
Bu Anjani yang mendengar kemarahan Dea langsung terkejut karena bu Anjani tidak menyangkah kalau Dea berani bicara seperti itu terhadapnya, lantaran selama ini Dea adalah anak yang penurut tidak perna sembarangan berbicara apalagi kalau sama bu Anjani tidak perna Dea tidak sopan begitu, tapi hari ini bu Anjani bisa melihat sisi lain dari pada Dea.
Bahkan bukan Dea saja yang berani membantahnya tapi Lexza juga sudah berani sama bu Anjani, jadi bu Anjani berpikir apakah selama berapa hari dia kritis ada sesuatu terjadi dengan anak-anaknya sehingga sekarang mereka beruba dan berbalik menyerangnya.
"Apa yang terjadi dengan Lexza dan Dea ya kenapa setelah aku sakit beberapa hari mereka berdua sangat beruba sikap mereka belum tahu lagi kalau Tahir dan Kenedy juga ikut beruba, jangan sampai mereka pergi meninggalkan aku sendirian sakarang mas Evan sudah aku bunuh dan sekarang tinggal mereka, tidak mungkin aku harus kehilangan mereka, tapi mau bagaimana ya aku bisa tahu perkembangan perusahaan dan bisnis lain sedangkan hp saja tidak ada"
Pada akhirnya semua drama yang terjadi dengan bu Anjani dan kedua anaknya selesai karena bu Anjani tidak mau kehilangan kedua anaknya sehingga mau tidak mau dia menurut saja, karena Dea dan Lexza tidak mau sang ibu tahu soal apa yang terjadi di dunia maya, akhirnya mereka memutuskan selama bu Anjani di rumah sakit hpnya tidak di berikan tungggu sampai bu Anjani sehat dulu dan pulang sampai di rumah baru lah mereka ceritakan semuanya.
Sekarang sudah satu minggu bu Anjani di rumah dan kondisinya benar-benar sudah membaik, kemungkinan kalau gak hari ini kalau mungkin besok bu Anjani sudah keluar dari rumah sakit.
"Bu kata dokter tunggu ibu di periksa dulu nanti kalau kondisi ibu benar-benar sudah stabil berarti hari ini juga ibu bisa pulang, tapi kalau kata dokter belum bisa ya mungkin besok baru pulang, ibu sabar-sabar saja dulu" ujar Dea.
Bu Anjani hanya memasang wajah datar saja tidak menjawab apa-apa mungkin sudah mulai sehat jadi bu Anjani mulai kembali jahat lagi dengan anak-anaknya nanti mereka pergi meninggalkannya baru tahu rasa.
Tidak lama pintu ruangan terbuka dan muncul seorang dokter dengan senyuman manisnya.
"Maaf nyonya saya periksa dulu jika nanti kondisi nyonya sudah stabil nyonya boleh bisa pulang hari ini, tapi lengan nyonya tolong di jaga baik-baik jangan sampai kena sesuatu yang akan membuat tangan nyonya terluka lagi, mamang kelihatan diluar sudah sembuh tapi didalam itu belum nyonya."
Setelah dokter periksa dokter kembali tersenyum dan berkata" kondisi nyonya sudah sangat baik jadi nyonya boleh pulang hari ini juga"
__ADS_1
Dokter berkata penuh dengan keramahan tapi bu Anjani sama sekali tidak tersenyum bahkan hanya sekedar mengucapkan rasa terimah kasih saja bu Anjani engan untuk melakukan itu, melihat bu Anjani tidak mengucapkan apa-apa lantas Dea yang inisiatif mengucapkan terimah kasih kepada dokter.
"Dok terimah kasih banyak karena sudah mau merawat ibu saya" ujar Dea tulus.
"Sama-sama nona ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai dokter disini."
