
Bukan hanya Dea yang terkejut dengan kedatanganku, tapi juga dengan sih mbak pelayan toko juga terkejut sampai ia menundukan kepala.
"Nona muda" ujarnya membuat Dea makin terkejut sampai mulutnya terbuka lebar saja ia tidak menyadarinya.
"Mbak jika nona ini tidak mau mengambil barangnya biar aku saja belinya dua kali lipat bagaimana. Kalau mbak mau sekarang juga aku transfer"
"Maaf nona muda, sebenarnya kalung ini adalah kalung pesanan nyonya besar untuk anda nona muda, tapi mbak ini datang dan ngotot untuk membelinya tapi justru hanya kalung saja yang ia mau sedangkan yang lain tidak, itupun nona ini menawarkan dengan harga sangat rendah."
"Begitu kah? Kalau begitu beritahu aku nominalnya biar aku transfer karena tidsk mungkinkah nona ini mampuh membelinya."
Aku mengalihkan pandang ku ke Dea dan tersenyum kepadanya, aku juga tidak lupa menyapanya, karena aku mau melihat seperti apa reaksinya.
Aku melihat dari tatapannya dia sangat marah padaku, karena aku sudah merendahkan harga dirinya didepan pelayan toko.
Dia tersenyum sinis padaku lalu berucap.
Kalau sudah miskin dan melarat ya melarat aja, tidak usa sok kaya di depanku kamu pikir aku takut. Aku yakin kamu hanya ingin menas-manasin aku kan dasar rakyat jelata, seharusnya kamu itu sadar diri kamu itu siapa, setelah keluar dari keluarga Winata akhirnya kamu muncul juga, mendingan pulang ke rumah agar ibu bisa mengampunimu."
Lucu gak sih aku belum bicara apa-apa sama dia aja udah emosi duluan panas dingin melihat penampilanku.
Aku menatapnya dengan tajam lalu aku berbisik ditelingannya.
__ADS_1
"Maaf nona Dea kita tidak memiliki hubungan apapun jadi sopan jika bicara dengan aku, dan satu lagi kalau bicara itu harus ngaca siapa disini yang melarat aku atau anda nona, jangan lupa juga anda itu masih numpang di rumah keluarga Winata padahal anda sudah punya suami. Kalau memang anda orang kaya kenapa kalung seharga enam ratus juta anda tidak sanggup malu dong hanya pikul nama Winata tapi harga kalu yang sangat murah ini aja nona tidak sanggup."
Perkataanku berhasil membuat Dea emosi dia hampir sedikit melayangkan tamparan keras ke pipiku, tapi entah kenapa dia tidak jadi menamparku coba aja tadi kalau sampai tangan kecilnya itu mengenai wajahku aku tidak akan mengampuni tangannya itu dan langsung aku patahkan.
Karena aku melihat dia tidak jadi akhirnya aku bicara lagi.
"Kamu beruntung masih nahan emosi dan tahu malu jadi tangan kotormu itu tidak jadi kena tubuhku ini, jika tidak aku pastikan hari ini tempatmu di rumah sakit, memang ya keluarga tidak ada attitude seperti ini, suka sekali menyiksa orang dengan tangan kotor itu, aku peringatkan anda nona Dea sekali lagi jika sampai tangan anda itu berani menyentuh aku akan aku patahkan."
Setelah selesai bicara aku langsung mengambil barang yang ada di pelayan dan aku berbisik ke teliga pelayan toko.
"Mbak boleh aku minta tolong, jika nanti nona itu bertanya nyonya besar siapa yang mbak maksud tadi bilang aja gak tahu jangan coba-coba mbak beritahu dia, mbak tahukan akibatnya nanti"
"Baik nona muda"
Saat aku masuk kedalam mobil dan keluar dari area parkir, aku melihat Dea datang mengejarku tapi aku tidak hiraukan dan aku pergi meninggalkannya yang teriakin namaku.
