Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
441


__ADS_3

Saat ini aku dengan kakak Dea dalam perjalanan menujuh ke lapas dimana ibu di tahan, kakak Dea dari tadi nanya mulu mau kemana tapi aku hanya jawab kalau nanti juga kakak Dea akan tahu kemana kami akan pergi. Sampai membuat kakak Dea kesal


"Kakak Dea tenang saja, tinggal ikut aja kemana Dinda membawah kakak pergu yang pasti kakak Dea baik-baik saja sama Dinda. Kita ke suatu tempat yang sangat kakak sukai" hehehe aku sengaja aja biar kakak Dea senang, tapi justru kakak Dea mala menaikan kedua alisnya sambil menatapku.


"Iya kakak tahu kamu pasti menjaga kakak tapi setidaknya kamu kasih tahu kakak kemana kita pergi, kalau tiba-tiba kita hilang tidak ada yang tahu gimana? tadi mas Tahir nanyain kakak loh mau kemana, ya kakak hanya jawab aja kalau kamu yang minta kakak temani tapi tidak tahu mau kemana" ujar kakak Dea, takut banget hilang.


Tidak lama mobil kami membelok masuk kedalam lapas membuat kakak Dea terkejut, kakak Dea baru menyadari kalau ternyata aku membawahnya ke lapas, padahal tadi aku sudah banyak beli makanan ke sukaan ibu dari cake sampai makanan favoritnya juga aku beli entah dia terimah atau tidak nya yang penting kami sampai dulu dan bertemu dengannya, barulah aku tahu yang sebenarnya jika memang ibu tidak berubah ini pertama dan terakhir aku datang menjenguknya. Namun jika ibu sudah berubah dan tidak mau melakukan kejahatan aku akan kembali menyayanginya.


"Turun kakak atau kakak mau disini saja soalnya Dinda mau kedalam " ujarku aku tahu kakak Dea tidak bakal mau tinggal di mobil, makanya aku sengaja


"Ha....kamu tidak bercanda kan dik? Enak aja bilang tinggalkan kakak disini tapi tunggu dulu ngapain kita kesini dik kamu mau jenguk siapa disini ?" Tanya kakak Dea.


"Kakak, kita masuk saja dulu mau jenguk siapa pun itu kita masuk dulu kalau kakak berdiri terus disini bagaimana kakak tahu kita jenguk siapa, ingat kakak sudah janji sama Dinda loh untuk temani Dinda yuk masuk tidak enak di lihat petugas dari tadi" ujarku.


"Bukannya kakak Tidak mau masuk dik, tapi kamu beritahu kakak dulu kamu datang jenguk siapa disini?." Tanya kakak Dea.


Karena banyak tanya ku tarik tangan kakak Dea dan menghadap petugas.


"Selamat pagi nona muda ada yang bisa saya bantu" tanya seorang petugas lapas yang menjaga di depan.

__ADS_1


"Selamat pagi pak, saya mau bertemu dengan nyonya Anjani apakah bisa saya masuk? " ujarku seketika mata kakak Dea membulat sempurna, tapi karena didepan petugas jadi tidak bisa berkutik. Masa seorang putri dari Tuan Winata buat keributan di lapas tidak mungkin.


"Silakan masuk nona dan mohon tunggu sebentar di ruang tunggu" ujar petugas.


Setelah kami lolos pemeriksaan kami berdua di ijinkan masuk kedalam. Baru saja duduk, kakak Dea langsung menghujani aku dengan banyak pertanyaan.


"Dik, ngapain kamu masih mau menjenguk perempuan itu lagi, dia itu sangat jahat dik dia tidak punya hati dia memang pantas mendapatkan hukuman seperti itu, kenapa kamu harus datang menjenguk dia, seandainya kakak tahu dari awal maaf kakak tidak akan ikut kamu kesini" ujar kakak Dea aku tersenyum.


"Kakak harus ingat satu hal, namanya manusia tidak luput dari dosa dan salah, semua punya kesalahan, Dinda punya banyak salah, kakak juga begitu tapi Allah pema,af kakak dia mau mema,afkan kita, apa kita juga tidak bisa melakukan itu?! Dinda tahu ibu sudah banyak berbuat kesalahan Dinda sebagai manusia pasti benci tapi kakak harus ingat kalau bukan karena ibu kita tidak seperti sekarang ini.


Kakak biarpun ibu sudah begitu jahat sama Dinda dari dulu, tapi Dinda tidak perna membencinya, Dinda hanya ingin ibu menebus kesalahan yang sudah ibu lakukan, jika ibu menyadari semuanya dan mau berubah Dinda siap menerimah kembali ibu asal ibu benar-benar berubah" ujarku.


Ternyata aku dengan kakak Dea asyik ngobrol jadi tanpa kami sadari ibu sudah berdiri di depan kami, dan yang membuat kami berdua terkejut adalah ibu berdiri dengan air mata berderai tanpa suara badannya sampai bergetar, tapi ibu tidak maju untuk memeluk aku atau kakak Dea aku dengan kakak Dea yang terkejut masih saling pandang.


