
Pov Anjani.
Aku tidak menyangka ternyata Dava yang selama ini aku hina dan merendahkan adalah Putra tunggal dari Tuan dan nyonya Adinata, pastinya aku benar-benar syok apalagi pas resepsi aku tidak di undang sama sekali, aku jadi takut jika Tuan Adinata marah dan melakukan hal yang tidak aku inginkan karena aku tahu betul seperti apa kemarahan Tuan Adinata tidak ada ampun bagi orang yang menindas keluarganya.
Aku takut semua ini akan berimbas ke pencalonan Kenedy dan juga perusahaan aku tidak mau bangkrut. Aku memang sangat ketakutan apalagi saat ini Dinda dan Dava sudah tidak tinggal disini jadi aku tidak punya alasan untuk mengambil simpati hati Tuan Sdinata dan nyonya Adinata, dan bagaimana caranya aku bisa memeras mereka karena aku yakin tabungan Dinda pasti full bisa aku memeras dia.
Saat ini pikiranku kalut karena tidak ada lagi yang berpihak kepadaku anak yang aku sayangi Lexza dia beruba drastis saat tahu kalau dia bukan anak kandung mas Evan. Begitu juga Dea semenjak Dinda pergi Dea sudah mulai beruba puncaknya saat aku masuk rumah sakit sampai sekarang dia beruba total. Yang membuat hatiku sangat sakit adalah aku sebagai ibu kandung masih hidup tapi tidak di hargai sama sekali padahal Dea di undang tapi tidak diberitahu aku.
Setelah bergulat panjang dengan Lya aku masuk kedalam kamar pikiran dan perasaanku tidak menentuh aku harus lakukan sesuatu...aku harus telpon Ogen dan minta bantuan aku ingin ketemu dengannya di hotel sekalian melepaskan hasrat ini, karena kalau pikiran aku kalut pengen sekali dibelai oleh Ogen dia sangat lihai bahkan soal ranjang dia jagonya aku juga sangat puas.
Aku ambil hp yang tergeletak di atas tempat tidur dan aku menghubunginya. Tapi panggilan pertama tidak ada respon walaupun masuk, tapi aku gak putus asa akhirnya aku sampai berulang kali telpon baru di angkat. Tapi ane suaranya kayak ketakutan.
"Hallo sayang....ada apa menelpon mas..kangen ya maaf tadi kamu telpon mas ada tamu makanya gak sempat angkat"
"Mas.....ada dimana? boleh tidak kita ketemuan nanti malam tapi di hotel ya aku mau berduaan dengan mas bisa tidak." Tanyaku manja kalau aku sama mas Ogen manja banget entah kenapa selain dia itu jago di ranjang dia juga lembut buat nyaman. Sebenarnya bukan mas Ogen saja tapi juga mas Evan sama mereka berdua sama-sama baik dan lembut namun entah kenapa aku lebih senang dengan mas Ogen.
"Ha.....malam ini sayang? memangnya gak bisa hari lain ya soalnya mas ada acara malam ini, bagaimana kalau besok malam saja baru kita ketemuan ya sayang kamu sabar saja nanti kita ketemuan."
__ADS_1
Aku kesal mendengar perkataan mas Ogen kayak dia sementara berduaan dengan seseorang di kamar, soalnya kedengaran napasnya memburu kayak di kejar.
"Memangnya mas lagi dimana sekarang di rumah atau di hotel kalau di hotel biar aku kesana saja"
"Ja...jangan sayang, mas gak di hotel dan gak juga di rumah mas lagi di luar gak tahu jam berapa pulang ke rumah makannya mas minta besok saja.