Selepas dokter pergi pelayan membereskan semua barang-barang bu Anjani untuk keluar dari rumah sakit hari ini juga. Dalam hati Lexza dan Dea mereka berharap agar kepulangan bu Anjani hari ini tidak di ketahui oleh wartawan, kalau tidak bisa gawat bu Anjani tahu kalau ternyata selama ia dirumah sakit beritanya sudah tersebar kemana-mana.
"Maya tolong bereskan semua barang-barang nyonya ya biar kita pulang" ujar Dea.
"Baik nona."
Seketika membuat bu Anjani murka karena bu Anjani tidak menyangkah kalau wartawan semua sudah tahu kalau dia masuk rumah sakit.
"Maaf ini ada apa ya siapa yang mengijinkan kalian berada disini untuk meliput orang ha" bentak bu Anjani tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh wartawan justru mereka bersemangat mengajukan banyak pertanyaan.
"Nyonya Winata bagaimana perasaan anda setelah tertembak dan apakah nyonya tahu pelaku dan motifnya yang terjadi dalam penbakan ini"?
"Nyonya bagaimana perasaan Anda bisa melewati masa kritis dan sekarang nyonya sudah sembuh"?
__ADS_1
" Nyonya apakah karena dengan adanya berita viral dimana-mana tentang nyonya sehingga saat ini perusahaan Winata grup lagi dalam masa krisis, karena banyak penanam saham yang memutuskan kerja sama"?
"Nyonya apakah benar seperti yang di beritakan di beberapa media kalau ternyata putry pertama anda yang bernama nona Lexza adalah anak dari hubungan gelap nyonya dengan pria lain sehingga nona Lexza di sebut anak haram"?
"Deg......" dari semua pertanyaan yang di lontarkan oleh wartawan hanya dua pertanyaan yang membuat jantung bu Anjani berdisko, yaitu pertanyaan yang mengenai perusahaam yang akan segerah bangkrut dan tentang Lexza.
Bu Anjani merasa pertanyaan mengenai Lexza adalah sebuah tamparan keras untuknya, tidak dipungkiri kalau keborokan yang selama puluhan tahun di sembunyikan akhirnya mulai tercium ke publik, bu Anjani mulai panik karena saat nelihat mimik wajah tidak bersahabat dari Lexza yang beridiri tidak jauh dari situ.
Karena bu Anjani belum jawab satupun pernyataam yang dilontarkan ke bu Anjani akhirnya para wartawan mulai mendesak.
"Nyonya tolong jawab pertanyaan kami, kami butuh jawaban apakah benar nona Lexza bukan anak kandung dari Tuan Evan."
Dari semua wartawan itu ada seorang wartawan yang berdiri berdesakan dengan wartawan yang lain tersenyum sinis memandang bu Anjani entah itu benar-benar wartawan atau orang suruhan tapi menyamar jadi wartawan.
"Nyonya Winata walaupun nyonya belum menjawab satu pertanyaan pun dari wartawan yang sudah bertanya sebelumnya, tapi saya mau mengajukan satu pertanyaan lagi namun saya percaya Nyonya tidak akan bisa menjawab pertanyaan saya tapi nyonya boleh renungkan dirumah"
"Apakah Nyonya Winata ada dibalik kematian Tuan Evan, dan apakah penembakan terjadi karena motiv balas dendam terhadap nyonya"
"Deg......mampus aku siapa sih yang berani bertanya begitu, apakah dia tahu rahasiaku kalau aku yang sudah menyuruh Ogen untuk membunuh papa, ah tidak mungkin Ogen beberkan kasus besar inikan ke orang lain kalau itu terjadi berarti dia juga mau cari mati karena dia pelaku yang sudah meleyapkan nyawah papa. Aduh aku harus jawab apa ya atau aku tidak perlu menjawab satu pun" Guman bu Anjani dalam hati.
__ADS_1
Bu Anjani menghela napas panjang baru berucap" maaf semua pertanyaan yang kalian tanyakan tidak ada yang benar saya parmisi."