
Akhirnya kami sampai di rumah sakit juga, ayah langsung di masukan ke ruang IGD sedangkan kami semua menunggu di luar, ternyata Dinda tahu kalau kami sudah sampai sehingga Dinda, kakak Dea dan Riri datang menjumpai kami kata kakak Dea mas Tahir lagi kerja jadi nanti sore setelah pulang kerja baru datang. Tidak masalah karena memang mas Tahir kerja tapi bukan itu masalahnya Dinda langsung marah setelah mendengar semua penjelasan dariku.
Dinda sedikit menyalakan pengawal yang lalai dalam menjaga, kata Dinda seharusnya sebagai pengawal itu selalu menjaga Tuannya bukan mala teledor akhirnya ayah kena tikam, Dinda juga agak sedikit menyesal karena mendengar perkataanku yang tidak mengijinkan ikut serta kesana, tapi semuanya itu sudah selesai jadi tidak bisa lagi kita mengubahnya.
"itu lah mas dari awal Dinda sudah bilang Dinda ikut untuk membantu tapi justru mas dan ayah melarang Dinda ikut begini jadinya kan, semua berantakan ayah sakit ibu juga sakit Dinda tidak memaksa datang karena Dinda pikir pengawal tidak teledor menjaga mas dan ayah namun ternyata seperti ini jadinya Dinda menyesal tidak menyusul kalian mas" ujar Dinda
Memang apa yang di katakan Dinda ada benarnya, hanya saja bukan cuman pengawal yang lalai tapi aku juga yang tidak menyadari kalau ada yang mengincar nyawahku di belakang. Sehingga ayah yang jadi korban karena menolong aku, ya Tuhan aku merasa bersalah seharusnya aku yang menjanga ayah bukan ayah yang menjaga aku.
"Iya sayang maafin mas ya, mas sudah gagal menjaga ayah sampai ayah mengalami musibah, tapi semua sudah terjadi sayang jadi kita tidak bisa menyalakan satu sama lain. Pengawal juga capek karena melawan penjahat yang ada do hutan itu begitu banyak, sekarang kita fokus untuk kesembuhan ayah dan sementara waktu tolong sayang jangan beritahu ibu dulu ya sayang tidak mau ibu kembali drop lagi karena tahu ayah lagi kritis." Ujarku.
"Iya mas, Dinda tidak berani beritahu ibu, tadi ibu sudah sadar tapi Dinda menyuruh ibu untuk kembali istirahat lagi, ibu juga sempat bertanya mas sudah pulang belum ternyata ibu dapat merasakan kalau ayah dalam bahaya mas, oh ya, mas sudah makan belum sudah jam segini" tanyaku.
"Iya sayang, ikatan batin ayah dan ibu sakit kuat jadi apa yang dialami oleh ayah pasti ibu merasakannya juga sayang, sebenarnya dari tadi belum ada apa pun yang masuk ke perut kami semua sayang karena mikirin kondisi ayah, Mas sangat cemas dengan kondisi ayah sampai lupa makan ujarku.
Sekarang tinggal aku dan Dinda terus beberapa pengawal di rumah sakit, kalau yang lain aku suruh pulang ke rumah untuk menjaga rumah dan juga ketua Heri dan anak buah yang ikut serta mengantarkan ayah kesini mereka juga sudah pulang ke markas. Karena perjalanan mereka sangat jauh jadi mereka tidak bisa lama disini, ayah mertua juga sudah pulang bersama kakak Dea katanya nanti malam barulah mereka kembali dengan ibu Riska.
Aku juga menyuruh Rafa pulang dengan Ririn karena dari tadi pagi Ririn sudah di rumah sakit, kalau adik ku yang satu ini kayak prangko aja kemana aku pergi disitu dia berada Gama, saat aku menyuruhnya pulang justru dia tidak mau katanya dia menunggu di rumah sakit saja jadi sekarang Gama dengan asisten Arfan dan pak Erik lagi ngobrol sedangkan Dinda mengajak aku untuk pergi makan.
__ADS_1
"Pak Erik kita makan dulu karena dari tadi kita belum makan, lebih baik kita makan di kantin saja nanti setelah kembali kita beli makanan untuk pengawal saja, Gama yuk sama asisten Arfan kita pergi makan tidak perlu keluar dari rumah sakit aku rasa makanan di kantin rumah sakit juga enak atau kita ke restoran rumah sakit saja" tanyaku.
