
Akhirnya kami sampai juga dirumah, aku langsung menuntun Dinda kekamar untuk langsung istirahat saja karena kelihatan sekali istriku sangat kelelahan, tadi aku mau langsung pulang ini mala ngotot ikut ke butik ibu jadi kecapean. Aku juga tidak bisa memarahinya biarkan saja aku ikut apa maunya asal dia bahagia.
Ibu juga langsung masuk kedalam kamarnya dan istirahat karena ibu masih belum pulih total sampai sekarang ibu masih konsumsi obat. Jadi ibu harus banyak istirahat ayah juga tidak mau ibu kecapean makanya sekarang ibu jarang pergi kemana-mana apalagi ke butik, ibu sudah serahkan kepada manajer untuk sementara waktu manajer mengurus semua. Aku tidak tahu kalau ternyata setelah kami naik ibu dan ayah kembali duduk di ruang tengah.
Setalah sampai di kamar aku menyuruh istriku ganti baju dulu baru istirahat, karena tadi dari luar takutnya banyak kuman yang nempel di pakiannya, makanya aku menyuruh istriku untuk ganti pakian setelah selesai aku menemani Istriku istirahat sambil menonton tv aku penasaran perkembangan beritah tentang pemilihan tapi justru setiap berita yang muncul hanya menyiarkan video yang lagi viral. Aku hanya tersenyum saja biarkan saja apa yang akan mereka lakukan aku mau melihat seperti apa reaksi bu Anjani, namum saat kami nonton tiba-tiba lewat sebuah video dan itu aku yakini di kediaman Winata dan benar saja aku lihat masa mengruduk gerbang kediaman Winata bu Anjani sempat keluar bertemu dengan wartawan tapi setelah itu dia justru tidak kelihatan lagi.
"Sayang lihat deh perempuan itu ternyata berani juga dia menemui wartawan padahal mas pikir dia tidak berani, nyatanya dia berani keluar juga dari kandangnya"
"Hehehe biarin saja mas, kalau dia tidak berani menemui wartawan terus siapa yang disuruh, sedangkan dia yang berkuasa dirumah itu lagian biarkan dulu dia tertekan disitu setelah itu baru dia menghadapi masalah yang lebih besar dari pada sekarang. Dinda ingin dia menderita dulu baru meninggal atau masuk penjara bersama selingkuhannya itu sangat menjijikan sekali melihat perempuan seperti itu, memang dia yang melahirkan Dinda tapi dia tidak pantas Dinda anggap sebagai seorang ibu.
Kalau ibu yang baik tidak mungkin dia dengan tegah mau membunuh anak kandungnya sendiri. Kadang Dinda sedih kenapa Dinda bisa di lahirkan dari rahim seorang ibu yang kejam begitu , kalau memang dia tidak menginginkan Dinda lahir untuk apa Dinda dilahirkan mas kalau ujung-unjungnya di sakiti dan disiksa sampai tidak di anggap, itu yang membuat Dinda menyesali peebuatannya.
Jujur Dinda pengen punya keluarga utuh mas tapi itu tidak mungkin terjadi, karena ayah tidak akan mungkin memaafkan perbuatan ibu bahkan Dinda sendiri saja benci sama perbuatan ibu, Dinda benci sama sifatnya bukan orangnya, kalau ibu bisa berubah mungkin Dinda bisa berubah pikiran untuk memaafkannya tapi sayangnya itu tidak mungkin terjadi karena sampai kapan pun ibu tidak akan berubah" ujar Dinda.
Aku sangat mengerti perasaan istriku saat ini betapa hancurnya hati istriku dia begitu tertekan, aku tahu dia malu dengan semua perbuatan bu Anjani, tapi dia tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang sabar ya, semua ada waktunya...kita lihat saja apa yang akan di lakukan oleh ayah terhadap bu Anjani, karena mas percaya ayah sudah punya rencana jadi biarkan saja" ujarku.
"Jujur ya mas sebenarnya Dinda sangat malu dengan perbuatan ibu Anjani, Dinda malu sama ayah dan ibu bahkan keluarga yamg lain, biar bagaimana pun Dinda tidak bisa lari dari kenyataan mas kalau Dinda memliki ikatan dengan keluarga Winata,"
__ADS_1
Saat aku dan Dinda asyik nonton sambil ngobol, tiba-tiba Dinda dapat telpon dari kakak Dea. Dinda langsung mengangkat telpon dari kakak Dea.