Karena aku kesal akhirnya aku langsung matiin telponnya, setelah matikan aku berniat untuk membuka laci di meja riasku untuk memcari sesuatu namun saat aku buka aku menemukan ada sebuah kotak hitam dengan pita warna coklat yang aku yakini ada seseorang yang sengaja meletakan barang ini karena ini bukan punya aku. Karena aku penasaran akhirnya dengan hati-hati aku membukanya namun belum juga kotak itu dibuka dengan sempurna bauh tak sedap menyeruak di hidungku, seketika tanganku gemetaran dan jantung pompa dengan begitu cepat hampir mau copot. Sangking terkejutnya aku sampai teriak kencang.
"Argr....Apa ini ya ampun siapa yang berani memasukan barang bauh busuk ini kedalam laci mejaku." Sergahku gemetaran.
Asli aku kanget dan takut sekali siapa yang berani masuk kedalam kamarku aku harus cek cctv, kebetulan ada cctv tapi karena tubuh ini masih gemetaran karena takut aku berangsur mundur kebelakang dan menjauh dari bangkai itu.
Ternyata teriakanku sampai kedengaran oleh pelayan yang ada di bawah, mereka berhambur naik keatas karena kebetulan pintu kamarku tidak tertutup jadi Maya langsung menerobos masuk, jujur dari semua pelayan di rumah ini Maya yang paling berani di antara mereka semua.
Padahal aku sudah berulang kali memarahinya tapi dia tidak perna mau keluar dari sini, bahkan dia kalau merasa tidak bersalah dia akan melawan biarpun itu bosnya sendiri. Aku merasa hawa Maya ini tidak seperti seorang pelayan biasa dari cara menatap dan cara bicara , gerakan cepatnya dia seperti seorang pengawal handal.
Aku terduduk di atas sofa yang terletaknya agak jauh dari bangkai ikan itu tapi napas dan tubuh saya masih belum berhenti gemetaran.
__ADS_1
Ya Tuhan siapa yang sengaja menyimpan kotak ini berati dia sudah tahu aku yang membunuh mas Evan sehingga dia sengaja meneror aku, kira-kira siapa air mataku mulai membasahi pipi ini padahal aku satu orang paling anti menangis.
"Brukkkk.....nyonya ada apa? Nyonya kenapa ada yang menjahati nyonya" aku melihat ada kepanikan di wajah Maya dan tidak lama ada seorang pelayan mengambilkan air minum untuk bisa menenangkan diri.
"Nyonya apa yang terjadi" tanya seorang pengawal namun saat mereka melihat apa yang ada di lantai mereka sama seperti aku mereka terkejut dan mundur kebelakang.
"Astaga nyonya apa ini, siapa yang berani lakukan ini terhadap nyonya sangat keterlaluan." aku mengatur nafasku sebisa dan setenang mungkin setelah aku tenang baru aku bicara.
"Saya tidak tahu siapa yang melakukan itu jadi tolong bersihkan, sebersih mungkin terus bakar barang itu jangan sampai masih ada sisa."
Awalnya aku merasakan sakit karena di hajar oleh Lya seketika sakit itu hilang tidak ada rasanya lagi. Maya datang mendekatiku dan kembali memberikan minum kepadaku.
"Nyonya minum lagi biar nyonya bisa tenang. dan supaya nyonya tahu siapa dalang dari semua ini bagaimana kalau nyonya nanti cek cctv, karena Maya yakin orang ini ada dirumah ini bukan orang luar yang penting sekarang nyonya tarik nafas dalam-dalam baru lepaskan"
Entah kenapa aku ikuti apa yang di bilang anak ini padahal aku paling benci di perintah oleh orang miskin, tapi ya sudah ini juga saran terbaik biar aku lakukan. Sementara dua orang pelayan membersihkan kamar aku turun kebawah dan duduk di ruang tengah aku mau interogasi semua orang yang ada dirumah ini sebelum buka cctv awas kalau berani ada yang bohong habis mereka.
Aku juga heran kenapa sampai jam segini sih Dea juga belum pulang ya, atau dia masih di restoran bisa jadi sih inikan memang masih siang.
__ADS_1