
Kali ini perseteruan antara Lexza dan Dea kembali terjadi dulunya mereka berdua sangat menyayangi dan saling membantu satu sama lain namun semua beruba setelah kepergia Tuan Evan dan Dinda dari rumah keluarga Winata. Semakin hari makin kacau mereka saling menyerang satu sama lain seperti Lexza tidak akur dengan Dea Tahir juga sudah tidak akur dengan Kenedy justru sekarang paman dan bibik lebih berpihak dengan Dea dan Tahir ketimbang membelah Lexza.
Apalagi saat ini hati Dea lagi panas di tambah Lexza yang tidak bisa di ajak bicara baik-baik membuat Dea makin membara.
Sedangkan Kenedy yang melihat istrinya di tampar tidak menerima hal itu akhirnya Kenedy dan Paman Gibran jadi bersih tengang.
"Paman harus jaga sopan santun ya selama ini saya menghargai paman karena paman adalah adik dari ayah Evan tapi sekarang untuk apa aku harus menghormati paman lagi sedangkan ayah Evan sudah tidak ada. Tolong menghargai istri saya dan jangan sembarangan menamparnya karena aku tidak sudih tangan kotor anda itu menyentuh istri saya" teriak Kenedy membuat paman Gibran panas.
"Hey jangan teriak disini menantu tidak berguna memang sih kalian berdua cocok karena anak punggut dengan gembel sih cocok, di sebut gembel karena belum tentu kamu menang di pilpres dua minggu lagi saya yakin besok kalian kampanye juga gak ada orang yang datang."
Karena perkataan paman Gibran membuat Kenedy sudah tidak kuasa menahan emosinya dan pada akhirnya Kenedy melayangkan tinjunya ke wajah paman Gibran untung dengan singap Tahir menahan tubuh paman Gibran kalau gak sudah tersungkur di lantai.
Bukkkkkk!
"Bajingan kau biadab berani sekali kamu memukul orang tua, memang ya dasar manusia tidak punya tata krama" ujar Tahir melayangkan tinjunya tepat di pipi Kenedy seketika darah segar mengalir keluar dari bibirnya.
Bunmkkkk"
Melihat Suaminya di keroyok oleh paman dan adik iparnya membuat Lexza teriak histeris sambil memanggil pengawal untuk melerai mereka namun justru Dea melarang pengawal untuk mendekat.
__ADS_1
"Kurang ajar kalian berani sekali kalian keroyok suami saya kalian mau mati ha dasar tua bangka bisa-bisanya kamu memukul suami saya, dan kamu juga ipar gembel berani kamu menyentu suami saya. Pengawal.....tolong kesini singkirkan manusia-manusia in."
Pengawal yang berlari mendekat langsung di hentikan oleh Dea.
"Stop jangan mendekat lebih baik kalian semua kembali ke tugas masing-masing dan jangan ikut campur urusan keluarga ini, silakan kalian keluar jangan hiraukan omong kosong perempuan sialan ini." ujar Dea emosi masalah dengan ibunya masih menyisahkan luka yang dalam dihatinya kerena belum tersalurkan ke manapun jadi Dea masih menyimpan semua rasa sakit itu akhirnya Dea melampiaskan emosinya ke Lexza.
Bisa mati sih Lexza kali ini, Dea berjalan mendekati Lexza dan berdiri tepat di hadapannya dengan mata memerah emosi Dea sudah sampai tingkat dewa.
Plakkkk...bumkkkk...!
"Argrh ..bajingan kamu Dea...
"Ingat ya anak pungut kamu tidak ada hak apapun dirumah ini jadi jangan sok berkuasa disini, ternyata kamu memiliki banyak urat malu dan muka kamu sangat tembal dengan foundation, makanya kamu memiliki ketebalan muka sehingga kamu tidak tahu diri coba deh kamu berkaca siapa kamu disini siap yang kamu hadapi saat ini? jangan kamu pikir karena kamu pangkat kakak disini jadi aku takut oh tidak aku tidak akan takut sama sekali apalagi hanya menghadapi ulat bulu seperti kamu yang asal nempel dan membawah penyakit bagi orang lain karena merasakan gatal diseruh tubuh."
"He.. Dea kamu sopan sama kakak kamu bagaimanapun juga dia adalah kakak kamu biarpun pada akhirnya kalian bukan saudara kandung tapi bukannya selama ini kalian berdua akur, jangan hanya karena hasutan setan dari orang tua ini dan adik kamu yang miskin itu kamu dengan Lexza jadi tidak aku seperti ini" ujar Kenedy menambah emosi Dea
Perkataan Kenedy membuat Dea makin tersulut emosi kebetulan di disamping Dea ada vas bunga, tidak berpikir panjang Dea dengan kasar mengambil vas bunga itu dan brakkk....Dea melayangkan vas bunga itu tepat di kepala Kenedy dan darah segar langsung mengalir begitu saja.
Kenedy yang dapat pukulan dari Dea awalnya kelihatan terkejut tapi tiba-tiba kepalanya berputar-putar akhinya tersungkur di lantai.
__ADS_1
Brakkkkk!
"Mas....mas Kenedy bangun mas jangan meninggalkan saya mas tolong pengawal tolong telpon dokter suruh segerah kerumah" teriak Lexza sambil menatap Dea yang lagi duduk santai tanpa merasa bersalah sedikitpun dengan tatapan membenci.
"Aku sudah dari tadi mengingatkan untuk tutup mulut busuknya tapi kamu justru ngeyel dan sama sekali tidak mau dengar-dengaran, akibat orang yang selalu merasa benar dan tidak mau mendengarkan perkataan orang. Dan kamu juga perempuan licik lebih baik secepatnya kamu angkat kaki dari sini atau aku buat perhitungan denganmu jangan kamu main-main denganku, karena aku bisa jadi orang baik dan aku juga bisa jadi orang jahat tergantung sikapnya terhadap aku."
"Ayuk mas, paman kita istirahat aku mau tidur soalnya capek sekali atau paman mau bantu dia untuk mengangkat mayat suaminya silakam kalau aku tidak sudih."
Mendengar kata mayat keluar dari mulut Dea, Lexza merasakan sakit kali hatinya Lexza meneriaki Dea yang sudah berlalu pergi masuk kedalam kamar dan tidak sekalipun peduli dengan Kenedy yang tidak sadarkan diri dan bersimbah darah dilantai.
Bu Anjani masuk kedalam kamar dan ingin membuka hpnya tapi tiba-tiba ngantuk banget karena baru selesai minun obat, akhirnya bu Anjani urunkan untuk membuka hp dan memilih tidur tapi bu Anjani takut-takut jangan sampai ada yang mengincarnya lagi jadi bu Anjani menurup gorden dan juga jendelah.
Namun tidurnya tidak nyaman selalu ternganggu dengan keributan dari lantai bawah yang menimbulkan kebisingan.
"Aduh siapa sih orang ini ribut banget deh orang lagi istirahat juga aku harus istirahat besok aku harus masuk kantor"
Tidak lama kemudia dokter pribadi keluarga Winata sampai dan langsung memeriksa Kenedy Lexza tidak berhenti menangis takutnya sang suami kenapa-kenapa.
Setelah selesai dokter selesai periksa, Lexza langsung bertanya apakah suaminya baik-baik saja.
__ADS_1
"Dok apakah suami saya baik-baik saja"? Tanya Lexza.
"Nona Lexza tenang ya, Tuan Kenedy tidak apa-apa hanya luka kecil saja karena pukulan tadi tidak terlalu kuat kalsu tidak bisa fatal" ujar dokter.