"Tuan muda lebih baik kita ke restoran rumah sakit saja karena jam segini pasti kantin penuh dengan keluarga dari pasien jadi berdesakan disana, kalau di restoran kota bisa duduk santai " ujar pak Erik.
"Benar itu kakak kita ke restoran aja lagian restoran di samping juga, bukannya jauh dari sini memang di kantin enak hanya saja pasti banyak orang. Kakak mau berdesakan disana, biar kita cepat selesai makan dan kembali kesini takutnya dokter mencari kakak kalau kita lama di kantin, lagian nih kakak semenjak kita sampai disini kita belum jenguk bibi loh" ujar Gama benar juga.
"Iya mas benar kata pak Erik dan Gama kantin memang sangat rame karena tadi Dinda makan disana bersama kakak Dea dan Ririn, tapi makanan kami tidak habis di makan karena kami buru-buru saat mendengar ayah sudah sampai disini jadi aku lapar lagi mas yuk kita makan, entah kenapa Dinda sering kali makan karena lapar terus" ujar Dinda terkekeh.
Semenjak Dinda memberikan ASIP kepada kedua anak ku, porsi makan Dinda bertambah tapi anenya tubuhnya tetap langsing dan bagus. Aku sampai heran istri ku minum obat apa sampai badannya sebagus ini padahal aku tidak masalah jika badannya gemuk. Dinda sangat pintar merawat badan jadi kalau orang yang tidak mengenal Dinda mereka pasti mengira jika Dinda masih anak gadis hehehe.
Akhirnya kami berlima menujuh ke restoran dan pak Erik langsung pesan makanan yang ingin kami makan lagian manejer restoran juga sudah mengenal kami jadi tidak banyak tanya tinggal pak Erik dan asisten Arfan yang mengurus semua makanan kami.
"Pak Erik bagaimana dengan makanan untuk pengawal sudah siap belum" tanyaku.
"Sudah tuan muda" jawab pak Erik.
" Ya sudah kalau begitu kita kembali ke rumah sakit takutnya dokter akan mencari aku" ujarku.
__ADS_1
Aku mengandeng tangan Dinda dan kembali ke rumah sakit, aku rencana sore aku menyuruh Gama antar pulang Dinda dulu untuk istirahat di rumah sedangkan aku yang jaga di rumah sakit saja, dari tadi aku sampai aku belum menjenguk ibu karena aku ingin tahu kondisi ayah dulu.
"Tuan muda"
Ada suara yang memanggilku saat kami mendekati ruang IGD. Aku menoleh ternyata dokter yang menangani ayah jalan mendekati ku.
"Iya dokter ada yang bisa saya bantu" tanyaku.
"Boleh kita bicara sebentar di dalam ruangan saya Tuan muda, ada hal penting yang ingin saya sampaikan" ujar dokter membuat jantungku berdegup kencang.
"Baik dokter" ujarku dan langsung aku menarik tangan Dinda dan mengikuti dokter dari belakang entah apa yang ingin dokter sampaikan kepada aku, ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan ayah karena tadi di jalan napas ayah tersendak-sendak begitu terus bekas operasinya juga keluar darah, untung ada dokter Riski dan dokter lainnya yang selalu menperhatikan kondisi ayah.
"Silahkan duduk Tuan muda". Ujar dokter.
Setelah aku dan Dinda duduk dokter menarik napas panjang baru membuangnya dengan kasar.
"Tuan muda ampuni saya sebagai seorang dokter dengan berat hati saya sampaikan kalau kondisi Tuan Adinata semakin menurun, saat ini Tuan muda membutuhkan stok darah tiga kantong karena Tuan Adinata banyak kehilangan darah. Tapi sayangnya stok darah disini habis jadi kita butuh donor darah secepatnya apakah ada saudara yang darahnya cocok boleh butuh bantuan mereka untuk mendonorkan darahnya." ujar dokter.
__ADS_1
Seketika lututku lemas rasanya tulangku lepas dari sendi-sendinya, tenangaku sudah habis mendengar penjelasan dari dokter. Benar kata dokter Riski ayah kehilangan banyak darah jadi butuh donor juga banyak kalau aku dan ayah darah kami sama, tapi kalau hanya aku apa iya darahku sampai lima kantong. Apalagi golongan darah ayah sangat langkah sama juga kayak.
Aku jadi lemas mendengar penjelasan dokter, dengan sekuat tenanga aku menguatkan hatiku agar tidak rapuh di depan istriku.