"Hallo kakak, ada apa tumben kakak telpon Dinda? ayah juga baru selesai telpon tadi saat di jalan pulang" ujar Dinda
"Kamu dimana dik, lagi dirumah ya kakak ke rumah ya sama mas Tahir sekalian kita bakar-bakar tapi bilang dulu sama ibu dan ayah dik" pinta kakak Dea.
Aku pikir kakak Dea mau bahas soal masalah Kenedy dengan bu Anjani, ternyata aku salah kakak Dea beritahu untuk nanti sore kami bakar-bakar di rumah boleh juga tuh seru kalau bakar-bakar bersama keluarga, sedangkan Dinda belum menjawab tapi justru Dinda menatap aku minta persetujuan dari aku hanya tersenyum saja melihatnya.
"Ini lagi di dirumah kakak, baru pulang dari pemilihan jadi lagi baring-baring saja, memamgnya kakak mau datang jam berapa agar semua disiapkan oleh pelayan" ujar Dinda
"Jam empat kakak datang ya, apa yang kakak bawah dari sini ikan danging atau apa"? Tanya kakak Dea.
" Oh, ok kalau begitu sore kami datang ya soalnya pusing banget di rumah ini suntuk, karena kalau nanti selesai dari sana kami langsung pergi nginap di rumah baru saja, karena selama ini kakak dengan mas Tahir sudah mengisi rumah dengan banyak barang jadi rumah sudah rapih juga"
Mantap lah kalau kakak Dea sudah bisa nginap di rumah barunya. Oh, ya aku jadi kepikiran untuk membuat kejutan untuk kedua wanita ini baiklah aku akan lakukan sesuatu biar mereka berdua bahagia.
Setelah Dinda mengakhiri panggilan dengan kakak Dea aku bilang ke Dinda untuk turun ke bawah, mau bicara dengan Ibu dan ayah soal acara keluarga sore nanti agar semua keperluan bisa di siapkan oleh pelayan. Dan setiap bahan yang masih kurang segerah pergi belanja takutnya sore bahannya kurang.
"Sayang mas turun sebentar kebawah, mas mau bicara dengan ayah dan ibu soal acara malam nanti ya, sayang lebih baik istirahat karena nanti malam kita pasti bagadang"
__ADS_1
"Ok baik mas...kalau sudah selesai bicara dengan ayah dan ibu langsung baik ya ke atas mas terus mas juga harus istirahat. Tapi bukannya ayah dan ibu istirahat ya mas jangan nanti menganggu"
"Sayang tenang saja itu urusan mas nanti mas panggil ayah saja kalau ibu sudah istirahat."
Setelah dapat ijin dari Dinda aku langsung turun kebawah dan menemui ayah, dan ibu ternyata setelah kami naik ke atas ayah dan ibu kembali duduk di ruang tengah sambil ngobrol banguslah biar aku tidak cari kekamar lagi.
Aku turun dan duduk disamping ibu dan ayah, ibu menatap aku sambil senyum-senyum, aku jadi binggung tadinya mau langsung bicara jadi lupa mau bicara apa hehehe.
"Kamu kenapa nak kok turun lagi, bukannya istirahat kalian mana Dinda sudah istirahat belum jangan biarkan putry ibu kecapean."
"Dinda lagi istirahat ibu, Dava tidak perna menyuruhnya ngapa-ngapain bu, ada yang mau Dava bicarakan dengan ayah dan ibu"
" Mau bicara apa nak bicara saja kalau memang itu hal baik kenapa tidak"
"Jadi begini bu, ayah" aku mulai ceritakan semua tentang pembicaraan Dinda dan kakak Dea kepada ayah dan ibu, ternyata ayah dan ibu setuju juga karena sudah lama juga tidak berkumpul begitu, banyak polimik yang kami hadapi selama ini jadi biar kami tenangkan pikiran dengan buat acara untuk berkumpul bersama.
"Wah...mantap kalau itu ayah setujuh karena sudah lama juga apalagi sekarang sudah tambah Dea dan Tahir, kalau begitu panggil kepala pelayan untuk kita tanyakan bahan apa yang kurang agar bisa belanja lagi semua supaya sore tidak sibuk pergi beli lagi dimana,"
"Setahu ibu sepertinya kepala pelayan baru selesai belanja jadi sepertinya semua bahan lengkat tapi tidak tahu semoga ibu tidak salah."
__ADS_1