
Setelah kepergian Dinda aku menyuruh pak Erik untuk mengurus jenasa Marlan, dan segerah mengirim kembali ke kampung halamannya di antar oleh tiga pangewal, tidak lupa juga aku berikan seratus juta untuk orang tua Marlan, sementara waktu mereka mempergunakan uang itu untuk keperluan mereka.
Karena selama ini Marlan jadi tulang punggung mereka tapi sekarang Marlan sudah meninggal jadi tidak ada lagi penghasilan, sedangkan adiknya Marlan masih sekolah dan orang tua Marlan juga sudah tua, kasian juga sebenarnya, tapi aku dan ayah sepakat diam-diam membantu mereka.
"Pak Erik tolong urus jenasa Marlan dan orang tuanya untuk kirim pulang mereka ke kampung halaman, suruh pengawal tunggu sampai selesai kubur baru mereka pulang. Terus tolong urus ketiga jenasa ini di kuburkan disini aja kalau tidak bawah ke tempat di mana Admaja di kuburkan, kita harus selesaikan masalah ini sekarang juga, karena masih ada masalah puncak pelaku utama masih belum di urus" ujar ku.
"Nak lebih baik Lexza dan Kenedi di kuburkan saja di tempat dimana Admaja di kuburkan sedangkan yang pengawal ini, disini aja di kuburkan, karena ayah yakin pasti keluarganya yang akan datang untuk mengambilnya, tenang saja tidak perlu kuatir ayah akan meminta Erik untuk membiarkan beberapa pengawal menunggu di sini. Dan persiakan semuanya tiga hari lagi kita akan berangkat ke markas besar, Karena Heri sudah menanti kedatangan kita, namun sebelum kita berangkat kesana ayah ingin bertemu dengan penghianat itu, ayah ingin memberikan hukuman untuknya" ujar ayah.
Ayah ingin bertemu dengan om Angga, lebih baik tidak perlu saja, untuk apa ayah bertemu dengan mereka nanto banyak drama lagi tua bangka itu.
"Ayah maafkan Dava, tapi kali ini Dava mohon ayah tidak perlu ketemu dengan om Angga, biar Dava dan pak Erik yang mengurusnya. Kali ini Dava juga tidak ingin Dinda ikut karena Dava tidak membuat om Angga meninggal begitu saja, Dava ingin om Angga merasakan penderitaan dulu barulah Dava membunuhnya" ujarku. Aku tahu ayah menang sama penjahat garang dan sadis, tapi aku takut setelah ayah ketemu dengan om Angga justru ayah berubah pikiran.
__ADS_1
"Ya sudah, ayah tidak jadi ikut kalau begitu, tapi kalau ke markas besar ayah juga harus ikut karena ayah mau evaluasi di markas, ayah ingin melihat apa yang masih kurang di markas biar di tambahin, ada juga yang ingin ayah lakukan di sana ayah ingin merombak semua aturan di markas, untuk lebih memperketat lagi. Dan soal Dinda ayah tidak yakin dia mau tinggal, kamu tahu sendiri sikap istri kamu nak, kita tidak ijinkan juga dia pasti tahu kemana kita pergi, kamu tidak lupa bukan kejadian Admaja itu?" jelas ayah
Ya masih tersimpang dengan jelas di pikiranku, kejadian, waktu itu kalau bukan Dinda yang menolong kami mungkin dia antara kami ada yang merengang nyawah.
" Iya ayah Dava masih ingat jelas semuanya, nanti kita lihat saja nanti ayah. Baiklah ayah, kalau begitu ayah boleh pulang biar Dava dengan yang lain saja yang urus jenasa ini, karena ini sudah jam setengah empat juga jadi ayah pulang saja, kalau jenasa Marlan pak Erik sudah di urus sebentar lagi mereka akan berangkat sedangkan ketiga jenasa ini akan kami antar ke tempat dimana Admaja di kuburkan."
Akhirnya ayah pulang ke rumah di antar oleh pengawal pribadinya, karena sekretaris Criss tidak ikut tadi. Setelah ayah pergi jenasa Marlan sudah di masukan kedalam kantong jenasa dan di masukan kedalam mobil, mereka bersiap antar ke kampung halaman, sedangkan ketiga jenasa itu kami hanya bawah dua saja yaitu jenasa Kenedy dan Lexza.
Akhirnya selesai juga semuanya, aku baru sadar ternyata sudah setengah enam, saatnya pulang ke rumah hanya urus manusia-manusia penghianat ini semua jadi terasa lelah juga, tunggu bagian mu Aisya..kali ini aku yang akan menyiksa mu lebih dari semua orang yang sudah aku bunuh, kamu harus menderita di depan orang tua dan semua anak buah kalian biar kalian tahu bahwa keluarga Adinata tidak bisa di permainkan.
"Pak Erik, asisten Arfan, Gama dan Rafa. Kita pulang sekarang soalnya sudah sore". Banyak pengawal yang kami bawah tadi saat pulang hanya tiga yang ikut pulang, tadi dua ikut pulang dengan ayah, dua lagi ikut pulang dengan Dinda, tiga antar Marlan yang sisa masih tunggu di lapangan itu menunggu siapa yang akan datang mengambil jenasa pria yang tidak tahu siapa namanya.
__ADS_1
"Iya kakak pulang lah kita sudah mau malam, kita sampai di rumah jam berapa" sambung Gama.
Kalau Dinda yang menyiksa Aisya mungkin lebih sadis lagi lantaran Aisya sudah sangat keterlaluan, Aisya belum tahu siapa istriku sebenarnya. Bagaimana pun aku agak sedikit bernapas lega karena musuh dalam keluarga sebagiam sudah di tumpas dan soal Aisya dan orang tuanya mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena mereka lagi di kurung, tapi yang membuat aku kuatir bu Anjani sampai sekarang belum ada kabar dari pihak kepolisian soal kaburnya bu Anjani dari lapas, tapi tidak masalah jika tinggal bu Anjani sendirian pasti bu Anjani kembali berpikir jika melakukan sesuatu.
Tidak tahu kenapa rasanya hari ini sangat melelahkan, dan juga aku sangat merinduhkan Grey dan Gretta, kedua buah hatiku yang sangat mengemaskan itu, pengen cepat sampai di rumah supaya bisa gendong mereka berdua.
"Tuan muda, sampai sekarang belum ada infon dari pihak kepolosian terkait kaburnya nyonya Anjani, apakah tidak sebaiknya kita juga bantu cari Tuan muda supaya kita cepat menemukannya karena saya yakin nyonya Anjani tidak pergi jauh dari kota ini, nyonya Anjani masih sembunyi di sekitaran sini." Saran dari pak Erik.
Ada benarnya juga yang di berikan saran oleh pak Erik tapi saat ini aku ingin menyelesaikan masalah Aisya dan perampok yang ada di hutan kramat itu dulu, setelah selesai baru bu Anjani belakangan itu bisa di atasi.
"Iya benar pak Erik, tapi masalah di hutan kramat itu juga sangat penting, kalau kita terus biarkan seperti itu kasian masyarakat yang tinggal di sekitar sana. Mereka menderita karena setiap penghasilan mereka tiba waktu panen justrus di peras oleh manusia tidak punya hati itu jadi kita segerah datang kesana untuk tuntaskan semua polemik ini"
__ADS_1
Aku sudah sangat capet akhirnya aku menyadarkan tubuh di sandaran kursi mobil jadi aku menutup mata sebentar saja hingga sampai di rumah.