
Aku masih diam menyaksikan kemarahan ayah mertua dan Dinda, ayah mertua tidak terimah Dinda di rendahkan, begitu juga ibu apalagi aku sebagai suami Dinda siapa juga yang terimah istrinya di hina dan direndahkan begitu.
"Tuan Angga jaga bicara anda, siapa yang anda maksud perempuan rendahan, hati-hati anda bicara, seharusnya anda intropeksi diri disini putry siapa yang rendahan putry saya atau putry anda. Disini putry saya adalah istri sah dari Tuan muda Dava sedangkan putry anda hanya seorang gadis rendahan yang menginginkan suami orang apakah seperti itu attitude yang di miliki oleh putry anda Tuan Angga?, kok bisa seorang gadis cantik lulusan luar negeri harga diri yang sangat rendah setelah pulang ke tanah air hanya berprofesi sebagai perebut suami orang.
Apakah tidak ada pria lain selain menantu saya sehingga anda menginginkan menantu saya menjadi menantu anda juga, Tuan Angga yang terhormat sepertinya perusahaan Winata grup tidak ingin bekerja sama dengan anda jadi mulai sekarang kita batal kerja sama, dan satu lagi jika anda menyentuh putry saya itu artinya anda juga menyentuh saya jadi kita lihat saja nanti."? Ujar ayah mertua.
"Hahaha...silahkan Tuan Winata jika anda tidak ingin kerja sama dengan perusahaan saya karena perusahaan juga masih nomor dua di bawah naungan perusahaan Adinata jadi saya tidak takut selagi perusahaan saya masih bekerja sama dengan perusahaan Adinata grup ya tidak Tuan Adinata, anda tidak menyesal Tuan Winata jika memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan saya, hati-hati Tuan Winata takutnya anda akan menyesal dan menangis darah "? Ujar om Angga.
Mungkin om Angga belum tahu jika perusahaan pusat sudah di ganti pemimpin, aku yang menjadi Ceo nya baik lah aku akan membuat senyum kamu akan hilang seketika, sombong banget sih jadi orang biasanya orang sombong itu akan cepat jatuh.
"Oh ya, kita lihat saja nanti sebentar lagi siapa yang akan menangis darah saya atau Tuan Angga, Anda tidak perlu meninggikan diri Tuan Angga karena diatas langit masih ada lagit, jadi walaupun Tuan Angga sekarang memiliki kekuasaan tinggi tapi tidak untuk kedepan. Jadi jangan meresa anda paling berkuasa disini sehingga anda tidak menghargai orang lain, seandainya saya tahu anda tidak memiliki attitude yang kurang baik saya tidak akan datang." ujar Ayah mertua.
__ADS_1
Perkataan ayah mertua membuat wajah om Angga merah merona karena malu, begitu juga Aisya yang tidak terimah dengan hinaan yang di lontarkan oleh ayah mertua sehingga Aisya langsung marah dan membentak ayah mertua hal itu mendapatkan perhatian dari parah tamu undangan.
"Dasar Tua bangkah berani sekali anda mengatai saya seperti itu, saya ini memang lulusan luar negeri dan saya sangat mengenal dengan anda Tuan Winata bukankah dulu kita juga perna ketemu dan saya sayang mengenal putry anda yang tidak berguna ini." ujar Aisya.
Plakkkkk!
"Sudah berapa kali saya ingatkan kamu untuk menjada lisan kamu ha, sekali lagi kamu mengatakan hal itu aku tidak segan mengeluarkan lidah kamu dari mulut kamu itu, putry dari Tuan Angga yang terhormat tidak punya kelakuan yang baik dan tidak menjadi contoh yang baik bagi orang lain" ujar Dinda
"Astaga saya tidak menyangkah loh, ternyata seperti ini sifat asli Tuan Angga, hanya karena ingin di sanjung oleh banyak orang sehingga Tuan Angga menghalalkan segalah cara untuk memikat hati Tuan muda Dava. Padahal Tuan Angga sudah tahu kalau Tuan muda Dava bukan pria lajang melainkan sudah punya istri. Miris banget lagian putrynya juga sama, sama-sama tidal tahu diri" ujar seorang tamu undangan.
Aisya bangkit dari duduknya dan hendak menampar Dinda, tapi dengan cepat aku menangkap tangannya dengan kuat aku mengelintirkan tangan Aisya membuatnya meringis kesakitan, tangan sekecil ini berani sekali memikul istriku.
__ADS_1
"Nona Aisya, tolong jaga tangan kecil anda dengan baik saya takut tangan sekecil ini sekali saya mutar ke belakang langsung patah, ingat jangan cobak-cobak tangan anda menyentuh istri saya kalau tidak semua tulang anda saya patahkan, anda siapa tidak punya sopan santu menyentuh nona muda Adinata, kami datang kesini karena menghargai undangan Anda Tuan Angga tapi jika kedatangan saya kesini membuat putry anda salah paham saya secara pribadih meminta maaf.
Tapi disini saya mau tekankan bahwa saya sudah punya istri atas nama Dinda Andinita Adinata, jadi tidak ada wanita lain selain istri saya apalagi di paksa tuangan dengan wanita tidak jelas yang kerjanya hanya memaksa" ujarku menengaskan.
"Dava jangan seperti ini saya tahu kamu marah karena waktu itu saya menolak perjodohan itu, sehingga kamu marah dan dendam padakku sampai kamu terpaksa menikah dengan perempuan ini agar membuat aku cemburu. Aku memang cemburu Dav tapi aku iklas jika aku menjadi yang kedua aku sangat mencintai kamu Dav tolong jangan tinggalkan aku, kita hanya tuangan saja tapi tidak langsung menikah, jangan membuat aku malu dan keluar malu Dav.", ujar Aisya.
"Nona Aisya...anda bicara apa dari tadi, saya menikah dengan istri saya atas dasar cinta jadi tidak ada hubungan apapun dengan perjodohan itu, lagian waktu perjodohan itu sudah balasan tahun yang lalu dan saya juga tidak setujuh waktu itu, dan satu lagi saya tidak peduli mau anda malu atau keluarga anda malu tidak ada urusan sama sekali dengan saya, jadi tolong jangan nganggu saya." ujar ku.
"Tapi Dav aku meninggalkan pria itu demi kamu, kenapa kamu justru tega sama aku Dav tolong jangan memperlakukam aku begini, apalagi orang tua kita kerabat dan perusahaan kita juga kerja sama jadi pasti kita sering kali ketemu. Istri kamu ini lagi hamil jadi kalau dia sudah melahirkan otomatis dia jarang menemani kamu, jadi biar aku yang menemani kamu dan dia yang bagian melahirkan" ujar Aisya menatap sinis ke arah Dinda.
Aku berpikir lebih baik aku memutuskan kerja sama dengan perusahaan om Angga saja agar tidal terjadi kesalah pahaman seperti sekarang ini jujur aku merasa sangat ternganggu apalagi Dinda belum kelar dengan Emelia dan Lexza sekarang datang lagi yang lain gila benar nih, aku tidak peduli peduli lagi hubungan ayah dan om Angga nanti kedepan seperti apa tapi saya mau hidup tenang dengan istriku jadi aku ambil jalan pintas dengan memutuskan kontrak kerja sama saja agar tidak ada ikatan antara kami.
__ADS_1