Sosok seorang ibu yang dulu cantik dan sangat merawat kulit cantiknya sekarang berdiri di hadapanku dengan kondisi sangat prihatin, dia mengenakan pakian tahanan rambutnya aja berantakan kulit keriputnya sudah kelihat kurus badanya, tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja, begini kah nasib ibu tiga belas tahun di penjarah aku saja hampir tidak mengenalnya, aku dengan kakak Dea memanggilnya.


"I...ibu..." ujar ku dan kakak Dea hampir bersamaan, aku masih menyimak tangisan ibu apakah ibu sudah berubah dan menyesali perbuatannya atau kah ibu masih membenci aku karena aku yang membunuh Lexza dan Admaja, tapi karena tidak tahan emosinya sehingga adanya hanya menangis.


Tidak ku sangkah walaupun tangan ibu di borgol ibu berhabur ke pelukan aku dan kakak Dea dia berusaha memeluk kami, belum ada perkataan keluar dari mulutnya tapi dari tangisannya ini adalah suatu tangisan penyesalan yang sangat dalam, aku merasakannya, aku dan kakak Dea ikut menangis siapapun orangnya tidak tahan jika orang yang kita cintai tapi dia menyakiti hati kita dan saat ini ada di depan kita sambil menangis, aku langsung lulu.

__ADS_1


"Nak....maafin ibu....tolong maafin ibu, ibu tahu ibu tidak pantas untuk di maafkan, ibu juga tahu ibu tidak pantas menjadi ibu kalian berdua nak khususnya kamu sayang maafin ibu, ibu egois ibu jahat dulu ibu sudah menyakiti kamu tapi setelah disini ibu benar-benar menyesal dengan perbuatan yang ibu perbuat selama ini. Ibu sudah tahu kalau Lexza dan Kenedy sudah meninggal, tapi ibu rasa itu sudah takdir nak...kamu tahu selama ini ibu merindukan kedatangan kalian berdua tapi ibu tidak bisa meminta.


Ibu malu menyuruh kalian datang karena ibu merasa ibu tidak pantas disebut sebagai ibu...tolong maafkan ibu nak" ujar ibu ini yang aku tunggu.


"Ibu....ibu tenang dulu ya sekarang ibu duduk dulu tenangkan diri ibu dulu, sebelum ibu minta maaf Dinda dan kakak Dea sudah memaafkan ibu, Dinda tidak perna membenci ibu sebenarnya sudah lama Dinda pengen datang kesini tapi Dinda takut ibu tidak mau menerimah kedatangan Dinda dan kakak Dea apalagi Lexza sudah meninggal" ujarku.


"Setelah ibu kabur dari lapas dan di tangkap terus di pindahkan kesini, ibu selalu di hantui rasa bersalah terhadap kalian berdua dan juga terhadap mas Evan...tolong nanti sampaikan maaf ibu ke mas Evan semoga mas Evan bahagia dengan istri barunya, karena ibu lihat istri baru sangat naik, sebenarnya ibu ingin minta maaf langsung ke nak Dava, nak Tahir dan mas Evan tapi itu tidak mungkin mereka tidak mungkin datang menjenguk ibu disini.


Jangankan mereka mau datang mendengar nama ibu aja sudah sangat benci, makasih ya nak kalian berdua sudah datang kesini melihat ibu sebenarnya ibu malu untuk bertemu dengan kalian berdua nak, tapi jujur ibu sangat menyayangi kalian berdua yang penting kalian sudah menerimah maaf dari ibu jadi jika terjadi apa-apa dengan ibu disini pun ibu sudah tenang karena kedua anak ku sudah memaafkan ibu" ujar ibu.


"Ibu ngomong apa sih semua ini tetjadi atas kehendak Tuhan bu, bukan salah ibu semata tapi sudah di takdirkan. Ayah, mas Dava dan mas Tahir tidak perna membenci ibu percayalah mereka pasti akan datang menjenguk ibu disini nantinya.


Dari tadi aku sendiri yang bicara dengan ibu sedangkan kakak Dea belum ada reaksi apa-apa.


"Ibu....maafin Dea juga ya, Dea sudah membuat ibu kecewa tapi asal ibu tahu sebenarnya Dea sangat menyayangi ibu, Dea melakukan semua itu Demi kita semua bu kalau seandainya rencana ibu berhasil waktu itu mencekakai ayah mungkin sekarang ayah sudah tidak ada disini lagi, tapi untung gagal...Dea harap ibu benar-benar berubah dan saat keluar dari sini ibu bisa menjadi ibu yang baik untuk kami, Dea dan Dinda menunggu kepulangan ibu dari sin" ujar kakak Dea.


"Makasih nak kalian berdua memang anak yang paling baik tapi maaf, ibu sudah nyaman disini jadi lebih baik ibu tetap disini saja" ujat ibu sudah kurus pucat banget lagi.


"Ibu belum makan ya sini Dinda suapin ibu Dinda ada bawah makanan kesukaan ibu, Dinda juga ada bawah cake kesukaan ibu, nanti ibu bisa bagi untuk teman-teman ibu sisanya ibu simpan untuk makan jalau lapar" ujarku aku mengeluarkan satu kotak nasi dari dalam paler bag dan membukanya aku melihat ibu senyum senang melihat makanan yang ada di depan mata, aku inisiatif untuk menyuapi ibu lantaran tangan ibu di borgol jadi susa kalau ibu makan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2