinggalah aku bersama pelayan dan beberapa pengawal. Tak lama kemudian kakak Dea datang ternyata kakak Dea dengan Ririn sampai bersamaan.
"Kakak, apa yang terjadi, kenapa kakak disini" tanya Ririn.
"Iya adik apa yang terjadi sebenarnya. Siapa yang sakit kok suruh ke rumah sakit" sambung kakak Dea.
Memang tadi sangking paniknya aku telpon tapi tidak memberitahu kakak Dea dan Ririn kalau ibu yang sakit aku hanya suruh ke rumah sakit saja. Makanya mereka penasaran.
"Kakak, Ririn, ibu ada sakit dan sekarang ibu di dalam ruangan di tangan oleh dokter, tadi waktu di rumah tib-tiba dada ibu sakit jadi hampir sedikit jatuh dari sofa kalau bukan Dinda yang menagkap tubuh ibu" ujarku.
"Apa....! Bibi sakit." ujar Ririn terkejut.
__ADS_1
"Ibu sakit"!
Teriak kakak Dea dan Ririn hampir bersamaan sampai kupingku budek, mereka berdua terkejut dengan berita yang aku sampaikan. Tapi tidak perlu teriak begini juga aku yang tuli mendengarnya.
"Iya kakak, Ririn. Ibu memang sakit, tapi tolong kalau teriak jangan didekatku soalnya sakit telingaku" ujarku.
"Kalau begitu biar Ririn hubungi kakak Dava dan kakak Gama dulu dengan paman, kakak. Mereka harus tahu agar cepat pulang kalau sudah selesai urusan disana".ujar Ririn
"Iya dik kamu sudah menghubungi Dava dan ayah belum mengenai ibu, jangan diam saja biar kalau sudah selesai ueusan mereka cepat pulang."
"Rin, sepertinya tidak perlu hubungi mereka karena mungkin mereka lagi sibuk, sampai-sampai Dinda telpon tidak ada satu pun yang memberikan respon jadi parcuma nanti kamu yang emosi sendiri. Dan satu lagi jangan hubungi ayah jangan beritahu ayah dulu kalau ibu masuk rumah sakit, kalau kamu ingin menghubungi Gama hubungi aja tapi jangan ayah, tadi Dinda sempat hubungi mas Dava pakek hp ibu tapi sama saja tidak di angkat juga." Ujarku.
Akhirnya Ririn yang telpon Gama dan ternyata di angkat, tapi tidak jelas Gama hanya bilang mereka akan segerah pulang tapi saat aku menyuruh Ririn menanyakan ayah dan mas Dava justru Gama matikan telpon, kan ane banget mereka aku mulai curiga terjadi sesuatu dengan mereka tapi mereka masih panik sehingga tidak ingin memberitahu.
Setelah Ririn selesai telpon tiba-tiba dokter keluar dan memanggil aku untuk ke ruangan dokter.
"Jadi begini nona muda, nyonya Ziya tidak apa-apa kalau saya lihat nyonya Ziya hanya mengalami kecemasan berlebihan sehingga mengalami ketengangan otok hal itu yang menyebabkan dada sebelah kanan nyonya Ziya sakit tapi kondisi nyonya Ziya stabil " ujar dokter.
"Syukurlah , aku bisa bernafas lega setidaknya ibu tidak kenapa-kenapa tadi aku sudah sangat panik karena melihat ibu pingsan" ujarku.
"Tapi nona muda, sebenarnya ketengangan otot juga sangat berbahaya kalau tidak di tangani bisa mengakibatan fatal, untung secepatnya nyonya Ziya di larikan ke rumah sakit. Saran dari saya kalau nanti nyonya Ziya sudah keluar dari rumah sakit tolong jaga nyonya Ziya jangan biarkan nyonya Ziya pikiran berlebihan" sambung dokter.
"Makasih banyak dok, berarti saya bisa menjenguk ibu dok? " tanyaku.
"Sebenarnya bisa nona muda, hanya saja saran saya biarkan saja dulu nyonya Ziya istirahat karena nyonya Ziya juga harus banyak istirahat nanti setelah nyonya Ziya bangun baru lah nona muda bisa jenguk"
Aku hanya ikuti saran dokter saja biarkan ibu istirahat dulu setelah bagun baru aku masuk.
__ADS_1
Hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kabar sama sekali dari mas Dava, akhirnya aku kembali menghubungi mas Dava dan betapa syok nya aku mendengar Jika saat ini mas Dava dengan rombongan dalam perjalan ke rumah sakit karena ayah kena tikam, rasanya kedua lututku tidak kuat menahan badanku, aku sampai lemas dan terduduk di atas kursi membuat kakak Dea dan Ririn terkejut.
"Kakak ada apa, siapa yang kena tusuk di perut" tanya kakak Dea dan Ririn bersamaan karena mereka mendengar pembicaraan aku dengan mas Dava.
"I, itu kakak Dea, Ririn ayah mertua kena tikam di perutnya saat hendak menolong mas Dava dari seorang penjahat yang hendak menikam mas Dava."
"Apa! Paman kena tikam.?"
"Ayah kena tikam?"
"Iya makanya mereka takut mengangkat telpon kita. Pantas aja dari tadi perasaanku tidak enak ternyata ayah mengalami musibah"
"Terus gimana kakak, keadaan paman baik-baik saja bukan" tanya Ririn.
"Aku juga tidak tahu Rin kondisi ayah karena mas Dava hanya bilang kalau mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, jadi lebih baik kita tunggu saja sampai mereka datang karena mas Dava tidak jelaskan apapun"
Aku terduduk di kursi dengan badan lemas, kenapa masalah datang silih berganti, aku pikir setelah semua penjahat di singkirkan kehidupan kami kembali tenamg karena tidak ada lagi yang menganggu kehidupan kami ternyata aku salah.
hampir tiga puluh menit sesudah aku keluar dari ruangan ruangan dokter akhirnya aku masuk kedalam ruangan ibu ternyata ibu sudah sadar dan terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Ibu sudah bangun? Apa ada yang ingin ibu makan? Biar Dinda belikan tadi ibu buat Dinda panik aja, jangan banyak pikiran ya bu"
Ibu senyum aja sambil mengelus tanganku sambil ngelengkan kepada tandanya tidak ingin makan, aku tahu ada yang menganjal di pikiran ibu, aku baru menyadari sepertinya ibu merasa cemas saat ayah kena tikam.
"Bibi ada yang ingin bibi makan, bibi harus makan biar sehat jangan banyak pikiran ya bi, mas Dava sudah dalam perjalanan pulang saat mendengar ibu sakit" ujar Ririn.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu ibu soal kondisi ayah, takutnya ibu kembali drop jadi biar saja tunggu mas Davs sampai dulu biar tahu kondisi ayah seperti apa barulah beritahu ibu.
__ADS_1