
Aku berpikir kenapa Dava tiba-tiba ngajak lagi aku ketemuan besok kemana ya kira-kira mana gak mau kasih tahu lagi kemana katanya rahasia.
Sengera aku melajukan mobilnya melewati banyak kendaraan yang lalu lalang aku belum periksa semua barang yang aku bawah, rencana nanti sampai di apertement baru aku periksa satu persatu apa yang aku bawah, yang jelas brangkas utama tidak ada yang tersisa didalamnya aku sudah mengangkut semuanya biar tahu rasa nenek lampir itu aku mau lihat seperti apa reaksinya saat tahu tidak ada satu pun harta karung yang tersisa haahha....
Matrenya kelewatan sih makanya kena karma hanya karena harta dia rela membunuh suaminya yang selama ini sudah mengubah hidupnya dari gembel menjadi nyonya, berani melakukan kejahatan membuat siasat untuk membunuhnya apalagi aku bisa mati di tangannya, memang ya dasarnya sudah buta hati jadi apa yang dia lakukan tidak memikirkan efek sampingnya.
Aku juga harus waspada terhadap mas Tahir biarpun mas Tahir suamiku tapi aku belum percaya sepenuhnya apalagi pas aku dengar sendiri waktu itu ibu mengatakan kalau selama ini mas Tahir juga selalu berikan uang untuk ibu.
Aku melajukan mobil menuju apertemen ayah. Sebenarnya apertemen ini diluar pengetahuan perempuan itu masih banyak aset yang ayah milik tapi ayah tidak perna memberitahu ibu, mungkin sudah lama ayah mengetahui sifat asli ibu makanya ayah diam-diam membeli beberapa aset atas nama ayah.
Tapi semua surat-suratnya ayah simpan di apertemen itu, aku tahu karena perna sekali aku di ajak oleh ayah pergi ke apertemen jadi ayah cerita kalau apertemen itu adalah milik ayah, untung aku tidak memberitahu ibu soal aset itu jadi sekarang aku harus menyimpan semua barang berharga ini ke sana nanti besok baru aku berikan kepada Dava dan Dinda tapi sebelumnya aku cek dulu apa-apa saja yang aku bawah.
Aku menempuh jarak dari rumah sampai di apertemen hampir satu jam lebih karena memang agak sedikit jauh dari rumah.
Setelah aku sampai aku langsung parkir mobil di parkiran dan gegas masuk kedalam lift namun belum tiga langkah namaku di panggil seseorang.
Aku menoleh dan mendapati manajer dengan senyum manis.
__ADS_1
Selamat datang nona Dea sudah lama tidak bertemu apakabar nona?"
"Kabar baik manajer"
"Syukurlah, apakah nona Dea mau masuk kedalam apertemen"?
"Iya Manajer, apakah tidak bisa"?
"Oh sangat bisa silakan masuk nona jika nanti nona membutuhkan sesuatu tinggal hubungi saja"
"Baik manajer"
Akhirnya aku masuk kedalam kamar dan langsung membuang diri di kamar sepertinya aku nanti ajak mas Tahir nginap disini saja tapi aku harus bicara sama manajer jangan sampai manajer keceplosan soal apertenen ini adalah milik ayah.
Aku merebakan tubu yang lelah ini diatas kasur yang empuk rasanya pengen nutup mata saja. Tapi kalau aku tidur nanti gak jadi ke restoran.
Sedangkan aku juga harus cek restoran karena apapun terjadi nanti restoran itu akan menjadi milikku, aku tidak butuh banyak aset yang aku dapat, aku hanya butuh restoran karena memang dari dulu aku ingin punya restoran aku harus menjaga bisnis ayah.
__ADS_1
Aku belum bergerak dari tidurku karena memang mataku sangat berat sekali pengen menutupnya sebentar saja, aku berpikir dari pada nanti aku ketiduran lebih baik aku basuh wajahku dengan air saja biar terang kalau soal make up luntur itu nanti soal belakangan yang penting mata ini bisa terang kembali.
Aku gegas ke kamar mandi dan membasuh wajahku dan betul juga mata ini langsung terang. Setelah keluar dari kamar mandi aku langsung membuka tas ransel dan memeriksa apa isinya didalam. Aku keluarkan semua isinya satu persatu.
Aku memeriksan duluan sertifikat ternyata setelah aku hitung semua hanya sepuluh sertifikat...padahal seingat aku asetnya bukan sedikit waktu pembacaan hak waris itukan palsu makanya tidak semua dibacakan. Sertifikat atas nama paman Gibran sudah gak ada semua bisa jadi paman Gibran diam-diam sudah mengambil hak miliknya baguslah tapi sertifikat rumah perusahaan dan beberapa aset tidak ada.
Aduh kemana semua ya apakah perempuan itu sudah mengambil dan menyembunyikan di tempat lain, tapi aku rasa itu tidak mungkin bisa jadi ayah yang mengambil semua itu sebelum pergi terus ayah simpan barang itu dimana jangan sampai manusia itu mendapatkan sertifikat itu bisa gawat.
Aku menyimpan kembali semua sertifikat itu dan aku membuka berkas lainnya ternyata ini adalah surat penting lainnya ini milik ayah biar aku simpan saja walaupun ayah sudah tidak ada aku saja yang simpan.
Setelah selesai aku berali menghitung emas batang ternyata dua puluh lima emas batang, aku yakin ini juga tidak semua karena aku perna dengan dari ayah kalau emas batang yang lain ada di suatu tempat. Tidak hanya itu ada uang setumpuk aku heran kenapa mereka mau menyimpan uang sebanyak ini di brangkas ini kisaran miliyaran bukan uang sesikit.
sekarang mataku tertuju pada banyaknya berlian di depanku kalau aku jual semua berlian ini bisa di taksirkan hampir satu triliun, dari banyaknya barang dan juga dalam surat-surat barang ini satu barang saja mencapai miliaran gila benar ya ibu beli berlian saja sampai semahal ini.
pertama aku hitung gelang dan jam tangan saja terbuat emas....gelang sebanyak sepuluh, Cincin tiga belas jangan salah cincin dengan gelang harga bukan main bagaimana lagi dengan kalung dan anting Asli gila benaran mengetahui sifat asli ibu yang gila harta, sampai belanja barang sebanyak itu tapi seperti apapun barang berlian ibu tidak sebanding dengan apa yang di pake oleh Dinda aku memang sangat akui berlian yang di pakek oleh Dinda mantap banget.
Belum lagi anting dan gelang kaki semua aku binggung tapi sekarang barang itu sudah ada di tanganku jadi aku harus berdiskusi dengan adikku, aku tidak mau jadi kakak durhaka dan serakah karena semua barang ini adalah milik kami berdua jadi biar kami berdua berbicara.
__ADS_1
Kalau seandainya ayah masih hidup mungkin aku langsung tahu jawaban dan mendapatkan solusi dari ayah tapi sayangnya ayah sudah bahagia di sorga karena kebiadaban ibu, ingat kembali ini pengen aku marah tapi mau bagaimana lagi