Bodoh amat, buat apa peduli dengan manusia serakah seperti mereka, paling kalau mereka tahu siapa suamiku sebenarnya, mereka akan datang dan seperti anj**ng menjilat ludanya sendiri, seoalah-olah mereka keluarga terhormat jadi harus di hargai dan dihormati.
Aku melanjutkan perjalanan ke restoran yang sudah disepakati untuk pertemuan teman arisan sebenarnya ada rasa deg-degan gitu karena seumur hidup beru kali ini aku ikut arisan. Tapi mungkin dengan cara seperti ini agar aku lebih mengenal karakter banyak orang dan ini juga kesenangan tersendiri untukku.
Hampir satu jam perjalananku ke restoran, yang pasti aku tidak akan lepas dari jangkauan para pengawal, tadi waktu di mall mereka sudah menyaksikan sendiri pas aku adu argumen dengan Dea jadi pasti laporan wajid sudah sampai di teliga ibu dan mas Dava hahah.
__ADS_1
akhirnya aku sampai di tempat tujuan, setelah aku parkir mobil tapi bulum turun, tak sengaja mata ini menagkap sebuah mobil yang tidak asing bagiku yang sangat aku kenal, terparkir tepat di depan mobilku berhadapan.
Wah...seru kayaknya deh ternyata nyonya besar Winata ada juga disini, oh jadi nyonya Winata bergabung dengan grup arisan ini juga hehe....permainan sepertinya makin memanas.
Aku merapikan rambut dan make up ku dan setelah itu aku keluar dari mobil, aku melihat kedua pengawal hendak turun untuk mengikuti aku kedalam tapi aku mencengah mereka aku biarkan mereka tunggu diluar saja, karena kalau mereka masuk pasti Anjani curiga.
Akhirnya mereka hanya nurut saja lagian restoran bintang lima ini milik mas Dava, aku baru diberi tahu sama ibu, jadi tidak mungkin ada kejahatan terjadi didalam. Aku melihat banyak sekali pengunjung rameh sekali.
Saat aku masuk dari jauh aku melihat bu Anjani duduk memangku kaki seperti nyonya besar di tempat duduknya sambil main hp yang ada di tangannya, seperti biasa ekspresinya datar tidak ada senyum diwajahnya pantas aja kelihatan tua.
Justru ibu yang kelihatan masih muda padahal umur ibu lebih tua dari padanya. Saat aku hampir mendekati jeng Lili memanggilku karena sebelum aku datang, aku sudah komunikasih pribadi dengan jeng Lili dan jeng Pita, ibu yang memberikan nomorku ke mereka jadi kami sudah saling kenal.
"Wah...tuh jeng Dinda udah datang akhirnya sudah lengkap semua ternyata jeng Dinda asli cantik banget" ujar jeng Lili dan semua mata tertuju kepadaku dengan senyum manis mereka..
"Hay Jeng selamat bergabung ya semoga bertahan disini" ujar yang lain.
"Maaf ya jeng-jeng semuanya aku sedikit terlambat karena ada urusan penting"
"Tidak masalah jeng kita juga baru sampai, jeng Anjani juga baru sampai.
Namun yang menjadi perhatianku adalah bu Anjani sama sekali tidak melihatku, aku tahu dia penasaran tapi dia juga tidak mau melihatku, mungkin dia sudah mendengar namaki tapi. Dia pasti mengira Dinda yang di maksud itu bukan aku tapi Dinda lain.
__ADS_1
Aku langsung buru-buru menyapa mereka semua saat aku sampai aku salam mereka semua, cuman bu Anjani yang tidak aku salam karena aku menyodorkan tanganku tapi tak disambut untuk apa, menghormati orang egois dan sombong seperti manusia yang satu ini.
Kalau aku disuruh memilih untuk dilahirkan atau tidak aku lebih memilih tidak perlu kalau tahu yang melahirkan perempuan munafik ini, siapa yang tidak sakit hati seorang ibu dengan teganya menyiksa anak kandungnya sendiri hanya demi kepentinganya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.